Kisah Petualangan Lima Sekawan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 18 December 2014

Di daerah Jawa Barat di sebuah lereng gunung terletak desa kecil, desa tersebut bernama desa Melati. Desa tersebut semua warganya tidak ada yang mengenal tuhan. Ada lima sekawan yang sedang mendaki gunung tersebut, namanya Rahma, Naufal, Enggar, Vira dan satu lagi bernama Revansyah. Lima sekawan ini sedang mendaki gunung untuk penelitian penduduk di sana.

Saat lima sekawan itu mendaki gunung mereka menemui sebuah desa yang warganya tidak ada yang mengenal tuhan, ternyata desa tersebut bernama desa Melati, lima sekawan tersebut melihat jam ternyata jam menunjukan waktu shalat Maghrib tetapi lima sekawan itu tidak mendengar suara adzan di desa tersebut, akhirnya lima sekawan itu solat dan mencari arah kiblat dengan menggunakan kompas, mereka pun solat di pinggir sawah, selesai sholat lima sekawan itu heran, kenapa di desa yang banyak penduduknya mereka tidak mendengar suara adzan, lima sekawan pun mencari masjid atau mushola, sampai waktu isya lima sekawan itu belum menemukan masjid atau mushola.

Lima sekawan itu menghentikan pencarian masjid atau mushola di desa tersebut karena mereka ingin solat isya berjamaah. Malam hari pun datang akhirnya lima sekawan itu mendirikan tenda dan menyalakan api unggun, akhirnya lima sekawan itu pun tidur dengan lelapnya, waktu subuh pun tiba lima sekawan itu pun melaksanakan shalat subuh berjama’ah di tempat ia mendirikan tenda, setelah ia sholat subuh lima sekawan itu pun melanjutkan perjalananyaa untuk mencari masjid atau mushola.

Di tengah perjalanan ia ketemu warga desa tersebut, lalu Revan bertanya sama salah satu warga tersebut “pak, apakah di desa ini ada masjid atau mushola atau tempat ibadah yang lain” Tanya Revan, jawab salah satu warga “apa itu mushoa, masjid? saya gak tau”, “lah gimana kok gak tau masjid, mushola gimana sih bapak?” seru enggar, “iya saya mau nanya bapak muslim atau bukan?” celetuk Vira, Vira memenag orang yang cuek dan kalau bertanya selalu saja celetuk kata-katanya tapi sebenanrnya dia anak yang baik, “apa itu muslim saya tidak tahu?” bapak itu bertanya pada lima sekawan itu, “aduh bapak ini bagaimana sih ini itu tidak tau” celetuk Enggar yang sudah mulai merasa kesal, “Enggar kamu enggak boleh bilang begitu kepada orang yang lebih tua dari kamu” kata Revan dengan lembut, revan orangnya memang cerdas dan idealis ia selalu menyimpan hal positif di dalam pikirannya, “iya, iya benar tuh garr” celetuk Naufal dengan kepolosannya. “Temen-temen sudah yo jangan lama lama di sini, ahh Banyak nyamuk tau aku tidak betahh!!!” Seru Rahma, Rahma memang anak yang sangat manja, memang dia anak orang kaya. “Rahma kamu itu manja banget sihhh”, vira menanggapi, “sudah sudah jangan bertengkar kaya gitu dong”. Revan melerai antara Rahma dan Vira yang sedang bertengkar, “iya tuh bener kata revan jangan bertengkar terus dong!!!” Naufal menanggapi.

Lalu mereka meneruskan perjalanannya untuk mencari masjid atau mushola yang ada di desa tersebut, “sepertinya di desa ini tidak ada agama dehhh” seru Vira, Revan menghela napas dan berkata “tidak boleh begitu vira kita enggak boleh su’uzon dulu kepada orang lain”, “iya tau Vira jangan su’uzon tau.” Naufal menanggapi, “iya, iyaaa maaf ya teman teman”.

Sudah berjalan sekian lama, lima sekawan pun belum menemukan masjid ataupun mushola yang ada di desa tersebut, dan akhirnya mereka memilih untuk kembali ke tenda untuk sholat berjama’ah di tenda. “teman-teman kita sholatnya di tenda aja yuk, sekarang kita balik ke tenda sudah larut malam nih”, kata Enggar, “iya lagi pula malam semakin dingin dan banyak nyamuk, aku engga tahan tau, mom and dad aku telepon juga enggak ada singnal” gerutu Rahma, “kamu ini yang ada yang di pikiran mu hanya dirimu sendiri saja, memang kamu pikir kita tidak kedinginan dan tidak digigiti nyamuk” Vira menanggapi dengan nada agak sedikit kesal, akhirnya mereka pun sepakat untuk kembali ke tenda

Karena di desa itu tidak ada masjid ataupun mushola mereka pun hampir telat melaksanakan sholat subuh, tetapi itu bukan penghalang bagi mereka untuk sholat subuh berjama’ah. Selesai si Revan berfikir “Apakah, di desa ini gak ada yang beragama? emmm, aku akan selidiki lagi” gumam Revan sambil bengong
“kenapa Van?” tanya naufal
“tidak kenapa napa kok” jawab Revan
“Kesambet lho Van” celetuk Enggar
Akhirnya lima sekawan itu pun melihat warga desa tersebut sedang menyembah pohon, Rvan pun terkejut melihatnya.
“haahh, pantas saja di desa ini tidak ada mushola atau masjid atau tempat ibadah yang lain, warganya saja menyembah tumbuhan” gumam Revan sambil terkejut
“Haaah kok warga di sinih menyembah pohon sih?, bukannya menyembah Allah” celetuk Vira dengan kaget
“Wah, wah gak bener nih, bukannya menyembah Allah malah nyembah pohon, dasar warga bodoh” celetuk Enggar dengan kesal
“gak boleh begitu Enggar, mungkin itu kepercayaan mereka jadi kita tidak boleh mencelanya atau menghinanya” nasehat Rvan dengan lembutnya
“iya iya bener tuh Van, memang boleh ya Van nyembah pohon?” Tanya Naufal dengan kepolosannya
“Ya gak boleh lah Naufal gimana sih kamu, kita hanya boleh menyembah Allah” celetuk Rahma
“aahh, laper nih aku balik ke tenda yuk kan kita udah tau apa penyebab nya” seru Rahma
“yaudah yuk kita ke tenda, nanti siang kita kan mau balik lagi ke Jakarta
Akhirnya lima sekawan itu sudah menemukan titik permasalahanya. Lima sekawan itu bersiap untuk kembali ke Jakarat.

Sampai sinih dulu ya cerita aku, terimakasih yang udah membacanya

Cip. Revansyah P. J dan Vira Suci Septiana

Cerpen Karangan: Revansyah P. J.
Facebook: Vira Suci Septiana

Nama: revansyah putra jamil
Umur: 12 th
Ttl: 16, oktober 2001
Alamat: jln. Pemancingan rt/rw 001/06 kel. Serengseng jakarta barat prov. Dki jakarta

Cerpen Kisah Petualangan Lima Sekawan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pintu Negeri Atas Awan (Part 2)

Oleh:
Aku beranjak meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju homestay. Hari ini, sudahi saja sampai disini. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Pras belum tidur. “Besok kita ke Prau lagi

Mengeluh Yuk…

Oleh:
Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar

Hello Cordoba (Part 1)

Oleh:
Saat ini, kembali angin sendu malam yang berhembus kencang dari fentilasi kamar, menyapa ramah diriku yang terduduk diam di atas ranjang tempat tidurku, seraya menghadap ke arah langit yang

Menerjang Kemungkinan, Menggapai Impian

Oleh:
“Setelah lulus mau lanjut dimana?”, tanya salah satu seniorku di pesantren “Ma… masih belum tau mas”, jawabku malu-malu saat itu. Saat itu aku sudah menginjak kelas 3 Tsanawiyah (MTS),

Rencana Ummi

Oleh:
Setelah mengingat masa-masa disaat Wenda berbohong, ummi menjadi sangat bimbang. Ia merasa, terlalu memanjakan putri semata wayangnya itu. Ini bukanlah masalah sekolah atau rumah. Tapi, Wenda berbohong, masalah keagamaan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *