Kutemukan Jalan Hidup

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Nasihat, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 26 March 2018

Namaku Aditya Rahman, biasa dipanggil adit, Sudah beberapa minggu ini, aku selalu merasa gelisah seperti dihantui perasaan was-was yang terus mengikuti dalam setiap aktifitasku. Itu semua bermula ketika aku menyaksikan 2 temanku Randi dan Diki mengalami kecelakaan tepat di hadapanku.
Saat itu kami sedang dalam perjalan mengendarai sepeada motor menuju taman rekreasi di pusat kota bandar lampung, aku mengendarai motor sendiri dan 2 sahabatku berboncengan tepat di depan motorku. Kami berjalan ber-iringan aku di belakang dan temanku di depan. Hari itu cuaca cukup damai seakan mendukung kami untuk cepat sampai tujuan.

Tidak sesuai seperti apa yang kami harapkan dan takdir berkehendak lain. dalam perjalanan tiba-tiba saja motor di belakangku dengan geragasnya menyalip dan menghantam body kanan sepeda motor temanku sehingga membuat mereka terpental dari motornya dan mencium aspal jalan. Randi terpental dari motornya ke tengah jalan kemudian dalam waktu bersamaan mobil dari belakang melaju dengan kencang kembali menabrak tubuhnya, darah segar pun keluar dari tubuh randi membasahi jalan di lokasi tersebut, sedangkan Diki terpental dari motornya tidak terlalu keras yang membuatnya hanya luka di sekitar tangan dan kakinya.

Cuaca yang sebelumnya kami kira damai menjadi malapetaka bagi kami. Aku yang menyaksikan kejadian tersebut tepat dengan mata kepalaku sendiri hanya terdiam dan ketakutan atas apa yang terjadi terhadap teman-temanku.
Setelah kejadian itulah aku terus merasa dihantui perasaan takut yang amat luar biasa. Yang tersisa hanya aku dan Diki, karena pada kejadian itu nyawa Randi sudah tidak tertolong lagi.

“arghh… kenapa ini terjadi kepadaku.” Teriakku sekuat tenaga didalam kamar. Aku ingin perasaan ini hilang dalam ingatanku.

Tok tok tok
“kamu baik-baik saja Dit?” tanya ayah. Mungkin ayah sangat khawatir karena mendengar teriakanku tadi.
“ya ayah, aku baik-baik saja,” jawabku dengan nada sedikit tersedu-sedu.
“ayah boleh masuk? ayah ingin bicara dengamu?” tanya ayah penasaran karena mendengarku seperti sedang sedih.
“ya” jawabku singkat, Kemudian dia masuk dan menghampiriku.

“ada apa denganmu dit? sudah berapa minggu ini ayah sering melihat kamu mengurung diri dalam kamar? coba ceritakan masalahmu dengan ayah dit?” tanya ayah dengan suara lembutnya.
Aku menggeleng dengan wajah tertunduk.
“apa ini ada kaitannya dengan Randi, dit?” kembali dia bertanya seperti mengetahui permasalanku.
Kemudian aku hanya mengangguk saja karena ayahku pasti sudah mengetahui permasalahan yang aku alami.

“ditt, yang namanya maut itu kapan saja bisa terjadi, kita lagi tidur, kita lagi kerja, lagi main dalam setiap aktifitas kita, kita tidak tahu kapan kita akan dipanggil oleh allah dit. Maka dari itu tinggal bagaimana caranya kita untuk mengakhiri hidup dengan perbuatan yang baik atau perbuatan yang buruk. Seperti di dalam QS. an-nisaa ayat 78, yang berbunyi “dimana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh”. tuh dit pasti yang namanya kematian itu akan menghampiri kita, siap tidak siap kematian itu pasti akan datang kepada kita dit.” Katanya mantap dengan nada yang lemah lembut.
Aku kembali hanya mengangguk mendengarkan saran dan nasihat ayahku.

“kamu harusnya bersyukur dit atas kejadian yang menimpamu, allah masih memberikanmu kesempatan hidup untuk terus kembali memperbaiki diri atas kesalahan-kesalahanmu, jadikan kejadian yang menimpamu ini pelajaran agar kamu menjadi manusia yang lebih baik lagi. coba bayangkan kamu yang di posisi randi sedangkan amalan ibadah kita masih sedikit bahkan kalau kita belum sempat bertaubat atas kesalahan kita? mau ke mana kita.” Kata-katanya kali ini seakan menusukku sangat pedih, tapi aku mengerti dari kata-katanya tersebut.
“ya, ayah benar, aku harus mengambil pelajaran dari kejadian ini.” Ujarku.
“benar dit, kamu sudah besar kamu bisa membedakan mana yang benar mana yang salah, ayah hanya bisa memberimu nasehat yang baik yang menentukan itu dirimu sendiri.”
Aku mengangguk tanda mempercayai ucapannya.

“perbaikilah dirimu dari sekarang dit untuk menjadi lebih baik, ingat di QS.Az-Zumar ayat 55 allah berfirman “dan ikutilah sebaik-baik apa yang telah diturunkan kepadamu dari tuhanmu sebelum datang adzab kepadamu dengan tiba-tiba, sedang kamu tidak menyadarinya”. Tuh dit jadi jangan sampe adzab dulu menimpa kita baru kita bertaubat. Kembali kata-katanya menusukku seakan menyindir perbuatanku selama ini yang jauh dari allah.
Aku mengangguk kembali sambil mengeluarkan air mata, betapa bodohnya aku selama ini yang menyia-nyiakan waktu hanya untuk kegiatan yang tidak ada manfaatnya.

“terima kasih Ayah atas saran-saran dan nasehatnya doakan aku menjadi anak yang sholeh.” Ujarku dengan nada tersedu-sedu menitikan air mata sambil memeluk tubuh Ayahku dengan erat.

cerpen karangan: Yoga Dwi Kurniawan
Facebook: yoga dwi kurniawan
baru lulusan dari smk-smti bandar lampung jurusan kimia industri, sedang lagi giat-giatnya menulis cerpen dan novel

Cerpen Kutemukan Jalan Hidup merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tak Ubah

Oleh:
Galih namanya. Pria kecil itu tengah merenungkan sesuatu. Pria kecil yang pandai namun sombong itu masih terus memikirkan sesuatu. Entah apa yang dia pikirkan. Pikirannya menerawang ke masa dua

Kota Kelam

Oleh:
Aku duduk di teras depan rumahku sambil memandangi langit gelap yang tak ada bulan. Kemarin, hari ini, hingga esok mungkin aku akan melakukan ini. Karena di rumah sederhana ini

Air Mata Yang Hilang

Oleh:
Di tengah malam yang kelam dan hening itu, entah kenapa mataku terjaga dengan sendirinya, pandangan mataku tertuju ke arah langit-langit atap kamarku, keheningan di malam itu mengingatkan aku kepada

Allah Merindukanku

Oleh:
Suara derap langkah-langkah kaki di atas jalan beraspal bergema siang itu. Lafaz tauhid dikumandangkan. Orang-orang beriringan memapah sebuah keranda yang dipayungi payung warna hitam. Hawa panas, debu berterbangan naik

Just A Dream For Me And My Life

Oleh:
Hari itu fajar telah menyising, mama membangunkanku dari mimpiku. Aku terbangun menyadari sesosok wanita disampingku, “Airyn… ayo bangun! Kamu gak mau kan dokter Sally menunggumu!” kata lembut itu meluncur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *