Langkah Tuk Gapai Mimpi (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 11 November 2017

Hai, namaku Fida. Elfida Alimah. Aku murid SMAN I Surakarta yang sekarang baru saja menginjak garis awal. Alias kelas X. Rincinya lagi, kelas X MIPA II. Kelas terbersih paling pojok yang letaknya di lorong lantai 3. Friends, kali ini aku mau menceritakan suatu hal pada kalian. Hal ini berkaitan dengan future. Ya, masa depan.

Banyak, para remaja zaman kini yang masih bingung dengan mimpinya sendiri. Mereka belum membayangkan bagaimana nanti, mereka di masa depan. Padahal, masa depan itu harus kita persiapkan dari sekarang, guys. Dan ironisnya, para pemuda Indonesia zaman kini makin melorot. Melorot dalam arti fisik maupun psikis. Banyak dari mereka yang tak mengetahui makna hidup. Sehingga mereka berpikir bahwa waktu yang terbuang tak berarti apa-apa. Contoh, seperti: mer*kok, nongkrong di tempat maksiat, pacaran, dan bahkan ada yang kecanduan nark*ba. Hii.., serem kan. Padahal presiden kita. Pak Soekarno, telah mengatakan kata-kata yang penuh prasangka baik pada anak-anak muda macam kita.
“Beri aku 1000 orang tua, niscaya akan kucabut semeru dari akarnya. Beri aku 10 pemuda maka akan kuguncangkan dunia!”
Oke sobat, jelas kan, mengapa peran pemuda yang bertekad kuat itu sangat penting? Ya, itu semua Karena keistimewaan kita sebgai kaum muda. Keistimewaan yang tidak dimilik anak-anak dan juga para lansia. Dan, kita perlu tahu, perkataan Pak Soekarno di atas, sangat berkaitan erat dengan mimpi dan masa depan. Hanya 10 pemuda yang memiliki mimpi yang tingi, yang mulia dan yang telah mempersiapkan masa depannya sebaik mungkin. Itulah para pemuda pilihan.

Aku tersenyum. Menatap layar laptop tuaku. Dan kembali membaca serentetan kalimat tadi yang kupajang di blog milikku. El_fida. Blog yang kira-kira umurnya sudah 3 tahun. Sejak pertama kali aku memakai seragam putih biru di bangku SMP.

Malam ini berangin cukup kencang. Sehingga membuatku harus melapisi tubuhku dengan selimut tebal. Kuletakan laptop tuaku di atas meja belajar. Masih dalam keadaan menyala. Menunggu secarik e-mail dari sahabat penaku. Sahabat pena dari Tanah Palestina. Aleah, namanya. Tak lama tanda e-mail masuk muncul. Kupikir itu dari Aleah, dan ternyata itu benar.

From: Aleah_LVPalestine
Wa’alaikumussalam, Fida. Honestly, I’m very like your blog. You really active to upgrade your blog. And thaks a lot for your parcel about Gaza. I really love that. My friends here, also read it, they’re say if your parcel is great too. Thank you so much, Fida. Keep your fighting there ya. Reach your dream. I waiting you here, ensyaallah. One message for you. Be grateful with your own life. Because you more fortunate than us. Thx, fid.

Love from Gaza,
Aleah dkk

Aku tersenyum. Selalu saja seperti ini. Sosok Aleah benar-benar membuatku kagum. Ia tak pernah menampakan kesedihannya lewat curhatan ke e-mailku. Hanya hal-hal yang bisa membuatnya tersenyumlah yang selalu ia ingat. Tapi, entahlah. Aku tak tahu kondisi hatinya yang sebenarnya. Yang pasti aku yakin, dibalik semua hal syukur yang dilakukan Aleah, ia pasti menyimpan kepahitan tersendiri. Aku menghela nafas, bersamaan dengan gerakanku mematikan laptop tuaku. Dan segera beranjak ke kamar mandi, bersiap tidur.

Mentari mulai terbit, diiringi beberapa kokokan ayam jantan tetangga. Aku terbangun, tepat pukul 04.30 WIB. Semua itu berlangsung dengan sendirinya. Tak ada yang memasang alarm. Tak ada yang membangunkanku, kecuali jika jam enam aku belum bangun. Ummiku pasti akan segera membawa wajan dan spatula sebagai alarm agar aku bangun. Tapi tidak untuk saat ini. sejak SMP aku sudah mulai terbiasa dengan rutinitas bangun pagi seperti ini. Seolah ada alarm tersendiri yang tertanam dalam tubuhku jika aku sudah terbiasa dengannya.

Aku memandang sekitar. Mengerjap-kerjapkan mata sesekali, sambil membereskan kasur bersprei hijau toska itu. Kemudian melangkah menuju kamar mandi. Mandi, dan seusainya aku segera bersembahyang. Mukena putihku telah terjuntai rapi di tubuhku. Aku segera memulai sholat fajar.

Waktu cepat berlalu, seusai aku membaca al-qur’an, aku segera mmembereskan buku. Bersiap untuk menuju sekolah. Semua buku pelajaran hari ini telah rapi dalam tas. Sekarang tinggal aku yang mempersiapkan diri. Berganti baju dengan seragam putih abu. Kerudung putih segi empatku pun telah terpasang rapi di wajah bulatku. Tinggal menyematkan satu pin kebanggaanku. Pin Free Palestne. Pin bergambar gadis animasi berkerudung sedang mengibarkan bendera mulia Palestina. Aku tersenyum untuk mengawali hariku.

“Assalamu ‘alaikum, Mi, Bi.” Aku menggendong tas ransel biruku. Menyalimi ummi yang sedang menyiapkan sarapan. Dan juga abi yang sedang menikmati kopi sambil membaca Koran.
“Wa’alaikumussalam.” Abi membelai kepalaku penuh kasih. Aku tersenyum, dan bergegas duduk di sampingnya. Menyantap menu sarapan pagi ini, yang berupa nasi goreng dan segelas susu. Pikiranku sibuk memikirkan hal-hal yang akan kulakukan di hari ini. Sahabatku-Maryam, pasti akan sangat malas pagi ini. ditambah dengan kegiatan upacara pagi ini.

“Fid, kamu tahu? Abi dapat tawaran dari teman abi untuk masukin kamu ke KNRP.” Perkataan abi yang tiba-tiba itu membuatku langsung tersedak. Bola mataku membulat.
“Apa bi? Coba ulangi sekali lagi.”
“Abi mau masukin kamu ke KNRP.”
“Bener? Abi nggak bohong kan? Horeee!” aku berjoget-joget ria diatas kursi. Kemudian kemmbali duduk manis. “Bagus bi, Fida setuju. Dengan begitu Fida jadi semakin mengenal Aleah. Yes!” aku menepuk nepuk lenggan abi senang. “Tentunya, Palestina juga!”
“Bi, Mi, Fida berangkat dulu ya.” Ucapku begitu selesai meneguk susuku habis. Aku segera meletakan bekas makanku ke wastafel. Dan menyalimi punggung tangan ummi dan abi. Selanjutnya, aku segera mengnakan sepatu ketsku. Sepatu yang masih bisa dibilang baru itu pun terpsang rapi. Aku berdiri dan mulai melangkah pasti.

Suasana Kota Solo tak banyak yang berubah. Masih penuh, terkadang macet pada jam-jam kerja. Dan terik mentari meski masih pukul 6 pagi. Aku bergegas untuk sampai di halte bus berwarna merah di depan toko swalayan itu. Dan menunggu selama 5 menit kedatangan bus solo trans jurusan SMAN I. sambil menunggu, aku mengeluarkan buku corat-coretku dan pulpen. Biasanya aku selalu seperti ini jika aku sedang bosan. Entah ingin mencorat-coret apa. Yang penting tinta pulpen itu tergores di buku itu. Kali ini aku iseng meggambar seorang gadis berkerudung lebar dengan ikat kepala hijau bertuliskan ‘laailahaillallah.’ Cukup, hanya bagian kepala sampai perut yang berhasil kugamabar sebelum bus berwarna biru bercorak batik itu terhenti di depanku. Aku segera menaikinya dengan buku bercover biru itu masih tergenggam di tangan kananku.

“Hei! Fida!” seseorang melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum, dam balas dengan menganguk kecil. Begitu ongkos telah kuberikan pada Mrs. Kondektur, aku segera menuju gadis yang tadi melambaikan tangan padaku.
“Hai, Maryam. Tumben ceria.” Ledekku sebelum kududuk dsebelah Maryam. Maryam adalah sahabat karibku sejak masuk SMA. Satu-satunya teman yang selalu klop denganku. Ya, dia juga berkerudung lebar sepertiku. Karena hal itulah yang mengikatku dengannya sejak pertama kali bertemu. Kami terikat oleh jalinan ukhuwah yang begitu kuat. Karena persahabatan kita berlandaskan cinta pada illahi. Dan kuharap akan terus terjalin sampai di alam yang berbeda sekalipun.
“Tahu nggak? Aku dapat balesan e-mail dari salah satu mahasiswi di UIG!” Maryam melonjak bahagia. Hampir seluruh penghuni bus memandanginya heran. Aku mencegah Maryam untuk berteriak lebih keras lagi. Aku membungkam mulutnya. Sehingga kami berdualah yang terlihat aneh. Menyadari maksud tatapan para penumpang lain, aku langsung duduk manis kembali.

“UIG?” aku menoleh pada Maryam. Berusaha senormal mungkin.
“Iya! Universitas Islam Gaza. Lu percaya nggak?” maryam mengacungkan jari telunjuknya dngan maksud, memastikan.
“Serius, kamu? Emang kamu nulis emailnya pake bahasa apa?” sselidikku.
“Ya elah.., Fid, Fid. Gampang lah itu mah. Tinggal googling. Translate deh.” Maryam menepuk-nepuk bahuku. “Lagian, kamu juga tahu kan, bapakku orang mana?”
“Oh, iya.” Aku baru ingat. Bapaknya Maryam itu orang Dubai. Beliau menikah dengan ibu Maryam yang notabene orang jawa asli. Terus lahirlah si Maryam ini. oh, aku lupa. Hanya beberapa orang yang tahu hal ini. Maryam nggak mau jika orang yang salah tahu, ia bakal jadi bahan gosip sesekolah.

Aku terdiam sejenak. Memikirkan suatu hal.
“Yam, kamu yakin mau kuliah di Gaza?” tanyaku pada Maryam yang termenung menatap jalanan Solo.
“Hm? Nggak tahu juga sih Fid, tapi kan kamu tahu cita-cita aku sejak dulu apa?” jawab Maryam, ia kembali menatap jalanan. Aku memandanginya. Ya, aku ingat. Sejak pertma kali MOS Maryam sudah menuliskan cita-citanya yang sangat berhubungan erat dengan ukhrowi. Mujahidah dan Syahidah. Seorang pejuang wanita yang berjuang di jalan tuhannya disebut Mujahidah, dalam islam. Dan Syahidah, adalah gelar dunia, akhirat bagi yang rela mati di jalan tuhannya. Dua kata bermakna dalam itu dengan mudah tetancap di hati seorang Maryam. Berbeda denganku, yang hanya menuliskan satu kata ‘dosen’ saat itu. Dan kini, Maryamlah yang telah menarikku untuk memasuki dunianya yang penuh dengan warna keindahan abadi. Tiba-tiba aku tersenyum.
“Semangat ya, Yam.” Aku mengelus pundak Maryam. Maryam memadangku aneh.
“Fid, kamu sakit nggak?” Maryam meraih dahiku. Mengecek derajat suhunya. Aku segera menepis tangannya. dan mengerucutkan bibir. Maryam terkekeh. “Gelagatmu beda sih.” Tawa Maryam semakin keras ketika aku memukul pahanya.
“Denger ya Yam, aku tuh lagi berpikir, apa yang bisa kulakukan demi menciptakan kehidupan yang lebih baik kedepannya. Bagaimana supaya aku bisa berperan penting dalam hal itu. Apa yang harus kulakukan sekarang. Dan bagai,” Maryam membungkam mulutku. Aku menatapnya sebal. Wajah Maryam yang seolah tak merasa bersalah yang membuatku begitu.
“Simpan ocehanmu dan kita lanjutkan di kelas. Udah nyampe.” Maryam berkata datar. Seolah menyetrumku dan tiba-tiba aku langsung terdiam. Maryam melepaskan bungkamannya dari mulutku.

Ya, kami sudah sampai. Gerbang SMAN 1 sudah di depan mata. Aku mengikuti Maryam menuruni bis. Dan menuju kelas kita. X MIPA II, kelas yang harus membuat kita menyusuri lorong setiap hari. Aku berjalan lurus, berusaha apatis dengan apa yang dilakukan anak-anak kelas IPS yang notabene nakal-nakal.

“Fid, udah jam tujuh kurang nih, sebentar lagi upacara, kamu dah sholat dhuha belum?” Maryam meletakan tasnya diatas bangku sebelahku. Aku menggeleng. “Sholat dhuha dulu aja yuk, dah punya wudhu kan?” Maryam mendahuluiku menuju mushola. Aku mengikutinya. Ya, inilah rutinitas kami, beberapa menit sebelum jam belajar dimulai ia selalu mengajakku menyempatkan diri untuk sholat dhuha. Aku beruntung, memiliki sahabat seperti Maryam. Yang selalu mengajakku ke jalan kebaikan, selalu mengingatkan jika aku buat salah, guys, ini arti sahabat bagiku, bagaimana denganmu?

Fida says: Carilah teman terbaik yang bisa menuntunmu lebih dekat dengan mimpimu.

Bersambung

Cerpen Karangan: El_mufid
Facebook: Arina Ilma Mufida

Cerpen Langkah Tuk Gapai Mimpi (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dulu

Oleh:
Menyedihkan sekali kisah persahabatanku dengan Rinka. Dia dulu sahabatku. Dia dulu orang yang bisa kupercaya. Dia dulu selalu menghiburku saatku bersedih. Dulu kami saling berbagi cerita. Tapi itu semua

You Are My Star (Part 1)

Oleh:
Malam ini sama seperti malam-malam sebelumnya. Hujan yang turun sejak siang tadi masih belum menunjukkan tanda-tanda akan berhenti. Dengan ditemani secangkir coklat panas kesukaanku, teropong dan selimut hangat, aku

Maafkan Aku Sobat

Oleh:
Matahari telah menyinari tubuhku sejak dari tadi.terkadang,awan-awan melindungiku dari kilauan sinar matahari.burung-burung pun ikut menyemarakkan indahnya pagi ini.sungguh beruntungnya aku. Namaku Karina putri.orang-oang sering memanggilku Karina.dulu,aku adalah anak yang

Taman Rahasia

Oleh:
“Hai namaku Nina zabrina, panggil saja nina” kata anak itu memperkenalkan dirinya, aku hanya melihatnya dari kejauhan, karena bangkuku paling ujung dari belakang jadi tidak begitu kelihatan seperti apa

Sahabat di Bumi Perkemahan

Oleh:
“Garcya… Garcya bangguuunn…ayoo bangunn…!” teriak mama membangunkan Garcya yang masih tertidur lelap. “Iya ma, sebentar aku masih ngantuk,” keluh Garcya dari dalam kamar. “pagi ini kamu kan mau kemping,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *