Lantunan Cinta Surah Ar Rohman

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 31 December 2016

“Mbak, kenapa sih tiap hari baca surah Ar-Rohman terus. Mbak ndak bosen ya?”.
Teringat aku dengan pertanyaan polos adik perempuanku yang paling kecil. Aku hanya tersenyum menanggapi pertanyaan adik kecilku itu. Yah, memang tiap malam selepas bertadarus aku tak lupa melantunkan surah Ar-Rohman, surah favoritku. Surah cinta. Begitu aku menyebutnya. Bahkan adikku sering meledekku. Hahaaa.. kayak nggak ada surah lain aja. Begitulah ledekan adikku. Ya, tapi apa peduliku? Toh, aku bener-benar jatuh cinta dengan surah ini.
“Biar nanti calon imamnya mbak ngasih hadiah mbak hafalan surah Ar-Rohman, dik.” Terkadang aku menanggapi adikku dengan tawa dan nada candaan.
Hihiii… jujur memang impianku itu kelak saat ada yang melamarku, aku ingin sebuah mahar hafalan surah Ar-Rohman. Indah sekali fikirku. Seulas senyuman mengembang di bibirku saat aku membayangkan hal itu.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh..” kuusap wajahku selepas aku memanjatkan doa. Senyuman menghiasi bibirku. Tenang rasanya hatiku masih bisa melakukan sholat dhuha ditengah kesibukan jadwal kuliahku. Yah.. aku memang selalu berusaha untuk tidak meninggalkan sholat sunnah yang satu ini.
“Hoi Nad!! Masih kekeuh kamu sama keinginanmu yang satu itu?” Rania datang menepuk pundakku.
“Astaghfirullah Ran, kebiasaan banget deh kamu. Ucapin salam dong kalau baru datang itu. Kalau aku sampai jantungan karena ulahmu kan bisa gawat. Kamu taukan stok orang sepertiku itu sangat langka. Hanya ada satu-satunya di muka bumi ini.” Ucapku panjang lebar dengan raut wajah yang sengaja kubuat cemberut. Kudului berjalan di depannya menuju ruang kuliah.
“Ahahaaa… salah siapa dipanggil nggak nyahut. Tenang saja Nadira sayang itu nggak bakalan terjadi. Memang sejak kapan kamu punya riwayat penyakit jantung hm.. apa sih yang kamu pikirin sampai nggak dengar aku panggil?” Kejar Rania menyejajarkan langkahnya denganku.
“Ng… nggak, aku mikirin apa memangnya?”
“Ahh.. kamu pikir aku akan segampang itu percaya sama ucapanmu? No nooo..!! Rania yang cantik ini nggak sebodoh itu Nad.” Ucap Rania penuh peraya diri.
“Ya terserah kamu saja kalau gitu.” Jawabku duduk sambil membenarkan kursi.

“Assalamu’alaikum warohmatullahi wabarokaatuh, selamat pagi semuanya. Pagi ini saya akan membahas tentang materi pernikahan.” Bapak Ilham membuka pertemuan pagi ini, ah dosen yang satu ini lebih suka dipanggil mas oleh para mahasiswanya ketimbang bapak. Alasannya karena dia merasa masih seumuran dengan kami mahasiswanya. Yah karena memang kuakui dosen yang satu ini terbilang masih muda. Kalau tidak salah umurnya masih sekitar 28 tahunan.
“Ehmm.. cocok banget nih buat kamu Nad.” Rania menyikut lenganku dengan senyum menggodanya.
“Ssttt… apaan sih Ran, jangan ngaco kamu.” Sahutku masih fokus memperhatikan mas Ilham di depan.

“Allah swt., telah menciptakan seluruh makhluknya secara berpasang-pasangan. Salah satu contohnya yaitu kita manusia ada laki-laki dan ada juga perempuan. Oleh Allah manusia diberikan karunia berupa pernikahan yang bertujuan untuk melanjutkan generasi atau keturunan. Tentu semua itu sudah tercantum dalam Al-Qur’an. Nah, adapun hukum nikah itu bisa dikategorikan menjadi lima kategori yang berpeluang kepada kondisi pelakunya, diantaranya yaitu wajib, sunnah, mubah, makruh dan juga haram. Saya rasa sampai disini dulu silahkan jika ada pertanyaan?” ucap mas Ilham menatap para mahasiswanya.
“Mas Ilham sendiri kapan menikah?” celetuk Rania tiba-tiba.
Sontak semua tertawa dengan mata tertuju pada sahabatku itu lalu tatapan mereka beralih ke arah Mas Ilham.
“Ehmm…” Mas Ilham berdehem menyapukan matanya menatap kami. “Mungkin yang sedang saya lakukan saat ini adalah berikhtiar.” Jawab mas Ilham tersenyum.
“Wahh… ada sahabat saya lho Mas dosen. Saat ini dia sedang menantikan pangeran yang akan datang melamarnya.” Lagi-lagi Rania berulah.
“Ssttt… jangan macam-macam Ran.” Tatapku tajam serasa ingin menjahit mulutnya itu.
“Maaf, apa yang akan terjadi jika sudah mampu menikah tapi tidak langsung menikah atau menunda-nundanya?” tanyaku megangkat tangan.
“Jika sudah merasa siap baik secara jasmani maupun rohani tapi dia malah menunda-nundanya, saya rasa itu kemungkinan besar akan jatuh pada perzinaan. Jadi sebaiknya segera laksanakan dan jangan menunda-nunda.” Jelas Mas Ilham.

Drrttt… drrtttt… handphone disaku baju gamisku bergetar.
“Mas Zaki” kuperhatikan layar ponselku.
“Halo, Assalamu’alaikum mas. Ada apa kok tumben nelepon Nadira?” tanyaku tanpa basa basi.
“Nadira habis kuliah ada kegiatan nggak?” jawab Mas Zaki.
“Emmm… memangnya ada apa Mas?” kulirik jam tanganku.
“Mas ada perlu sama kamu sebentar.”
“Emm… nanti habis dari toko buku Nadira langsung ke rumah Mas deh.”
“Yaudah Mas tunggu ya kalo gitu, Assalamu’alaikum.” Tutup Mas Zaki mengakhiri percakapan kami di telepon. Hmm.. ada apa ya? Tanyaku dalam hati penasaran.
“Wa’alaikumsalam warohmatullah..” otakku menerka-nerka kira-kira ada perlu apa Mas Zaki sama aku.

“Gimana Nad? Kamu setuju nggak?” tanya Mas Zaki tanpa basa basi.
“Maaf Mas, Nadira aja belum kenal sama temen Mas Zaki masa iya Nadira harus jawab sekarang.”
“Sebentar lagi temen Mas mau datang ke rumah, jadi kamu bisa kenal sama dia. Lagian Mas jamin kok, kalo dia itu orangnya sholeh, taat beribadah, rajin puasa senin kamis dan bertanggung jawab, malah dia itu rajin sholat dhuha. Bukannya itu tipe laki-laki yang kamu harepinkan.” Jelas Mas Zaki panjang lebar.
“Hmmm… liat nanti aja deh Mas.” Kutatap jari-jari tanganku dan kumainkan ujung-ujung kukuku. Benar-benar impianku. Tapi apakah memang benar dia impian yang sedang kutunggu? Hatiku resah.

Kutatap langit-langit kamarku yang berwarna putih, sesekali kuhembuskan nafas berat. Entahlah, sekarang fikiranku tengah mengembara tak tentu arah. Sekarang aku harus bagaimana? Tanya hatiku.
Setelah pertemuan tadi aku benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Jujur hatiku tidak merasakan apapun terhadap teman Mas Zaki. Aku akui memang, dia terlihat seperti laki-laki yang penuh wibawa. Huahhh… lagi-lagi aku hanya bisa menghembuskan nafas berat.
Iseng kubuka handphoneku. Kubuka aplikasi facebook yang sering kumainkan. “Wah… “ gumamku begitu melihat komentar yang masuk dari status yang kubuat semalam.
“Wah, berat juga ya ternyata syaratnya.” Komentar komentar Rafly 20 menit yang lalu.
“Oya? Apa seberat itu? Bukankah surah Ar-Rohman itu surah yang memiliki banyak pengulangan kalimah. Apa sesusah itu menghafalkan surah Ar-Rohman?” balasku.
“Hahaa.. entahlah. Tanya saja hafidz Qur’an, mereka lebih memahami itu.”
“Hmm.. begitu ya ternyata.” Balasku kurang bersemangat. Oya, Rafly itu laki-laki yang baru kukenal beberapa bulan yang lalu. Dia suka sekali mengirim pesan kepadaku dan beberapa kali aku membalasnya. Sebenarnya aku merasa sedikit aneh dengan sikap perhatian yang dia tunjukkan kepadaku. Yah, tapi aku berusaha bersikap sebiasa mungkin padanya.
“Maaf bukannya mau membandingkan kamu dengan yang lain, tapi selama ini aku belum pernah melihat seorang wanita dilamar terus dia meminta mahar surah Ar-Rohman, orang pesantren sekalipun. Maaf lho sebelumnya.” Aku tesenyum kecut. Entah kenapa ada perasaan tidak suka atau lebih tepatnya kecewa saat membaca balasannya tadi.
“Hahaa.. biasa saja sama saya. Yah, anggap saja kalau itu hanya impian kecil seorang anak kuliahan sepertiku yang bahkan tidak terlalu mengenal dunia pesantren.” Huufttt… untuk kesekian kalinya aku menghembuskan nafas berat.

“Assalamu’alaikum Mas Ilham.” Kukejar langkah Mas Ilham yang baru saja keluar dari kelas.
“Wa’alaikusalam warohmatullah, iya ada apa Nadira?” Mas Ilham menoleh ke belakang melihatku yang berjalan di belakangnya. Lebih tepatnya berusaha sedang mengejarnya.
“Maaf mengganggu waktu Mas Ilham sebentar. Ada yang ingin saya tanyakan sedikit.” Ucapku seraya menunduk mengikuti langkahnya.
“Ya, silahkan.” Jawabnya pendek.
“Hmm.. Mas Ilham pernah melakukan sholat istikharoh?” tanyaku ragu-ragu.
“Ya?” tanyanya yang sedikit terkejut sepertinya. Yah, itu yang kulihat. Karena mendadak Mas dosen ini menghentikan langkahnya.
“Sholat Istikharoh Mas.” ulangku lagi, sambil sedikit kutatap wajah Mas Ilham lalu aku menunduk lagi.
“Hahaa… mari silahkan duduk.” Mas Dosen itu tertawa pelan dan mempersilahkanku duduk di salah satu kursi kantin. Ya, kebetulan kami sedang melewati kantin.
Aku pun duduk begitu pula denganya. Kami duduk bersebarangan dengan meja yang menghalangi kami. Tak kupedulikan tatapan aneh teman-teman mahasiswa lain yang memperhatikan kami, mungkin. Mungkin mereka merasa aneh melihatku duduk berdua dengan Mas dosen. Ah, jangan pedulikan. Lagi pula kami terhalang oleh sebuah meja. Yang kufokuskan sekarang adalah jawaban Mas dosen.
“Itu… saya rasa adalah urusan pribadi saya dengan Allah. Dan cukup saya dan Allah yang mengetahuinya apakah saya pernah melakukan sholat istikharoh atau tidak.” Ucapnya tersenyum.
Astaghfirullah.. pertanyaan bodoh apa ini yang baru saja kutanyakan. Aku merutuki diriku sendiri, dalam hati tentunya.
“Ma..maksud saya, saya sama sekali belum mengerti bagaimana sholat istikharoh itu, Mas. Apa yang akan terjadi setelah kita melakukan sholat itu. Apakah Allah akan memberikan kita petunjuk melalui sebuah mimpikah atau melalui hal lainnya?’ tanyaku lebih jelas.
“Tidak ada yang tahu Allah akan memberi petunjuk apa. Pada dasarnya semua itu kembali pada keimanan (keyakinan). Ada yang mendapatkan petunjuk melalui mimpi lalu menjadikannya sebagai pilihannya, ada pula yang tidak dan memilih sesuai pilihannya. Tapi semuanya itu kembali pada mukhoyar masing-masing. Ya, mungkin itu yang saya tahu.” Jelas mas Ilham panjang lebar.
“Hmm.. seperti itu ternyata. Lalu mukhoyar itu artinya apa Mas?” tanyaku lagi.
“Benar, mengenai petunjuk itu hanya Allah yang tahu. Bahkan melalui apapun itu bisa membuat orang mendapatkan hidayah atau petunjuk. Mukhoyar itu pilihan kita sendiri.” Dengan sabar mas Ilham menjelaskan padaku.
“Hmm.. satu lagi Mas yang ingin saya tanyakan. Bagaimana pendapat Mas Ilham tentang mahar pernikahan menggunakan hafalan Al-Qur’an, hafalan surah Ar-Rohman misalnya?” lagi-lagi aku bertanya dengan sedikit ragu. Takut dengan jawaban yang akan diberikan oleh Mas Ilham.
“Mahar bacaan Al-Qur’an? Hmm.. ada sebuah H.R. Bukhari Muslim, dari Sahl bin sa’ad yang menceritakan, bahwa suatu hari Nabi SAW., didatangi seorang perempuan, lalu berkata: “Ya Rasulullah, kuserahkan diriku untukmu”, wanita itu berdiri lama lalu berdirilah seorang lelaki yang berkata, “Ya Rasulullah kawinkan dengan aku saja jika kamu tidak ingin menikahinya.” Rasulullah berkata, “punyakah kamu sesuatu untuk dijadikan mahar?” dia berkata, “tidak, kecuali hanya sarungku ini.” Nabi menjawab, “Bila kau berikan sarungmu itu maka kamu tidak akan punya sarung lagi, carilah sesuatu.” Dia berkata, “Aku tidak mendapatkan sesuatupun.” Rasulullah pun berkata, “Carilah walau cincin dari besi.” Dia mencarinya lagi dan lagi dan tidak juga mendapatkan apa-apa. Lalu nabi berkata lagi, “Apakah kamu menghafal al-Qur’an?” dia menjawab, “Ya, surat ini dan surat itu.” Ucap laki-laki itu sambil menyebutkan surah-surah yang dihafalnya. Berkatalah Nabi, Aku telah menikahkan kalian berdua dengan mahar hafalan Qur’anmu.”
Aku terus memperhatikan mas Ilham yang sedang menjelaskan pertanyaanku tadi.
“Jadi pada dasarnya mahar itu adalah pemberian wajib calon suami terhadap calon istri. Sedangkan hafalan Al-Qur’an itu tidak bisa diberikan, sebab otak kita tidak bisa dicopy seperti komputer. Dan Rasulullah membolehkan laki-laki tadi memberi mahar berupa hafalan Al-Qur’an itu karena ada sebabnya, beliau tidak ujug-ujug langsung menyarankan hafalan itu.” Sesaat Mas Ilham berhenti untuk menghela nafas beberapa saat lalu kembali menjelaskan. “Sederhananya, mahar itu ya sesuatu yang menunjukkan ketulusan suami yang termasuk untuk menguatkan hubungan mereka kelak. Dan perlu diingat bahwa mahar bukanlah sesuatu yang memberatkan calon suami. Bagaimana Nad, apa sudah faham dengan penjelasan saya?” tambahnya.
“Wah terimakasih Mas Ilham atas penjelasannya. Setelah mendengar penjelasan Mas ilham tadi, saya jadi berfikir ternyata selama ini pemikiran saya salah.” Aku tersenyum dan berdiri mengucapkan terimakasih pada Mas Ilham.

Ya, aku sudah menetapkan pilihanku. Setelah melakukan sholat istikharoh tadi aku mengirimi Mas Zaki pesan singkat yang isinya bahwa aku belum siap untuk menikah untuk saat ini.
LINE! drrtt… handphoneku bergetar mengejutkan lamunanku. Aku melihat ada satu pesan LINE masuk
“Dik, Mas mau bicara sesuatu sama kamu.”
Kukerutkan dahiku membaca pesan dari Mas Rafly. Nggak biasanya dia begini. Biasanya kalau ada apa-apa dia langsung bicara. Ya bicara melalui pesan tentunya. Meskipun kami saling mengenal di dunia real, tapi kalau bertemu kami jarang menyapa. Hanya senyuman yang keluar tiap kali kami bertemu jalan.
“Iya ada apa Mas, bicara aja.” Balasku.
“Saya mau ngajak kamu serius untuk kedepan. Jangan salah tanggap Mas bukan mengajak kamu pacaran kok.” Balasnya.
Deg! Ya Allah, apa lagi ini? Aku mengurut dahiku yang tiba-tiba sedikit terasa nyut-nyutan, apa yang harus kukatakan padanya? Tanya hatiku.
“Dorrr!!” lagi-lagi Rania mengejutkanku.
“Astghfirullah, Rania berapa kali harus kuingatkan?!” seruku sedikit kesal.
“Iya iya.. asslamu’alaikum Nadira sayang. Lagian kamu ada apa sih? Habis ketemu sama Mas Ilham kok cemberut?” cerocos Rania.
“Haiss.. jangan ngaco kamu Ran.” Ucapku memanyunkan bibirku.
“Halloo… princesss sayang, Rania ini tidak pernah salah.” Sahutnya membanggakan diri.
“ya ya.. terserah kamu kalau gitu. Aku pulang dulu, assalamu’alaikum.” Aku berdiri meninggalkan Rania yang masih tidak berhenti bicara.

Seperti dugaanku sebelumnya, bahwa Mas Rafly pasti akan merasa sangat kecewa dengan keputusan yang aku sampaikan padanya lewat sebuah pesan singkat. Itu semua terlihat dari sikapnya yang tidak seperti biasanya. Sebelumnya setiap hari dia tidak pernah berhenti untuk mengirimiku pesan. Ya, sebelumnya dia sangat perhatian sekali terhadapku. Sekarang, untuk sekedar menyapaku saja tidak. Sebenarnya hatiku pun terasa sedikit berat dan perasaan tidak enak ketika mengirim pesan itu padanya. Dan juga jujur saja aku merasa sedikit kehilangan. Astaghfirullah hal’adziim.. hatiku tiada henti untuk beristighar.

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan. Aku menoba melupakan semua masalahku dengan menyibukan diri dengan kegiatan kampus yang terbilang padat.
“Ah, alhamdulillah ya Ran, akhirnya kuis hari ini sudah selesai.” Aku tersenyum senang.
“Iya, alhamdulillah Nad. Semoga nilaiku baik-baik aja.” Ucap Rania tidak yakin.
“Wah optimis dong Ran, biasanya kamu orang yang paling pede.” Aku merangkul pundaknya.

Drrrtt.. drttt… handphoneku bergetar. Kulihat layar Hp ku, “Ayah”. “Sebentar Ran, Ayahku nelepon.” Aku menjauhkan diri sedikit dari Rania untuk mengankat telepon Ayah.
“Halo Yah, assalamu’alaikum.” Angkatku.
“Wa’alaikumsam Nad, kuliahnya udah selesai?” tanya Ayah.
“Ini kebetulan baru aja keluar kelas, ada apa Yah?”
“Kalau gitu habis itu cepat pulang ya, ada tamu di rumah. Mau ketemu sama kamu, Ayah tunggu di rumah ya, Assalamu’alaikum.” Tutup Ayah.
“Iya Yah, wa’alaikumsalam.” Kumasukkan handphoneku kekantong. Kira-kira siapa yang mau ketemu sama aku? Hatiku penasaran.
“Ran, aku pulang duluan ya, Ayah udah nunggu di rumah.” Aku berpamitan pada Rania.

Degh..! lagi-lagi hatiku berdebar tak karuan, aku hanya bisa menunduk mendengar ucapan Ayahku barusan. Aku tidak salah dengar kan? Mas Rafly berniat melamarku di depan Ayah dan Ibuku. Ya, dia datang ke rumahku pun bersama kedua orangtuanya.
Kupikir dia akan menyerah setelah tolakanku beberapa bulan yang lalu, karena selama itu pula kami pun tidak pernah berhubungan. Ternyata tidak, sekarang dia benar-benar datang ke rumahku.
“Baiklah Ayah kira diamnya Nadira adalah jawaban bahwa Nadira setuju menerima lamaran nak Rafly.” Ayah mengambil kesimpulan untuk mewakili jawabanku.
“Alhamdulillah..” kata syukur terucap dari Mas Rafly dan kedua orangtuanya.
Ya, sekarang aku mencoba melupakan keinginanku tentang mahar pernikahan surah Ar-Rohman. Karena aku telah membulatkan niatku untuk tidak memberatkan calon suamiku.

Tibalah hari pernikahanku dengan Mas Rafly. Kutatap diriku di depan cermin rias. Kutarik nafasku dan kuhembuskan perlahan. Entah kenapa hatiku tak henti berdebar-debar, harusnya aku tidak segugup ini. Tak kubayangkan seperti apa perasaan Mas Rafly saat ini. Tenangkah atau lebih gugup dariku.
“Nadiraaaa!!! Wahh.. kamu cantik sekali.” Siapa lagi yang hobi berteriak tanpa salam seperti itu selain Rania sahabatku. Rania memasuki kamarku dan memelukku yang tengah duduk dikursi rias.
“Terimakasih Ran.” Aku tersenyum berdiri membalas pelukannya.
“Selamat ya, akhirnya kamu menemukan pangeran impianmu. Kupikir kamu akan menikah dengan Mas dosen, eh ternyata sama yang lain. Nah sekarang ayo kita keluar, mereka sudah nunggu kamu di luar.” Rania melepas pelukannya. Aku hanya tersenyum mendengar celotehan sahabatku.
“Sayang, ayo keluar semua sudah nungguin kamu.” Ibu masuk memanggilku.
“Iya Ma.” Aku pun keluar bersama Ibu dan Rania. Semua mata menatapku. Kudengar mereka berbisik-bisik mengomentari penampilanku. Kulihat Ayah sudah duduk berhadapan dengan Mas Rafly dan Bapak Penghulu.

“Baiklah, saya rasa acaranya sudah bisa dimulai.” Pak penghulu membuka acara. “Bagaimana Pak, bisa dimulai sekarang?” tanya pak penghulu pada Ayah.
“Silahkan pak.” Jawab Ayahku.
“Bagaimana Mas calon mempelai sudah siap?” tanya Pak penghulu pada Mas Rafly.
“Sebentar Pak bisa saya meminta sesuatu?” Kulihat Mas Rafly mendekatkan diri dan membisikkan sesuatu pada pak Penghulu.
“Baiklah, saya akan memulai. Apakah Bapak yang akan menikahkan sendiri sekali lagi Pak penghulu bertanya pada Ayah.
“Iya, saya sendiri yang akan menikahkan.” Jawab Ayah.

Akhirnya Mas Rafly berhasil melalui proses ijab kabul yang sederhana itu tanpa kesalahan sedikitpun dan tentunya tanpa ritual-ritual yang melanggar aturan islam. Dan apa itu, kulihat Mas Rafly mengambil mikrofon dan sebuah Al-Qur’an yang disimpan di atas meja. Dahiku berkerut memperhatikan apa yang akan dilakukan oleh Mas Rafly. Begitupun dengan para tamu yang menyaksikan proses ijab kabul ini.
Lalu dia pun memberitahukan bahwa dia akan membacakan surah Ar-Rohman sebagai hadiah untukku. Dengan suara merdunya dan tanpa kesalahan sedikitpun Mas Rafly melantunkan surah Ar-Rohman dengan penuh rasa khitmad. Aku pun tak kuasa menahan kristal-kristal bening yang siap jatuh saat itu juga. Aku benar-benar terharu menyaksikan ketulusan Mas Rafly dalam membaca surah Ar-Rohman untukku. Kupeluk ibuku yang duduk di sebelahku. Aku benar-benar tak dapat melukiskan kebahagiaanku saat ini.
“Mimpimu terapai Nad.” Gumam Rania. Kulihat mata sahabatku juga berkaca-kaca.
Setelah Mas Rafly selesai membaca surah Ar-Rohman, akupun diantar oleh Ibu untuk duduk disebelahnya.
“Semoga Allah meridhoi Mas Rafly sebagai imamku dunia akhirat.” Ucapku seraya mencium tangannya dengan takzim dan rasa haru.
“Semoga Allah juga meridhoimu sebagai bidadari syurgaku.” Ucap Mas Rafly juga, lalu mencium keningku.

Subhanallah, yang telah menjadikan makhluknya berpasang-pasangan. Kini aku benar-benar telah menjadi seorang istri.

Cerpen Karangan: St.N

Cerpen Lantunan Cinta Surah Ar Rohman merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tuhan Selamatkan Aku Dari Zina

Oleh:
Di luar sangat menakutkan. Angin bertiup kencang. Berdiri bulu romaku melihat pepohonan terpontang panting tumbang di dekat rumah. Kucoba mengalihkan perhatian, mengambil headset kemudian memutar musik sekeras-kerasnya. Suara gemuruh

Pengganggu Yang Menyukaiku

Oleh:
Namaku Samira, aku bersekolah di sebuah SMA negeri yang letaknya tidak jauh dari rumahku. Setiap berangkat sekolah selalu saja ada laki-laki yang menggangguku namanya Rangga, dia teman sekelasku tapi

Hijrah Cinta

Oleh:
3 hari berlalu tanpa kabar.. Kabar dari seorang kekasih hati yang kurindukan.. Dimana dia, sedang apa, dan bersama siapa pun tak kuketahui.. Oh Tuhan.. Serasa hati ini bagaikan terombang

Hati yang Bersih

Oleh:
Ketika hati manusia dipenuhi oleh rasa iri, benci, dan lara maka jangan heran bila keadaan yang akan diterima tidak sesuai yang diinginkan. Maka jangan salah dalam menaruh kata-kata di

Senyummu Salsa

Oleh:
“Sal, gue sayang sama lo,” kata Rio. Salsa berhenti berlari. Pasir-pasir yang ia injak ia rasakan semakin halus dan seperti ingin menghisapnya hidup-hidup. Salsa berbalik dan menatap Rio dalam.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *