Lima Menit

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 20 October 2014

Siang hari itu adalah siang yang sangat panas. Sengatan terik matahari hampir membuat semua orang tidak mau keluar dari rumah mereka. Yah, hanya beberapa orang saja yang mendapat hidayah untuk pergi ke masjid pada waktu Dzuhur hari itu, dan Alhamdulillah, akulah salah satunya.

Entah mengapa, selama dua jam terakhir ini, ada sesuatu yang mengganjal. Atau lebih tepatnya, mengajak. Mengajakku untuk berfikir, merenung lebih dalam, tentang beberapa hal yang tidak kusadari telah terlewat dalam hidup. Perjalanan ke masjid yang hanya berkisar lima menit itu serasa seperti satu jam. Tapi bukan satu jam yang melelahkan, melainkan satu jam yang selalu ingin kuulangi setiap harinya.

“Alhamdulillah, kamu sudah menginjak 17 tahun, usia dewasa, sekarang anak-anak ibu sudah besar semua”, setidaknya begitulah yang dikatakan ibuku sekitar beberapa bulan yang lalu. Tetapi tiba-tiba aku jadi teringat kembali kata-kata itu. Masih bertanya-tanya dalam benak. Sudah pantaskah aku ini disebut dewasa? Apakah dewasa itu? Apakah hanya seorang yang memiliki kemampuan manajemen bagus? Apakah seorang yang mempunyai banyak jaringan kerja? Apakah orang yang selalu berada di depan dalam setiap hal? Seorang yang selalu berada untuk lawan jenisnya? Apakah seperti itu?

Yah, bisa dikatakan semua kriteria itu benar, tetapi dalam lima menit itu, akhirnya aku menemukan jawabanku sendiri,

Dewasa itu adalah orang yang bisa mengendalikan hatinya

Ketika dikumandangkan adzan, apa yang kita lakukan? Ketika itu hati kecil kita mengatakan untuk memenuhi panggilan tersebut. Hanya orang dewasa lah yang sanggup mengikutinya

Ketika kita dilanda amarah dan emosi lain, apa yang kita lakukan? Orang dewasa akan selalu dapat mengendalikan emosinya, dengan mengikuti kata hati nurani

Sebenarnya hati nurani kita selalu menyuruh kita untuk berbuat baik, tapi masalahnya adalah, sadarkah kita akan suruhan itu? Ataukah hanya akan terbawa hawa nafsu?

Aku yakin, ketika hati kita sudah tertata rapi, kita akan merasa tentram dalam hidup. Manajemen bagus akan datang dari seseorang yang hatinya selalu tentram. Orang akan lebih senang berteman dengan orang yang berhati lembut dan ramah. Tidak harus selalu berada di depan, ada tatkala kita harus di belakang. Orang dewasa pasti akan paham tentang posisi dan beraksi di saat yang tepat, mengikuti kata hatinya. Meninggalkan perbuatan yang dilarang, dan mengerjakan yang diperintahkan olehNya. Itulah TAKWA.

Dan hidayah tidak akan datang, kecuali pada orang-orang yang bertakwa.

Manusia memang tidak bisa sempurna. Tapi manusia bisa bermuhasabah (berbenah diri). Sudahkah saya menjadi orang yang baik? Orang dewasa yang mampu menata hatinya, yang bertakwa kepada Allah?

Hanya kita yang tahu jawabannya, kapankah kita sudah dewasa, kapankah kita masih butuh pencerahan untuk diri kita. “Hisablah dirimu sendiri sebelum dihisab”

Aku pun sampai di depan masjid, mendengah ke langit. Melihat sesersih cahaya melintas melalui gumpalan awan. Seakan memanggilku untuk selalu pergi ke masjid, tempat paling indah untuk bersujud menghadapNya sembari melantunkan kalimat-kalimatNya

Mudah-mudahan lima menit ini bisa terus kuulangi setiap kali aku pergi ke masjid selama hidupku..

Cerpen Karangan: Muhammad Naufal Fuady
Blog: nanafockers.blogspot.com/NaNaFockers

Cerpen Lima Menit merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Allah SWT Memang Maha Adil

Oleh:
Dari selembar kertas kutulis pengalamanku yang membuatku menangis. Menangis deras untuk sebuah benda yang hilang. Betapa pentingnya benda itu untukku dan keluargaku. Benda itu hanyalah sebuah hp dan sebuah

Taubatnya Temanku

Oleh:
Waktu terus berjalan, zaman pun semakin berubah. Tidak dapat dicegah, kebudayaan asing telah merasuk ke dalam diri teman-teman sepermainanku. Budaya-budaya barat yang seharusnya tidak dilakukan oleh teman-temanku, tetapi dilakukan.

Kembali Keniat Awal

Oleh:
Mentari masih enggan menampakkan sinarnya. Namun pagi ini harus ku paksakan melangkahkan kaki untuk mengikuti tes masuk perguruan tinggi. Udara dingin menyelimuti tubuhku yang mulai menggigil. Ku intip wajah

Dream Death

Oleh:
Sore ini cuaca nampak muram. Semilir angin berhembus halus membelai pepohonan. Semua hening, ketenangan menyelimuti dari balik jeritan isak tangis yang teriring. Aku terbangun di antara keramaian, di antara

Aku Tidak Dulu Ke Surga

Oleh:
Untuk masuk ke dalam surga tentunya kita harus berbuat amal yang baik sewaktu di dunia dan harus diniati karena Allah, sehingga di akhirat nanti kita akan dimasukan ke dalam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *