Lima Pemuda Mengangkatnya (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 27 February 2016

Siapa saja yang tinggal di Kampong Pinang, di kaki bukit Salak, tahu dan mengerti akan lelaki perempuan serba modern itu menjengkelkan. Tidak secara langsung ia berperangai riya. Bagaimana tidak? Pergi menghadiri pengajian di surau yang jaraknya seratus meter saja dikendarainya sedan mercy dan memakai gaun serta hijab putih berkesan mewah sebab pada tangan dan lehernya menggantung kalung gelang emas: mengikuti arisan, dibayarnya sepuluh kali lipat nominal lumrahnya: dan ketika berjalan langkahnya terburu-buru dan melenggak-lenggok. Secara tidak langsung, dia seolah menginjak-nginjak dan menusukkan sembilu di ulu hati orang-orang tak berpunya. Tapi mereka mengelus dada saja, dan menunggu Yang Maha Kaya menegurnya. Oh, ya. Bicaranya itu macam orang angkuh yang tiada pernah diajari tata krama. Buta dan tuli dengan keadaan sekitarnya. Layaknya tidak memiliki nurani.

“Bu, mengapa makanan ini begitu tidak enak? Bukankah sudah ku beri banyak uang buat acara ini? Mana brownies dan prasmanan yang lain? Kenapa hanya nasi kotak?” Nadanya agak tinggi, menikam. Ibu-ibu dan perempuan dalam langgar itu hampir naik pitam. Tidak terima hadits Rasulullah diabaikan begitu saja oleh wanita angkuh nan kaya bernama Lina itu. Beruntung, mereka lekas ingat ini adalah bulan suci walau telah malam hari. Kau beruntung, ini Ramadan. Alhamdulillah, tidak meledak amarahku. Jika tidak, mungkin sudah ku sumpal mulut harimaumu dengan kaus kaki bau belacan. Batin Nuri.

“Maaf, Bu Lina, terlalu banyak donasi,” kata Ustadzah Khadijah lembut penuh hati-hati. “Namun, karena kegiatan kita rohani dan bukan untuk makan-makan hingga kekenyangan, maka uang yang lebih itu kami berikan pada mereka yang membutuhkan.” Suaranya bening, menembus dan memecah bongkahan gelap yang menutup hati. Teduh. Dan menenteramkan. Tapi belum berlaku bagi Lina. Rupanya, hatinya telah dikunci mati hingga kepekatannya begitu nyata.

“Halah.. Kenapa orang-orang miskin tak mau berusaha, inginnya saja terus meminta-minta. Tidak punya uangkah mereka?”
“Justru karena mereka tidak memiliki apa-apa, kita harus membantu. Agar mereka mendirikan usaha sendiri,” kata Ustadzah Khadijah lagi sembari tersenyum. “Kalau begitu,” ujar Lina sambil mengembangkan senyum sinis, “Sudah cukup kan? Lain kali tak usah diberi orang miskin dan fakir itu!”
“Subhanallah… Allah Yang Maha Suci….” Gumam orang-orang perempuan di sana menyaksikan langkah angkuh Lina keluar langgar. Kepalanya hilang di balik kaca riben sedan merci hitam metalik.

Gerah memang berbaring di dalam sangga pada siang hari. Tapi beginilah kemah. Waktu seakan melambat, siang terlalu lambat untuk hengkang. Fatih terus-menerus menyaksikan jam tangannya, diperhatikannya detik ke detik. Dia tak menyangka, mencapai senin butuh lapang dada, kesabaran penuh. Ini masih sabtu, upacara pembukaan belum dimulai sedari tadi. Jika bukan karena perlombaan yang amat kurang mungkin untuk dilewatkan di hari senin, mungkin Fatih yang tak butuh waktu lama untuk angkat kaki dari Kemah Ramadhan itu. Lagi pula, ketika mendirikan sangga tadi ada perempuan yang selintas menyita perhatiannya. Namun, ia hanya memendamnya dalam diam. Tujuannya kemah bukan semata mencari perempuan. Perempuan yang ditemuinya itu berwajah putih dan manis. Dia lembut, baik hati, dan suaranya dipenjara oleh diam, pikir Fatih, tidak tahu mengapa, aku selalu suka wanita seperti itu.

Ketika bersua, seringkali ia menundukkan kepala. Fatih heran, di mana saja ia bertemu dengan perempuan itu, seakan di setiap lokasi ada orang yang sama. Di masa mencari air wudu untuk salat ia dan wanita itu bertemu, ketika berbuka puasa mereka bertemu, di ruang sekretariat panitia mereka bertemu lagi. Begitukah kejadiannya, jika cinta telah berbicara? Sepasang merpati bisa bertemu di mana saja, kapan saja, bahkan di tempat yang begitu sederhana. Cinta menawarkan pertemuan-pertemuan yang aku kurang suka: dia datang di waktu aku masih mencintai perempuan lain. Selekas mungkin, aku harap dapat mengubur dan melupakannya. Lagi pula, mungkin… Ah sudahlah, pernyataan dalam benak melahirkan setumpuk pertanyaan lagi, batin Fahri. Barangkali, menundukkan wajah buat menjaga mata ialah cara terbaik menghindari kontak mata yang menumbuh-subur-kan cinta.

Di rumahnya yang megah, Lina kesepian. Rumah sebesar itu hanya ditinggali olehnya dan anaknya, lalu para pembantu-pembantunya. Satu nyawa, anak laki-laki semata wayangnya, pergi untuk tiga hari hingga senin datang. Baginya, ada baiknya juga anaknya yang telah remaja tidak ada di rumah, sebab ia telah bosan dengan celoteh, komentar, ajakan anaknya yang menurutnya bak seorang kyai.

“Huh! Pelajaran anak sekolah dasar dan menengah mesti ku dengar lagi: tentang agama. Islam? Hah? Harusnya tak perlu digali lagi. Yang harus dicari adalah…[2]” Ucapnya sambil melihat jendela. Ia amat suka dengan taman di halaman rumah pada malam hari, lampu-lampunya menyala indah. Ada ruginya pula. Ia harus bersahabat dengan sepi. Jika ada pekerjaan syuting untuk film atau iklan, mungkin dia akan merasa ramai. Tetapi, menaiki sedan merci pun di sisinya kerap duduk anaknya. Begitulah kenyataannya bahwa manusia makhluk sosial.

Orang sering menyebut ibu atau bapak dan anak bagai pinang dibelah dua. Menurutku, tidak selamanya begitu. Lina menganggap agama sebatas simbol dirinya, lain dengan anak remajanya, Fatih meresapi islam dengan jiwanya. Lina memrioritaskan banyaknya uang dalam brankar, tapi Fatih selalu mengeluarkan uang yang hak atasnya bagi kaum tak mampu. Bagi Lina rumah mewah perlambang kekayaan, tapi bagi Fatih kaya itu seberapa banyak ia memberi. Benar-benar dua orang di dua sisi berbeda, kegelapan dan penuh cahaya.

Ia berdebar, memastikan kebenaran ucapan kawan-kawannya: “Nanti siapa yang menerima piala?” Seyakin apa kedua kawannya itu, Syafiq dan Zidan, bahwa gudepnya akan meraih juara.
“Juara pertama salat berjamaah kategori penggalang: Gudep Panglima…,” detik-detik berjalan, kalimat itu seolah tertahan, lama, “Sebaya.” Tandasnya. Fatih terbelalak tak percaya. Ia sujud syukur. Ribuan puji bagi Allah ia haturkan dalam benaknya. Padahal ia tahu, ia melakukan kesalahan yang sama ketika menjadi imam salat maghrib tadi malam, seolah adegan itu diulang di waktu berbeda.

Fatih diminta maju untuk menerima piala. Tiga kakak penegak, dan dua kawan penggalang, tersenyum bangga padanya. Binar mata mereka seolah telah percaya dari semula mendengarkan kefasihan, keindahan, dan lantangnya suara Fatih layaknya dari hati terdalam bahwa ia akan meraih posisi itu. Terlebih, ia memiliki banyak hafalan surah pilihan. Mata mereka juga seolah berkonspirasi. Tiba-tiba, lima pemuda itu mengangkatnya. Membawanya ke tempat Fatih duduk. Semua mata yang melihat, riuh bertepuk tangan.

Kehadiran Lina belum sama sekali diketahui Fatih. Ibunya menitikkan air mata bangga sebab ia selama ini tidak secara keseluruhan mengenal sosok anaknya. Dari matanya turun hujan, pipi menjadi tanah yang setia menerimanya. Ia pun begitu ketika mendengar dari lisan buah hatinya sendiri ayat-ayat Al-Quran yang tak tertandingi keindahannya. Irama bacaan Quran yang dibawakan anaknya itu, ia mengenalnya: Muhammad Taha Al-Junayd[3].

Catatan Kaki:
[1] Tiga kata itu aku dapatkan dari sajak seorang pujangga tenar, orang-orang menyebutnya “Si Burung Merak”, ketika kawanku membacakan karyanya berjudul Gugur.
[2] Aku sengaja memotong kata itu, dan membuangnya. Kamu pasti tahu apa yang mesti tertulis di sana, yang mengakibatkan orang bisa lupa diri dan terjebak dalam riba, nark*tika, riya, dan korupsi. Betapa enggan aku menyebutnya.
[3] Muhammad Taha Al-Junayd. Dia seorang qari asal Manama Bahrain. Aku pun menyukai iramanya, begitu syahdu nan merdu. Namun, Fatih memakai nadanya ketika membacakan surah Luqman di waktu lomba. Ia mengimitasi suara Syaikh Saad Al-Ghamidi pada bacaan surah Al-Fatihah.

Cerpen Karangan: Rasyad Fadhilah
Facebook: Rasyad Fadhilah
Rasyad Fadhilah dapat disapa di akun facebook: Rasyad Fadhilah, dan akun twitter-nya: @Rasyad Fadhilah1. Siapa pun yang ingin melihat karangan-karangannya dapat mengunjungi laman: narapidanakata.wordpress.com.

Cerpen Lima Pemuda Mengangkatnya (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


O Seram

Oleh:
“AhhhHH…“, Teriakan Dewi mengagetkanku dan Alex. Dengan lincah Aku segera mencari Dewi yang barusan bilang kalau ingin cuci muka. “Kamu kenapa Dew?” Sambil membuka pintu Aku bertanya kepada Dewi

Seratus Persen Muslimah

Oleh:
“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama (ini).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim). Sang fajar perlahan-lahan mulai menampakkan sinarnya dari ufuk timur, matahari terlihat

Raket Ajaib

Oleh:
Pada suatu hari, ada seorang anak laki-laki bernama Surya. Ia bersekolah di SMPN Karta dan duduk di kelas 8. Ia mahir berolahraga dan pintar pelajaran Agama Islam. Olahraga favoritnya

Anak Pesantren

Oleh:
Hari sudah terlampau sore, mentari sebentar lagi akan tenggelam. “Teeett. . . teeett. . .”, terdengar suara bel yang berarti waktu istirahat sudah berakhir. Seorang anak laki-laki yang menuntut

Arti Hijabers Sejati

Oleh:
Aliya memandangi sosok yang kini ada di cermin kamarnya, persis berhadapan dengannya. Di sana, di cermin kamar kosnya, terbentuk sebuah siluet wanita yang amat anggun dengan balutan hijab rapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *