Liontin Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 8 August 2015

Lesung pipi yang meciptakan senyum yang begitu Indah ketika melihatku datang. Matanya yang membulat dan berbinar-binar ketika melihatku berlari ke pelukannya. Tangannya yang lembut ketika mengusap kepalaku. Suaranya begitu lembut ketika memanggilku.

“Indah, sudah pulang?”

Telah kurindukan masa-masa itu, umurku 5 tahun saat itu. Ibu dimanakah Engkau? Sering kali kutanya kepada Ayah keberadaanmu, tapi Ayah hanya diam seribu bahasa. Selalu kuucapkan namamu dalam doaku aku begitu merindukan Ibu. Indah ingin Ibu pulang, pulang kesini di sini dirumah kita Ibu.

Hari ini adalah ulang tahunku yang ke-16 dan seperti ulang tahunku sebelum-sebelumnya. Tidak ada yang spesial. Pagi ini Ayah tersenyum lalu memelukku sambil mengucapkan “Selamat ulang tahun Indah, tetaplah tersenyum menghadapi cobaan-cobaan Allah. Sealu bersabar dan mengambil hikmah lalu belajar dari masalah-masalah Indah sebelumnya. Ayah ndak pengen Indah memaksa diri tuk mendapatkan nilai-nilai bagus, dengan nilai-nilai Indah yang sekarang Ayah udah bangga. Semoga Indah bisa mencapai cita-cita Indah yang Indah sering ceritakan pada Ayah. Tetap rajin sholat dan berdoa. Ayah bangga sama Indah.”

Aku mendengarkan kata-kata Ayah sambil menangis lalu aku membalasnya sambil tersenyum walau masih jatuh tetesan air mata di pipiku.

“Ayah, terima kasih atas kasih sayang Ayah selama 16 tahun ini. Indah akan selalu tersenyum ceria bersabar belajar untuk masalah-masaah Indah. Indah akan berusaha membuat Ayah bangga lebih dari ini. Indah ndak akan pernah lupa sholat dan berdoa kok yah. Amin, Indah bakal belajar demi cita-cita Indah dan akan membuat Ayah bahagia dan bangga pada Indah. Ayah, Indah sayang Ayah.”
Ayah pun membalas sambil memelukku lebih erat. “Iya, Ayah juga sayang Indah.”
Aku menggumam dalam hati. “Ibu seharusnya Ibu ada di sini bersama kita. Ibu kenapa tinggalin Indah sama Ayah?”

Sehabis aku dan Ayah berpelukan, aku pun bergegas berangkat sekolah diantar oleh supir, supirku bernama pakde Jundi. Sekolahku tidak terlalu jauh dari rumah tapi harus naik kendaraan jika ingin cepat sampai. Aku bersekolah di SMA Al-Hikmah Surabaya. Tepat jam 06.30 aku sudah berada di sekolah, aku pun masuk ke kelasku, kelas 10-F.

“Hai ketua kelas, eh HBD and GBU plus WYATB yaa” seru semua teman-temanku dalam kelas bersamaan.

Lalu tiba-tiba salah satu teman dekatku bernama Bunga dari belakang memberiku sebuah kue yang bertuliskan namaku. Teman-temanku pun langsung bernyanyi lagu happy birthday lalu dilanjut tiup lilinnya. Aku pun meniup lilinnya dan teman-temanku serempak berkata “Hore”
“Suwun rek wes nggae pesta kecil-kecil lan.” kata terima kasihku dengan bahasa jawa. Artinya terimakasih ya sudah membuat pesta kecil kecilan.

Tanpa kita sadar sebenarnya sudah ada guru yang menunggu kita tapi saking asiknya kita bernyanyi kita pun tak sadar.
“Duduk semuanyaA, apa-apaan kalian ini? ini bukan tempat pesta ulang tahun. Ayo bereskan semuanya”

Lalu salah satu temanku yang bernama Azaf pun mengikuti kata-kata yang diucapkan Bu Shahnaz tadi dengan niat mengoda.

“Hooi ini kelas bukan tempat ulang tahun rek” lalu Bu Shahnaz dengan emosinya memarahi semua anggota kelas kami. Ya memang sih, kelas kami dianggap kelas paling rame, ndak bisa diatur, tapi kelasku ini kelas yang paling hebat menurutku. Entah hebat apanya.

Setelah pulang sekolah yaitu pada jam 16.30, aku menunggu jemputan pakde Jundi di depan sekolah. Hmm tapi sebentar sepertinya aku familiar dengan wanita yang sedari tadi duduk di atas halte depan sekolahku. Wanita itu memakai hijab berwarna abu-abu dan dress panjang berwarna abu-abu keputihan.

Aku pun dengan penasarannya berlari ke depan halte bus itu. Aku ingin melihat lebih dekat, aku ingin tahu kenapa hati ini begitu ingin pergi mendekat ke wanita itu, kenapa mata ini selalu tertuju kepada wanita itu, kenapa otak ini selalu berpikir bahwa wajah itu sangatlah familiar.

Dan ketika aku sudah sampai di depan wanita itu mataku membulat besar, mulutku bungkam, tetesan air jatuh di pipiku. Selama ini yang kucari telah kembali, Ibuku “Ibu, apakah itu engkau? Ibuku yang telah hilang selama ini? Apakah engkau Ibu ku?” kuucapkan kata-kata itu sambil terus tetesan air mata jatuh di pipiku.

Dia terdiam sebentar memasang wajah cemas dan kaget. Lalu wanita itu yang kusangka adalah Ibuku menjawab, “Anak manis kamu salah orang, aku bukan Ibumu Nak.” Ya Allah rasanya ada pisau yang menusuk jantungku. Tapi wajahnya mirip dengan Ibu di foto ruang tamu.

Jika dia bukan Ibuku kenapa firasat hati ini bilang bahwa dia adalah orang yang selama ini kucari-cari, kenapa aku begitu ingin memeluk erat dia? Ah sudahlah mungkin ini hanya firasatku saja, sudah jelas wanita itu berkata bahwa dia bukan Ibuku.

Aku pun mengusap mata lalu tersenyum sambil berkata.
“Oh, maaf tante aku kira Ibuku karena wajahnya hampir mirip apa mungkin hanya imajinasiku aja. Maaf ya te” dia pun menjawab sambil tersenyum.
“Iya nak ndak apa”.

Ketika aku melihat senyumannya kenapa aku menangis? Kenapa senyum itu terlihat begitu indah di mataku? Ibu apakah itu kau? Apakah yang sedang berhadapan denganku ini adalah dirimu Ibu, Ibu yang kurindukan.

Tangan itu mengusap tetesan air mataku, tangannya lembut selembut sutera seperti tangan Ibuku dulu suaranya terdengar di telingaku suaranya yang halus berkata, “Kok nangis nak? Kenapa?” tanyanya dengan lembut.
Aku pun memegang tangannya yang ada di pipiku dan tersenyum sambil berkata “Aku ndak apa kok te, ya udah ya te Indah duluan udah ditunggu pakde soalnya.”
“Oh namamu Indah, kamu manis seindah wajahmu dan senyummu nak. Ibumu pasti sangat cantik hingga bisa mempunyai anak secantik dirimu nak.” Katanya sambil tersenyum lebar melihatkan giginya yang rapi dan putih itu.
“Iya tante makasih, Ibu memang sangat cantik, cantik seperti bidadari seperti tante.”
“Makasih ya nak, yaudah kamu kan udah dijemput sama pakde mu, tante juga sudah harus pergi sekarang. Itu bis sudah berhenti. Daah” kata Tante itu sambil memasukkan HPnya kedalam tas.
“oke tante aku duluan ya” kataku sambil membalas senyum Indah itu.

Dia mengangguk dan tersenyum. Aku pun langsung berlari menyeberang jalan dan langsung masuk ke dalam mobil yang sepertinya sudah menunggu dari tadi.
“tadi Indah ngomong sama siapa? Kok Indah nangis?” tanya pakde Jundi sambil memberikan tisu kepadaku yang sepertinya melihat kejadianku bersama tante tadi.

Oh iya aku lupa tanya siapa nama tante itu. “Indah tadi ngomong sama tante yang mirip sama Ibu.” Jawabku sambil tersenyum dan mengambil tisu itu lalu menggunakannya membasuh pipiku yang basah.

Tante bidadari semoga kita ketemu lagi. Terimakasih Allah atas hari ini yang awalnya kukira biasa-biasa saja tapi ternyata luar biasa. Ah bahkan menurutku lebih dari luar biasa. Makasih allah atas pertemuanku dengan tante bidadari itu.

Hari demi hari ku jalani dengan bersabar menunggu Ibu kembali ke rumah, selalu ku tunggu saat-saat itu tapi seperti biasa tidak ada sosok seorang wanita datang ke rumah, sampai seorang lelaki memakai baju tugasnya yang berwarna orange datang mengetuk-ketuk pintu rumahku.

Saat ini aku memang hari minggu jadi aku hanya di rumah melihat dan ke jendela luar menunggu Ibu. Aku pun langsung membukakan pintu itu, dan sosok lelaki itu memberikan surat dan memintaku menanda tangan untuk data penerimaan surat yang ia antar. Setelah itu pengantar surat itu pun pergi dan aku masuk kerumah lalu kembali duduk didepan jendela sambil melihat apa isi surat itu.

Surat berwarna putih bersih itu bertuliskan “untuk anakku tercinta, dari Ibumu yang kau tunggu” melihat tulisan itu aku pun langsung bergegas membuka surat itu. Di dalam surat ada kalung berliontin dibalik liontin itu ada foto, itu foto seorang wanita yang menggendong anaknya, wanita itu mirip dengan wajah Ibuku. Begitu juga anaknya tentu itu aku.

Kupandangi terus foto wanita itu sampai tetes air mata jatuh ke pipiku. Lalu aku membuka surat itu.

“Teruntuk anakku yang paling kusayang. Indah, maafkan Ibu yang hanya bisa melihatmu tanpa bisa memelukmu erat. Maafkan Ibu yang meninggalkanmu tanpa menemanimu tumbuh besar, sekarang Indah sudah besar sudah cantik ya? Sudah cantik sekali seperti bidadari yang Indah sering bayangkan dan ceritakan kepada Ibu dulu. Indah jangan benci Ibu, Indah jangan sama Ibu. Ibu ninggalin Indah karena ndak ingin Indah tahu kalau Ibu sakit, Ibu takut kalau Indah dan Ayah tahu Ibu sakit soalnya Ibu ndak pengen buat Indah sama Ayah sedih.

Selama ini Ibu selalu ada di samping Indah tanpa Indah sadari karena Ibu ada di hati Indah. 3 bulan lalu Indah pasti bertemu dengan wanita yang Indah bilang cantik seperti Ibu, seperti bidadari bukan? Dan di samping wanita itu ada seorang wanita berwajah pucat pasi mengunakan kerudung putih dan tersenyum ketika melihat Indah dan wanita itu berbicara. Sebenarnya wanita berkerudung putih itu adalah Ibu.

Itu adalah saat-saat terakhir yang Ibu punya dan saat-saat terakhir itu Ibu gunakan untuk bertemu Indah. Ibu takut ndak akan bisa lihat Indah lagi makanya Ibu dengan dengan sekuat tenaga memohon kepada suster untuk menemani Ibu melihat Indah saat itu. Indah jaga diri baik-baik ya jaga Ayah juga. Maaf Ibu ndak bisa nemenin Indah sampai Indah sukses. Ibu cuman bisa ngasih kalung itu, Indah jaga baik-baik kalung itu ya. Indah, di dalam kalung itu ada foto Ibu dan Indah saat Indah masih bayi.

Indah jangan sedih baca surat pertama dan terakhir Ibu. Mungkin sekarang Ibu sudah ada di surga bersama Allah. Ibu selalu berdoa untuk Indah di sini. Indah jangan suka nangis kalau kangen sama Ibu, karena Ibu selalu di sisi Indah. Ibu sayang Indah sangat sayang Indah. Untuk selamanya. Ibu akan menjagamu dari sini. Jangan sedih, ya Indah.”

Setelah ku baca surat itu tanganku masih bergetar, masih jatuh tetesan air mata, yang semakin lama semakin deras arusnya. Ku angkat liontin kalung itu ku lihat lebih jelas dan aku berkata, “Ibu ternyata Ibu masih cantik seperti dulu Indah juga sayang Ibu. Ya Allah jaga Ibu dan masukkan ia ke Surga. Dan Ibu, aku juga akan menjaga liontin Ibu. Terimakasih Ibu. Aku menyayangimu selalu”

Langit langsung mendung. Dia mengerti perasaanku sore ini. Coretan jingga tipis lukisan Allah perlahan pudar dan berganti biru gelap. Alam ini ikut sedih sepertinya. Adzan Maghrib terdengar. Aku segera berlari dan wudhu lalu sebelum shalat aku bersujud lama. “Ya Allah, pertemukan aku dengan Ibu dalam mimpi”

Akhirnya malamnya aku memimpikannya. Ibu berkata, “Indah, ingat pesan Ibu, jangan terus bersedih Allah dan Ibu akan selalu bersama Indah dan ada di hati Indah.”

Aku mencintaimu Ibu meski Ibu kini telah tak ada di sisiku.

Cerpen Karangan: Sherena Anodhea Eka Pramudita
Facebook: Sherena Anodhea Eka Pramudita

Cerpen Liontin Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ogah Masuk Surga Sendirian

Oleh:
Aku Nia, kuliah di jurusan keguruan mungkin salah satu kesalahanku kali ini. Lulus dari salah satu pesantren di daerah Pati membuatku bersemangat melanjutkan sekolah dan mengambil jurusan yang berbau

Ayah… ini Aku

Oleh:
Tubuh Mungilnya menggigil kaku… ia duduk di sebrang trotoar, sambil terus menggigil kedinginan.. tiba tiba dua orang sosok berbadan tegap dan gelap mendekatinya “Dasar Anak gak tau diri kamu!!!,

Bersatunya Hati Yang Patah

Oleh:
Semula semua baik-baik saja. Kebahagiaan menjadi hal utama dalam kehidupan mereka. Kasih sayang menjadi perekat dalam istana mereka. Menghabiskan waktu di rumah tanpa sedikit pun rasa bosan. Terlukis dengan

Bidadari Penyelamat

Oleh:
Wajah mungil dan polos. Begitulah aku melihat seorang anak perempuan yang tengah tertidur lelap di depan pandanganku. Wajah putih belum ternoda hitamnya dosa, sungguh pemandangan yang tenangkan jiwa. Meski

Kejutan Dari Ibu

Oleh:
Pagi ini terasa cerah sekali, terik matahari menguning bagaikan telur dadar yang baru matang. Ah, pagi-pagi ini melihat matahari pun seperti melihat makanan. Tidak hanya itu, aku melihat burung-burung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *