Maaf Yang Tertunda

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Pengorbanan, Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 10 May 2013

Ketikaku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu. Begitu banyak lumuran dosa yang menghadang, sehingga hamba tidak gentar melawan prolema kehidupan yang luas, bahkan dunia dekat hamba pun hanyalah membuat jiwa hamba terpuruk, Ya Allah, mengapa hamba takut mengungkapkan kebenaran, mengungkapkan kenyataan bahwa yang di lakukan kakak hamba itu salah, Ya Allah akankah hamba dapat mengungkapkan semuanya?

Itulah doa yang selalu kuhadirkan seusai melaksanakan panggilan sang pencipta, Ya Allah hatiku terus teriris melihat kejadian yang selalu menghampar hidupku, akan tetapi lidahku terasa kelu, mengapa aku tidak bisa menyadarkan Hanifa, kakak kandungku sendiri, yang telah nyata melakukan perbuatan yang merugikan. seorang Penjual Tiket Palsu. Apakah itu tidak merugikan orang lain, Kelihatannya asli tapi nyatanya palsu. Kakakku membeli tiket palsu dengan harga murah dan menjualnya dengan harga yang begitu tinggi.
Berulang kali kuperingatkan bahwa yang dilakukannya itu bertentangan dengan agama, suatu tindakan menipu, akan tetapi berulang kali juga aku tertegun mendengarkan kemarahan kakakku dan aku tidak mampu berkata apa-apa lagi. “Ya Allah, haruskah kubiarkan kakakku terjerumus ke dalam lembah hitam” bisikku.

Suatu ketika, kakakku pulang larut malam dengan tubuh yang terhuyung karena meminum alkohol yang terlalu banyak. Segera ku sambut kakakku diiringi perasaan sedih.
“kak, mengapa kakak seperti ini, mabuk-mabukan, ingat kak, usia kakak telah mencapai 25 tahun, apa kebaikan yang kakak lakukan? kak, ada Allah yang selalu mengawasi kita, Allah yang memberikan kehidupan bagi kita agar selalu bersyukur dengan nikmat, sadarlah kak!. Ujarku mengingatkan Kak Hanifa.
“Hey Halifa, bicara apa kamu, jangan sok alim. Apa hak kamu menceramahiku. Ini hidupku, ini duniaku, jangan kamu bawa-bawa agama. Tidak ada hubungannya denganku! Jawab kakakku.
“Istighfar kak. Mata hati kakak telah buta, sadarlah kak!
“Diam halifaa…!” Teriaknya padaku sambil menarik jilbab yang kukenakan hingga tersibak rambutku.
Aku hanya terpaku diam menghadapi perlakuan kak Hanifa terhadapku. Setelah itu, kak Hanifa berlalu meninggalkanku menuju kamarnya.

Begitulah setiap hari kelakuan kakakku, siang menipu orang dengan menjual tiket palsu, malamnya mabuk-mabukkan tidak jelas. Hatiku teriris melihat keadaanya. Tidak mengenal ajaran agama, tidak mengenal arti hidup sesungguhnya! akankah aku dapat menyadarkan kakakku? Entahlah, mungkin sampai ajal menjemputku, aku tidak akan bisa membuatnya kembali dekat kepada Allah. Memang sejak kepergian Ummi dan Abi, Kak Hanifa berkelakuan tidak baik, walaupun begitu aku tetap menyayanginya.

Malam ini, Hatiku merasa gelisah, sudah lewat tengah malam, Kak Hanifa belum pulang juga. Setelah shalat Tahajud menghadap Sang Pencipta, mengharap keridaanNya, kuputuskan untuk menyusul kakakku dengan mengunjungi tempat berkumpul kak Hanifa bersama teman-temannya. Tetapi usahaku sia-sia, dia tidak ada di sana.

Kegelisahanku mulai memuncak, di kegelapan malam, seorang diri aku menyusuri jalan mencari kakakku. “Kak, kakak di mana?” bisikku dalam hati. Pikiranku kalut ketika melihat kakakku di hadang sekumpulan pencuri sambil menarik tas yang dikenakannya. Tanpa pikir panjang, aku segera mengambil kayu balok yang tergeletak di pinggir jalan. Aku berlari dengan cepat hingga aku memukulkan kayu tersebut kepada pencuri itu. Tanpa aku sadari sebuah benda tajam, keras menusuk punggungku. Rupanya itu pisau yang ditusukkan oleh pencuri. Akkh!! Hanyalah rasa sakit yang kurasakan, darahku mengalir dengan cepat, sebelum tubuhku tersungkur ke bumi, samar-samar aku mendengar suara kak Hanifa.
“Halifa, bangun sayang! Maafkan kakak. Kakak salah, kakak tidak mau mendengarkan nasihat kamu, kakak janji akan bertobat, kakak akan menjadi wanita sholehah, berprilaku baik. tapi kamu bangun ya! Bangun halifa! Maafkan kakak! air mata mengucur membasahi pipinya.
Namun sayang, ajal telah menjemputku. Untuk terakhir kalinya aku tersenyum, hingga aku menutup mata untuk selamanya.

Cerpen Karangan: Nurlaili
Facebook: Nurlaili Nurlaili

Cerpen Maaf Yang Tertunda merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Terima Kasih

Oleh:
“Heena.. Heena..” Dinda memanggilku dari balik pagar. “Iya sebentar.” Jawabku keras. Seperti biasa setiap pagi Dinda selalu menghampiriku untuk berangkat ke sekolah bersama. “Hai…” Sapa seseorang pada kami, kami

Dukung Aku

Oleh:
Minggu lalu seorang ustadzah memberiku tugas untuk menuliskan sebuah cerita. Cerita tentang awal perjalananku berada di Ma’had ini. Namun siapalah aku? Aku hanya bocah yang belum banyak mengerti. Sampai

Air Mata Penyesalan 2

Oleh:
6 bulan sudah debby terbaring di tempat tidurnya. Gue selalu bacain novel-novel buat dia, maskipun dia koma gue tahu dia bisa denger semua. gua selalu berharap dia sadar. Pagi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Maaf Yang Tertunda”

  1. Dinbel says:

    Terharu bacanya, tapi bagus ceritanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *