Malaikat Tidak Bersayap

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 28 July 2021

Kehidupan sangatlah singkat, banyak remaja sekarang kurang memanfaatkan waktu mudanya dengan baik. Terkadang aku juga merasa belum memanfaatkan waktu luang dengan benar, Sejak kecil aku dilatih untuk mandiri oleh orangtuaku. Namun, lain halnya dengan adikku berbanding terbalik denganku. Sewaktu kecil dia dimanja, aku menyadari karena aku sebagai kakak harus mengalah. Tapi terkadang aku sedih sejak kecil ibuku kerja di negeri orang, atau sering disebut TKW (tenaga kerja wanita). Aku menyadari semua Allah berikan padaku adalah takdir, lewat itulah ibuku bisa menyekolahkan aku dan adikku.

Orang-orang sering bertanya “kenapa ibumu masih disana padahal kamu sudah besar”, aku hanya senyum walaupun rasanya sedih. Dan semenjak bapakku meninggalkan keluarga ibulah yang membiayaiku, beliau tidak lagi kerja disana namun ibu membiayaiku lewat berjualan lauk di rumah. Aku belajar dari kehidupanku bahwa semua adalah titipan Allah dan semua yang kita miliki atas kekuasaan-Nya.

Mranggen, 26 april 2019
Aku tersadar dari lamunanku. Ternyata aku sendiri di kelas, entah kenapa aku rindu keluarga. Tiba-tiba ada yang datang menghampiriku. “sya tumben kamu nggak beli jajan” ucap Laila, teman sebangkuku. “emm.. nggak apa-apa la”. Jawabku dengan senyuman. “Besok kalau wisuda sama aku ya”. Sambil menawarkan jajan kepadaku. “siap la, entar sewaktu di acara bareng ya kita ngajak dinar, atul sama Fatimah”, dengan santainya aku mencomot jajan Laila.

“pengumuman gaes ada briving di mushola katanya suruh kumpul semua kelas 12”. Salah satu temanku menginfokan update untuk kelas 12.
“Anak-anak semua kumpul di mushola sekarang berkenaan satu minggu mendatang acara wisuda”. Pak andika mengumumkan dengan speakernya. Setelah dua jam brifing aku langsung menelepon ibuku di warung bu aminah. Aku membicarakan dengan beliau diadakannya wisuda di Masjid Agung jawa Tengah. “sya hari minggu ibu jemput kamu ke pondok ya, jangan lupa barang-barang disiapkan”. Begitulah kebiasaan seorang ibu mengingatkan anaknya. “Duh jadi nggak sabar pulang ke rumah”. Celetukku, Selesai menelepon aku melanjutkan aktivitasku seperti biasa. Karena aku masih mengenyam pendidikan di Pesantren setiap pulang sekolah aku langsung ikut kegiatan mengaji.

04.26 WIB
Aku terbangun karena sudah subuh, kumandang adzan membangunkanku untuk bergegas mengambil air wudhu. Hal yang sangat unik di pondok waktu subuh, mengantuk ketika shalat subuh termasuk aku juga pernah ketahuan mengantuk didepan pak kyai. Rasanya malu sekali ketika teringat itu.

Selesai sholat berjamaah aku ditanya nadia teman sekamarku. “Mbak syaqila hari ini pulang ya?”. Ucap nadia menyenggol lenganku dengan pena. “Iya nad, kan sebentar lagi acara wisuda gue lah”. Aku menjawab sambil menulis catatan ngaji. “nggak kerasa ya mbak bentar lagi udah mau lulus hehehe..” kata sinta teman seperjuangan tapi beda angkatan. “emm.. selesai ngaji kemas-kemas yuk, kan hari ini perpulangan kelas 12”. Kataku. “kawan-kawan abah helmi udah datang” salah seorang temanku yang duduk paling depan. Setelah kegiatan jamaah langsung ngaji kitab dengan abah yai yaitu kitab yang beliau terangkan tafsir Al-ibris karya K.H. Bisri musthofa-rembang.

Seperti itulah kegiatanku di pondok, memang banyak cobaan yang aku alami disini, tapi aku percaya lewat berkidmah dengan pak yai pasti ada berkahnya. Terkadang sebagian orang ada yang percaya ada yang tidak, aku sejak kecil sudah terbiasa jauh dengan orangtua. Namun, aku tidak berkecil hati Allah memberiku hidayah lewat aku di pondok pesantren. Ya aku mencari sebuah kehidupan yang nyata, disinilah aku mendapat sebuah arti tentang agama. Aku bersyukur seperti memliki keluarga kedua di pondok bagaimana tidak, semua kehidupan dunia pesantren memang penuh kenangan, Disini aku diajarkan cara beristiqamah, sabar, dll..

“Nduk, bangun sudah jam empat ayo sholat subuh, alarmmu itu bunyi terus”. Kata ibuku yang sedang membuka jendela kamarku. “hah nduk? Lho aku ternyata udah pulang rumah?”. Aku bertanya dengan diriku sendiri di dalam hati, “kamu ini udah besar masih aja dibangunin ibu, di pondok jangan kaya gini sya”. Aku menjawab sambil membereskan tempat tidur. “bu jangan samakan di pondok, ini kan di rumah …ada diskon bangunnya”. “besok acara wisuda ibu kayanya nggak bisa ikut sya, ibu kan sekarang jualan”. Kata beliau. Tapi aku tidak menjawab langsung ke kamar mandi. “pagi-pagi udah bahas kek gitu, mana aku konek baru bangun” gerutuku. Selesai shalat subuh aku mengistiqamahkan mengaji walaupun di rumah, sudah hal terbiasa santri ketika selesai shalat murojaah hapalannya.

“syaqila, ada telepon dari kawanmu nduk”. kata ibuku yang sedang masak air, “iya bu.. sebentar”. Aku langsung bergegas mencari teleponnya. “halo assalamualaikum”. Kataku, “wa’alaikumsalam, sya jangan lupa hari sabtu berangkat wisuda sebelum jam tujuh ya”. Kata laela, “insyaallah la, aku on time tapi kan tergantung jalan raya nya kalau rame mungkin agak telat”. Kataku, “iya juga ya rumahmu kan Kendal, ya semoga aja lancar dan on time”. “Aamiin… Terima kasih doanya la, semoga kamu juga lancar”. Tutttt..
“yah, putus lagi sambungannya, belum juga salam”.

Aku langsung membatu ibuku yang sedang memasak untuk dijual. “bu, besok acara wisuda sebelum jam tujuh”. aku sambil menggoreng mendoan. “nanti disiapin seragamnya biar besok tinggal Makai”. Kata ibuku dengan nada lembut. “Bu bukan itu yang aku tanyain, masalahnya yang nganter kesana siapa?”. “besok kamu dianter sama mas raffi ya, nanti ibu yang bilang”. Ibu sibuk dengan masakannya. “ibu ada yang beli itu”.

Aku sedang menikmati suasana sore di perkampunganku, aku berjalan menuju jalan raya. Dimana aku melewati sepanjang jalan kenangan selama tiga tahun, jalan yang penuh tantangan teringat waktu sekolah SMP, ya memang pahit waktu pelepasan kelas Sembilan. Entah kenapa aku takut kejadian hal yang sama, orangtuaku tidak bisa hadir di wisuda kemarin. Namun tak jadi kendala aku tetap berangkat ke wisuda, meskipun tidak ada yang hadir.

Hal yang sangat membuatku kurang semangat, semenjak ayahku meninggalkan keluarga ibuku mengajariku semangat untuk menjalani kehidupan. Aku teringat pesan ibuku sewaktu awal kelas kelas 12, “sya, walaupun sekarang bapakmu tidak disampingmu jangan sedih semua terjadi atas kehendak Allah tugasmu sebagai anak berbakti kepada orangtua caranya bagaimana? Lewat do’a lah yang bisa menguatkanmu nduk”.

“sya… hello dari tadi lho aku panggil kamu, ada apa si?”. Kata syifa, dia adalah saudara dari ibu yang sering main bareng dari kecil. “nggak apa-apa syif aku Cuma kepikiran nasihat ibu aja”. Aku menghentikan sepedaku karena sudah sampe rumah. “oalah ya udah tak kirain kesambet apa”. Syifa sambil cengengesan. “sya baju buat besok udah disiapin?”. Kata ibu menanyakannku dari arah jemuran. “iya bu habis ini, aku siapin”. “bulek aku pamit pulang ya takut ibu cari”. “fa, cepat sekali kesininya nggak mau makan-makan dulu”. “nggak usah bulek terimakasih”. Ibu memang mempunyai sifat yang ramah terhadap orang lain apalagi saudaranya sendiri, aku salut dengan beliau.

Hari ini adalah hari wisudaku dimana sebuah perjuangan selama tiga tahun aku di bangku Aliyah. Sesingkat ini putih abu-abuku sangat tidak terasa bagiku, Aku sudah siap dengan baju seragam wisuda.

“ibu berarti nggak ikut aku diacara wisudaku”. Kataku dengan nada kecewa. “maafin ibu sya, kamu kan tau ibu lagi jualan kalau ibu nggak jualan biaya sekolah untuk adikmu bagaimana?”. “bu… ini sekali dalam seumur hidup, apa seenggaknya ibu ngertiin syaqila sedikit aja”. Wajahku semakin menunduk terasa berat aku berangkat tanpa didampingi orangtua, padahal ini hari yang sangat berarti bagiku.

Tiba-tiba suara motor dari depan, “nah itu kamu dianter sama mas sepupu ya”. Kata ibuku sambil mengambilkan lauk untuk pembeli. “mas raffi yang nganter?”. “ayo sya berangkat katanya sebelum jam tujuh”. Kata mas raffi yang sudah siap dimotornya.

Di perjalanan tak hentinya aku bersholawat, entah kenapa aku merasa kecewa dengan keputusan ibuku. Semenjak SD, MTS, sampai jenjang ini tanpa damping orangtua sedih pasti ada namun bagaimana lagi sudah menjadi takdirku, ketika sudah sampai lokasi tepatnya di Masjid Agung Jawa Tengah. Perasaanku bercampur aduk, akumengikuti acara tersebut dengan khidmah, semua berjalan dengan lancar. Ketika namaku dipanggil aku menumpahkan air mataku benar-benar sudah berakhir masa Aliyahku, Aku menyalami semua guru-guru beliau selalu memberiku do’a dan semangat.

“Alhamdulillah mas raffi aku lulus”. Aku langsung menghampiri mas raffi yang sedang memvidiokanku waktu keatas panggung.
“sya setelah ini kan kamu nggak pulang langsung ke pondok, aku mau kasih kamu sesuatu”. Sambil memberikan bingkisan dan surat. “dari siapa mas?”. Kataku sambil mengambil dari mas raffi. “bukanya nanti ya”.

Untuk anakku tercinta,
Nduk, tak terasa kamu suadah besar. Ibu hanya bisa mendoakanmu selalu menyemangatimu setiap waktu, namun kamu harus mengerti dari keadaan di keluarga kita Allah selalu menguatkanmu dan juga menjagamu. Ibu ikhlas kalau kamu mengambil pilihan setelah lulus untuk mengabdi di pondok, dua bulan lagi ibu akan bekerja lagi di luar negeri. Tugasmu hanya mendoakan ibu, belajar. Selagi ibu mampu membiayaimu sampai jenjang yang lebih tinggi, kamu jangan seperti ibu, kamu harus melebihi ibu. Carilah ilmu sampai akhir hayatmu. Allah akan memberi jalan orang yang mencari ilmu agama, pesan ibu walaupun kamu tidak didampingi orangtuamu tetaplah tabah dan ikhlas. Kamu bisa berkhidmah untuk kyaimu lewat gurulah kamu tanamkan rasa khidmahmu, semoga syaqila menjadi anak sholehah, manfaat buat orang lain, nggak boleh sedih terus semangat!!!

Aku benar-benar kaget ternyata ibu punya tujuan yang lain, terimakasih ibu selama ini kau selalu membimbingku, selama ini aku berpransangka denganmu. Aku sangat jahat menilai orangtuaku sendiri dengan sifat-sifat yang kotor. Aku janji aku akan berusaha semampuku untuk berkhidmah di pondok, kau bagaikan mutiaraku akan tetap bercahaya di kehidupanku.

Dan aku teringat sebuah hadis tentang pentingnya berbuat baik tiga kali lebih besar kepada ibu dibanding bapak.
“Seseorang datang kepada Rosulullah SAW, dan berkata, “wahai rosulullah, kepada siapakah aku berbakti pertama kali?. Nabi saw menjawab, ‘ibumu. Dan orang tersebut kembali bertanya, ‘kemudian siapa lagi?, nabi menjawab ‘ibumu. Orang tersebut bertanya kembali, ‘kemudian siapa lagi?. Nabi menjawab ‘ibumu’. Orang tersebut bertanya lagi.’kemudian siapa lagi’. Nabi menjawab ‘kemudian ayahmu”.

END

Cerpen Karangan: Silma Wafia
Blog / Facebook: Shilma Wafia
TTL: Kendal, 29 november 2000
Status: Mahasiswi di Ma’had Aly Nurul Burhany ponpes futuhiyyah
Alamat: Desa Podosari, 005/002, Kec. Cepiring Kab. Kendal
Masih mengenyam di Pondok Pesantren Nurul Burhany. Saya tinggal di kec. Cepiring Kab. Kendal, Alhamdulillah di Pondok sudah berjalan lima tahun. Saya alumni MTS NU Cepiring, pengalaman saya suka sekali dengan menulis sejak SLTP. Dan sekarang masih kuliah di Mranggen, semester empat.

Cerpen ini dimoderasi oleh Moderator N Cerpenmu pada 28 Juli 2021 dan dipublikasikan di situs Cerpenmu.com

Cerpen Malaikat Tidak Bersayap merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengagumimu

Oleh:
Pagi yang cerah, begitu indah. Matahari terbit dengan kehangatannya. Terlihat seorang gadis berjalan dengan santainya. Ia adalah Uffi. Uffi adalah seorang gadis SMP. Ia hendak berangkat sekolah dengan penuh

Traitor

Oleh:
Ini kisahku saat aku merasa dikhianati oleh temanku. Sebut saja Seryna dan panggil aku Bella. Seryna itu baik sekali sikapnya di depanku, tapi di belakangku Seryna membicarakanku. Entah apa

Ada Tuhan

Oleh:
Aku tak bisa mengerti dari mana dan bagaimana semua ini berawal. Bagaimana rasa takut tak wajarku yang semakin membesar hingga meruntuhkan optimismeku. Aku hanya gadis biasa, aku bahkan tidak

Feeling (Part 1)

Oleh:
Jakarta, 2012 Ini adalah tahun menakutkan bagi para siswa-siswi kelas tiga, pasalnya beberapa bulan lagi adalah pelaksanaan ujian akhir bagi mereka, begitupun dengan gadis berambut ikal panjang yang kini

Cerita Rustini

Oleh:
Sudah 18 tahun lebih Dio hidup di rumah yang cukup sederhana ini. Namun sampai saat ini, kejanggalan yang timbul sejak 5 tahun silam, waktu Dio masih berumur sekitar 13

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Malaikat Tidak Bersayap”

  1. Geulies Sy says:

    Keren kak cerpennya, halo kak saya tinggal di Mranggen hehe

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *