Malam Tahun Baru

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 27 February 2021

Malam akhir tahun/malam tahun baru adalah hal yang sering dinanti oleh banyak kalangan, baik orang dewasa, para remaja, ataupun anak anak sekalipun.

Malam pergantian tahun ini biasanya identik dengan pesta kembang api, barbeque-an, bioskop-an, makan makan bersama keluarga besar, jalan jalan ke taman/alun-alun, dan juga jalan jalan mengelilingi kota. Namun kegiatan macam itu tak pernah kulakukan ketika malam tahun baru tiba.

Biasanya ketika malam tahun baru tiba aku dan keluargaku hanya di rumah sambil beribadah kepada sang Khaliq sebagai bentuk rasa syukur atas segala nikmat yang telah diberikan hingga detik ini.

Namun ada yang berbeda dengan malam pergantian tahun ini. Tidak seperti biasanya yang hanya di rumah saja, tahun ini aku merayakan tahun baru dengan seluruh keluarga besar dengan jalan-jalan keliling kota sambil kulineran. Dan yang paling membuatku bahagia adalah Paman dan Bibiku yang tinggal di luar negeri juga turut ikut serta. Acaranya memang sangat sederhana namun kami semua merasa sangat bahagia karena indahnya kebersamaan, Meski tak dapat dipungkiri hal itu seperti berlalu sangat cepat karena jarang-jarang kami sekeluarga besar bisa menghabiskan waktu bersama-sama.

Meski acaranya sangat sederhana namun kesannya sangat luar biasa. Memang benar kata Ayahku, “Kebersamaan bersama keluarga adalah hal yang paling berharga, tak bisa digantikan dengan harta, tahta, ataupun pesta.”

Dulu, sebenarnya setiap malam tahun baru tiba Aku selalu merengek kepada orangtuaku, Aku juga ingin merayakan malam akhir tahun dengan kenangan yang indah, Namun orangtuaku selalu melarangnya; Ayahku selalu berkata “Untuk apa kau merayakan malam pergantian tahun dengan meriah Nak? Menurut Ayah alangkah baiknya kita lebih banyak beribadah lagi kepada Sang Pencipta, kita berterimakasih kepada-Nya karena masih diberi kesempatan untuk menikmati dan berjumpa dengan malam pergantian tahun lagi”
Dan aku selalu menjawab, “Ayah, Aku ‘kan masih kecil, jadi keinginanku hanya bersenang-senang, bermain, dan berpesta saja, lalu kenapa Ayah malah berkata seperti itu, seakan-akan aku harus bersikap layaknya orang dewasa sebelum waktunya?”
“Terkadang dalam hidup kita harus bersikap dan berfikir dewasa sebelum waktunya agar tak terlena oleh segala hawa nafsu dunia”

Setelah itu aku tak berani membantah perkataan Ayah lagi, aku hanya diam dan menurut saja, Toh setiap ucapan orang tua pasti selalu mengutamakan kebaikan anaknya sendiri. Namun alangkah senangnya diriku ketika malam tahun baru kali ini seluruh keluargaku akan mengajakku untuk jalan jalan bersama, sungguh aku tak dapat mendeskripsikan bagaimana bahagianya ketika seluruh keluarga besarku saling bercengkrama dan tertawa bersama sama.

*Dear Diary, 1 Januari 2014*

Ku tersenyum membaca diary yang ku tulis 5 tahun silam itu. Kini meskipun aku berada di negeri orang namun kehangatan hati ketika membaca diary itu masih sangat terasa sekali.

Aku jadi teringat ucapan Ayahku “Ciptakanlah kenangan dengan pengalaman yang menyenangkan atau dengan kebersamaan bersama orang tersayang, dengan begitu maka setiap kali kita mengenang ataupun mengingatnya, hanya ada kehangatan dan senyuman yang kita rasakan.”

Semua itu memang benar, Meski sekarang aku belum bisa pulang namun cukup mendengar dan melihat wajah mereka dari media online pun aku sudah sangat bahagia. Malam kenangan akhir tahun, 5 tahun yang lalu itu benar benar akan menjadi kenangan manis yang tak akan pernah kulupakan sampai kapanpun.

Hidup di negeri orang memang tidak mudah dijalani oleh diriku yang dari kecil tidak pernah jauh dari keluarga. Namun demi cita-cita dan untuk membanggakan kedua orangtuaku aku kuat menjalaninya hingga detik ini.

Tinggal jauh dari mereka selalu memaksaku mengingat hal hal kecil sekalipun tentang kebersamaanku dulu ketika masih seatap bersama. Tentang bagaimana senangnya diriku dulu ketika masih anak anak yang selalu bermain di sawah, sungai, kebun, bahkan hutan sekalipun. Iya aku memang seorang anak yang berasal dari desa. Jujur aku memang bukan anak kota, namun sebagai anak desa aku merasa lebih bahagia. Mengapa begitu? Ya karena permainan anak desa lebih seru dan ikatan persahabatan anak desa juga lebih kuat.

“Aira hello, why are you daydreaming, are you okay?” Di tengah asyiknya sedang bernostalgia, aku dikejutkan dengan suara seseorang yang tiba tiba duduk di sampingku
“Ah yeah Davin i’m fine. emm can you just use Indonesian?” Dengan ekspresi setengah terkejut ku menjawabnya.
“Ahaha, tentu” Jawab sosok pria yang bernama Davin itu sambil tertawa sebentar.
“Ck… Davin, bisakah kau tidak tertawa jika berbicara apalagi di tempat umum?” Tegurku dengan nada malas.
“Hmm, akan kucoba, (Jeda Sejenak) tapi kalau sambil menoel pipimu yang menggemaskan ini, kurasa aku akan tertawa lagi… ahahahahaha” Jawabnya lagi sambil menoel pipiku dan kemudian dia tertawa lagi.
“Davinnn!!!” Teriakku tanpa memikirkan keadaan sekitar lagi karena sangking sebalnya dengan makhluk satu ini.
“Oh yang mulia ratu maafkanlah pengawalmu yang sangat tampan ini” Dia berkata dengan nada yang di buat melas tapi sedetik kemudian dia tertawa lagi, huh benar benar menyebalkan.

Oh iya aku lupa menceritakan dia sang makhluk menyebalkan ini kepada kalian. Dia adalah Davin Alfarizki, saudara kembarku. Aku dan dia berbeda 10 menit saja umurnya. Bagi yang belum mengetahui hal ini pasti akan menganggap kami ini teman dekat, sahabat, atau bahkan sepasang kekasih. Karena kami bukan kembar identik, kelakuan kami pun mungkin tak masuk dalam kategori saudara yang akur atau harmonis, tapi satu yang pasti, kami saling menyayangi.

Aku memang tinggal sendirian di London, namun karena Davin ada urusan di London jadi ia sekalian tinggal di apartemen bersamaku selama enam hari terakhir ini. Dia adalah seorang aktor, jadi tujuannya kemari adalah untuk urusan syuting.

Malam ini adalah malam pergantian tahun atau biasa tenar dengan sebutan malam tahun baru. Kebetulan sekali saudara kembarku ada disini bersamaku, jadi malam ini aku bisa merayakan malam tahun baru dengannya. Meski tak dapat dipungkiri besok sore ia harus terbang kembali ke Indonesia, Namun aku cukup senang setidaknya tahun ini aku bisa merayakan pergantian tahun dengan salah satu anggota keluargaku.

“Aira, apakah kau akan terus duduk merenung di bangku taman ini sepanjang hari? Lihatlah hari sudah hampir gelap, sudah cukup lihat senja nya, lagipula nanti malam kita akan pergi ke alun-alun kota London untuk merayakan tahun baru bukan?.”
“Hmm, iya benar juga, bagaimana kalau kita cari masjid dulu untuk sholat Maghrib terus nanti langsung menuju alun-alun?.”
“Ah iya aku ngikut saja apa mau mu tuan puteri. Jadi kita tidak akan pulang ke apartemen terlebih dahulu?.”
“Kurasa tidak usah. Kalau soal makan malam nanti kita cari di alun-alun saja, ku yakin disana sudah banyak toko makanan ataupun restoran disekitarnya.”

Dia hanya mengangguk, kemudian kami segera menuju mobil dan berangkat untuk mencari masjid/musholla terlebih dahulu. Kalian pasti tahu bukan, tidak mudah menemukan tempat ibadah umat Islam ini di Eropa. Untung saja aku sudah tinggal kurang lebih selama 3 tahun terakhir ini, jadi aku sudah tahu beberapa tempat di kota London yang ada Masjid/Musholla nya.

Dor… Dor… Dor..
Baru pukul 22. 30 waktu London, petasan sudah bersahutan dimana-mana, alun-alun kota sudah sangat padat karena ramainya pengunjung yang ingin merayakan tahun baru. Musik musik sudah mulai menggema dimana-mana. Sungguh tahun baru di London memang ramai dan meriah tiap tahunnya, Aku sudah tidak heran lagi dengan hal itu.

“Aira, ini ayam panggangnya sudah matang. Mari makan!”
“Hum, baiklah”

Aku dan saudaraku ini menyewa salah satu tempat untuk barbeque-an. Makan makan sambil menyaksikan kemeriahan acara tahun baru di alun-alun kota London ini benar-benar menyenangkan.

*00. 00 Waktu London.*

Dor… Dor.. Dor
Cuittt… Dor… Dor

‘Happy New Year All ‘
‘Happy New Year yuhuuu ‘
‘Hore hore, happy new year ‘

Gema semua orang di alun-alun ini, sungguh tak terkira bagaimana ramai dan meriahnya malam tahun baru kali ini. Harapanku di tahun baru ini adalah menjadi lebih baik dari tahun sebelumnya, lebih rajin beribadah lagi, lebih semangat menggapai cita cita lagi, dan juga aku berharap ingin menjadi seorang muslimah yang lebih Istiqomah lagi di jalan hijrah-Nya. Doa ku ditahun baru ini untuk keluargaku, semoga mereka semua selalu dalam lindungan-Nya, selalu diberi kesehatan, kebahagiaan, dan dijauhkan dari segala marabahaya. Tak lupa doa teristimewa untuk kedua orangtuaku, semoga mereka diberi umur panjang supaya dapat menyaksikan dan merasakan kesuksesanku nantinya.

Terimakasih Allah, engkau masih memberiku waktu hingga bisa bertemu dengan tahun baru lagi.

*BUNGA API MALAM INI*

Dihadapan sang malam ku persembahkan…
Dibawah sang bulan yang menyaksikan…
Ku nyalakan sebuah petasan…
Yang membuat langit indah bermekaran…

Suasana malam ini nampak berseri…
Berpadu dengan bunyi bunga api…
Yang satu padam yang satu nyala lagi…
Seakan tiada henti untuk malam ini…

Sungguh elok suasana langit malam ini…
Hangat berpadu dengan terang sang bulan…
Suka cita nampak sekali disini…
Semua bahagia menyambut tahun ini…

Tengah malam tiba semua bersorak ria…
Bunga api bermekaran dimana-mana…
Bunyinya makin menggema dengan meriahnya…
Seakan berkata happy new year semua…

*Daira Alfaisa, Januari 2019. *

Cerpen Karangan: Refalina Surya Ridho
Blog / Facebook: Refalina Surya Ridho
TTL: Semarang, 18 November 2006
Domisili: Kendal-Jawa Tengah
Sekolah: SMP N 3 Singorojo (kelas 9).

BIONARASI.
*Refalina Surya Ridho* atau biasa dipanggil Refa, lahir di Semarang pada 18 November 2006. Membaca dan menulis adalah hobinya sejak masih kecil. “Sejarah terukir karena perjuangan yang getir” ialah motivasinya untuk terus menulis hingga hasil tulisannya nanti bisa menjadi buku best seller dan difavoritkan banyak pembaca.

Cerpen Malam Tahun Baru merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Angin malam menyapa tidurku, aku terlelap akan sapaannya. Aku merasakan perjalanan yang begitu jauh entah dimana, aku sendiri tidak mengetahui keberadaan jiwaku yang sebenarnya. Angin menghembuskan kerudungku dan belaiannya

Natal Terakhir

Oleh:
Tetes air hujan mengingatkanku pada bulan Desember tahun lalu. Membuka setiap kenangan pahit yang aku dan keluargaku rasakan. Sudah setahun berlalu namun aku masih terbayang wajahnya. — “hujan, aku

Pensil Rapuh

Oleh:
Pensil menggores kertas Mencetak angka demi angka Menyusun kata demi kata Menghambur debu Hingga akhirnya merapuh Dia masih terbaring tak sadarkan diri. Sudah seharian penuh ia harus menelan obat

Karena Ibu Adalah Segalanya (Part 1)

Oleh:
Aku seorang pekerja keras, seorang lelaki yang hanya hidup bersama ibuku. Ayahku telah lama meninggal akibat sakit yang diderita. Mungkin ini sudah takdirnya, Aku yang masih duduk di kelas

Air Mata Bunda

Oleh:
Semula awal kehidupan baik-baik saja, entah apa yang membuat semua jadi berubah. Sosok seorang ayah yang tak pernah aku dapat, dan tak pernah aku rasakan layaknya seorang ayah terhadap

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *