Man Jadda Wajada

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 29 July 2017

Di suatu kampung ada sebuah pesantren salafi. Pesantren itu dipimpin oleh seorang kiyai yang baik dan bijaksana. Santri-santri yang mengaji di sana sangat banyak, mereka tinggal di kobong-kobong yang telah disediakan. Cerita ini dimulai ketika ada seorang anak dari kampung lain yang disuruh oleh bapaknya agar mengaji di pesantren ini. Anak itu bernama Amirudin. Amirudin adalah anak terakhir dari 8 bersaudara. Dia baik, tapi ketika dia belajar di sekolah dia lama sekali untuk bisa menyerap dan mencerna materi yang diberikan gurunya. Oleh karena itulah Asyikin memasukannya ke pesantren. “siapa tahu anak saya pinter di bidang agama” kata Asyikin.

Satu hari kemudian, tepatnya pada waktu mengaji ashar. Amir dipanggil oleh kiyai yang sedang mengajar para santri. “santri baru silakan maju ke depan!”
Amirudin pun maju ke depan dengan wajah yang ketakutan. “ada apa kiyai?”
“kamu ini santri baru, coba perkenalkan diri di sini!”
“baik kiyai” jawab Amir dengan sedikit rasa takut.
“Nama, Amirudin…”
“ussh…” sahut kiyai. “jangan lihat muka saya, ke sana menghadap santri-santri!”
“ba.. baik kiyai”
“Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…”
“wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh…” jawab para santri dengan serentak.
“per… perkenalkan namaku Amirudin,”
“wish… keren banget namanya” cetus salah satu santri.
“terimakasih” ucap Amirudin dengan tersenyum.
“baik… Aku lanjutkan. Aku dari kampung tamiang. Dan Aku biasa dipanggil Ciplux”
“Bentar-bentar” ucap seorang santri.
“Nama kamu Amirudin, kok bisa sih dipanggil Ciplux? Jauh banget. bener gak kawan?”
“Iya bener jauh banget” bisik para santri dengan pelan.
“Ehem…” raung kiyai.
“Enggak, sebenernya nama itu ada asal-usulnya” sanggah Amirudin
“Asal-usul? Kayak nama tempat aja” kata santri sambil tertawa.
“Ehem.. jadi gini, waktu Aku kecil, kira-kira 3 tahunan lah. Aku suka banget sama makanan yang namanya cimplung (sejenis pisang goreng). Singkat cerita, ketika Aku sedang asyik makan cimplung, tiba-tiba Ibuku memanggilku.
“Amirudin… sini nak”
Aku langsung berlari menuju Ibu. Tapi, sedikit lagi sampai, Aku terjatuh dan terdengar suara “PLUK”. Sponton Ibu tertawa dan menghampiriku. Lalu ibu memukul-mukul pantat kecilku dengan lembut dan berkata “cimpluk, cimpluk…”
“oh… saya tahu, pas kamu jatuh pasti gak pake celana ya?” tebak salah seorang santri
“yap… bener banget. Tapi, kok kamu tahu sih?” Amir menanya balik.
“Ya tahulah, soalnya saya pernah ngalamin pas kelas 4 SD” jawabnya sambil tersenyum lebar.
“wah… hebat kau” sahut santri lain padanya.
“wih… yaiyalah, Borgom gitu loh” ucap dia.
Tapi akibat perkembangan zaman, nama Cimpluk berubah menjadi Cipluk.
“Segitu saja dariku, wassalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh…”
“wa’alaikumsalam warohmatullohi wabarokatuh…” jawab seluruh santri dengan serantak dan dihiasi dengan tepuk tangan.
“ya… terimakasih, siapa tadi panggilannya?” tanya kiyai
“panggil aja Ciplux kiyai” jawab Amirudin dengn tersenyum.
“oh… yah… silakan duduk kembali” perintah kiyai.

Setelah beres ngaji, Ciplux kembali ke kobong. Dia menempati kobong yang bernama “IBNU HAJAR” dimana dia ditemani 4 orang santri lainnya.
“Ciplux, sini bantuin kita berempat” ucap Gondez.
“iya bentar, mau ngapain?”
“Cuciin beras nih!” perintah Gondez.
“baiklah, buat apa ni beras,?” tanya Cipluk.
“ya buat makanlah” sahut Faiz.
“Berhubung kamu santri baru, kamu gak usah patunganlah.” Ucap Borgom.
“Serius nih?”
“ya seriuslah” jawab Izul.
Mereka pun masak dan makan bersma. Malam tiba, mereka ngaji lagi dan setelah selesai, mereka semua tidur.

Satu minggu kemudian, mengaji semakin sulit menurut Ciplux.
“Zul, kok kamu jago banget sih ngajinya?” Ciplux bertanya.
“Dulu, saya tidak seperti ini. Akibat dari sering belajar, ya saya jadi seperti ini.” Jawab Izul dengan santai.
“oh… tapi Aku males banget belajar.”
“Jika diawali dengan niat yang kuat dan ikhlas, insyaAllah tidak akan ada rasa malas.” Ujar Izul lalu pergi meninggalkan Ciplux.
Ciplux bingung dengan perkataan Izul. Lama memikirkan itu, Ciplux merasa ngantuk. Dia tidur bersama 3 orang santri lainnya. Sementara Izul tidak ada. Entah ke mana.

“Hussh… hussh… bangun, udah subuh”
“iya… iya…” jawab Faiz dengan menoleh pada orang yang membangunkannya.
“eh Izul, saya sudah bangun zul.”
“Tolong bangunin dia bertiga” perintah Izul pada Faiz.
“oke…” jawab Faiz dengan semangat.
“Hoy… hoy… bangun udah adzan” kata Faiz sambil memukul-mukul lemari yang ada di dekatnya.
“Bentaran Iz, ane lagi terbang nih” ucap Gondez.
“Udahan dulu terbangnya, kita berjamaah subuh dulu”
Mereka semua bangun dan sholat subuh berjamaah. Setelah dzikir subuh, langsung dilanjutkan dengan ngaji sampai jam 8 pagi. Lalu mereka sarapan…

“Iz, kamu kok jago banget sih hafalannya?” ciplux bertanya pada Faiz.
“enggak juga ah… biasa aja.”
“serius… gimana sih caranya supaya bisa sepertimu?”
“Gini Plux, saya bisa seperti ini, akibat sering belajar dan berlatih” jawab Faiz dengan nada rendah.
“oh… belajar…” jawab Ciplux dengan mengangguk-anggukan kepalanya.
“Tapi Iz, Aku itu malu dan gak pantes banget buat belajar” pernyataan Ciplux pada Faiz dengan terus terang.
“loh, kok malu? Emangnya kenapa?” tanya Faiz sambil menepuk bahu Ciplux.
“Aku itu orangnya bodoh, mana mungkin orang bodoh bisa sepertimu” jawab ciplux.
Faiz tertawa setelah mendengar jawaban dari Ciplux.
“kenapa tertawa? Kamu seneng ya?” ucap ciplux dengan aksen yang tinggi.
“Ciplux… Ciplux… jadi menurut kamu yang belajar itu harus orang pinter?”
“yaiyalah…” jawab Ciplux dengan sedikit kesal.
Faiz tersenyum “kamu ini salah besar…justru yang harus belajar itu orang-orang yang tidak bisa. Dengan adanya belajar, diharapkan orang-orang yang tidak bisa itu menjadi bisa.”
“Tapi kalau orangnya itu sangat bodoh dan tak bisa apapun?” sanggah Ciplux dengan sedikit mengeluarkan air matanya.
“Hussh… jangan bicara seperti itu! Sesungguhnya manusia itu ialah makhluk yang paling sempurna. Faham?”
“Jadi gini, sebodoh-bodohnya manusia, jika dia memiliki niat yang kuat, mau berusaha, serta memiliki keinginan yang tinggi, pasti dia akan bisa” “Man Jadda Wajada”
“walaupun dalam realitanya harus melewati suatu proses dan rintangan”.
“Allahuakbar Allahuakbar…” suara adzan dzuhur.
“Alahamdulillah” ucap Izul. “Pluk udah adzan tuh mending kita sholat dulu!”
Mereka berdua beranjak dari tempat perbincangan itu dan berjalan menuju masjid. Di sepanjang jalan Ciplux terngiang dengan ucapan “sebodoh-bodoh manusia…”.

Setelah sholat, mereka langsung ngaji dzuhur sampai selesai. Dan datanglah waktu ashar. Ciplux mengaji lagi sampai selesai (16:30). Setelah ngaji, Ciplux pergi ke sungai yang tak jauh dari pesantren itu. Di sana banyak sekali batu-batu kecil yang berhamaparan. Ciplux duduk di tempat yang teduh dan merenung di sana. Ketika dia berdiam tanpa kata, pandangannya terfokus pada air kecil yang jatuh pada batu. Sedikit demi sedikit air itu jatuh pada batu yang berada di bawahnya. Ciplux terus memerhatikan air itu sampai terdengar…
“Ciplux… Ciplux…“ teriak Borgom dan Gondez mencari Ciplux. Dan merka berdua menemukannya.
“Plux ngapain di sini? Bentar lagi adzan maghrib ni.” Tanya Borgom.
“iya Plux, balik ke pesantren yuk!” ujar Gondez.
“Baiklah, ayo…” jawab Ciplux dengan muka datar.

Ciplux dan dua rekannya kembali ke pesantren. Lalu sholat berjamaah dan dilanjut dengan mengaji sampai selesai. Hampir setiap sore Ciplux pergi ke sungai untuk melihat air dan batu itu. Kadang air itu besar, kecil bahkan tidak ada.

Dua minggu kemudian, seperti biasa setelah selesai mengaji Ciplux pergi ke sungai. Dia duduk di tempat teduh yang biasa disinggahinya. Dia memerhatikan air dan batu itu lagi. Air yang jatuh sangat kecil. Lama memerhatikan, dia penasaran dengan batu itu. Batunya seperti memiliki cekungan di atasnya (tempat air jatuh). Dia pun memutuskan untuk menghampirinya. Ternyata benar batu itu memiliki cekungan, dia meraba batu itu. Ketika sedang meraba, tiba-tiba Ciplux teringat lagi dengan perkataan Faiz “sebodoh-bodohnya manusia…”. Dia memerhatikan air itu lagi. Dia mulai berfikir, kemudian dia membandingkan air yang jatuh pada batu dengan perkataan Faiz.
“Air ini seperti orang bodoh, tapi air ini memiliki niat yang kuat, mau berusaha serta memiliki keinginan tinggi, yaitu mencapai tanah. Air ini memiliki rintangan yang berat. Yaitu batu yang menghalangi tanah. Tapi air ini berusaha keras sehingga batu mampu dikikisnya walaupun prosesnya panjang”.
“bararti perkataan Faiz waktu benar “Man Jadda Wajada”.
“Alhamdulillah akhirnya aku mengerti juga”.

Ciplux langsung bergegas kembali ke pesantren. Karena sebentar lagi maghrib. Sepanjang jalan ia tersenyum karena telah mengerti pekataan Faiz. Maghrib tiba, ciplux sholat berjamaah dan dilanjutkan dengan mengaji sampai selesai. Dia pergi ke kobong, tak lama kemudian dia tertidur.

Kira-kira jam 3 pagi, Ciplux bangun dengan tujuan untuk mengerjakan sholat tahajjud.
“Tumben jam segini udah bangun?” tanya Izul yang sedang duduk di dalam masjid.
“Iya Zul, mau belajar sholat tahajjud ah. Dikit-dikit” jawab Ciplux dengan nada seperti orang yang bergembira.
“oh… bagus”

Subuh pun tiba, Izul langsung adzan sementara teman-temannya dari kobong “Ibnu Hajar” belum juga bangun. Ciplux langsung menuju kobong untuk membangunkan temannya.
“hoy.. hoy… subuh bangun! bangun!” teriak Ciplux sambil memukul-mukul lemari.
Mereka semua bangun, dan langsung mengambil air wudhu untuk sholat subuh berjamaah bersama santri-santri lainnya di masjid. Setelah sholat, dilanjutkan dengan mengaji dan hari ini adalah hafalan Al-qur’an. Ciplux duduk di sebelah Faiz.

“jieh… tumben kau semangat menghafal?” tanya Faiz pada Ciplux dengan sedikit kaget.
“Aku ingin bisa menghafal sepertimu. Dan hari ini, Aku akan belajar menghafal sedikit-sedikitlah.” Jawab Ciplux dengan tersenyum
“oh… bagus tuh…”

Kebiasaan baik itu terus dilakoni Ciplux. Hingga 2 bulan kemudian, Ciplux memiliki semangat ngaji yang tinggi. Dia selalu sholat awal waktu. Sehingga dia mampu menyaingi teman sekobongnya Faiz dan Izul. Inilah yang dinamakan dengan “Fastabiqul khoirot”. Ciplux merasa senang, karena mengaji bukanlah hal yang sulit. Tapi mengaji adalah hal yang mudah dan menyenangkan jika kita mau berusaha.
“Man Jadda Wajada”

Cerpen Karangan: Aang Hasbi Abdullah
Facebook: aang hasbi
Nama saya Aang Hasbi Abdullah, sekarang saya kelas XI. saya sekolah di SMAN 1 LEUWILIANG sekolah favorit di daerah ini.

Cerpen Man Jadda Wajada merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Aku

Oleh:
Disaat hujan mulai datang dalam hidupku, aku tahu selanjutnya akan ada pelangi yang mewarnai kehidupanku yang kelam ini. Dan kini, pelangi itu tengah ada di sisiku, menemani suka dukaku.

Siapa Itu, Allah SWT

Oleh:
Hari ini rembulan bersinar begitu terang, seperti ia sedang bahagia. Tepat pada pukul 10 malam di sebuah desa terpencil ada sebuah keluarga baru yang dikepali oleh Pak Rasyid dan

Dua Hati Akan Menyatu Suatu Saat Nanti

Oleh:
Pulang sekolah hari ini aku dan Floren menyempatkan diri untuk melihat pertandingan futsal di lapangan sekolah. Ini bukan pertandingan yang memperebutkan gelar juara secara resmi, hanya pertandingan persahabatan antara

Diammu Adalah Pertanyaan Terbesarku

Oleh:
Perkenalkan namaku Senja Alyandra Yussuf aku seorang siswi di sekolah ternama di Bandung. Aku menyukai dunia pramuka selain itu aku masuk pramuka karena dia yaa, dia orang yang selama

Aku Hanya Tahu Namanya (Part 1)

Oleh:
Hujan baru saja reda. Genangan air hujan yang terdapat di beberapa titik jalanan kecil yang menghubungkan sekolah dengan halte itu terlihat semakin berkurang karena kecipak-kecipak dari langkah kaki murid-murid

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *