(Masih) Rani, Si Otak Kritis

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Lucu (Humor), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 January 2016

Ya, ya, ya. Kehidupan pondok memang melelahkan. Cuci baju sendiri, cuci piring sendiri, menyetrika baju sendiri, makan sendiri (bohong!), tidur sendiri (bohong lagi!), mandi sendiri (ini baru bener!). Semua serba sendiri. Oke! Baiklah, baiklah. Memang tidak semuanya dilakukan sendiri. Buktinya, Rani memiliki kelompok makan dengan anggota kamarnya sendiri -Marwah kelas XII, ketua OSIS tahun lalu yang pernah menegur Rani.

Memang jodoh tak akan ke mana, Salsabil (kelas XI, teman sekelas Rani), ‘Aini (kelas XI, teman sekelas Rani juga), dan Bayyinah (kelas X) merekalah yang harus menanggung beban untuk selalu berhadapan dengan Rani. Baiklah, ini agak berlebihan. Sebenarnya Rani anak yang baik, bisa diandalkan, namun juga sedikit menyebalkan. Dan agak pemalas.

“Rani!! Ran! Bangun! Hei! Bangun Rani!! Udah jam setengah tujuh!” Kata Marwah. Sudah sejak sepuluh menit yang lalu ia membangunkan Rani, namun tak ada reaksi.
“Ranniiiii…!!!” Akhirnya Marwah mengeluarkan apa yang mampu dikeluarkan oleh mulutnya (suara maksudnya) untuk membangunkan Rani.
“Hoaahmm..!! Iya, iya. Rani udah bangun, kok” matanya masih terpejam saat ia berbicara.
“Cepat mandi sana! Entar terlambat ke sekolah!” Kata Marwah, ia sudah siap untuk berangkat ke sekolah saat Rani bahkan belum melakukan apa pun. Sangat jauh berbeda.

Rani berjalan gontai ke kamar mandi, dengan membawa gayung dan handuk kecil. Ya, hanya handuk kecil. Ia tidak membawa handuk besarnya. Sesampainya di kamar mandi, ternyata Rani hanya gosok gigi dan mencuci muka. Dan setelah itu ia kembali ke kamarnya.
“Loh, cepat banget? Kamu gak mandi ya?” Tanya Salsabil yang sedang sarapan di kamar bersama ‘Aini dan Bayyinah. Sementara Marwah sudah berangkat.
“Iya, Kak? Kok cepat banget?” Bayyinah juga terlihat heran.
“Hmm…Ya, aku emang gak mandi” jawab Rani dengan santainya.
“Astaghfirullah..!!” Ketiganya berkata hampir serempak.
“Kenapa?” Tanya Rani yang sedang mengganti bajunya dengan baju seragam sekolah.
“Kamu kok jorok banget sih, Ran?” ‘Aini mengenyeritkan dahinya. ‘Aini memang yang paling bersih di antara mereka berlima.
“Kok kalian yang harus risih, sih? Kan aku yang gak mandi. Lagian, gak diwajibkan kok” Rani memang selalu punya argumen terhadap apa yang dilakukannya.
“Hah? Maksudnya?” Tanya ‘Aini.

“Yaelah, pasti lupa ya? Pelajaran Thaharah -bersuci- yang diajarkan Ustadzah Hasna waktu kelas X? Kamu pasti udah belajar kan, Na?” Tanya Rani pada Bayyinah.
“Em, apa maksud Kakak.. mandi wajib?” Tanya Bayyinah.
“Nah, itu kamu tahu. Kata Ustadzah Hasna kan, mandi yang wajib itu kalau setelah haid, setelah nifas, setelah junub -berhubungan suami istri- terus juga kalau seseorang baru masuk islam alias muallaf. Selain daripada itu, enggak diwajibkan mandi. Ya udah, gak ada salahnya kan kalau aku gak mandi? Aku gak melanggar aturan Allah, kok.” Jelas Rani panjang lebar.

Terjadi keheningan panjang di antara mereka. Ketiganya sedang merenungkan jawaban Rani barusan. Ada benarnya, memang. Namun, pasti ada penjelasan lain yang lebih masuk akal.
Rani baru akan sarapan ketika ketiga anggota kamarnya akan berangkat ke sekolah. Ini terjadi setiap hari. Rani selalu menjadi yang terakhir berangkat ke sekolah. Walaupun Rani selalu berangkat paling akhir, ia tak pernah sekali pun terlambat ke sekolah. Rani selalu “tepat waktu”. Tepat sesaat sebelum Ustadzah datang.

Dan kejadian di sekolah masih aman-aman saja. Tak ada kejadian yang menghebohkan. Hanya saja, Rani akan selalu mempertahankan eksistensinya sebagai santri yang “kritis”. Banyak pertanyaan yang ia lontarkan hari ini. Seperti: apa senyawa kimianya cermin? Apa yang menyebabkan golongan darah O dapat mendonorkan darah ke seluruh golongan darah? Mengapa flashdisk tidak boleh dicabut langsung dari komputer? Apa yang menyebabkan jeruk lemon dapat mengeluarkan listrik? Jika ada tabrakan antara mobil dengan kucing, bagaimana cara menghitung momentum dan impulsnya? Sedangkan kucing pasti langsung tergilas ditabrak mobil. Begitulah Rani, ia merasa bahwa hidup ini harus selalu berpikir dan bertanya.

Jam sekolah usai. Seluruh santri pulang ke asrama masing-masing. Dan asrama ‘Illiyin sudah menunggu untuk diinjak oleh Rani, lantainya. Ketika memasuki kamarnya, Rani melihat Marwah yang tampaknya sedang memikirkan sesuatu. “Mikirin apa Kak?” Tanya Rani yang langsung menyambar Marwah dan duduk di sebelahnya.
“Waalaikumussalam.” Marwah menoleh padanya dan mendelik.
“Eh, iya. Lupa. Assalamualaikum. Kakak lagi mikirin apa sih?” Yang namanya Rani itu pantang sekali dibuat penasaran.

“Hmm..” Marwah menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
“Tadi, ‘Aini dan Salsabil cerita tentang tadi pagi. Kamu enggak mandi, terus kamu bilang mandi itu gak wajib. Iya, kan?” Tanya Marwah dengan ekspresi “kakak kelas” terbaiknya.
“Oh, yang itu. Jadi Kakak mikirin itu? Kenapa dipikirin sih, Kak? Segitunya banget.” Tanya Rani, bingung dan kaget. Apa dia bercanda? Memangnya siapa yang membuat Marwah jadi berpikir tentang itu? “I..Iya. soalnya, apa yang kamu bilang itu ada benarnya. Tapi Kakak merasa ada yang mengganjal.” Marwah berpikir keras.

“Assalamualaikum” ucap Bayyinah, baru pulang sekolah.
“Waalaikumussalam..” Jawab Marwah dan Rani.
“Kakak-kakak lagi bicarain apa? Wajahnya serius banget.” Tanya Bayyinah sambil meletakkan tasnya di atas lemari yang tingginya kira-kira sebahu Bayyinah.
“Mau tahu aja. Anak kecil gak boleh ikut campur!” Ledek Rani.
“Assalamualaikum…” kali ini ada ‘Aini dan Salsabil.
“Waalaikumussalam..” Jawab Marwah dan Bayyinah. Rani tidak menjawabnya.

“Huh, bisa gak sih, kita jawab aja salam itu sekali sehari? Kalau tiap detik ada yang mengucap salam, masa harus dijawab terus? Kan cape.” pikiran itu keluar dari otaknya Rani.
“Ih, kamu ini. Masa gak mau mendoakan keselamatan orang lain. Egois, maunya diucapkan salam. Tapi gak mau jawab salam.” ucap Marwah sedikit kesal.
“Iya deh, iya deh. Waalaikumussalam” dia tahu, Marwah memang agak emosi kalau memang berhadapan dengannya. Namun, dia juga tahu, Marwah adalah kakak kelas yang baik.

“Nah, ini dia nih. Makhluk ciptaan Allah yang bikin pusing tujuh keliling.” Kata Salsabil memasang raut wajah pura-pura kesal sambil menunjuk Rani.
“Apa lagi? Kamu mau bilang masalah aku gak mandi itu ya?” Kata Rani. Ia pasrah karena dipikirkan banyak orang.
“Hmm.. Begitulah. Jadi gimana nih, Kak Mar? Kalau dia gini terus kan kamar kita jadi bau mistis.” kata ‘Aini yang langsung duduk di ranjangnya yang berhadapan dengan ranjang Marwah.

“Loh, kok bau mistis?” Tanya Bayyinah, ia juga mencari tempat duduk di ranjang ‘Aini, karena panjangnya terletak di atas. “Yaa.. jadi banyak jinnya, dong, Na” kata Salsabil, ia bingung mau duduk di mana. Akhirnya ia menyelip di antara ‘Aini dan Bayyinah. Untung saja badannya kecil.
“Hmm..” Marwah masih berpikir.

“Aha! Kakak tahu!” Seakan Marwah baru saja mendapatkan rumus fisika baru yang belum pernah ditemukan ilmuwan mana pun.
“Tahu apa Kak?” Tanya Rani.
“Begini, kita tak bisa berlandaskan pada satu pelajaran saja atau satu ayat dan hadits saja. Rasulullah kan pernah bersabda: ‘kebersihan adalah sebagian dari iman’ jadi, salah satu menjaga kebersihan diri adalah dengan mandi. Kalau gitu, mandi jadi wajib, karena itu untuk menjaga kebersihan diri. Kalau mandi wajib, adalah mandi untuk menyucikan diri dari najis dan setelah mandi wajib, barulah ibadah-ibadah wajib boleh dilaksanakan. Begitulah.” Jelas Marwah.

“Oohh…” Kata ‘Aini, Salsabil, dan Bayyinah manggut-manggut. “Hehe.. Iya Kak, Rani mengerti. Nanti Rani mandi deh. Sebenarnya tadi pagi itu cuma buat alasan aja. Biar enggak dikira jorok. Lagian, tadi kan Rani telat bangun. Hehe..” Kata Rani dengan lolosnya.
“Hah? Cuma alasan? Kamu tahu betapa pusingnya kami mikirin argumen kamu itu? Dan kamu bilang cuma alasan? Ya Allah, Raniii!!! Kamu itu Nyebelin banget ya!!” ‘Aini melempar batalnya ke Rani. Diikuti Salsabil, Bayyinah dan Marwah yang juga melempar bantal ke arah Rani.
“Aww..! Udah dong!! Aww! Sakit tahu!”

Dialah Rani. Surani Purwacaraka Ayudya Djayadiningrat, putri dari Pak haji dan Bu haji Djayadiningrat. Yang selalu berpikir dan bertanya, sekaligus membuat orang lain berpikir dan bertanya-tanya.

Cerpen Karangan: Dreamelia
Facebook: Melly Ameliaputri
Mencintai alam dengan sepenuh hati. Memiliki mimpi: Tadabbur alam keliling dunia!

Cerpen (Masih) Rani, Si Otak Kritis merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Without Me

Oleh:
Semerbak cahaya matahari pagi, masuk ke celah-celah kebahagian baru yang datang menyelimuti semangat baru beserta menggantikan secercah luka dengan kedamaian. “feb, cepetan udah nunggu temannya tuh!” teriak mamaku dari

Ada Apa Denganku

Oleh:
Semuanya berawal dari hari itu, hari yang mungkin menyakitkan baginya. “Ata!!” Ata menoleh menatap dengan tatapan menyedihkan. “Maaf..” kemudian, ia berlari pergi tanpa menoleh lagi. Vichell mencoba mengejarnya, namun

Masih Penasaran

Oleh:
Hari ini adalah libur terakhir tahun baru, dimana esoknya aku harus sekolah. Namaku Raninda Yuli, anak bungsu perempuan satu-satunya di keluarga ini, dan ada 2abang diatasku. Malam ini aku

Unconcious (Part 2)

Oleh:
Pahit! Itulah kata pertama yang muncul di otakku ketika baru masuk pintu toko si china itu. Segala macam bau-bauan kayak ramuan jamu atau apalah namanya, menyengat menyerang lubang hidungku

Aku Harap Cinta Itu Tidak Pernah Ada

Oleh:
Siapa yang tidak kenal cinta? Semua orang pasti sudah pernah ngerasain yang namanya jatuh cinta! Tanpa terkecuali! Tuhan menciptakan perasaan cinta di hati semua makhluknya. Tapi… Siapa yang bisa

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *