Masjid Impian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 23 August 2017

Malam itu, malam yang sangat ditunggu-tunggu oleh semua umat islam di seluruh penjuru dunia yaitu, malam awal datangnya bulan ramadhan… Anak-anak di desaku serta orang tua banyak yang membuat obor guna penerangan ketika hendak ke masjid menunaikan salat tarwih. Aku dan teman-teman sebayaku juga demikian. Setiap malamnya, kami bergerombol berjalan kaki ke kampung sebelah dan menyebrangi sungai yang tak begitu lebar. Semua ini kami lakukan demi untuk menunaikan salat secara berjamaah baik itu siang ataupun pada malam hari. Lantaran di desa kami belum terdapat sebuah bangunan masjid. Begitu juga penerangan yang kami punya sangat terbatas karena desa kami belum dialiri listrik.

Aku, ditunjuk oleh salah satu orang yang dihormati di desa kami sebagai ketua di antara teman-temanku. Aku diberi tugas untuk memintai semua warga desa sumbangan berupa uang guna untuk membangun sebuah masjid. Seminggu sekali, aku yang berperan sebagai ketua dari teman-temanku mengetok pintu demi pintu dan meminta sumbangan alakadarnya dari warga desa. Itulah yang setiap tahunnya aku lakukan dengan teman-temanku empat kali selama bulan ramadhan…. Pemungutan sumbangan untuk pembangunan masjid kami sudah berjalan tiga tahun atau tiga bulan ramadhan. Uang yang sudah terkumpul kami serahkan kepada seorang ulama yang kami hormati di desa kami… Tak jarang, aku dan teman-temanku ingin diberi upah. Tetapi kami selalu menolaknya… Kami melakukan ini ikhlas demi terbangunnya sebuah masjid di desa kami ini.

Setelah ramadhan berjalan bbrp hari. Datanglah seseorang yang sangat baik hati. Orang itu bernama ilham. Ilham ini mengaku sebagai seorang wartawan dari salah satu perusahaan media. Tetapi memang benar, ilham adalah seorang wartawan. Terbukti dari peralatan yang dibawanya serta cara bicaranya yang menguasai seribu macam kosakata. Ilham datang sendiri saja. Kemudian ilham tiap malamnya menginap di rumah pak ustad seorang guru ngaji di desa kami ini. Begitupun ketika hendak menunaikan salat, ilham ikut berbondong-bondong bersama kami ke kampung sebelah dimana tempat kami menunaikan salat.

Ilham tutur katanya lembut, sopan, jujur, serta kelihatan pemberani. Menghadapi hal-hal yang dia anggap itu tidak benar… Kami sangat senang atas kehadiran ilham di desa kami. Karena, ilham setiap harinya menulis dengan peralatan yang dia bawa dengan tujuan memuat apa saja yang dianggap belum memadai di desa kami. Baik itu masalah pembangunan sekolah, puskesmas, masjid, penerangan, dsb.. Tetapi yang diutamakan di desa kami adalah masjid.
Ilham juga setiap waktu senggangnya dia pergunakan untuk mengajari beberapa warga desa yang belum bisa membaca. Termasuk aku yang biasa diajarinya menggunakan bahasa yang baik…

Ilham memiliki hoby yang unik. Yaitu, ketika menjelang berbuka puasa, ilham menghabiskan waktu di sawah-sawah berfoto-foto ria sampai waktu berbuka puasa tiba. Tak jarang kami anak-anak desa setiap harinya diajak berfoto-foto dengan gaya bebas sesuka hati kami. Semenjak kehadiran ilham. Banyak pelajaran dan pengalaman yang kami dapati. Kami bangga kepada ilham.

Setelah seminggu lagi hari lebaran akan tiba, ilham pun pamit dengan alasan dia akan menunaikan salat idul fitrinya di kampung kelahirannya. Kami pun merasa sedih, tak ceria lagi setelah ilham berpamitan. Tetapi, ilham berjanji kepada kami semua bahwa, dia akan balik lagi tiga hari setelah bulan ramadhan usai. Kamipun percaya akan janji ilham.

Ternyata benar, ilham datang lagi menemui kami sesuai dengan janjinya. Kami pun ceria kembali seperti sediakala.
Ilham membawa banyak lembaran foto. Hasil jepretannya beberapa hari yang lalu ketika pertama kali datangnya di desa kami ini. Foto-foto itu pun lalu dibagikannya satu persatu kepada kami. Kamipun senang setelah ilham membagikan foto-foto itu. Tetapi, yang paling membuat kami senang ialah, ketika ilham menunjukkan beberapa lembaran kertas yang padat dengan gambar dan tulisan. Ternyata itu adalah koran… Koran yang sudah dicetak oleh perusahaan media tempat dimana ilham bekerja sebagai wartawan. Kami pun semakin bertambah senang karena, kekurangan-kekurangan yang ada di desa kami telah tersiar ke khalayak umum meski hanya sebuah surat kabar yang memuatnya.

Kemudian, ilham memberitahukan kepada kami semua para warga desa bahwa, desa kami akan segera mendapatkan bantuan dari pemerintah kabupaten/kota terutama pembangunan sebuah masjid… Mendengar kabar dari ilham, kami semua pun dibanjiri oleh rasa senang-gembira tiada tara. Kami bangga padamu ilham.

Beberapa hari kemudian, datanglah beberapa mobil truk yang mengangkut material pembangunan masjid di desa kami ini. Lalu kamipun para warga desa, bergotong royong memulai pembangunan masjid tersebut mulai dari fondasi. Dan uang sumbangan yang selama ini kami kumpulkan dari warga desa, kami pergunakan sebagai ongkos makan-minum para pekerja yang bergotong royong membangun masjid impian kami ini.

Tak lupa kami panjatkan puji syukur ke khadirat alla swt… Dan ucapan terima kasih kepada ilham. Karena, ilham sangatlah berjasa besar atas terbangunnya masjid yang telah lama kami impikan. Beberapa bulan kemudian, masjid impian kami pun sudah selesai dikerjakan dan kini telah berdiri kokoh tepat, di tengah-tengah desa kami ini… Kami pun tak jauh-jauh lagi menunaikan salat berjamaah bersama-sama.. Dan, kami pun semakin bersemangat menyambut bulan ramadhan yang akan datang.

Sekian.

Cerpen Karangan: Sepuluh Jari
Facebook: Arief Budiman Nacha

Cerpen Masjid Impian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengaji Oh Mengaji

Oleh:
Cerita ini terinspirasi dari kisah nyata yang benar-benar ku alami. Namaku Farah Aulia Ghufran, biasa dipanggil Farah oleh teman-teman. Sambil menyeruput sedikit teh hangat, pikiranku kembali pada sesuatu yang

Penyesalanku

Oleh:
Gemerlap dunia malam begitu membuatku terlena dan melupakan segalanya, teman, sahabat, kekasih bahkan keluargaku pun aku tak lagi mengingatnya. Dalam benakku hanya kesenangan yang ku cari, aku tak peduli

Tentang Ayahku

Oleh:
Ayahku berdeda dengan ayah kalian. Ayahku bekerja sebagai petani. Dia bekerja mengurus kebun dan sawah dari pagi hingga sore hari. Ketika musim hujan dia kehujanan dan jika musim kemarau

Sayap Bidadari (Part 2)

Oleh:
Malam pun tiba. Hawa dingin semakin menyelimuti siapapun yang tengah tertidur nyenyak. Semilir angin berhembus sepoi-sepoi, menemani udara malam. Burung-burung malam mulai berkicau, suara jangkrik mulai terdengar lebih keras

Maaf Yang Tertunda

Oleh:
Ketikaku menghadapi kehidupan yang pelik ini, mampukah diriku hanyut dalam suasana yang sangat bertentangan dengan hatiku, Ya Allah hamba malu pada engkau, hamba tak mampu menghadapkan wajah kepada akhirat-Mu.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *