Mbah Lanang

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 8 August 2016

Senja menyapa malu-malu di balik sang mega. Pekatnya jadi penghalang senyum perpisahan. Terang mengintip samar. Salam perpisahan terucap semburat jingga. Selamat sore!!
Dimana ada api, disitulah akan timbul asap. Dimana ada hujan, setelahnya akan ada teduh. Begitulah alam berjalan beriring berpasang. Tiada yang benar-benar sendiri.
Hujan turun dengan derasnya ketika bedug di langgar Mbah Lanang ditabuh, pertanda masuk waktu maghrib. Guntur bersaing memekakkan telinga. Suara bedug kini hampir tak terdengar. Tersamar derasnya pasukan langit yang turun ke bumi.

Mbah Lanang telah selesai menabuh bedug. Dengan segera, ia kumandangkan adzan. Seruan pada manusia yang masih ingat akan Tuhannya. Panggilan mulia tuk segera mendirikan tiang agama.

Allahu akbar Allahu akbar…
Allahu akbar Allahu akbar…
Asyhadu allaa ilaahaillallah…
Asyhadu allaa ilaahaillallah…
Asyhadu anna muhammadar rasululllah…
Asyhadu anna muhammadar rasululllah…
Hayya ‘alassholah…
Hayya ‘alassholah…
Hayya ‘alal falah…
Hayya ‘alal falah…
Allahu akbar Allahu akbar…
Laa ilaaha illallah…
(laa ilaaha illallah…)

Hati Mbah Lanang gerimis, menyadari betapa mulia panggilan Allah.
Do’a setelah adzan ia lantunkan dengan penuh harap dan syukur. Bersyukur karena hingga detik itu ia masih dapat menghela nafas. Shalawat serta puji-pujian pada Allah dan Rasulullah ia senandungkan di microphone. Pengeras suara itulah yang menjadi salah satu teman harian Mbah Lanang. Dengan sabar menunggu jama’ah yang akan shalat maghrib di langgar.

Hujan di luar semakin deras. Kilat menyeruak menimbulkan cahaya terang di dalam langgar. Beberapa kali Mbah Lanang beristighfar. Sesekali mengarahkan pandangan pada jalan di depan langgar. Sepi. Yang ada hanyalah genangan air yang makin meninggi di depan langgar.

Lima menit berlalu. Mbah Lanang berdiri dan siap mengumandangkan iqamah. Tiba-tiba…
“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah…”
Mbah Lanang tersenyum menyambut siapa yang datang. Ia serahkan microphone kepada si pendatang. Shalat jama’ah didirikan.
“Allahu akbar…”
Mula-mula Mbah Lanang memulai dengan surah Al Fatihah. Kemudian dilanjutkan membaca surah Al Insyirah. Ia begitu menghayati setiap makna yang terkandung pada surah yang ia baca.
Meski berusia senja, namun bacaan Mbah Lanang masih jelas serta tartil. Membuat siapa saja akan merasa tenang dan hanyut dalam bacaan Mbah Lanang. Selesai shalat, dan berdzikir, ia masih sempat nderes Al Qur’an disimak oleh Ihya’, cucunya.

Langgar itu sebenarnya bernama mushola Al Ikhlas dan Mbah Lanang yang didaulat sebagai imam sekaligus penjaga mushola. Sehari-hari Mbah Lanang tinggal di sebuah kamar kecil di samping mushola. Selain menjaga dan membersihkan mushola, ia juga punya sepetak sawah yang ia tanami sayuran. Jadilah ia terkenal sebagai Mbah Lanang penjaga langgar sekaligus petani sayur. Mushola itu pun lebih dikenal dengan sebutan langgar Mbah Lanang daripada mushola Al Ikhlas.

Ihya’, merupakan cucu dari adiknya dan telah ia anggap sebagai cucunya sendiri. Ia tinggal tak jauh dari langgar. Ihya’-lah salah satu anak yang paling aktif untuk shalat berjama’ah di langgar itu. Meski masih duduk di kelas enam SD, ia sudah cukup paham akan kewajibannya sebagai seorang muslim. Berkat seringnya berjama’ah dengan Mbah Lanang pula, pengetahuan agamanya menjadi lebih luas dibanding teman-teman seusianya.

Selesai nderes, mereka biasa untuk berdiskusi dan terkadang ngopi bersama.
“Orang Le, kalau punya rumah, lebih enak yang dekat kuburan.”
“Kenapa , Mbah?”
“Lha iya, tiap hari lihat kuburan jadi ingat mati. Jadilah tiap saat istighfar.”
“Oh, gitu ya, Mbah. Berarti ada juga rumah yang paling gak enak dong Mbah?”
“Iya ada.”
“Yang dimana, Mbah?” Ihya’ begitu penasaran. Topik diskusi bersama Mbah Lanang selalu memantik keingintahuannya.
“Yang dekat masjid atau langgar.”
“Lho? Kok bisa, Mbah? Bukannya lebih enak kalau deket masjid atau langgar. Kan enak tiap shalat bisa jama’ah.”
Mbah Lanang terkekeh.
“Lha itu menurutmu, Le. Ya memang benar, shalat jama’ah jadi mudah dilaksanakan. Tapi, kalau kamu malas dan tidak melaksanakan shalat berjama’ah disana, kamu termasuk orang-orang yang mendapat peringatan dari Rasulullah.”
Ihya’ melongo. Remaja tanggung itu belum benar-benar memahami apa yang sedang ia dengarkan. Mbah Lanang hanya terkekeh melihat ekspresi bingung dari cucunya.
“Lha iya, kata Rasulullah, tidak sempurna shalat orang yang tempat tinggalnya dekat dengan masjid, tapi dia shalat di rumah dan tidak shalat berjama’ah di masjid.”

Hujan reda setelah hampir satu jam mengguyur. Tepat setelah Mbah Lanang dan Ihya’ selesai berjama’ah shalat isya’.
“Le, hati-hati. Jalan pelan-pelan, awas licin.”
“Iya, Mbah. Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam warahmatullah…”
Mbah Lanang melepas Ihya’ hingga ke serambi. Kembali ia arahkan pandangannya pada rumah-rumah yang berdiri berjejal di sekitar langgar.

“Dulu, sekitar sini masih sepi. Hampir semuanya masih sawah. Rumah penduduk masih jauh-jauh jaraknya dan penduduknya juga masih sedikit. Meskipun begitu, dulu warga begitu rajin pergi ke langgar. Jama’ah shalat, mengaji, mengembangkan keilmuan dan keagamaan. Langgar ini dulu menjadi salah satu madrasah dan tonggak perkembangan umat. Sekarang penduduk banyak, rumah-rumah begitu dekat jaraknya, tapi kenapa langgar ini malah makin kosong?”

“Pak, anakmu tiap hari bergaulnya sama Mbah Lanang. Nanti lama-lama dia bisa jadi tua kayak Mbah.” Ibu Aisyah berbicara dengan kesal karena kelakuan Ihya’ yang tiap kali mendengar bedug ditabuh segera berlari menuju langgar. Meninggalkan segala pekerjaan yang tengah dibebankan padanya.
Seperti sore itu, hujan deras mengguyur dan Ihya’ diminta sang ibu membantu bapaknya membetulkan genting rumah yang sedikit bergeser. Begitu mendengar Mbah Lanang menabuh bedug, ia segera melesat ke sumur, mengambil wudhu, meraih sarung dan kopiah. Meski ditahan untuk membantu, tapi sebentar kemudian Ihya’ telah menyambar payung dan melangkah keluar.
“Nanti Ihya’ bantu lagi, shalat berjama’ah itu penting, Buk.” Begitu jawabnya tiap kali diomeli habis-habisan oleh sang ibu. Bapaknya pun sama sekali tidak menahan Ihya’ untuk terus membantunya.
Mendengar keluhan dengan nada mencibir terhadap Mbah Lanang itu, Pak Hamid hanya diam saja. Percuma meladeni istrinya yang memang sedang kesal dengan Ihya’ juga Mbah Lanang.

“Assalamu’alaikum…”
“Wa’alaikumsalam. Udah selesai, Ya’?” tanya ibunya dengan sewot. Yang jadi obyek kemarahan hanya cengar-cengir.
Ihya’ mengalihkan pandangan pada bapaknya yang sedang sibuk membersihkan air yang masuk kedalam rumah dari genting yang bocor.
“Tuh bantuin bapak kamu, ibuk mau bikin adonan kue. Dari tadi nggak bisa kerja karena hujan. Genting bocor, lantai basah.” Omel ibunya sambil menyerahkan kain lap pel yang sejak tadi ia gunakan untuk mengeringkan lantai.
“Bukannya dari seminggu yang lalu, ibuk sendiri yang minta biar hujan? Ibuk juga yang paling rajin ikut shalat istisqo’ yang banyak dilaksanakan akhir-akhir ini. Lha sekarang, kenapa malah ibuk yang paling ngeluh? Ini hujan yang ibuk minta kemarin-kemarin itu lho, Buk. Masa nggak inget?” Dengan santai ia menyahut perkataan ibunya.
Bapaknya hanya nyengir mendengar Ihya’ memukul jatuh perkataan ibunya. Dengan manyun dan ngedumel ibunya beranjak ke dapur.
“Dasar temannya Mbah Lanang.”

Cerpen Karangan: Ashfi Raihan
Blog / Facebook: toknowthefuture.blogspot.com / Dewi Septiya N
Dalam catatan sipil kependudukan, tercatat namanya Dewi Septiyaningsih. Lahir tepat pada padang bulan, purnama ke-sembilan tahun sembilan puluh enam. Berbekal tatah dan sari kayu, ia hunus senjata saktinya untuk menembus langit ketujuh dunia kata. Pekerjaan terkininya adalah mahasiswi, pengais amerta, dari kendi garuda sakti Sang Prabu Airlangga. Berproses di lingkungan humaniora, dengan jurusan yang tak jauh-jauh dari dunia yang penuh diksi, yang indah serta penuh nilai-nilai kemanusiaan. Putri asli tlatah Kediri, mengemban mandat suci menebarkan harum sastrawi.

Cerpen Mbah Lanang merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kampung Pindah

Oleh:
Sore ini aku ada janji dengan mas Anam untuk ikut ngaji di tempatnya ustad Faqih. “Mas Anam, ayo berangkat!” teriakku di depan rumah mas Anam. “Sebentar aku ganti baju

Rass

Oleh:
Pagi telah datang. Matahari naik dari ufuk timur ketika aku bersama Abangku, berjalan ke telaga. Tempat ia seringkali berkisah, meski saban pagi hari minggu. Kami duduk di bawah trembesi,

Kisah Cinta ku

Oleh:
Berawal dari seorang wanita yang lugu, polos dan belum pernah mengenal apa itu cinta Gina bisa wanita itu disapa. gina wanita yang cantik itu mnurut ku, muslimah, baik dan

Wanita Hebat

Oleh:
Langit cerah menyambut semua yang ada di sini. Udara pagi menyapa lapangan yang penuh dengan lautan manusia. Rumput bergoyang seirama dengan angin yang berhembus. Warna putih bercampur hijau mendominasi

Catatan Hati tentang Awal dan Akhir

Oleh:
“Ketika Allah membukakan pintu pengertian bagimu tentang penolakanNya, maka penolakan itu pun berubah menjadi pemberian.” – Ibnu Athaillah Jakarta Islamic Hospital. Kamis, 12 Desember 2013 “Kok detak jantungnya ngga

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *