Melangkah Keluar dan Tiba Di

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 31 July 2018

Oh tidaakkk!!! Aku kesiangan lagi. Aku sudah niat untuk bangun jam 3 sebelum adzan subuh, tapi kenapa malah aku bangunnya tepat terdengar “Allahu Akbar Allahu Akbaar”, adzan subuh. Ahh… sedih bangen deh, gak sahur lagi. Bagaimana ini?, kemarin aku sudah gak sahur dan sekarang gak sahur lagi. Hadehhh Nosya… kenapa mesti kesiangan sih?

Aku Nosya, gadis 17 tahun. Diam, itulah hobiku. Aku juga suka berpikir. Apalagi dalam menghitung, baru 1 semester sekolah saja aku sudah menghabiskan lebih dari 3 buku, itu hanya buat oret-oretan matematika. Bahkan aku pernah sadar, belum satu tahun sekolah saja, aku sudah menghabiskan hampir 10 buku, itu hanya buat menghitung matematika. Sempat dipikir, aku kok boros buku ya… eh, tapi masih mending aku yang boros buku, daripada orang di luar sana yang boros uang. Tapi, adanya buku karena berasal dari uang juga sih, hehe…

Detik-detik berjalannya jam dinding, aku pandangi terus dengan mata indahku ini. Aku duduk menunggu. Jam menunjukkan pukul 13:05 WIB. Dalam batinku, kenapa jamnya lama banget sih jalannya, dari tadi kutunggu suara adzan maghrib kok belum juga terdengar. Sudah lama nih aku menunngu hampir setengah jam, sampai perutku berbunyi karena nahan lapar. Katanya WAKTU ITU BEGITU CEPAT, mana buktinya tak lihat jamnya hanya berubah posisi jadi pukul 13:06 WIB. Hanya nambah 1 menit, beda tipis banget. Ya sudahlah, jamnya tidak kasihan sama aku, mendingan aku tidur saja.

Dalam Tidur
“Mah… Mamah…. Nosya ingin pulang. Kangen mama… Nosya ingiiinnn sekali mencium tangan mama setelah sholat Idul Fitri”. Tiba-tiba aku terbangun. Asthofirullahaladzim, tadi aku hanya mimpi. Terdengar adzan, tanda sholat ashar. kuberanjak dari tempat tidurku untuk segera mengambil air wudhu. Kulaksanakan sholat ashar 4 rakaat. Selepas sholat aku membersihkan asrama yang saat ini saya tempati.

Asrama inilah tempat tinggalku selama aku duduk di SMA. Mulai dari kamarku sendiri kurapikan, ruangan tengan kusapu, dan halaman luar kubersihkan daun-daun kering yang berserakan.

Cape sudah aku segera mandi untuk membersihkan diri. Selesai mandi, kuusap wajah basahku dengan handuk kecilku sambil kulihat jam dinding.

Waktu menujukkan pukul 17:00 WIB. Kemudian aku masuk kamar. Aku duduk terdiam. Aku mulai berfikir tentang mimpi siangku. Kenapa dengan mimpiku? aku jadi teringat sama keluargaku, Mamah, Papah, Kakak, dan Adik-adikku. Terutama sama Mamah, yang sudah mengandungku, sabar merawatku, mendidikku agar jadi orang baik, sampai aku besar dan mandiri seperti saat ini.

Hm… Tak terasa lebaran kurang 6 hari lagi, cepat banget bulan ramadhan akan berakhir. Padahal belum lekas sudah khatam Al-Qur’an. Kok tiba-tiba jadi teringat baju lebaran ya… Biasanya Mamah yang belikan aku baju lebaran, walaupun tak lebih dari satu, tapi aku senang dan bersyukur. Kali ini bakalan beli baju lebaran sendiri nih. Oh… tidak apa-apalah, ngumpulin uang sendiri, beli sendiri, mandiri.

Dug Dug dug dug dug dug “Allahu Akbar… Allahu Akbar”
“Alhamdulillah… Saatnya berbuka puasa, ayo kita makan”, ucapku kepada teman-teman asramaku.

Dengan gerakan yang cepat, aku mengambil nasi yang banyak, tidak seperti biasanya. Dengan lahab aku makan dan cepat habis. Selepas makan aku melaksanakan sholat maghrib di Musholah, agak jauh jaraknya. Jadi, aku sering terburu-buru dalam melangkah ke Musholah, bahkan pernah tergelincir batu kecil sampai hampir jatuh, cepat-cepat karena takut keburu Iqomah. Seperti biasa, setelah melaksanakan sholat maghrib, semua anak asrama berkumpul di ruangan sambil membawa Al-Quar’an. Di situ kami bertadarus bersama-sama sekitar 15 menit. Dilanjut kultum yang disampaikan oleh salah satu dari anak asrama. Sampai tibalah saatnya sholat Isha yang tentunya ada sholat terawihnya di bulan yang suci ini, yaitu bulan Ramadhan.

Tik.. Tik… Tik…
Hujannya rintik-rintik, sambil aku melamun di jendela kupandanginnya langit di atas sana. Rasanya aku ingin meraih butiran-butiran air hujan itu. Segera kukedipkan kedua mata indahku ini, ku ambil buku diaryku yang terpajang rapi di tumpukkan buku-buku sastraku. Dimulailah aku menulis,
“Oh Diary… apa kabarmu saat ini? Maafkan aku yang telah lama tak menulis sebuah kata demi kata sampai tersusun kalimat dan berubah jadi paragraf di sini, yang intinya itu akan menjadi rahasia kita, antara aku dan buku diaryku. Orang lain tak perlu membaca.
Diary… hari ini kabarku kurang baik. Kau tau apa yang saat ini aku rasakan sekarang? saat ini aku sedang galau. Mau tau kenapa? aku juga kurang tau kenapa. Lebaran sudah dekat, 3 hari lagi. Seharusnya aku senang, karena akan lebaran. Bagaimana ini? ngatasinnya…
Diary… aku bingung? aku ingin membelikan sesuatu untuk adik-adikku di rumah. Tapi dalam bentuk yang seperti apa ya… aku sangat sayanggg sekali kepada adik-adikku, terkadang aku kangen berat, sampai meneteskan air mata ke pipi ini dan mengalir dengan lurus. Disaat seperti itu aku hanya bisa membayangkan saat bermain bersama dan bergurau bersama adik-adikku. Aku ingin adik-adikku senang saat aku pulang nanti. Dan kuberikan sesuatu untuknya.”

Satu hari, dua hari, dan akhirnya akhirnya lebaran tiba. Aku senang banget menyambut lebaran. Kusambut lebaran dengan wajah ceriaku, kebahagianku memulai, pertanda aku akan segera pulang ke rumah bertemu dengan kedua orangtuaku, kakak dan adik-adikku. Hari ini yang aku tunggu-tunggu.

Siang hari, aku berkemas-kemas. Baju, rok, kerudung, dan lain lain. kumasukkan kedalam tas koper hitamku ini. Juga sedikit jajan buat oleh-oleh ke tas rangselku yang berwarna biru muda ini. Kalau dipikir, lumayan banyak juga apa yang akan aku bawa untuk mudik. Liburan sekolah sudah aku siapkan 1 buku untuk ku baca nanti. Bukunya berupa novel. Buku ini kupinjam dari perpustakaan sekolah. Judulnya “Edensor”, buku ketiga dari tetralogi laskar pelangi. Penulis buku ini adalah Andre Hirata. Kata teman-teman sekelasku sih, buku ini isinya bagus. Aku jadi penasaran dengan apa yang disampaikan oleh beberapa dari temanku, soalnya bukan cuma dua orang yang bilang bahwa buku ini bagus, tapi lebih. Sebenarnya sih aku cari waktu yang tepat untuk baca buku ini sampai habis, dan sekarang aku rasa waktu yang tepat di liburan sekolah.

Sore tepat pukul 16:00 WIB, aku meluncur ke stasiun. Kereta berangkat jam 5 sore. Sebelumnya aku sudah siapkan tiket kereta terlebih dahulu. Tak lama kutunggu, kereta pun datang dan aku pun segera melangkah masuk mencari tempat dudukku. Berat membawa barang bawaan, aku langsung duduk dekat jendela dan segera mungkin aku atur nafasku yang tak beraturan. Aku mencoba melihat diluar jendela kereta, begitu banyaknya orang yang akan mudik hari ini. Mulai dari yang tua, dewasa, remaja, bahkan ada ibu-ibu yang membawa bayinya. Aku merasa kasihan sama bayinya, masih bayi sudah ngasain mudik jauh. Kebanyakan dari mereka anak remaja. Ada anak sekolah yang masih pakai baju seragam, ada juga anak santri yang pakai peci dan sarung. Sedang asik mengamati diluar kereta, tiba-tiba ada seseorang yang datang.

“Maaf mba, boleh saya duduk di sini?”, suara laki-laki.
Hampir aku kaget, siapa yang bicara denganku?. Aku menoleh, kulihat orangnya itu pakai baju koko, sarung dan peci. Aku tebak, pasti ini orang anak santri. Dengan kiku aku jawab karena kelihatannya dia se usiaku, tapi sepertinya agak lebih dewasa dia.
“Iya, silakan.”, jawabku.
“Tasnya?”, ucapnya.
“Oh, maaf.”, kataku.
Malu banget, aku lupa naruh tas di sampingku. Padahal tempat itu mau didudukin orangnya. Dengan segera aku ambil tas itu dan ku mencoba untuk diletakkan diatas, tempat barang bawaan. Namun apa yang terjadi, aku kesulitan mengangkat dan aku dibantu olehnya, anak santri itu. Aku sangat berbalas budi.
“Terimakasih”, ucapku padanya.
“Afwan”, balasnya.

Aku sedikit tau tentang bahasa Arab, walaupun hanya beberapa kata. Kata ‘Afwan’ yang diucapnya itu salah satu kata dalam bahasa arab. Yang dimaksud dia artinya’sama-sama’. Sebenarnya kata ‘Afwan’ itu sendiri mempunyai dua makna, bisa ‘Maaf’ juga bisa ‘Sama-sama’. Namun ada bedanya, kalau hanya ‘Afwan’ berarti ‘Maaf’, kalau ‘Afwan’ jawaban dari ‘Trimakasih/Syukron’ berarti ‘Sama-sama’.

Baru 15 menit berjalanya kereta, aku menguap. Lama-lama ngatuk ingin tidur. Tapi aku masih bertahan untuk tidak memejamkan mata. Tapi bosen juga melihat dibalik jendela kaca kereta terus, walau pemandangan di luar sana seketika indah. Tak sengaja kutengokkan kepalaku ke kanan, leherku terasa sedikit sakit kelama tengok kiri terus. Aku melihat dia, si anak santri, sedang membaca Al-Qur’an kecil yang dipegangnya. Dia membaca di dalam hati, sehingga aku tak bisa mendengarnya. Penampilannya sangat baik, rapi, kulitnya putih dan agak tinggi dariku, tapi kok Al-Qur’an yang dipegangnya berwarna merah muda ya? aneh. Tidak sesuai. Ah sudahlah, mungkin dia suka dengan warna itu.

Saat aku ingin pejamkan mata indahku ini, aku dikagetkan dengan suara lembut yang sedikit memecah hening.
“Mbaa…”, suara itu. Dia si anak santri.
Aku menoleh.
“Dari tadi kita duduk bareng, sempat ada dialog kecil di antara kita, tapi kok belum tau namanya. Mbanya namanya siapa?”, ucapnya lagi.
“Nosya”, jawabku.
“Nama yang bagus”, katanya.
Aku balas dengan senyum. Aku malu, aku bilang trimakasih di dalam hati. Kemudian aku diam kembali. Begitu juga dengan dia. Keduanya saling diam. Sehingga, aku masuk kedalam alam bawa sadarku, mimpi. Aku terasa lelah jadi ketiduran deh.

Kereta berhenti
“De, de… adeknya turun di sini?”, suara ibu-ibu. Duduknya di depanku berhadapan.
Aku segera terbangun, melihat ke luar jendela. Aku senang sekali karena sudah tiba di kota tercinta ini.
“Iya, Bu. Terimakasih sudah membangunkan”, ucapku sambil tersenyum pada Ibu tadi.

Dengan segera aku ambil tasku yang diletakkan di atas, namun aku merasa kesulitan. Tapi aku tetap berusaha untuk bisa. Ada yang aneh dengan tasku. Perasaan sudah terlihat rapat deh sebelum berangkat. Tapi kok kebuka sedikit ya, pada tas bagian depan. Tiba-tiba seseorang menenggorku dari belakang. Ternyata tante-tante yang sedang terburu-buru.
“Oh, maaf de… tak sengaja, saya buru-buru.”, katanya tante itu.
Belum sempat kujawab, orangnya langsung pergi. Cepat-cepat kututup sleretan tasku. kemudian aku melangkah keluar dan tiba di stasiun yang saya rindukan suasananya ini. Sambil berjalan keluar, aku teringat juga baru sadar. Tadi waktu aku terbangun, sudah tidak ada si anak santri itu. Gumamku. Ya ampun, kenapa jadi kepikiran si anak santri itu sih.
Keluar dari stasiun, mataku langsung tak beraturan melihat di sekelilingku sambil mencari Kakakku yang akan menjemputku. Tanpa aku menunggu, Kakakku menghampiriku. Setelah dia, kami pulang deh ke rumah.

Sungguh, hari ini aku senang. Tiada hari istimewah kecuali hari ini adalah hari kebahagianku. Ya Allah… satu bulan puasa di sana. Sungguh begitu berat bagiku yang jauh dari orangtua. Tapi aku tetap sabar, dan kujalani dengan ikhlas, walau ada beberapa ujian dari-Mu. Dan sekarang, Engkau gantikan ujian yang Kau berikan di bulan Ramadhan ini dengan hadiah lebaran yang begitu indah. Aku melepas rindu dengan orang-orang yang ku cinta di sini. Aku bahagian bisa berkumpul bersama dengan keluargaku lagi. Aku bersyukur ya Allah masih bisa merasakan kehangatan keluarga. Mamah, Papah, Kakak, juga Adik-adikku. Saat ku bertemu kedua orangtuaku, aku tak kuasa menahan bendungan air di mataku. Kubiarkan air mata ini keluar dan menetes di pipi. Aku mencium tangan Mamah dan Papah. Dan langsung kupeluk keduanya. Aku bahagia sekali. Aku senang banget.

“Kenapa menangis?”, tanya papaku.
“Nosya senang, Mah, Pah. Bisa bertemu Mamah sama Papah. Nosya kangen banget sama Mamah dan Papah. Allah sungguh baik Mah, Pah. Beri Nosya kebahagiaan dihari ini.”, jelasku.

Setelah itu, aku segera ke kamarku untuk menaruh barang-barangku. Aku menolak Kakakku untuk membawakannya. Satu persatu bajuku kukeluarkan dan kumasukkan ke dalam lemariku. Selesai sudah, kubuka bagian tas depanku. Slereettt. Tiba-tiba ada sesuatu di dalam tasku. Aku terkejut melihatnya. Ada Al-Qur’an kecil berwarna merah muda di tasku bagian depan. Sempat bingung, kenapa ada Al-Qur’an di sini. Aku juga baru ingat, bukankah Al-Qur’an ini yang dipegangnya si anak santri itu? berarti kan ini punyanya. Apa dia salah naruh ya? Atau… (sambil mikir). Kubuka sleretan Al-Qur’an itu, terdapat surat di dalamnya. Aduh, surat apa ini? bikin deg-degan sekali. Kubaca suratnya,

“Assalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh, Ukhty.
Maaf, saya panggil dengan kata ’Ukhty’. Senang bisa berkenalan dengan Ukhty. Saat ana mengetahui nama Ukhty, entah kenapa ana ingin selalu mengingat kejadian itu. Kamu begitu sederhana, tanpa make up sedikitpun, terlihat begitu anggun. Semoga Allah pertemukan kita lagi dalam keadaan baik. Dan semoga kita dapat berteman.
Anti belum tau namaku. Namaku Khoirul.
Tentang Al-Qur’an ini. Sengaja saya berikan buat Ukhty. Lain waktu saat Ukhty di perjalanan kereta menunggu lama, Ukhty bisa baca Al-Qur’an ini.
Afwan, atas lancangnya surat ini. Salam kenal.
Wasalamualaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.”

SELESAI

Cerpen Karangan: Nofika Nikmatun Khikmah
Blog / Facebook: Nofi ZM
Saya masih sekolah, SMA. Blog saya, catatan kecil nofika.

Cerpen Melangkah Keluar dan Tiba Di merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Ayahku (bukan) Ustaz Badut

Oleh:
“Ayah lucu kayak badut!” ujar adikku yang terkecil. Sakit hatiku mendengar kalimat itu meluncur deras dari bibir mungil adik bungsuku yang belum mengerti apa-apa. “Bagaimana kalau kita panggil saja

Cita Citaku

Oleh:
Namaku Zhafira Maurita Amalia Hartono, aku biasa dipanggil Fira. Aku lahir sebagai anak ketiga dan anak bungsu dari sebuah keluarga kecil yang harmonis dan berkecukupan. Kedua kakakku laki-laki dan

Kenapa Bunda Tidak Bekerja ?

Oleh:
“Bunda, Alqa mau tanya.” Alqa yang baru genap berusia enam tahun memulai percakapan dengan bundanya “Iya sayang, Alqa mau tanya apa sama bunda ?” Jawab bunda sambil mengelus lembut

Penting Niatnya Sayang

Oleh:
Pagi itu, Arina diajak ayahnya jalan-jalan ke pasar. Arina yang belum pernah datang ke pasar tradisional, tak menyangka dengan keadaan yang ada. Benar-benar di luar dugaannya. Pasar itu sangat

Empat Cara Taklukkan Nayla

Oleh:
Langit sore ini begitu indah senada dengan hati Rico yang berbunga-bunga. Lelaki tampan itu sedang mengamati perempuan berkerudung penjual rempeyek yang biasa jualan di kompleks rumahnya. Senyumnya merekah begitu

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *