Menerjang Kemungkinan, Menggapai Impian

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 7 February 2017

“Setelah lulus mau lanjut dimana?”, tanya salah satu seniorku di pesantren
“Ma… masih belum tau mas”, jawabku malu-malu saat itu.

Saat itu aku sudah menginjak kelas 3 Tsanawiyah (MTS), atau setara dengan kelas 3 SMP. Tidak jauh berbeda dari siswa pada umumnya, para santri yang sudah menginjak kelas 3 akan disibukkan dengan dua hal, yaitu mempersiapkan Ujian Nasional dan seleksi masuk sekolah. Sesungguhnya aku pun sudah memiliki pilihan dimana aku akan melanjutkan sekolah, akan tetapi aku merasa malu untuk menyampaikannya. Tentu hal yang wajar bila seorang anak yang berprestasi ingin melanjutkan sekolah di sekolah favorit, tapi bagaimana denganku? Hanya seorang santri dengan nilai pas-pasan, tak dikenal dan tak memiliki prestasi apapun selama tiga tahun di pesantren tapi ingin melanjutkan sekolah di salah satu pesantren favorit di Jawa. Sebuah pesantren bagi para penghafal Al-Qur’an. Selain karena keunggulannya dalam bidang tahfidz Al-Qur’an, pesantren ini juga memiliki sistem seleksi yang ketat karena setiap tahunnya hanya menerima 40 sampai 50 santri saja dari ratusan pendaftar dari berbagai daerah. Sebagai seseorang yang nihil prestasi aku sadar betul bahwa cukup sulit bagiku untuk memasukinya. Belum lagi ditambah dengan hasil nilai ujianku yang pas-pasan dan hafalanku yang belum genap satu juz membuat nyaliku menciut. Namun berkat dukungan dari orangtua dan suadariku di rumah, aku pun memutuskan untuk tetap melangkah maju meskipun mungkin kesempatanku untuk lolos seleksi sangatlah kecil.

Hari berganti hari, tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Sebulan berlalu sejak upacara kelulusan, selama itu juga aku berusaha keras memperisapkan diri, termasuk menyelesaikan hafalan juz 30 sebagai syarat bagi peserta seleksi. Dan pada hari ini tiba saatnya hari penentuan. Penentuan apakah tahun ini aku akan sekolah atau tidak, karena tak ada sekolah lain yang ku daftar dan tak ada lagi sekolah yang masih membuka pendaftaran seleksi penerimaan siswa baru. Dengan didampingi ayah beserta motor buntutnya, akhirnya aku sampai di tempat seleksi. Sesuai dengan perkiraanku, banyak peserta seleksi yang datang termasuk beberapa temanku di Tsanawiyah. Tentu aku bahagia bertemu dengan teman lama, akan tetapi satu sisi aku menjadi khawatir menyadari bahwa mereka memiliki prestasi yang lebih baik dariku, dan membuat kompetisi ini semakin berat.

“Pengumuman, kepada para calon santri baru harap segera memasuki auditorium, karena ujian tulis akan dimulai”, seru salah seorang panitia melalui speaker masjid.
Aku pun segera bergegas mempersiapkan perlengkapanku dan melangkah menuju sebuah gedung yang telah banyak orang berduyun-duyun kesana. Akan tetapi belum sempat kakiku menapaki langkah pertama ayah memegang tanganku,
“Jangan lupa le, sebelum ujian do’a terlebih dahulu. Kerjakan yang bisa dikerjakan terlebih dahulu, dan kalo sudah selesai dikoreksi dulu, bila sempat”, ujarnya lirih. Kurasa bukan aku saja yang merasa khawatir, nampak jelas dari raut wajah ayah yang tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.
“Iya pak, Ardan minta do’anya semoga dimudahkan dan diberi yang terbaik”, jawabku sembari tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Bismillah, aku pun melangkah menuju ruangan.

Satu jam berlalu, akhirnya ujian pertama seleksi telah usai. Alhamdulillah segalanya berjalan dengan baik, meskipun tidak semua soal dapat kukerjakan tetapi aku yakin dengan semua soal yang kujawab. Kini kami disuruh untuk turun ke lantai satu dan melihat papan pengumuman untuk mengetahui ruang ujian selanjutnya, yaitu ujian lisan. Ternyata ada beberapa ruang yang dipakai untuk ujian lisan, dan tiap ruangnya digunakan untuk menguji tiga puluh peserta secara bergiliran. Kami pun antri berbaris di depan ruangan masing-masing sesuai nomor urut dalam papan pengumuman. Aku sendiri mendapatkan nomor urut sepuluh.

Satu persatu para peserta masuk, sambil harap-harap cemas aku menunggu giliranku tiba. Aku mencoba menenangkan diri dengan membaca dan mengulang-ulang hafalanku. Namun tetap saja, segala kegelisahan dan kekhawatiran enggan berhenti menggelayuti fikiranku. Setiap kali kucoba, belum genap satu surat kubaca, aku kembali menengok jendela ruangan sambil mereka-reka apa yang sedang dan akan terjadi, lalu aku duduk kembali dan mencoba membaca lagi, dan begitu seterusnya hal tersebut berulang.

“Ardan Zakaria”, seru seseorang dari dalam ruangan.
“Akhirnya giliranku tiba” gumamku dalam hati. Aku berjalan memasuki ruangan, tak lupa aku berdo’a terlebih dahulu.
Kini dihadapanku ada seseorang dengan jenggot panjang hingga ke dada, berpeci putih dan memakai gamis berwarna putih juga.
“Siapa namamu nak?” tanya beliau.
“Ardan pak, Ardan Zakaria”, jawabku.
“Asal antum darimana?”
“Dari Solo pak”.
“Antum sudah hafal berapa juz?”
“Ba.. baru satu pak, juz tiga puluh”, jawabanku kali ini tak dapat menyembunyikan rasa gugupku.
“Baiklah, sekarang bacalah surat Al-Fajr”, pinta beliau.
“Ba..baik pak”. Setelah membaca ta’awudz dan basmallah akupun mulai membaca surat Al-Fajr
“Wal fajr. Wa layaalin ‘Asyr”.
Satu ayat, dua ayat, hingga beberapa ayat aku baca dengan lancar. Akan tetapi ketika memasuki ayat ke lima belas aku terhenti. Entah apa yang terjadi, tiba-tiba fikiranku nge-Blank. Surat yang ku hafal dan kuulang-ulang setiap hari seakan hilang begitu saja. Aku coba melanjutkan membacanya, berulang kali ku ulang ayat sebelumnya agar bisa nyambung dengan ayat selanjutnya. Tetapi tetap saja, hafalanku benar-benar raib entah kemana.
“Yakfi (cukup)”, ucap beliau menghentikanku yang melihatku gelagapan melaksanakan perintahnya. Setelah itu beliau menanyaiku tentang hal lain menggunakan bahasa Arab.

Setelah sekitar dua puluh menit, akhirnya aku selesai menjalani ujian lisan. Aku salami ustadz yang mengujiku tadi sambil mengucapkan salam, aku pun berjalan pergi meninggalkan ruangan. Aku cari dimana ayah berada. Setelah berjalan kesana-kemari, akhirnya kutemukan dia sedang membaca Al-Qur’an di dalam masjid.
“Assalamu’alaikum”, ucapku sambil duduk menghampirinya.
“Wa’alaikum salam. Gimana le ujiannya? Bisa?”
“Alhamdulillah tadi tes tulisnya bisa pak, tapi…”
“Tapi kenapa le?”
“Tapi sewaktu tes lisan Ardan gak bisa waktu dites hafalan”. Aku tak bisa menyembunyikan kekecewaanku
“Ya sudah, gak papa le. Yang penting kamu sudah berusaha sebisamu. Sekarang yang bisa kita lakukan tinggal berdo’a pada gusti Allah. Minta kepadaNya agar diberikan yang terbaik”, ucap ayah berusaha menenangkanku.
Kami pun langsung bersiap pergi dan pulang meninggalkan lokasi ujian.

Beberapa minggu telah berlalu sejak hari seleksi itu. Hari ini merupakan hari pengumuman hasil seleksi penerimaan santri baru. Tak cuman aku yang merasa was-was, tetapi seluruh orang yang ada di rumah juga merasakan hal yang sama. Seringkali kudapati ayah dengan khusyuk berdo’a sambil menangis di sepertiga malam sejak kami pulang. Aku pun tak mau ketinggalan, sebisa mungkin aku berusaha untuk sholat tahajud, tak pernah kutinggalkan sholat dhuha dan tilawah satu juz. Kini semua tinggal bagaimana Allah berkehendak. Aku percaya Allah tak akan mensia-siakan hambanya. Dan aku yakin apapun hasilnya, itulah hal yang terbaik untukku saat ini. Allah lebih tahu apa yang kita butuhkan daripada kita sendiri.

“dreet… dreeet…”, handphone ayah berbunyi.
“Halo, Assalamu’alaikum”, ayah mengangkat handphonenya
“Wa’alaikum salam. Ini benar dengan wali dari saudara Ardan Zakaria?” tanya seseorang diseberang sana.
“I.. iya benar, saya ayahnya. Ada apa ya?”
“Kami dari Pondok Pesantren Baitul Kariim, ingin menginfokan bahwa putra bapak..”.
“Putra kami gimana ustadz?”, sela ayah tidak sabar.
“Selamat pak, putra bapak DITERIMA…”
“ALHAMDULILLAAH…ALLAHU AKBAR!!!”, seru ayah sambil bersujud sebelum seseorang diseberang sana mengakhiri kalimatnya.

Cerpen Karangan: Erdana Aziz
Blog: Erdanaaziz.blogspot.com
Kader Surau UNDIP

Cerpen Menerjang Kemungkinan, Menggapai Impian merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sandara

Oleh:
Sandara, gadis manis yang satu ini telah membuat hati Nico dag dig dug. Kelembutan dan keramahannya telah meluluh lantakkan hatinya. Wajahnya yang indah bagai rembulan, semakin memantapkan perasaan Nico

Jatuh Terlalu Dalam

Oleh:
Pagi itu aku terbangun dari mimpiku, namun tak seperti biasanya dalam hatiku timbul suatu kekhawatiran. Seperti ada sesuatu yang mengganjal. Ya, hari pertamaku di sekolah baru. Aku tidak sanggup

Apa Arti Jilbab Bagimu

Oleh:
Ada sebuah pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan pada setiap wanita muslimah, yang menyatakan bahwa dirinya adalah orang islam. Apa arti jilbab bagimu? Aku benar-benar penasaran mengenai hal itu. Apa

Aku, Kalian, Kita

Oleh:
“Cepat sekali, ya…” Tanpa sengaja aku menggumamkan sesuatu di tengah lamunanku. Suasana kelas yang sunyi membuatku berpikir akan sesuatu. Ini bukanlah tentang betapa cepatnya laju angin hingga menyeret awan

Kekuatan Do’a

Oleh:
Pada suatu hari calista pergi kerumah kakaknya yang tidak jauh dari kediamannya tinggal, ia bercerita kepada kakaknya tentang pelajaranya di sekolah, tidak terasa hari sudah pukul 09.00 wib, biasanya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *