Mengaji

Judul Cerpen Mengaji
Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 2 January 2017

“Pokoknya gak mau!” bentak Zinta pada Mamanya.
Zinta sedang kesal pada Mamanya. Karena Mamanya memaksanya mengaji di Masjid. Maklum, Zinta pindahan dari Jakarta ke Surabaya.
“Eh! kok gitu, sih sama Mama. Kan, ada temanmu sekelas seperti Laisyah, Aniza, Visya, dan Afizah,” tegur Mamanya lembut.
“Tapi, Zinta gak mau kalau yang ngajar itu nggak kayak Bu Liva (guru Ngajinya sewaktu di Jakarta),” ketus Zinta.
“Tapi, kan kamu hari ini janjian ngaji di Masjid sama Aniza!” elak Mama.
“Ya sudah! hari ini Zinta ngaji! tapi, besoknya Zinta tak mau,” jawab Zinta pasrah.
“Ok!” sahut Mama semangat.

Zinta segera mandi. Karena temannya akan menjemput ia. Ia menyambar handuk, lalu bergegas mandi. Lalu ia memakai baju lengan panjang warna kuning gambar anak perempuan menyiram taman bunga, rok jeans biru semata kaki, juga kerudung warna coklat. Lalu ia memasukkan mukena dan Al-Qur’annya ke dalam tas selempang gambar Princess Cinderella. Sembari menunggu temannya, Zinta membaca buku KKPK berjudul ‘Never Give Up’.

“Zinta! Zinta!” teriak temannya di depan rumah Zinta. Zinta meletakkan bukunya di rak buku, lalu ke luar sembari menggendong tas selempangnya. Ia ke luar rumah dengan wajah cemberut. Lalu berjalan menuju Masjid.

Di perjalanan
“Zin! kok wajahnya cemberut begitu?” tanya Laisyah.
“Oh! eumh.. eh.. Eng… nggak… kok.. Syah!” jawab Zinta dengan gugup.
“Zin! kamu bawa uang jajan?” tanya Visya.
“Tak!” jawab singkat Zinta dengan ketus.
“Kamu kenapa, sih Zin?! wajah kamu cemberut terus dan ngomongnya ketus begitu,” tanya Afizah.
“Ih! kubilang nggak apa-apa, kok!!” kesal Zinta.

Akhirnya mereka sampai di depan Masjid. Zinta segera melepas sendalnya, lalu masuk ke dalam Masjid. Lalu, Aniza memperkenalkan nama teman ngajinya. “Halo! namaku Putri Dewi Cantika (Dewi),” sapa teman Aniza yang bernama Dewi.
“Eumh… h.a..i!… Na..maku.. Zintana Aurellivira Meivhasya (Zinta),” sapa Zinta agak gugup.
“Aku Beunita Cherrlya (Nita),” sapa teman Afizah yang bernama Nita.
“Zin! jajan sama Aniza, Afizah, Visya, Laisyah, Nita sama aku, yuk!” ajak Dewi.
“Tak lah!aku tak bawa uang,” jelas Zinta.
“Tak apa! aku bawa uang lebih, kok! kuTraktir, ya..,” pinta Aniza.
“Umh… Eh, Anu… Boleh!” sahut Zinta.

Mereka pergi ke warung yang tak jauh dari Masjid. Zinta membeli Pop Ice rasa mangga dan sosis goreng.
“Makasih, ya An!” ujar Zinta. Aniza hanya senyam-senyum saja.

“ALLAHU AKBAR… ALLAHU AKBAR…!!!” terdengar azan Ashar dari Masjid. Mereka menuju masjid. Mereka menghabiskan makanan mereka lalu wudhu. Usai berwudhu, mereka mengenakan mukena mereka. Lalu sholat secara Jama’ah. Usai sholat, Zinta melipat mukena gambar MLP (my little pony) miliknya, lalu dimasukkan ke dalam tasnya. Lalu mengeluarkan Al-Qur’annya dan ditaruh dimeja. Sembari menunggu gurunya datang, Zinta mengobrol dengan Aniza, Laisyah, Dewi, Nita, Visya dan Afizah.

“Zin! kamu Juz berapa di Jakarta? kalau aku Juz 7 mau naik Juz 8,” sahut Dewi.
“Aku Juz 8. 2 lembar lagi mau juz 9,” jawab polos Zinta.
“Wah! sama dong, kayak aku! tapi, aku 5 lembar lagi!” potong Dewi.

Tiba-tiba ada seorang wanita sekitar umur 18-20 datang menghampiri mereka. “Itu gurunya! namanya kak Riszya,” jelas Afizah.
“Assalamualaikum!!!” sapa kak Riszya lembut.
“Waalaikumsalam!” koor semua murid Tpa.
“Siapa yang pertama datang ngaji?” tanya kakak itu lembut.
Seorang anak perempuan berhijab motif batik mengangkat tangannya. “Oh! Fyrsa. Ayuk maju! kita ngaji!” ajak kak Riszya ramah. Anak tadi yang bernama Fyrsa maju dan mengaji. “Wah! kakak itu cantik, fasih membaca Al-Qur’an, baik, ramah, imut, dan aku suka, deh sama kakak satu ini!” gumam Zinta kagum melihat kak Riszya.
“Kak Riszya ini blasteran Arab-Indonesia, Zin! Uminya arab sedangkan Abinya Indonesia, di kota Surabaya,” jelas Laisyah. “Oya! kamu ngaji setelah aku, setelah kamu baru anak itu!” sambung Laisyah seraya menunjuk anak kerudung hitam dan memakai kacamata.
“Namanya siapa?”
“namanya Laiza Putri,” Afizah menjawab pertanyaan Zinta.

“Laisyah Anela vutri!” panggil kak Riszya. Laisyah segera maju untuk membaca Al-Qur’an bersama kak Riszya. Sembari menunggu giliran ngaji, ia mengobrol sama Aniza. “Anak baru! kamu ayo sini! ngaji sama kakak!” ajaknya lembut. Ia menuju kakak tersebut.
“Nama kakak Kak Riszya, ya?” tanya Zinta.
“Iya! nama kamu siapa?” sahut kak Riszya.
“Zintana Aurellivira Meivhasya! seringnya dipanggil Zinta,” jelas Zinta.
“Juz berapa?” tanya kak Riszya lagi.
“Juz 8, ayat ini!” sambil menunjukkan ayatnya. Mereka mulai membaca.

“Bacaannya fasih! Tajwidnya tepat! tartilnya bagus kamu, Zin!” puji kak Riszya. Zinta hanya tersipu malu. Zinta memasukkan Al-Qur’annya ke dalam tas, memakai tasnya, lalu menghampiri kak Riszya. “Assalamualaikum!” salam Zinta seraya menyalami tangan kak Riszya yang selembut kapas, lebih dari itu. “Waalaikumsalam!” jawab kak Riszya lembut. Zinta pulang bersama Laisyah, Aniza, Afizah, dan Visya.

“Zin! Sabtu sampai seterusnya kamu mau ikut kami ngaji terus?” tanya Aniza.
“So pasti tentunya!!!” seru Zinta semangat.
“Liburnya kapan?” tanya Zinta.
“Hari jumat aja!” jawab Afizah.
“Oh! itu rumahku, bye!!!” teriak Zinta seraya menghampiri rumahnya.
“Bye!!!” teriak Sahabatnya Zinta.

“Assalamualaikum!!!” teriak Zinta sesampai di rumah.
“Waalaikum salam! eh, anak Mama dah pulang!” sapa balik Mama.
“Mama, izinin Zinta ngaji di situ!” pinta Zinta.
“Boleh, sayang…,”
“Hore!!!” sorak Zinta sangat keras sampai Jacky, kucing peliharaan Zinta belang tiga itu, sampai terbangun dari tidurnya.

Esoknya, Mama Zinta mendaftar Zinta mengaji di situ. Mama bangga pada Zinta, karena akhirnya Zinta mau ikut ngaji. Zinta diikutkan lomba Tartil tingkat provinsi, ia mendapat juara 1! dan saat diIkutkan tingkat Internasional, Zinta juara 3. Zinta memang hebat. Itulah bakat yang terpendam di dirinya.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza

Cerita Mengaji merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Gagal Berlibur ke Bali

Oleh:
Hmm… besok, sudah mulai liburan. Pasti aku diajak jalan-jalan. Tapi, kemana ya? Gumamku dalam hati ketika selesai mandi. Akupun langsung turun untuk sarapan. Aku melahap bubur ayam ku yang

Kerudung Hijau Umi

Oleh:
Allah akbar… Allah akbar… Suara adzan subuh menggema di pelosok desa. Sang muadzin tengah melantunkan kalimat-kalimat suci penuh makna. Mataku terbuka dengan perlahan. kepalaku sedikit pusing. Telingaku menangkap suara

Layangan Bumi

Oleh:
Namanya Bumi dan usianya 9 tahun. Tak bisa bermain layang-layang bahkan untuk menerbangkannya ke langit saja ia masih payah. Sering layang-layangnya berakhir dengan mencium tanah dan kemudian robek akibat

Anak yang Misterius

Oleh:
Bus sekolah kami yang kami tumpangi menjadi sangat tidak seru. Tidak seperti yang kami tumpangi kemarin. Seru sekali. Tapi saat ini tidak. Apa sih yang salah? Ban tidak bocor,

Aku Sebutir Pasir

Oleh:
Di tengah teriknya hawa siang. Di tengah luasnya gurun menghampar. Di tengah tingginya langit menjulang, sebutir pasir tengah berdiri. Sendirian. Mengapa? Tentu saja. Dia adalah sebutir. Hanya sebutir. Walaupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *