Mengeluh Yuk…

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Nasihat, Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 13 March 2013

Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar yang melengkapi indahnya alam dataran tinggi Lembah Gumanti masih seperti kemarin. Pelan-pelan mencium tepiannya ditiup sepoi angin. Segerombolan burung membumbung di angkasa bersiap kembali ke sarangnya. Kontras sekali dengan kelelawar yang justru mempersiapkan diri berburu mangsanya pada malam ini.

Di jalan setapak yang terbentang di pinggiran danau, tampak dua orang remaja tengah merasakan udara senja. Berjalan perlahan mengikuti alur jalan yang dipenuhi kerikil berpasir. Pakaian penghangat menempel manja ditubuh mereka. Tangan bersedekap di depan dada untuk mengusir rasa dingin yang menghadang. Sesekali terdengar kelakar diikuti tawa riang yang keluar lewat mulut mereka. Akrab sekali kelihatannya.

“Ah, dingin betul ya, Sob”

Seolah berkata pada diri sendiri, lisan salah seorang remaja itu menghentikan tawanya. Yang ditanya diam, hanya helaan napasnya yang terdengar.

Huda, Remaja lelaki berwajah melayu itu mempererat dekapan tangannya ke dada. Lembah Gumanti yang terkenal dengan suhu dibawah normal itu membuat tubuh remaja tersebut kedinginan. Dia terus melangkah mendekati tepian danau diikuti Sobran, kawan karibnya. Mereka mengambil posisi duduk dengan kaki terjulur diatas batu ditepian danau dan menatap hamparan air yang terbentang luas di depan mata. Desiran angin menyapa. Mereka diam sejenak merasakan indahnya ciptaan sang Khalik.

“Kemarin cuacanya teramat panas. Sekarang, aduh… kamu ngerasa nggak Sob. Dingin sekali, Kan!?”

Kembali menggaung suara Huda meminta persetujuan dari kawannya.

“Ah, dasarnya kamu.” Sobran menanggapi sembari menatap lekat wajah kawannya dan melanjutkan kata-katanya.

“Kerjanya Ngeluh mulu. Nikmatin aja napa sich?” Udah dikasih panas ngeluh minta cuaca dingin. Dikasih dingin minta panas lagi. Sakit sedikit mengeluh, ada tugas dari guru untuk meningkatkan prestasi, frustasi. Atau ditimpa musibah dikit mengumpat menghardik Tuhan tidak adil. Jadi apa sich maunya kamu?” Sobran mengevaluasi sikap kawannya.

“Mauku?” Huda terperanjat.

“Maksudku maunya kita, hehehe” Sobran tersenyum, mendekatkan jemarinya diatas bibirnya memberi tanda bahwa dia keceplosan salah ucap. Huda tercenung. Dialihkan pandangannya menatap riak-riak danau menepi. Ucapan sahabatnya mengena sekali diqalbunya.

“Tapi, Sob…” Kata-kata Huda terputus.

“Apa lagi?” Sobran memotong kalimat kawannya seakan tak ingin diganggu suasana hatinya.

“Nyatanya memang begitu… Salahkah bila ku berkata sesuai fakta?” Huda membela diri tak mau disebut sebagai seorang pengeluh.

“Fakta apa, kawan?” Sobran cengir pura-pura tak mengerti maksud sahabatnya.

“Dingin ini, mens!” Suara Huda meninggi.

“Aduhai, Huda… Mendengar keluhanmu barusan mengingatkanku dengan apa yang dibilang dalam Al-qur’an (Q.S.70:19) bahwa manusia itu diciptakan bersifat keluh kesah”

“Jadi???”

“Jadi, Begini kawan… Lupakah kamu nasehat Ustadz Irsyad beberapa waktu lalu? Bukankah beliau berkata bahwa mengeluh merupakan pertanda tidak adanya kesyukuran seseorang atas nikmat Allah SWT? Beliau juga mengingatkan bahwa kita tidak dibenarkan mengeluhkan masalah yang kita punya kepada orang lain? Kecuali nich, jika ia sharing pada orang yang ia yakini amanah dan dengan catatan untuk mendapatkan penyelesaian”
Huda menyimak penuh konsentrasi. Mencoba mengingat nasehat Ustadz Irsyad, wali kelas mereka. Lantunan Sobran berlanjut.

“Tapi, kita masih boleh mengeluhkan masalah kita pada…”
Sobran menghentikan uraiannya sejenak. Sayup-sayup gema adzan maghrib menggema.

“Pada siapa?” Tanya Huda penasaran.

“Pada itu tuch…” Sobran mengisyaratkan adzan sambil bangkit dari duduknya dan berlalu pergi.

“Yah… Pada Allah Swt, Mens.” Kicau sobran.

“Jadi…” Huda mengekor sahabatnya yang telah jauh meninggalkannya.

“Jadi… Yuk, kita mengeluh pada Allah saja, Boys!!! Hahahaha”

Cerpen Karangan: Danil Gusrianto
Blog: danialkampai.blogspot.com
Facebook: facebook.com/danil.gusrianto
Si Melankolis yang Cinta Biologi, Suka Fotografi dan tergila-gila pada dunia sastra. Saat ini tengah menimba ilmu di Sekolah Guru Indonesia Dompet Dhuafa (SGI-DD) Bogor.

Cerpen Mengeluh Yuk… merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Blue and Black

Oleh:
“tap… tap… tap” Seorang siswa smp nusa bangsa yang cool gayanya tapi pemalas. Yap panggil saja namanya Black. Black melangkahkan kakinya menuju kelasnya, kelas IX B. Ia menuju ke

Tasbih Cinta

Oleh:
Tasbihku.. Engkau salah satu benda yang sangat berarti di hidupku Engkau yang selalu menemaniku di saat aku merenung, Di saat aku sedang bersedih, di saat aku kesusahan, Di saat

Pertemuan Singkat

Oleh:
Namaku Danisa Putri, panggil saja namaku ica. Kini, aku sekolah kelas 2 SMA di salah satu SMA di Kota Bandung. Aku tinggal di keluarga yang sederhana. Aku anak kedua

QISA Si Empat Sahabat

Oleh:
Pada senin pagi, Aku bersiap berangkat ke sekolahanku, Sdn Permata Indonesia. Sebelumnya, aku pamit pada Mama dan Papaku. Lalu aku diantar pak Dony, sopir pribadi keluargaku menggunakan mobil. Bukannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *