Menjadi Salehah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 August 2018

Namaku Sara Stacie Febiella. Panggil aku Sara. Yap, aku keturunan Inggris. Mamaku adalah keturunan Inggris. Aku beragama Islam. Mama memang sudah memeluk agama Islam sejak lahir. Aku anak sulung, punya satu adik. Adikku bernama Nathalia Luvenia Shandrina, usiannya 12 tahun, jarak usia denganku hanya dua tahun karena aku berusia, 14 tahun.
And my favorite girl band is Verixon. Ya, girl band itu sedang popular di kalangan remaja sepertiku. Tapi, papa membuatku tengah seperti orang cupu yang tak henti membaca buku. Dulu, aku anak brutal yang tidak berhenti membuat ulah nakal.

Aku tidak serapi anak perempuan yang lain. Aku memakai rok dengan celana dibawah lutut, itu pun celana jeans robek-robek yang tidak pantas dipakai untuk sekolah. Aku memakai dalaman kaos dengan wajah Gusstav, pemain musik DJ yang kuidolakan. Kancing seragamku tidak kupasang untuk memamerkan bajuku. Kupasang 2-3 anting emas di telingaku. Rambutku kumodel keren seperti anak punk. Rambutku kupendekkan tanpa rapi.

Untunglah, sekolah swasta itu adalah milik kakek buyutku. Wew, jadi tidak mungkin aku dikeluarkan. Sebenarnya, aku berharap dikeluarkan dari sekolah itu. Fyuh, tapi nasib berkata lain. Aku hanya dapat menerima hukuman. Itu cukup asyik.

Aku jadi tobat setelah papa memberikan tawaran itu. Katanya, jika aku merapikan gaya pakaianku, modis seperti gadis lain, patuh pada orangtua, dan mengikuti kebaikan lainnya. Setelah jadi seperti cupu aku banyak teman. Dulu, aku malas berteman. Pernah ada yang meledekku di kantin. Aku langsung menyiramnya dengan jus buah naga yang kubeli.

Hidup baru ini cukup ribet, tapi aku juga lumayan untung. Banyak yang mengataiku kesambet. Tapi kubiarkan saja mereka. Well, aku jadi kesayangan guru. Rachel si ketua OSIS, si siswi teladan, kesayangan guru menjadi iri padaku. And well, aku mengalahkan prestasi Rachel.

Tapi setelah mencopot atribut brutal di tubuhku aku kembali memasangnya. Setelah aku nonton konser Verixon, aku kembali lagi mejadi lebih brutal dari dulu. Yah, ada yang untung ada yang rugi aku kembali brutal. Rachel juga pasti puas dan untung menjadi anak kesayangan guru kembali.

“Sara! Besok kamu udah pindah ke sekolah lain. Pendaftaran kamu udah diterima. Kebetulan pengelolanya sahabat papa.” jelas mama serius.
“Oke, Ma.” ujarku santai. “Sekolahnya namanya apa?”
“Pesantren Al-Ikhlas.” jawab Mama.
“WHAT?!” teriakku kaget. “Mama mau aku sekolah di pesantren tempat orang kampung itu?! Serius, dong Ma! Di sana itu daerah perkampungan! Dusun! Digunung! Enggak ada sinyal, mall, ATM? Aku bisa mati bosen di sana, Ma! Kirim aja aku ke luar negri!” celotehku kesal.
“Masih di daerah kota, kok! Oh, jadi kamu pengen tinggal sama Om Carl?” sindir Mama.
Aku menggeleng cepat. Om Carl itu galak, disiplin, ekstrem, killer, wuah! Aku bisa langsung mati. Bayangkan kalau pantai tebing tanpa pakai alat pengaman? Om Carl suaranya keras banget. Pas lahir nelen TOA kali, tuh si Om.

“Kamu beresin baju kamu semua yang bagus. Mama beliin kamu banyak gamis. Ambil saja di dekat lemari kamu. Fasilitas kamu Mama sita, kecuali lapto dan ponsel. Besok, kita akan berangkat menuju pesantren.” jelas mama.
Aku ingin berdebat lagi. Tapi aku juga punya otak untuk berpikir. Mama pengacara, mana mungkin menang darinya. Walau aku sering menang debat dari teman. Sudahlah, kayaknya aku ditakdirkan untuk jadi alim.

“Avidah, antarkan Sara ke kamarmu,” kata Kyai Razali, pengelola pesantren sekaligus sahabat papa. “Sara, ini Avidah putri Kyai. Ikuti dia saja, kamu sekamar dengannya.”
“Bantuin, dong!” seruku pada Avidah.
Avidah hanya tersenyum dan membantuku membawa tas. Aku mengikuti Avidah menuju kamar baruku. Aku memasuki gedung dan sebuah kamar kecil yang seperempat kamarku saja. Sebenarnya, lumayan luas. Kamarnya di laintai satu. Jadi praktis, gak usah naik lift.

“Heh, Avidah! Kenapa gua dibawa ke gudang butut kayak gini?!” protesku.
“Astagfirullah. Ini kamar kita, bukan gudang.” ucap Avidah.
“Yaelah …, ini gudang tau. Gudang rumah gue lebih bagus dari kamar elo, Vi,” ujarku bertolak pinggang. “Fixed, aku nyerah tinggal di sini.”
Avidah hanya mengelus dada. “Nama panjang kamu siapa? Pasti bagus. Nama itu adalah doa dari orangtua” tanya Avidah.
“Sara Stacie Febiella. Kamu?”
“Avina Dahfine Shakira.”
“What?!” aku kaget. “Cewek kampung kayak kamu nama yang orang barat?! Kok, bisa?”
“Ibu aku orang Jerman.”
Aku menelan ludah. Bisa kuakui, Avidah cantik. Kukira namanya Avidah Rokiso atau kampungan begitulah. Taunya kerena banget. Kyai Razali nikah sama orang Jerman.

“Eh, maafin aku. Tolong pakein aku jilbab, dong. Ajari aku.” pintaku.
Avidah mengangguk. Ia mengajariku pakai jilbab. Sekarang aku memang memakai gamis berwarna oranye kekuningan cerah dengan desains gaun—gamis polkadot putih. Jilbabnya seset, warnanya senada dan juga berpolkadot putih. Tapi jilbabnya, jilbab segitiga.

“Ajari aku ngaji, Vi!” pintaku.
“Tapi aku ajari sedikit saja. Aku belum terlalu pandai seperti bapak. Aku ajari hurufnya dulu. Aku punya IQRO waktu kecil yang masih bagus.” Avidah mencarinya di tumpukan buku.
Avidah mengajariku mengaji. Aku diajari huruf hijaiah terlebih dahulu. Setelah mengenalnya, aku diajari tanda bacanya. Aku menjadi mengerti.

“Avidah, mau nggak jadi sahabatku?” tanyaku sebelum tidur.
“Boleh. Aku mau.”
“Terima kasih.” ucapku.
Avidah tersenyum. Aku berdoa sebelum tidur seperti yang diajari Avidah. Terima kasih Allah Swt., Nabi Muhammad SAW, Mama, Papa, Avidah, Kyai Razali, dan semuanya yang mendukungku. Aku mendapat kesempatan bertobat untuk bekal kelak di akhirat.

TAMAT

Cerpen Karangan: Trip-S
Shara Salsabila Shilviya
Instagram: shara.salviya_
Oiya, Selamat Idul Fitri. Mohon maaf, lahir, dan bathin. Terima kasih sudah membaca dan menyukai ceritaku.

Cerpen Menjadi Salehah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Jendela Kaca Kelas ini

Oleh:
Duduk di pojok bangku deretan belakang tepat di samping jendela kaca yang tembus pandang langsung menuju kelasnya. Dari sana pula aku mulai mengenal paras cantiknya dari balik jendela kaca

Kemanakah Kita Akan Kembali

Oleh:
Setelah kematianya barulah kita sadar akan tujuan hidup yang sebenarnya. Berlinang air mata keluarga, berdegub jantung setelah mendengar kematian itu, berusaha agar ia dituntun ke tuhannya bersamaan dengan syahadat

Melodi dan Memori

Oleh:
“Cause I’m broken. When I’m lonesome. And I don’t feel right when you’re gone. You’ve gone away. You don’t feel me. Anymore” Alunan lagu Broken selesai dibawakan oleh duet

Game Punya Penggila

Oleh:
Aku bukan siapa-siapa, keseharianku yang hanya bisa bermain game membuat diriku ini tak bisa lepas dari yang namanya game. Sudah hampir seluruh game aku mainkan termasuk game online ataupun

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *