Menjemput Kebahagiaan Dona

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 28 November 2015

Sehelai bulu mata, nampak jatuh, mengalir bersama benda basah ke pipi. Sendiri, diam, tanpa ada siapapun menyapa, atau bahkan menyentuhnya. Dona. Perempuan berumur 5 tahun dengan boneka usang yang setiap hari ia peluk sepenuh hati. Baju berwarna kuning dengan rok yang telah lama pudar keindahannya. Terkoyak termakan batu-batu jalanan. Malam mulai larut, jalanan pun semakin sepi. Di bawah jembatan, ia habiskan malamnya. Sesekali, isapan ingusnya terdengar lirih. Malam ini, malam sebelumnya, dan mungkin malam-malam berikutnya. Sehelai kertas tebal kecokelatan dan kain tipis nan sederhana menghangatkan malamnya. Matanya terus menganak sungai.

“Dona, udah tidur ya?” suara khas seorang pria terdengar dari balik punggung Dona.
“Belum bang Yus!” jawab Dona sambil mengusap air matanya.
“Kenapa Dona menangis lagi?” tanya Bang Yus dengan mata iba.
“Dona kangen Ibu bang, kapan Ibu pulang?” tanya Dona. Bang Yus sedikit menghela napas.
“Sayang, Ibu pasti akan segera pulang, percayalah. Jadi jangan nangis lagi ya?” Dona mengangguk, lalu Bang Yus memeluknya. Erat sekali.

Satu bulan berlalu. Sejak hari itu, Dona selalu menjadi anak perindu. Dona selalu bertanya-tanya, kapan Ibunya pulang? Anak ini yakin, Ibunya pasti kembali. Kembali menyisir rambutnya yang panjang. Kembali memeluk dan menimangnya. Selalu menemani di setiap kali ia tidur. “Ibu, Dona kangen sama Ibu. Kapan Ibu pulang? Dona pengen dipeluk sama Ibu. Cepet pulang ya bu..” Dona selalu berharap, selalu sebelum terlelap.

Siang ini, yang sama dengan siang-siang sebelumnya, Dona dan boneka kesayangannya duduk di atas gerobak, di antara puing-puing rongsokan. Ya, Bang Yus hanyalah lulusan SMP. perusahaan mana yang mau menerimanya jadi karyawan di kota metropolitan ini. Namun, hidup adalah pilihan. Meski pilihan itu pahit, bukankah yang lebih penting halal dan menghasilkan duit? Bukankah memulung lebih terhormat daripada meminta? Ah entahlah. Kadang dunia terlalu kejam untuk orang seperti Dona dan Bang Yus.

Senja mulai melirik dari balik gedung-gedung berkaca bening. Nampak pantulannya terasa hangat di pipi Dona. Begitupun Bang Yus. Mengucur deras peluh penuh semangat dan keikhlasan basahi raut wajahnya. “Yus, nih uangnya. Besok cari lebih banyak lagi ya.” seru pengepul sembari menyerahkan uang hasil mulung tadi.
“Oh iya, ini buat beli es Dona.” pengepul tersenyum.
“Terima kasih pak” Dona membalas dengan senyum tulus.
“Makasih bang, saya balik dulu” Bang Yus menarik gerobaknya.

Dalam perjalanan, Dona yang sedang asyiknya bermain boneka berambut kepang itu, tiba-tiba bertanya, “Bang, kapan sih Ibu pulang? Kok lama banget? Bang Yus mulai menghela napas sambil sesekali memejamkan matanya. Abang satu-satunya yang Dona punya, menggendong Dona, dan duduk di sebuah Taman.
“Sayang, jangan sedih. Ibu pasti pulang kok.” Bang Yus menenangkan.
“Tapi kapan Bang?” tantang Dona dengan nada agak kecewa.
“Dona tahu kenapa Ibu belum pulang juga?” Dona menggeleng.
“Mungkin, Allah lagi marah sama Dona. Mungkin Dona kurang berdoanya. Sekarang Dona janji ya, dimanapun Ibu berada, Dona doain. Semoga Allah selalu menjaga dan menyayangi Ibu. Janji?” Bang Yus menyodorkan kelingkingnya, dan kelingking Dona pun meraihnya.

“Allaahuakbar.. Allaahuakbar..” suara adzan menggema. Dona dan Abangnya menuju masjid favorit mereka.
“Allaahummagfirlii waliwaalidayya warhamhumaa kamaa rabbayaani shoghiira.. aamiin” Dona berdoa dengan bahasa anak-anaknya. Wajar saja ia hafal, setiap hari Dona membacanya setiap kali teringat dengan Ibu.
“Pintar sekali, nama adik siapa?” seorang bapak-bapak berjenggot dan berdasi menghampiri Dona.
“Nama saya Dona” jawab Dona.
“Kenapa Dona sedih?” tanya orang itu penasaran. Ia melihat ada kerinduan pada raut wajah Dona.
“Dona kangen sama Ibu” celetuknya.

“Emang Ibu Dona kemana?” orang ini berusaha masuk dalam gelisah Dona. Namun sebelum Dona menjawab pertanyaan tadi, Bang Yus buru-buru menggendong Dona pergi.
“Tunggu mas, kenapa anda terburu-buru?” cegah pria berkacamata itu.
“Maaf pak, kami harus cari makan dulu, Adik saya sudah sangat kelaparan” Bang Yus menjawab. Dan tak disangka, pria berjenggot dengan kacamata tadi mengajak Bang Yus dan Dona makan bersama. Sedikit ulet, namun akhirnya Bang Yus menerima tawarannya.

“Maaf mas, kalau saya boleh tahu, kemanakah Ibu Dona. Sampai kerinduannya sedemikian rupa?” tanya Bapak tadi. Ia merasakan ada hal buruk terjadi. Terlihat dari wajah Dona. “Panggil saja saya Yus pak” balas Kakak Dona ini.
“Ceritakan sajalah Yus, siapa tahu saya bisa bantu. Saya bukan orang jahat kok.” pria ini menawarkan tempat curhat gratis. Seteguk teh mengawali cerita Bang Yus.

“Sebelum kami hidup berdua, Ibu senantiasa menemani kami. Ayah telah lama pergi, kabur entah ke mana. Hanya tersisa kami, saya, Dona, dan Ibu. Semua berawal dari peristiwa kelam satu bulan lalu. Ibu meninggal tertabrak mobil ketika hendak menyelamatkan Dona. Dona, yang saat itu melihat langsung peristiwa itu menangis memanggil nama Ibu. Terus, hingga berulang kali. Dan saya kira, Dona mengalami trauma yang menyedihkan. Mungkin ia belum bisa menerima itu semua. Karena itulah, ia selalu merindukan Ibunya yang Dona kira hanya pergi sementara dan akan kembali. Dan aku, aku selalu berikan dia harapan, harapan dan harapan tanpa ada kepastian. Aku terlalu pengecut untuk sekedar menyadarkan Dona bahwa Ibunya telah tiada. Aku hanya tak mau kehilangannya.” Bang Yus menangis tergugu. Pria di hadapannya terlihat iba. Ia mencoba menenangkan Bang Yus. Dona masih berkutat dengan boneka pemberian Ibunya itu.

Tak selang berapa lama, pria berdasi merah itu menyodorkan kartu namanya. “Perkenalkan, saya Frans, dokter spesialis jiwa. Bolehkah Dona aku rawat? kebetulan saya punya rumah rehabilitasi tempat anak-anak seperti Dona.” tawar dokter Frans. Perasaan campur aduk membasahi sekujur tubuh Bang Yus. Ia tak menyangka akan sebahagia ini. Apakah memang keajaiban masih berlaku? Ataukah malaikat yang menjadi lawan bicaranya tadi? Entahlah, yang pasti Tuhan menjawab doanya.
Doa yang selalu ia panjatkan, “Ya Allah, izinkan Dona menjemput kebahagiannya..”

Cerpen Karangan: Akhsety

Cerpen Menjemput Kebahagiaan Dona merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Senyuman Via

Oleh:
Livia Maharani Alfaro atau yang lebih dikenal dengan ‘VIA’ adalah seorang gadis SMA yang amat cantik, kulitnya kuning langsat, tubuhnya langsing, tinggi semampai, rambutnya yang panjang dipirang berwarna merah

Kau Hebat Nak

Oleh:
Sinar matahari masuk ke dalam kelopak mataku. Aku pun menyadari, Jika aku… Aku kesiangan!!. Aku pun bergegas bangun dari tempat tidur dan segera masuk ke kamar mandi. “Aduh, Aku

Kuliah Atau Mencari Jodoh

Oleh:
Kuliah dan Mencari Jodoh sama-sama diinginkan oleh setiap laki-laki maupun perempuan, dahulu mungkin mencari jodoh adalah hal Yang biasanya dilakukan oleh kaum laki-laki, tetapi seiring berkembangnya jaman, wanita seolah

Kamulah Surgaku

Oleh:
Matahari bersinar cukup terik pagi itu, meskipun sejam sebelumnya sempat diguyur hujan deras. Aku melaju di jalanan beraspal menuju sekolah yang berjarak kurang lebih 20 KM dari rumah. Aku

Kejutan Dari Ibu

Oleh:
Pagi ini terasa cerah sekali, terik matahari menguning bagaikan telur dadar yang baru matang. Ah, pagi-pagi ini melihat matahari pun seperti melihat makanan. Tidak hanya itu, aku melihat burung-burung

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *