Mushaf Untuk Aisyah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 23 January 2016

Gadis kecil… Ia duduk di sudut mesjid. Kedua tangannya terlihat sibuk dengan benda yang ada di depannya. Sedikit pun ia tak bergeming, ia tak menghiraukan kegaduhan yang ada di sekelilingnya yang dibuat oleh teman-temannya. Mesjid yang tak begitu besar itu menjadi ramai karena kehadiran anak-anak TPQ setiap sore bakda asar. Mereka berlarian di dalam mesjid, menghambur tanpa aturan dan berteriak-teriak. Begitulah dunia anak-anak selalu ceria tanpa beban kehidupan.

“Assalamualaikum,” aku memberi salam kepada mereka. Serentak kegaduhan berhenti dan mereka menatap ke arahku secara bersamaan. “Waalaikumsalam ustadz,” jawab mereka kompak dan berlari-larian kembali. Ku pandangi gadis kecil tadi, ia masih sibuk menyusun lembar demi lembar mushaf usang yang berserakan di depannya, persis seperti seorang yang sedang menyusun puzzle. Wajahnya menyiratkan kekesalan kepada seseorang. Ku ayunkan langkah kaki untuk menemuinya.

“Aisyah sedang apa?” aku duduk di depannya.
“Sedang menyusun qur’anku ustadz,” dia masih sibuk mengurutkan lembar demi lembar mushaf yang bertebaran.
“loh… kok bisa jadi berantakan gitu? Apa yang terjadi?”
“Itu ustadz tadi Azka lari-lari dan menabrakku,” sambil menunjuk ke arah anak laki-laki berbadan gendut yang sedang kejar-kejaran bersama teman-temannya. Raut mukanya menunjukkan kekesalan. “Baiklah, sini biar ustadz bantu menyusunnya kembali.”
“Terimakasih ustadz,” dia tersenyum.

Gadis kecil yang manis ini adalah seorang putri kenalanku. Namanya Kang Sutarno, begitu aku memanggil ayahnya. Ayahnya adalah seorang sopir angkot jurusan TMII-Ragunan. Perkenalan kami dimulai ketika aku naik angkotnya sepulang kuliah. Karena aku duduk di depan, ia mengajakku ngobrol. Banyak hal yang kami obrolkan hingga tak terasa kami pun menjadi akrab. Mungkin karena kami sama-sama orang jawa. Ia berbeda dengan sopir angkot kebanyakan. Tutur katanya santun dan tak pernah berkata-kata kotor layaknya kebanyakan sopir angkot. Yang ia bicarakan kepadaku pun selalu menyangkut islam dan dakwah.

Katanya dulu ia ingin sekali nyantri, mendalami ilmu agama. Tapi karena terganjal biaya ia pun mengurungkan niatnya, kemudian menikah dan mengadu nasib di hiruk-pikuk ibu kota sampai saat ini. Sekitar satu tahun yang lalu ia menitipkan putrinya Aisyah di TPQ yang aku kelola bersama beberapa temanku. Memang aku pernah bercerita kepadanya bahwa aku bersama temanku mengelola sebuah TPQ. Dan kebetulan rumah yang ia tinggali juga tak begitu jauh dari tempatku mengajar TPQ.

Aisyah, ia adalah gadis kecil yang pendiam dan penurut. Tapi jagan salah, ketika ia merasa terganggu oleh keusilan teman-temannya ia akan marah. Dia adalah anak yang cerdas, bahkan mungkin paling cerdas di antara santri-santri TPQ yang lain. Satu tahun dia bisa khatam iqra satu sampai enam dengan baik. Kini dia sudah mulai diajari untuk membaca al-qur’an oleh ustadzahnya. Hafalannya juga tak kalah hebat, selama satu tahun dia berhasil menyelesaikan juz 30 dan setengah dari juz 29. Anak sebelia itu telah hafal satu setengah juz. Sungguh prestasi yang membanggakan yang bisa membuat iri para orangtua.

Pernah suatu ketika aku bertanya, “Aisyah kalau dah besar pengen jadi apa?”
Sambil malu-malu dia menjawab, “Pengen jadi kayak ustadzah Afifah, bisa hafal al qur’an.” Aku terkejut mendengar jawabannya. Tak ku sangka dari bibir anak kecil ini meluncur kata-kata itu. Di dalam tubuh kecilnya ia menyimpan sebuah cita-cita besar untuk menjadi penghafal al-qur’an. Sungguh ini adalah hasil didikan orangtuanya juga ustadzahnya. Tak akan jadi jika orangtua hanya menyerahkan pendidikan agama si anak ke ustadz atau pun ustadzahnya dan berharap anaknya menjadi saleh dan saleha sepulang mengaji. Tentu orangtua harus berperan juga dalam mengkondisikan lingkungan keluarga agar cocok untuk membentuk anak yang saleh dan saleha.

Mushaf yang dibawanya telah usang. Benda pusaka itu seakan telah diwariskan turun-temurun sejak zaman penjajahan, dan tak tahu gadis kecil itu pewaris yang keberapa. Garis kemiskinan membuat dia dan keluarganya hidup menyedihkan. Sebagai sopir angkot setengah hari, ayahnya tak mampu sekedar membeli mushaf yang baru untuk Aisyah. Biaya makan sehari-hari pun pas-pasan. Ditambah lagi biaya sekolah anaknya yang kian mencekik membuatnya harus memutar otak dan memeras keringat untuk menghasilkan pundi-pundi uang yang lebih banyak. Hasil kerja keras Kang Sutarno terbayar. Aisyah adalah anak cerdas yang membuat orangtuanya bangga. Ia tak akan menyia-nyiakan kerja keras kedua orangtuanya. Ia menunjukkan bahwa kecerdasan bukanlah monopoli dari orang yang bisa mengundang guru privat ke rumahnya.

Aisyah sudah merengek hampir setiap hari kepada bapaknya. Ia benar-benar ngotot minta untuk dibelikan mushaf baru. Mushafnya yang lebih mirip buku peninggalan sejarah itu sering menjadi bahan olok-olok santri-santri yang lain. Tapi apa boleh buat, Kang Sutarno harus membuat Aisyah menelan janji-janji manis dari sang bapak.
“Aisyah, kalau kamu lebih rajin ngaji Bapak janji akan belikan kamu mushaf baru,” ucap Kang Sutarno sambil tangan kanannya memegang kepala sang anak.
“Bapak harus janji loh sama Aisyah,” dia menatap mata bapaknya dengan tajam.
“Iya, Bapak janji deh,” kata Kang Sutarno tersenyum sambil mengulurkan jari kelingkingnya. Aisyah pun tersenyum. Itulah janji dari Kang Sutarno kepada putri tercintanya.

Sore itu awan hitam menggumpal di angkasa Jakarta. Angin berhembus agak kencang menggoyang-goyangkan kabel listrik yang melintang-lintang tak beraturan. Udara dingin sudah mulai menjamah perkampungan padat penduduk itu. Pertanda hujan akan segera turun. Para santri telah merapat ke halaqohnya masing-masing, mendengarkan dengan seksama pelajaran yang disampaikan oleh ustadz masing-masing.

Hujan turun dengan lebatnya, membuat pandangan ke luar sangat terbatas. Disertai suara halilintar yang menggelegar yang bisa membuat takut santri-santri untuk ke luar dari ruangan mesjid. Hingga suara itu tiba-tiba mengagetkan kami semua. Gubrakkk!!! seperti suara orang yang tertabrak kendaraan kemudian disusul dengan suara rintihan rasa sakit. Kami semua berhambur ke luar melihat apa yang sebenarnya terjadi.

Di balik hujan, terlihat samar-samar seorang yang kurus kering sedang bersusah payah untuk berdiri. Mungkin dia korban tabrak lari. Ia terlihat memakai tas butut di belakangnya, keadaannya mengenaskan. Payungnya menari-nari ditiup angin, terbang entah ke mana. Baju dan celananya telah basah kuyup, juga rambutnya berantakan. Sungguh malang nasib pria itu, akhirnya aku mengambil payung besar milik takmir mesjid dan menghampirinya. Alangkah terkejutnya diriku ketika ku dekati. Ternyata pria itu adalah Kang Sutarno. Ia telah basah kuyup, di dahinya ada luka memar, mungkin terbentur aspal. Kakinya yang satu pincang, aku memapahnya menuju mesjid. Terdengar ia mengerang kesakitan.

Di teras mesjid Aisyah tercengang melihatnya. Ternyata korban tabrak lari itu adalah bapaknya sendiri. Ia menangis dan menghambur ke arah bapaknya. Kang Sutarno meringis menahan sakit, ia bersandar di sebuah tiang mesjid dalam keadaan basah kuyup. “Bapak…” Aisyah memanggil bapaknya.
“Aisyah! Jangan menangis yaa, Bapak gak apa-apa kok, cuma luka sedikit,” ucap Kang Sutarno sambil mengusap kepala putrinya. Aku, para ustadz, dan ustadzah, dan santri-santri hanya terdiam melihat adegan si bapak dan putrinya itu. Kang Sutarno tersenyum kepada Aisyah, ia mengeluarkan bingkisan kotak yang dibungkus plastik hitam dari tas butut warna kelabu yang sudah basah kuyup itu.

“Aisyah… sesuai janji Bapak. Bapak tadi belikan kamu mushaf baru, maafkan Bapak baru bisa membelikannya sekarang,” Kang Sutarno menyerahkan bingkisan yang dibungkus plastik hitam itu kepada Aisyah. Aku mengusap mataku yang mulai berair, haru dan hening, semuanya diam.
“Terima kasih Bapak,” kata Aisyah masih sesenggukkan, dan kemudian memeluk bapaknya. Kang Sutarno mendekapnya erat-erat, ia tersenyum dengan mata berkaca-kaca. Hujan sore itu menjadi saksi bahwa Kang Sutarno telah menepati janjinya membelikan mushaf untuk Aisyah.

Sekian

Cerpen Karangan: Kharis El Grabagy
Blog: elgrabagy.wordpress.com
Mahasiswa fakultas syariah di LIPIA Jakarta

Cerpen Mushaf Untuk Aisyah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Hijrah (Part 1)

Oleh:
Orang-orang bilang, masa SMA adalah masa-masa keemasan. Masa itu pula, orang-orang akan memilih lingkungan mana yang sreg dengan hatinya dan menjadikannya zona nyaman. Ya, mungkin begitu. Tetapi bagiku, masa-masa

SEKAIPAW (Semua Kan Indah Pada Waktunya)

Oleh:
Ku pandang erat wajahnya. Senyum simpulnya mengisaratkanku untuk segera memulai episode hari ini. Aku membalas senyumnya tanda mengiyakan. “Segeralah telingaku tidak sabar untuk menyantap hidangan lezat dari mu” katanya

Ketika Hidayah Melambaikan Cinta

Oleh:
Kicau burung merpati mulai terdengar ditelingaku. Tak sedikitpun aku bergerak dari tempatku berbaring. Tubuhku bagaikan terpaku di atas tempat tidurku. Namun suara adzan yang berkumandang membuatku terpaksa bangun. Walaupun

Permintaan Terakhir

Oleh:
Matahari telah menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Menggantikan tugas sang rembulan. Sinarnya menyorot jendela kamar rawat seorang gadis yang telah bangun Dari tidur nyenyaknya. Yang telah selesai melaksanakan kewajibannya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *