Nasib Yang Menimpaku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Penyesalan
Lolos moderasi pada: 2 September 2015

Hari ini adalah hari Minggu, jam juga masih menunjukkan pukul tujuh pagi. Aku sangat kesal sekali, suara bising membangunkanku! Hari Minggu adalah Me Time, tidak ada satu orang pun yang boleh membangunkanku pada saat aku masih tertidur, tetapi hari ini aneh sekali. Aku ke luar kamar dengan berjalan sempoyongan menuju lantai bawah, rambutku diurai berantakan, wajah juga kotor. Ketika anak tangga kulalui satu persatu, aku mengerti makna bacaan yang dibaca orang-orang, jantungku berdegup kencang, keringat dingin pun ke luar di seluruh tubuh.

Apakah ini… Surat Yasin? Siapa yang meninggal? Adikku kemarin masih sehat-sehat saja, Ayah pun begitu. Kalau pun pembantu dan supir, tidak mungkin mereka dimandikan di sini, dikafani di sini, dan dibacakan surat yasin di sini! Lalu siapa? Apakah Ibu? Tidak! Itu sangat tidak mungkin! Ibu baru saja masuk rumah sakit dua hari yang lalu karena penyakit asma yang dideritannya semenjak aku kelas dua sekolah dasar, mana mungkin itu Ibu? Aku belum mengucapkan kata maaf atau pun bilang aku sayang Ibu! Dosaku masih banyak kepada Ibu, bagaimana ini? Aku juga tak bisa kehilangan Ibu di usiaku yang belia ini, dua bulan lagi aku akan menikah dengan calon suamiku, Juna. Aku sudah tidak ada lagi tempat untuk curhat kepada siapapun lagi sekarang.

Agar aku tidak bertanya-tanya terus, maka aku turun ke bawah dengan gemetar, dan harus bisa menghadapi cobaan. Ku lihat orang-orang menangis, ada seluruh keluarga besar, saudara, teman, tetangga, berkumpul di ruang tengah. Ayah! Ayah menangis! Ayah yang biasanya kejam, tegas, dan tidak pernah tersenyum atau menangis, kini menitikkan air mata di depan jasad yang terbungkus kain kafan.

Aku pun langsung ikut mengerubungi jasad itu, ku buka kain putih yang menutupi jasad itu. Ibu!!! ternyata dugaanku benar, yang meninggal adalah Ibu! Tapi kenapa secepat ini? Aku sayang Ibu, aku cinta Ibu, Ibu segalanya bagiku! Tetapi sudah terlambat untuk mengucapkan itu sekarang. Aku ikut menangis sambil memeluk mayat Ibu, mencium pipi Ibu aku harus apa sekarang? Apakah aku akan memakai semua pakaian yang diberikan Ibu kepadaku? Mungkinkah itu menebus kesalahanku? Entahlah, tapi aku harus mencobanya!

Esok paginya, aku masuk sekolah seperti biasa, karena Ayahku melarangku untuk lIbur, seandainya saja masih ada Ibu, pasti aku akan dibela. Tapi hari ini berbeda dengan hari yang kujalani biasanya. Aku memakai pakaian seragam sopan panjang, dan jilbab! Itu adalah pemberian Ibu ketika aku masuk SMA kelas satu, tetapi tidak pernah ku pakai, karena aku berpakaian mini. Aku berpakaian tidak sopan semenjak aku kelas satu SMA, aku masuk geng paling hits di sekolah, dan mereka melarangku untuk berpakaian sopan.

Baju dari Ibu tak ku pakai karena sayang dengan geng yang hits di sekolahku. Awalnya teman-temanku merasa aneh dengan penampilanku yang sopan begini, tetapi tidak ku hiraukan. dan pastinya aku dikeluarkan dari geng itu, aku sadar sekarang, bahwa berpakaian tidak sopan itu tidak baik. Bila kita dilihat orang, kita akan marah, padahal kita yang memperlihatkan tubuh kita sendiri. Aku ingin mengingatkan mereka, tetapi aku tidak berani.

Setelah pulang dari sekolah, aku langsung berganti pakaian dan makan, tak seperti biasanya, itu adalah nasihat Ibu untuk langsung berganti baju dan makan, bukan malah update status yang tidak bermanfaat di Facebook. Setelah makan aku salat Ashar, setelah salat Ashar aku mengerjakan pr dan tidur beristirahat, ini menjaga diriku agar tidak kelelahan, ternyata nasihat Ibu sangat bermanfaat. Setelah bangun tidur aku mandi, setelah itu aku salat Maghrib dan mengaji, itu membuat hatiku nyama dan tenteram.

Mengapa tidak dari dulu saja ku laksanakan nasihat Ibu? Hatiku menjadi sedikit lega setelah mengaji dan salat. Hp-ku berbunyi dan kuangkat hp-ku, dari Juna! Juna memintaku datang ke acara ulang tahun sahabatnya, dia memintaku berpakaian formal saja, karena acaranya sederhana. Tetapi aku tidak bilang ke Juna bahwa aku telah berhijab, aku pun naik mobil sedanku yang berwarna silver menuju ke tempat acara tersebut.

Begitu marah dan kecewanya Juna ketika melihat aku berpakaian sopan seperti itu, dia lantas mengomeliku. Aku bicara kepada Juna bahwa itu demi Ibuku, dia lantas berbicara sesuatu yang menjelek-jelekkan Ibuku, aku tampar dia, aku masih dalam keadaan berduka, kenapa dia seperti itu kepadaku? Dia lantas memutuskan pertunangan kita. Aku sedih dan kecewa, orang yang selama ini ku kenal baik dan sudah kenal aku selama bertahun-tahun berani berbicara seperti itu kepadaku.

Aku pulang ke rumah dengan hati yang gelisah dan masih menangis. Aku juga dimarahi Ayah karena pulang dengan keadaan menangis, Adikku ikut menangis dan langsung masuk ke kamarnya. Begitu hampanya hidup ini tanpa Ibu. Ibu… aku butuh engkau.

Tuhan, aku ingin Ibuku kembali, tetapi itu tidaklah mungkin. Begitu sia-sianya waktuku yang dulu.

Cerpen Karangan: Sallsabila Khania Darmawan
Facebook: Sallsabila Khania

Cerpen Nasib Yang Menimpaku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pesta Malam Terakhir Di Pesantren

Oleh:
Namaku adalah Ikbal. Aku bermukim di salah satu Pesantren Pasuruan untuk menuntut ilmu agama. Disetiap tanggal 20 Ramadlan aku melepas rindu menemui keluargaku, di kampung halaman tempat Aku dilahirkan.

Cara Tuhan….

Oleh:
Ketika kau ucapkan kata cinta itu hatiku terasa seakan terbang tinggi kelangit,dan enggan jatuh lagi.Ketika kau ucapkan kata rindu itu degup jantungku berubah menjadi lebih cepat.Ketika kau ucapkan kata

Kata Mereka

Oleh:
Aku berlari ke bibir pantai menemui Tiar lelaki yang telah menjadi kekasih ku selama 1 tahun belakangan ini, ku hampiri dan dia mempersilahkan aku duduk tepat di hadapannya. “Apa

Akhirnya Ku Rasakan Karma Ku

Oleh:
“PlayGirl” kata yang bikin aku bangga tapi di sisi lain bikin aku risih. Kenapa? Ya bangga lah karena playgirl itu kan artinya sering gonta-ganti cowok berarti kan aku termasuk

Mengapa

Oleh:
Aku sangat bahagia sekarang setelah aku kenal dia. Natan, itu namanya orang yang aku kenal dari aku sma, dia yang telah merubah hidupku. Tak ada lagi sedih, murung, sendiri,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *