Notes Hitam

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Rohani
Lolos moderasi pada: 15 November 2014

‘Orangtua bagiku hanya peduli dengan kesuksesanku, tapi tidak sedikit pun dengan kebahagiaanku. Mereka bersungguh-sungguh menjaga nama baikku, tapi sebenarnya tidak!! Mereka hanya menjaga nama mereka sendiri agar tampak baik di mata orang lain. Mereka memeliharaku, benar-benar memelihara, sehingga ketika aku menjadi sesuatu yang berharga, mereka mendapatkan pula hal-hal berharga yang mereka inginkan. Tanpa peduli apakah aku bahagia atau tidak.’

Tetesan tinta yang menggores buku kecil itu selalu dibarengi dengan tetes air mata. Entah sudah berapa kali buku itu dihujani air mata, membasahi tiap lembar yang berisi curahan hati mendalam pemiliknya. Notes hitam. Yah, sampul buku kecil itu berwarna hitam lekat, sangat hitam, sehitam catatan-catatan yang ada di dalamnya.

‘Aku sangat berterima kasih karena kedua orangtuaku telah membesarkanku. Namun, keringat yang mereka keluarkan untuk menyekolahkanku, memberiku makan dan memenuhi kebutuhanku hanya menyisakan kesakitan batinku. Aku tak punya hak atas diriku sendiri. Aku hanya punya kewajiban yang harus aku tunaikan. Sekolah di lembaga yang mereka inginkan, keluar rumah hanya ketika mereka mengizinkan, dan melakukan hal-hal yang membuat mereka senang.’

Notes hitam kembali menampung derai air mata. Mengakhiri malam-malam dengan cara yang sama, tertidur dengan mata basah dan notes hitam di genggaman.

‘Aku semakin jarang bertemu kakak. Pulangnya larut malam, dan ketika pagi kulihat di kamarnya sudah tidak ada. Aku tahu, kakak tidak betah di rumah, begitu juga aku. Tapi aku tak bisa seperti kakak, karena aku perempuan. Aku selalu menjadi anak penurut dan berprestasi di sekolah, seperti harapan orangtuaku. Aku tidak terbiasa nongkrong di warung bakso depan sekolah sekedar ngobrol dengan teman-temanku, karena orangtuaku berpesan sepulang sekolah aku harus langsung pulang. Aku tidak sering menerima tamu teman lelaki, karena orangtuaku mengkhawatirkan perkataan tetangga terhadapku. Aku tidak mengikuti organisasi apapun di sekolah, karena anggapan orangtuaku itu hanya akan membuatku sering keluyuran. Aku kesepian. Kedua orang yang kulihat saat ku beranjak tidur dan ketika bangun membuatku semakin merasa kesepian.’

Tiap kata yang dia catat di notes hitam meninggalkan titik hitam dalam hatinya. Dan semakin lama titik itu menumpuk menjadi perasaan aneh yang dia rasakan terhadap orangtuanya sendiri. Ketika gadis seusianya gemar menceritakan tentang perasaan ajaib yang dirasakan terhadap lawan jenis dalam buku diary, dia malah sibuk menulis ketidak puasan akan sosok yang dipanggil Ayah dan Ibu dalam notes hitamnya. Ketika remaja dengan rasa ingin tahu tinggi berinternet ria membuka situs-situs yang menyenangkan, dia malah di depan notebook berjam-jam untuk membaca artikel yang membahas ‘orangtua’. Dia ingin sekali memahami apa sebenarnya ‘orangtua’ itu dan bagaimana seharusnya bersikap terhadap orangtua.

Gambar Notes Hitam

‘Buku yang hari ini kubaca menjelaskan bahwa hak yang harus ditunaikan setelah hak Allah dan Rasul Nya adalah hak orangtua. Ya, sebagai seorang anak aku harus menghormati orangtuaku, menyedapkan pandangan matanya dan menyenangkan hatinya. Itu sudah kelakukan. Tapi kenapa orangtuaku masih tidak melonggarkan tekanannya padaku? Ingin ku segera lulus sekolah, bekerja, mempunyai penghasilan, membalas semua yang telah mereka berikan dan pergi dari rumah ini. Mengatur hidupku sendiri dan keluar dari jeruji yang membatasi diri ini.’

PRAAKKK… Tamparan keras mendarat di pipi seseorang. Dia segera menutup notes hitamnya. Di buka pintu kamarnya yang menghadap ruang tamu. Dia mendapati kakaknya sedang berdiri tertunduk dengan pipi memerah.

“Mau jadi apa kamu? Pulang larut malam. Rambut gondrong tidak karuan. Penampilan seperti preman. Percuma ayah mengeluarkan banyak uang untuk anak yang tidak punya masa depan. Lihat adikmu!! Selalu bisa diandalkan. Seharusnya kamu yang lebih tua bisa memberi contoh yang baik pada adikmu.” Sang Ayah mencerca anaknya tanpa ampun.

Kakaknya tak pernah melawan dakwaan ayahnya. Kadang kala dia geram. Badan kakaknya jauh lebih besar dari ayahnya, tentu kakaknya memiliki tenaga yang lebih besar pula. Tapi kenapa kakaknya tak pernah melawan? Kemarahan ayahnya hanya ditanggapi dengan diam. Dia tahu betul siapa kakaknya. Walaupun dari luar kakaknya terlihat seperti pemuda begajulan, tapi kakaknya adalah lelaki yang taat beragama. Pada waktu sepertiga malam terakhir, dia sering memergoki kakaknya melaksanakan shalat malam dan wirid di kamar.

Dia terisak melihat pemandangan menyedihkan itu. Selama ini, dalam seisi rumah, dia merasa hanya kakaknyalah yang benar-benar menyayanginya, yang peduli dengan kebahagiannya. Dia ingat bagaimana kakaknya memboncengnya dengan motor, mengajaknya jalan-jalan, membelikannya es krim dan menjilatnya bersama-sama di taman kota. Dia juga ingat betapa senang hatinya duduk di kerumunan orang saat melihat pertandingan sepak bola, bersorak menyemangati kakaknya yang akan melakukan tendangan pinalty. Bersama kakaknya, dia sering melakukan hal-hal yang kata orangtuanya hanya membuang waktu sia-sia namun bisa membuatnya tertawa bahagia.

Dia kembali ke dalam kamar. Dia tak sanggup melihat kakaknya mendapat hujatan dari kedua orangtuanya. Lebih tak sanggup lagi karena dia tak bisa melakukan apa-apa.

‘Tuhan… kenapa semakin hari perasaanku kepada orangtuaku semakin menyiksa? Kenapa tidak kau hilangkan saja penderitaan ini? Aku mungkin anak kebanggaan orangtuaku, tapi aku tidak bahagia hidup dengan mereka. Kenapa tidak kau ambil saja ragaku? Kembali ke sisiMu dan membuat jiwaku tenang dengan belas kasih Mu…’

Menangis adalah cara dia meluapkan perasaaan. Dan notes hitam menemaninya dengan setia saat tangis mulai pecah. Lagi-lagi. Lelah menangis, dia berbaring di tempat tidur, kemudian menutup matanya yang sembab.

Sekarang dia mendapati dirinya berdiri tanpa alas kaki menginjak rerumputan yang hijau lembut. Taman yang dihiasi bunga berwarna-warni membuatnya takjub. Di belakangnya tertancap kokoh pohon yang sangat besar. Dia bak sekecil semut dibandingkan pohon itu. Rimbun dedaunannya dapat dilihat sejauh mata memandang. Langit sampai tak kelihatan. Apa mungkin tempat ini langit di atas langit yang sudah tidak ada langit lagi di atasnya? Sulit dijelaskan oleh manusia biasa seperti dia.

Dari bawah pohon yang besar itu sungai mengalir dengan tenang, bermuara entah kemana karena mata tak bisa melihat dimana ujungnya. Airnya berwarna nila keemasan seperti terkena pantulan sinar matahari di senja hari. Tapi tak tampak ada matahari. Apalagi terasa panas, tidak sama sekali. Adanya, angin yang berhembus menyebarkan hawa sejuk. Kesejukan yang tidak hanya membelai kulit tetapi juga menembus ke dalam jiwa, membawa kedamaian hatinya.

“Apakah ini taman surga? Apakah Tuhan mendengar doaku dan mengabulkannya, sehingga Tuhan membawaku ke tempatNya berada?” Dia bertanya pada kupu-kupu yang hinggap di bunga cantik berwarna kuning, bunga yang tak pernah dilihatnya di dataran dunia manapun, di televisi, di internet, maupun di gambar dalam buku.

Tidak lama dia menikmati pemandangan menakjubkan itu, makhluk yang tidak ada seberkas keceriaan sedikit pun di wajah datang menghampirinya.

“Ikuti aku.” Perintah makhluk itu.

Tanpa banyak tanya dia berjalan mengikuti makhluk itu. Berjalan. Berjalan. Dan semakin berjalan, apa yang ada di sekelilingnya tiba-tiba melebur, seperti debu yang tertiup angin kencang lalu lenyap. Hanya dirinya dan makhluk itu yang tetap utuh. Gelap. Apa yang ada di kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawahnya berubah menjadi pemandangan yang mengerikan. Kaki yang tadinya dimanjakan dengan empuknya rerumputan, kini menginjak tanah berbatu yang panas dan membuat kakinya terluka. Perih. Tempat ini kebalikan dari taman yang disinggahinya beberapa detik lalu. Panas mencekam mencabik kulitnya, menusuk tulangnya, dan semakin lama panas semakin menyiksa dan membuat sekujur tubuhnya sakit. Tempat apa ini? Dia menghentikan langkahnya.

“Aku mau dibawa kemana?” Tanyanya sambil menahan panas.

“Ke tempat yang pantas untukmu.” Jelas makhluk itu.

“Kemana? Tolong kembalikan aku ke tempat yang tadi. Aku lebih suka di sana.” Pinta dia.

“Kau tidak pantas di sana.” Makhluk itu berteriak geram.

“Kenapa? Aku tidak mau di tempat mengerikan ini.” Dia ketakutan, hatinya gelisah.

“Cepat ikuti aku.” Makhluk itu memerintah. Dia tidak bergerak. Dia tahu, apapun itu, tempat yang dia pijaki tidaklah baik.

Dia yang hanya diam mematung membuat makhluk itu marah. Makhluk itu menggenggam tangannya dan menyeret tanpa iba. Dia mengerang kesakitan. Daging dan kulitnya yang mulus terbakar, menyisakan tulang yang seharusnya berwarna putih menjadi merah membara. Makhluk itu menghempaskannya. Dia jatuh tersungkur dengan sakit tak terhingga. Kemudian secara ajaib bagian tubuhnya yang terluka kembali seperti sedia kala.

Belum sempat berdiri, makhluk itu sudah menyeretnya lagi. Kejadian yang sama terulang dimana kulit dan daging yang tersentuh makhluk itu terbakar hebat hingga ke belulang. Dia berteriak kesakitan.

“Lepaskan aku!!” Gadis itu berteriak, tak kuat menahan sakit tubuhnya.

Makhluk itu melepasnya. Dan lagi, lukanya menutup, tubuhnya putih mulus kembali. Dia tersadar, tempat ini mengerikan, ini adalah neraka. Makhluk ciptaan Tuhan yang tidak punya rasa kasihan itu, yang akan menghukum setiap hamba yang berdosa tanpa terkecuali, pastilah Zabaniyah, malaikat yang pernah dia hafalkan namanya kala madrasah sebagai malaikat Malik, penjaga neraka. Kenapa aku di tempat ini, menjadi sehina ini?

“Tuhan, tolonglah aku..” Dia mengiba dalam hati.

“Dia hamba yang baik. Taat beribadah, baik yang wajib maupun sunnah. Rajin mengaji. Tidak lupa bersedekah kepada sesama. Menutup aurat. Menundukkan pandangan kepada lelaki yang bukan muhrim. Baik kepada teman. Menyayangi saudara dan menghormati orangtua.” Datanglah makhluk dengan paras indah menyenangkan. Amal baik yang berwujud makhluk itu bersaksi di depan Malik. Dia bersyukur, amalannya telah melindunginya.

“Apa ini bisa disebut baik?” Tiba-tiba makhluk menyeramkan datang dengan melempar keras notes hitam miliknya tepat ke wajah.

“Benar, kau patuh kepada orangtua, kau membuat mereka senang, tapi kau tak pernah tulus dan ikhlas melakukannya. Kau kira banyaknya amalanmu cukup untuk membawamu ke surga? Lupakah bahwa kau bisa menikmati surga hanya dengan Rahmat dari Nya???” Amal buruk yang berupa makhluk juga membuat kesaksian.

“Tidak diragukan lagi. Aku akan melemparmu ke tempat yang pantas.” Malik geram dan menyeretnya lebih keras. Dia hanya bisa menangis dan berteriak kesakitan. Lidahnya telah terkunci sehingga tidak bisa mengucapkan pembelaan.

Dia telah sampai di ujung jalan. Daratan berbatu panas berakhir di sini. Dia menatap ngeri pemandangan di depannya. Jurang dengan api yang menyala-nyala. Berapa lebarnya, berapa panjangnya, berapa dalamnya, tidak bisa dia hitung dan tidak terpikir untuk menghitungnya. Dia menangis menyesal, notes hitam yang selama ini menampung kesedihannya, justru itulah yang membawanya ke tempat menyedihkan ini. Dia sangat menyesal menjadikan notes hitam sebagai teman setianya, dan menyimpan perasaan tidak puas di dalamnya, perasaan yang berujung pada kebencian dirinya terhadap orangtuanya sendiri. Sesedih apapun, memohon bagaimanapun, berteriak sekeras apapun, dan menangis semenderita apapun, Zabaniyah tidak akan ragu menyiksa seorang hamba. Makhluk itu mendorongnya. Dia jatuh ke jurang yang sangat dalam. Dia memejamkan mata. Walaupun api belum sampai menjilat tubuhnya, udara panas sudah menghukumnya. Sakit yang membunuh, tetapi tidak membuatnya mati. Ini tidaklah seberapa, karena penyiksaan Tuhan yang sesungguhnya akan jauh lebih pedih.

Dia seperti terjungkal, membuatnya membuka mata lebar-lebar. Samar-samar bayangan lelaki dengan rambut diikat menyambut dengan membawa notes hitam yang dikenalnya. Dia menghela napas lega.

“Adik mimpi buruk, buruk sekali…” Katanya pada kakak yang sangat disayanginya. Rupanya tangisnya di mimpi terbawa hingga terjaga. Air mata jatuh di pipi tanpa disadari, membuat kakaknya mengernyitkan dahi.

“Ha?!” Respon kakaknya.

“Adik mimpi dijebloskan Zabaniyyah ke dalam neraka..” Ucapnya menyesal.

“Karena ini?” Kakaknya mengangkat notes hitam yang sedari tadi dibawa, seperti tau apa yang adiknya alami di alam mimpi.

“Kakak membacanya? Kakak sudah tau semua? Hati adik telah adik kotori sendiri dengan perasaan benci kepada Ayah dan Ibu.. Adik menyesal, Kak..” Adik menangis tersedu-sedu.

“Yang nulis ini pasti bukan adiknya kakak. Kakak punya adik yang baik. Entah ini punya siapa. Besok kalau Kakak kerja, notes ini kakak buang saja di tempat sampah, biar nanti diangkut truk sampah ke TPA*.” Kakak berkata sambil membolak-balikkan notes hitam di tangannya. *TPA = Tempat Pembuangan Akhir

“Kakak bekerja? Sejak kapan?”

“Hem.. Sejak Kakak sering pulang malam. Kakak kerja kan buat mentraktir es krim adik Kakak yang paling cantik ini.. Kakak belum sempat cerita ke Adik juga ke Ayah dan Ibu. Wajar kalau Ayah dan Ibu mengira Kakak main sampai malam. Besok pagi sebelum kuliah, Kakak pasti cerita ke Ayah dan Ibu.”

“Adikku yang manis… Orangtua sama halnya dengan Al Quran. Andaikan Al-Quran itu sudah robek, warnanya pudar dan sudah tak berbentuk, tak boleh kita menginjaknya, karena akan membawa murkanya Allah. Birrul walidain. Wajib. Karena ridho orangtua adalah ridhonya Allah..” Lanjut kakak sambil memeluk adiknya.

Pasuruan, 130114-12.20

Cerpen Karangan: Miga Imaniyati
Facebook: Miga Imaniyati

Cerpen Notes Hitam merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Temani Aku

Oleh:
Girls, sebagai perempuan rada terlalu risih kalau ke mana-mana cerita tentang cinta. Loves exist while breathing. Mungkin iya untuk perempuan hobi hang out, nongkrong, dsb. Artinya sebut saja kisah

Takdir

Oleh:
Awal tahun yang kelabu. Disambut dengan awan mendung dan cuaca yang tak bisa diandalkan. Tapi kemeriahan masih saja menyelimuti umat manusia sampai ke pelosok dunia. Letusan kembang api bagaikan

Mukena Dari Ibu

Oleh:
Intan tahu Ibu sedang kesulitan. Beberapa hari lalu, dagangan Ibu tidak laku. Itu membuat Intan sedih. Malamnya, saat Intan belajar, terdengar suara batuk Ibu dari ruang tidur. Intan yang

Tauladan Seorang Ibu

Oleh:
Melahirkan seorang anak dengan penuh perjuangan dan kesabaran Ibu, sungguh pengorbanan yang tiada batas. Ketika anak lahir di dunia, semua orangtua menginginkan anaknya menjadi sholeh dan sholehah. Aku dilahirkan

Aku Rindu

Oleh:
Debu-debu berserakan, seakan menjadi penghias di kampung sudut kota. Menuangkan diri ke suasana desa yang cukup ramah dan penuh kesunyian. Entah apa yang para penduduk itu lakukan, mungkin sebuah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Notes Hitam”

  1. Alkisa Kamaliya says:

    Keren banget cerpen nya buat bulu kuduk merinding..
    Semangat terus ya buat cerpennya

  2. sarah says:

    Bagus,
    cerpen ini pesannya bisa langsung ketangkep sama pembaca.. 🙂

  3. Nadia says:

    Lanjutkan !
    Keren 🙂

  4. Miga says:

    Terima kasih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *