Pangeran Bukrah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Perjuangan
Lolos moderasi pada: 18 November 2017

Malam tampakkan gelap. Memaksa makhluk-makhluk lemah terbatas menyalakan penerangan untuk jalannya. Mengukir hiasan di sepanjang perjalanan pulang Rana. Ia perhatikan kanan, didapatinya barisan lampu jalanan berkolaborasi dengan lampu merah mobil-mobil pekerja. Lampion toko-toko berkonstribusi pula, bak tak ingin kalah tunjukkan kemewahan fana. Ia perhatikan kiri, uh sesak yang ia dapatkan. Penumpang bus memenuhi pengelihatannya. Baiklah, mungkin sebaiknya ia menatap kanan saja sedari awal. Lebih bernuansa.

Lelah.
Remuk benar rasanya seluruh tulang Rana. Bagaimana tidak? Ia baru saja kembali dari tempat pengajuan iqamah (izin tinggal), visanya hampir habis. Kemarin si pegawai jawazat itu bilang kalau berkas Rana akan diterima hari ini dan apa yang dia dapat? Penolakan, lagi dan lagi. Heran saja, seperti tak penat pegawai itu menolak berkas-berkasnya. Beberapa hari sebelumnya, foto Rana kurang besar, bukrah (besok). Lalu setelahnya, tulisan Rana kurang jelas, bukrah (besok). Kemudian, berkas Rana belum diklip, bukrah (besok). Seterusnya dan selanjutnya dan kemudian dan lalu dan dan dan. Bukrah (besok).

Hari kesekian dalam usahanya mendapatkan visa, Rana mencoba untuk datang lagi dengan gaya pakaian baru. Namun ya naas sekali. Wajah Rana memang terlalu mencolok untuk seorang mahasiswi. Ia dikenali oleh si pegawai jawazat, lagi. Seakan tak rela Rana mendapat visa, si penuntut ilmu itu pun dihadiahkan satu kata yang selalu menemaninya minggu-minggu terakhir ini, bukrah (besok). Alasannya sekarang, alamat rumah Rana palsu, katanya. Rana mendecih, alasan basi. Yang Rana tulis adalah alamat rumah tempatnya tinggal, kalau ia menulis surga, baru palsu namanya.

Rana capek. Serius demi apapun. Pernah juga, saat Rana ingin memasuki kantor jawazat (kantor tempat urus visa) tersebut, ia malah diusir oleh satpam yang bertugas. Katanya, Rana sudah datang berkali-kali dan tingkahnya juga mencurigakan.

Astaga! Rana ini pelajar. Seorang penuntut ilmu di universitas islam tertua di dunia, Al Azhar Kairo, Mesir. Tidakkah ia melihat pakaian yang digunakan Rana? Pakaian pelajar, please. Rana ingin tertawa. Menertawai sang nasib yang ditetapkan untuk sang diri lebih tepatnya. Rana hancur sudah. Tidak raganya tidak hatinya sama saja. Dileburkan oleh yang namanya sistem kepengurusan serba bukrah ini. Rana it u~
~ sudah letih.

Rana jengkel sekali. Andaikan, pikirnya, tak perlu urus visa sana sini. Tak perlu bawa paspor kesana kemari- untung bukan alamat palsu Ayu Tinting aja. Tak perlu ini itu. Tidak bisakah? Cukup beraktivitas sebagai seorang pelajar Azhar. Tapi andaikan memang hanya andaikan. Harapan Rana ketinggian memang untuk sekarang. Yah, jika memang tidak bisa, setidaknya urusan dalam mengurus visa ini dipermudah, bukan?

“Berkas ini harus diklip. Kamu mau kalau berkasnya tercampur orang lain? Ujung-ujungnya malah tidak dapat visa,” komentar si pegawai jawazat saat itu.
“Ya sudah, aku pinjam klip kalau begitu,” Rana bersikukuh, berkasnya harus masuk.
“Tidak tidak tidak bisa. Sudah bukan giliranmu. Bukrah!” perintah sekenanya. Tak berhati! Tak berperi-kevisaan.
Yaa Rabb. Sahhil nii.

“Ayolah, Paman. Hanya klip saja, kumohon, bantulah!”
“Tidak bisa! Bukrah!”

Rana memelas. Ingin rasanya ia menangis. Setelah berhari-hari perjuangannya dalam berusaha memenuhi dan melengkapi syarat-syarat yang tidak sedikit. Perjuangannya mengantre berjam-jam, ternyata pupus hanya dikarenakan kealpaan 1 anak klip pada berkasnya. Rana heran, bahkan dalam urusan sekecil itu saja dipermasalahkan. Serusak itukah syaratnya? Ternyata huruf Shad pada Misr itu benar-benar bermakna sabar ya? Rana tertawa sumbang dibuatnya.

Itu kemarin. Hari ini beda lagi ceritanya. Rana sudah menyiapkan berkasnya sedari malam, fotonya, tulisannya, kelengkapannya, juga diklip sudah beres. Sebelum tidur, ia setel 3 alarm berjudul “Urus Visa” pada smartphonenya lalu beranjak tidur.

Jam 7 pagi, Rana sudah stand by di dalam bus menuju jawazat. Ia bawa berkas-berkas di dalam tasnya, tersimpan dengan aman.

Sesampainya di jawazat, yang Rana lihat pertama bukanlah satpam penjaga yang biasa menertawainya, tetapi sebuah antrian yang sangat panjang. Ayolah, ini masih pagi, jawazat juga belum buka. Tapi ternyata, antrian yang panjangnya naudzubillah ini memenuhi penglihatan Rana. Baiklah, Rana akan bersabar- lagi. Semoga hari ini dimudahkan oleh sang pengatur alam semesta.

3 menit lagi adalah waktu istirahat pegawai jawazat. 3 menit lagi pula waktu yang bisa digunakan Rana untuk berwas-was ria. Ayolah! Tinggal 1 orang lagi di depannya, tinggal sepersekian detik lagi berkas Rana akan menerobos kerumunan pengajuan visa itu. Bersabarlah waktu, kumohon! Pintanya.

Giliran Rana tiba. Sebenarnya masih ada waktu 1 menit lagi sebelum istirahat tapi ternyata, pegawai yang kemarin menolak berkas rana dikarenakan tidak diklip itu mengatakan bukrah (besok). Rana mengerang frustasi, bagaimana bisa disaat genting kebahagiaan Rana akan tercapai ia malah tersapu bersih? Ia dikhianati oleh sang waktu, pun diabaikan oleh si pegawai. Ingin rasanya Rana protes, bukankah masih 1 menit lagi? Akan tetapi, lidahnya terasa kelu, hingga ia tak dapat berkata apapun. Membiarkan karpet merah tak terlihat terbentang di hadapannya, bak membiarkan si ‘pangeran bukrah’ nya pergi melenggang, mencabik asa yang Rana bangun dari paginya. Rana berpikir, bagaimana pegawai itu akan mempertanggung-jawabkan waktu 1 menit kerjanya di hadapan Allah kelak?

Rana terduduk lemah di kursi yang terletak di sampingnya. Ia tutup matanya enggan, lalu ia tangkupkan kedua tangan di mukanya pelan. Ia- sedang mengingat segala sesuatu.
Wahai betapa belakangan ia berusaha memperbagus bahasanya agar tidak terjadi lost communication.
Wahai betapa belakangan ia selalu berusaha memperjelas khatnya agar pihak jawazat itu tidak sulit membacanya.
Wahai betapa belakangan ia berusaha mempelajari sedikit akting muka melas pada temannya.
Dan wahai ~
~ betapa sekarang itu terasa sia-sia.

Cukup lama Rana merenung, memikirkan penyebab kesulitannya. Apa ia kurang dalam berikhtiar? Atau mungkin kurang dalam berdoa? Atau bisa jadi kurang dalam bertawakkal? Atau ~
~ apa?

Baiklah, mungkin Rana memang harus berdamai dengan yang namanya visa ini. Ia butuh udara segar, sungguh. Rana memutuskan untuk berjalan-jalan sejenak ke manapun yang ia inginkan dan baru pulang saat beranjak malam. Jadi, berakhirlah Rana hari ini di dalam sebuah bus yang penuh sesak karena dipenuhi oleh orang-orang yang baru kembali dari bekerja. Terpaksa, ia iringi jalan menuju rumahnya dengan menyetel kesabaran tingkat tinggi.

Sampai di rumah, Rana putuskan untuk tidur lebih awal. Ia berencana bangun lebih pagi esok hari. Ia telah mengokohkan azzamnya, akan ia penuhi 1/3 malamya dengan segudang doa. Mengangkasakan kalimat tauhid. Mengagungkan kalimat tahmid. Mengemiskan sedikit dari berjuta-juta kemurahan sang pencipta. Sungguh kafir rasanya karena ia tiba, bersimpuh dan bersujud pada sang ilahi hanya saat susah melanda. Ya Rabb, salahkah ketika ia ingin menghamba?

Bismillahi La Quwwata Illa Billah. Ia tawakkalkan dirinya. Akan ia jemput janji keberkahan pagi dari rabbnya. Ya, akan ia ajukan lamaran visa ini besok. Di jawazat, di depan pegawai yang tak bosan menyemai janji-janji bukrah yang tak menentu itu.

Si Pangeran Bukrahnya.

Cerpen Karangan: Ayu Husni

Cerpen Pangeran Bukrah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


The Gift For My Parents

Oleh:
“Duaaaaarrrrr.” suara gemuruh petir yang diiringi dengan derasnya hujan malam ini membuat tak terdengarnya isak tangis Salsa di dalam kamar. Ia tak percaya bahwa perbincangan dengan orangtuanya tadi membawa

Yang Mengikutiku


Ruangan ini, mengapa harus ruangan ini lagi. ruangan yang membuat hidupku tiba-tiba berubah begini. Jika harus diasingkan mengapa harus di ruangan ini. Tepat seminggu lalu saat keluargaku sedang asik-asiknya

The Power of Dream’s Girl Blind

Oleh:
Aku tahu, jika manusia kehilangan salah satu panca inderanya, maka mereka akan sulit melakukan aktifitasnya. Apalagi harus kehilangan indera penglihatannya. Pasti akan lebih sulit lagi. tapi ketahuilah, dibalik kelemahan

Matamu Mengingatkanku

Oleh:
“Apakah ada yang ditanyakan?,” tanya Felly tegas dengan meandang seluruh General Manager. “Kalau tidak ada, kalian bisa kembali ke meja masing-masing. Kalaupun ada masalah hari ini, kalian bisa menghubungi

Lentera Tak Berujung

Oleh:
Kenyataan mungkin terbalik dengan keinginan. Jalan kehidupan yang tak selalu indah membuat kenyataan itu jauh dari yang diinginkan. Kehidupan memang berliku-liku, kadang pasang kadang surut. Kadang menyenangkan kadang menyedihkan.

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *