Peci Kakek

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 5 March 2016

Bukan apa-apa, tapi kakek tua itu memang sudah pikun. Perawakannya yang kurus dan selalu memakai peci usang warna putih. Entah dari mana ia mendapatkan peci itu. Mungkin, ia membelinya di pasar atau hanya sekedar menemukannya di jalanan. Memang peci itu sangat usang, dan sudah bau. Banyak orang yang sudah bertemu dengan kakek itu, dan mereka bilang kakek itu sudah pikun dan tidak waras.

Orang-orang beranggapan, kakek tua itu adalah orang gila, mungkin karena kakek itu tidak pernah mandi, atau karena ia pikun? Tak ada yang tahu kisahnya. Aku pernah berjumpa dengannya. Ku bilang, “Kek, namanya siapa?” entah ia tuli atau tidak bisa bicara ia hanya diam dan bengong menatapku. Apa ya, kakek ini benar-benar tidak waras? Ataukah pikun? Atau apa? Tapi yang aneh dari kakek ini adalah ia suka pergi ke mesjid, entah apa yang ia lakukan. Mengaji? Atau bahkan salat? Aku ragu kalau kakek ini bisa salat, katanya pikun dan bau? Tapi kok ke mesjidnya terus ya?

Suatu saat, sore yang indah, waktunya salat ashar. Aku terkejut dengan suara adzan yang berkumandang, suara siapa itu? Mungkin karena penasaran, aku segera mendatangi mesjid. Dan ternyata? Gila!!! Kakek itu yang adzan. Aku tak habis pikir, kenapa kakek yang katanya pikun dan gila itu bisa adzan dengan suara yang indah. Menakjubkan. Selesai salat, aku ingin tahu apa yang dilakukan kakek itu. Ternyata, di luar dugaan dia mengaji. Aku tak menyangka, ternyata benar, dia mengaji. Aku mulai berpikir bahwa dia tidak gila dan mungkin tidak pikun. Aku berdiri di pintu mesjid, sambil berpikir kebingungan.

Hari pun berlalu, sore pun usai dan berganti petang. Suara adzan maghrib berkumandang indah, aku mengira bahwa yang mengumandangkan adzan adalah kakek itu. Aku lantas siap-siap pergi ke mesjid itu. Tebakanku benar, kakek itulah yang adzan tadi. Sungguh hebat kakek itu, katanya pikun dan gila, tapi sekarang malah jadi imam di mesjid pada waktu salat maghrib. Selesai salat, aku menghampiri kakek itu. Aku terkejut, ketika tahu ia bisa bicara, ternyata dia adalah kakek biasa yang memang sudah pikun, tetapi ia tidak gila, dia menceritakan kisahnya itu. Katanya, dia sama sekali tidak tahu apa-apa kecuali peci yang dia pakai sekarang ini yang memang sudah kusut, usang, dan bau itu.

Ternyata eh ternyata, peci itulah yang hanya ia punya, peci tersebut pemberian cucunya. Cucu kakek ini memberikan peci itu dan juga berpesan kepada kakek untuk selalu beribadah terutama salat dan mengaji di mesjid. Dan sejak diberikan peci oleh cucunya, kakek itu hanya tahu tiga hal yaitu salat, mengaji, dan mesjid. Apa maksudnya? Mungkin yang kakek itu ingat-ingat hanya perkataan cucunya itu, kakek itu memang misterius, dia selalu memakai peci yang bau tersebut saat salat berjama’ah, dan anehnya peci tersebut tidak bau ketika dipakai salat. Entah itu karena ia mencucinya atau mungkin sebuah ilham? Hanya kakek itu yang tahu.

Setelah aku dan kakek itu berbincang di mesjid tadi, aku diajak kakek itu datang ke rumahnya. Untuk apa? Yang ada di benakku adalah rumahnya mungkin hanya sebuah gubuk yang kecil dan bau. Aku tidak bisa membayangkan rumah kakek itu. Wow! Mengejutkan, rumah kakek itu sama seperti rumah pada umumnya, temboknya halus dicat warna biru, pintu dan jendelanya keren terbuat dari kayu jati, lantainya di keramik warna putih bersih. Tak ku sangka, rumah kakek ini begitu bersih, bahkan aku akui rumahku tak sebersih rumahnya. Yang lebih mengherankan lagi, dia punya motor. Motornya ia parkir di halaman belakang rumahnya.

Dia berkata bahwa rumah ini sebenarnya bukan miliknya, tapi milik cucunya. Dia jarang ke rumah ini, kakek itu bilang, “Ini bukan milik saya.” Ternyata kakek itu tidak mau mendapatkan harta dari cucunya, walaupun sebenarnya dia sangat membutuhkan itu. Yang kakek itu katakan adalah dia hanya ingin peci usang itu, agar bisa untuk menutupi rambut putihnya ketika salat, yang dia inginkan adalah dia hanya mau menyembunyikan usia tuanya karena dia hanya ingin beribadah walaupun sudah tua dan pikun, dia tetap ingin beribadah dan tidak mau menikmati dunia sebelum ibadahnya benar-benar diterima oleh Allah Swt.

Cerpen Karangan: Muhammad Arsyad
Facebook: Arsyad Moeslimsejati’s
Nama: Muhammad Arsyad
Lahir: 9 Mei 1998
Alamat: Pekalongan Utara, Jawa Tengah
Instagram: arsyadmoeslimsejati

Cerpen Peci Kakek merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Tentang TV

Oleh:
Allahu akbar…. Allahu akbar….. “Alqa sayang, sudah maghrib tuh. Ayo di matikan TVnya. Kita ke masjid yuk, sholat berjamaah.” Kata ayah Alqa Alqa yang sedang asyik menonton program kesukaannya,

Karena Ada Hikmahnya

Oleh:
Aku terus menatap tajam jalanan yang semakin padat kendaraan. Terik matahari mulai membakar kulitku. Aku kepanasan, kelaparan dan kebingungan. Hendak kemana sebenarnya aku ini, aku pun tak tahu. Kakiku

Aku Telah Meraih Surga

Oleh:
Aku mengingat-ngingat dimana liontin-liontin koleksi ibu tergantung di rantai lehernya. Dari yang berbentuk tetesan air, bunga, hati sampai bentuk-bentuk abstrak lain. Di liontinnya tak sedikit yang bermata putih bening

Secangkir Kopi Hitam

Oleh:
Lalu lalang kendaraan melintasi jalan raya yang kian hari semakin meretak, rapuh. Jalan raya tua yang sudah tak dihiraukan lagi oleh pemerintah untuk diperbaiki. Konon katanya jalan raya ini

Karena Asyla

Oleh:
Di siang hari yang terik, Vio mempercepat kayuhan sepedanya. Peluh keringat sudah mengucur di dahi dan lehernya. Vio mendesah nafas lega setelah sampai di beranda rumahnya. Tampak Umi yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *