Pelangi Kehidupanku

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 17 May 2013

Teeeeetttt…!!!
Aku gelagapan dari terjagaku. Ada sesosok jelek yang berdiri di depan kaca. Ya, itu aku. Yang suka berdiri memandangi diriku setelah bangun dari tidur.
Sriik… Sriiik… Perlahan aku menyisir rambutku yang kata orang indah. Hitam, lurus dan lebat. Tapi sayang aku tak membiarkannya tumbuh panjang. Ibuku selalu memotongnya, aku menyebutnya “potong sasak”. Ya, style hair cut yang paling aku sukai.
“mbak… Antri ya…”.
Kebiasaanku setiap pagi juga, aku anak pesantren yang tak asing lagi dengan budaya antri kamar mandi untuk mandi atau sekedar mengambil air wudlu.
PUKUL 05.10
“Allahuakbar Allahuakbar, asyhadu anlaa ilaahaillallah…”
Suara iqomah mulai di kumandangkan di aula pesantrenku. Memanggil semua ummat muslim mendirikan shalat subuh.
“aduuh… ayo dong cepetan… udah iqomah tuuuh. Ntar kena takzir gimana? ” ucapku cemas.
“iya-iya dedek… Sebentar..” jawab seseorang dari dalam kamar mandi.
Huuftt… akhirnya aku mendapatkan sepercik air suci itu. Segar rasanya menggampar permukaan wajah kusamku.
“dedek… Ayo ngaji… jangan tidur mulu dong..” suara mbak alvi yang khas memanggilku dengan sebutan itu “dedek”. Ya, itu karena aku sendiri yang masih sekolah di MTs.
Dengan manja dan molor aku turun ke aula. ‘ayo nay.. ngaji. Ngaji. Ngaji.’ Suara malaikat yang menjagaku membisikan rayuan agar rasa malas itu aku lawan.

Setelah aku selesai mengaji Al-qur’an, aku keluar.
“mau kemana nay?” Tanya mbak nisak.
“beli sarapan mbak… mau nitip? Atau ikut?”
“ikut aja deh”.
Kami berdua bergegas mengambil sepeda dengan penuh semangat aku mengayuhnya.
Aku pergi ke warungnya mak ah, warung langgananku.
“nasi apa la? Lodeh?”
“tau aja kesukaanku mak”.
“iya lah…”
Usai kami membeli sarapan, kami balik ke pondok dengan menenteng dua bungkus nasi lodeh kesukaan kami.

SEKOLAH KUU…
Sekolahku adalah surga keduaku. Setelah rumahku. Aku mempunyai banyak teman dari berbagai kalangan. Dari bawah, hingga kalangan atas, dan ter atas. Hari ini adalah hari sabtu. Hari ekstrakurikuler. It’s time to began the seven lesson. ‘yahh… Ekskul nih’ gerutuku. Aku ikut ekskul qori’. Nih ya.. asal usul nya aku ikut ekskul ini.
Berawal ketika aku baru masuk kelas VII. Waktu itu ada classmeeting di sekolah. Sebagai murid yang bau kencur lah istilahnya, aku hanya diam ketika wali kelasku menawarkan siapa yang mau partisipasi ikut classmeeting. Semuanya di handle ketua kelas. Tapi cabang lomba MTQ belum ada kandidatnya. Keesokan harinya, classmeeting di mulai. Nah, cabang lomba MTQ di tempatkan di musholla, yang sekarang telah di sulap menjadi sebuah bangunan suci yang megah, yaitu masjid Al-Hikmah. ‘aku terdaftar di checklist peserta qori’?’ aku kaget dengan kenyataan itu. Siapa yang mendaftarkanku..? aku merasa tak siap karena kondisiku yang sedang flu. Aku lari ke dalam kelasku, seseorang senyum padaku. “kenapa kamu senyum-senyum? Ada yang lucu sama aku?” tanyaku jengkel karena berita classmeeting yang mengagetkanku itu. “maaf ya, aku terpaksa mendaftarkanmu, aku tau kamu bias dan akan berhasil, mereka bukan sainganmu”. Ucapnya optimis meyakinkanku.
“dari mana dia tau kalau aku biasa qori’ di rumah?” batinku.
“udah, cepet ke masjid, takutnya nanti telat. Ayo aku antar”. Tawarnya.
“iya, udah makasih. Aku ke sana sendiri aja.” Jawabku datar.

Mbak putri kakak kelas di pondokku yang sedari pagi menyaksikan perlombaan di masjid menunggu ku memasuki masjid. Aku di luar masjid, tak berani melangkahkan kaki mungilku menginjakkan ke dalam.
“nay, ayo masuk”. Ucapnya setelah menyadari ada aku di luar.
Aku sembunyi di belakang mbak putri, aku gemetar tak karuan.
“peserta terakhir, RIZKI ELFIN NAILA NIRMA. Putri bapak Munir”.
Namaku di sebut lengkap dengan wali ku yang menjadi motivatorku melakukan segala apapun yang baik.
“A’uudzubillaahiminasyyaithoonirrojim…”.
Aku mulai membuka ayatku dengan ta’awudz. bayyati nada qoror. Aku mulai terganggu dengan flu yang dari tadi menemaniku. Tapi dengan keyakinan dan optimisme, aku melanjutkan suaraku.
Jlegg!!! jawabbul jawab!! mampukah aku…? aku mulai mengeluh, namun tak pernah ada yang tahu kecuali Allah yang maha tau akan isi hati hambaNya. Aku memintNya menjaga suaraku, agar aku bisa melanjutkan surahku.
Aku melirik juri yang ada di depanku manggut”. ‘pertanda apa ini Ya Rabb…?’ perasaan senang tak karuan menggoncangkan hatiku, membuat kepalaku terasa panas dan berat.

Perlombaan selesai, pengumuman juara hari senin depan ketika upacara bendera. Aku duduk berdiam diri di depan ruang kepala sekolah seorang diri. Itulah kebiasaanku, diam. Ketika aku malas berkumpul dan ngobrol sana sini sama teman teman tak jelas apa yang di bahas. Seketika itu, ada getaran langkah yang mendekatiku. “Rizki sedang apa?” yah.. aku di sekolah juga di kenal dengan nama yang penuh do’a itu. “nggak ngapa-ngapain pak”. Jawabku santai. “kamu nanti mau ikut ekstra apa?” Tanya bapak itu. Ya… yang tadi mendekatiku adalah seorang juri yang tadi menilai performku. “belum tau pak, tapi kata bapak saya di suruh ikut MTQ aja”. Nampaknya ada segurat perasaan kecewa di mata itu.
“mm… nggak tertarik ikut banjari?” aku menggeleng lemah.
“ya sudah… yang serius ya”. Pesan bapak itu. Aku tersenyum.
Aku memandangi langkah itu yang perlahan bergerak menjauhiku. Itu sedikit ceritaku, kenapa aku tergabung dalam ekskul MTQ.
Time is over. See you tomorrow morning with the new learning spirit.
Huahh… Akhirnya. Aku mengambil sepedaku di tempat parkir. Dan wesss…!!! aku melesat pulang ke pondok. Capek. Aku tersungkur di atas kasur lantai yang sengaja aku siapkan untuk tidur siang. Hari sabtu yang cukup lelah dan menyenangkan.

Kegiatan pondok yang menuntutku melakukan semuanya dengan ikhlas. Hari senin adalah hari di umumkannya para pemenang lomba classmeeting. Sebelum upacara di mulai, biasa. Aku duduk di depan ruang kepsek sendirian. Tiba tiba seorang osis mendekatiku. “dek, asku bangga sama sampeyan”. Katanya. “Ada apa mbak?” tanyaku penasaran. “udah… nanti juga tau sendiri, kejutan”. Dia membisikkan kata” itu di telingaku. Huuh… ada apa? Aku benar-benar penasaran. Apa iya? Yang di ucapkan wildan itu benar? Aku menang? Ah masak? Nggak mungkin lah.

It’s time to began the flag ceremony. Uuuhhh… males. Gontai langkah kaki ku mengajakku menuju lapangan. Upacara berjalan sesuai alur, terakhir do’a yang akan di susul pengumuman pengumuman. Duuuh… Dag dig dug rasanya. Membayangkan aku maju dengan PDnya mengambil hadiah itu. Tapi… Apa iya?, aku akan maju? sedangkan masih banyak peserta lain yang lebih baik dariku?
“juara 1 MTQ di raih oleh…”.
Suara ibu susiana yang memberi pengumuman itu dengan semangat.
Duuuhh… lama banget sih.. gerutuku.
RIZKI ELFIN NAILA NIRMA. Subhanallah… Maha besar ENGKAU YA Rabb… Alhamdulillah. Aku mengucapkan syukur yang tak habis habis nya. Ini kali pertamaku mendapatkannya.
Silakan maju ke depan mengambil kenang kenangan. Suara tepuk tangan riuh mengiringi langkahku menuju ke muka lapangan. Hari demi hari ku lalui dengan biasa saja. Dan lagi-lagi hari sabtu adalah hari special di antaranya.

Sabtu, ya, aku suka hari itu. Aku bisa santai untuk berangkat ke sekolah, karena hari sabtu adalah jadwal ku ekskul.
Grreeeeeggg!!! gerbang sekolah telah di tutup. “mas mas… Tolong jangan tutup dulu” pintaku pada mas satpam. “haduh nduuuk nduk, gak kurang siang kamu berangkatnya?”. Dengan menunduk aku minta maaf. “ya sudah cepat lari, keburu telat”. Perintah mas satpam yang memang cukup akrab dengan ku, namanya mas pri.
“assalamu’alaikum” aku memasuki ruang ekskul.
“waalaikum salam, duduk nak” pinta pak is.
Baiklah, pelajaran di mulai, aku menikmati setiap alunan nada nada indah yang mengiringi ayat ayat suci al-qur’an.
Sekolah telah aku lewati, saatnya aku kembali pulang ke asrama ku. Krieeet, aku parkir sepeda kesayanganku di depan, hah! Ekstra kurikuler di pondok sudah di mulai, aku telat! Plak!!!
Tapi semua berjalan lancar, aku pun bergegas mengambil air wudlu, dan siap siap shalat asar untuk selanjutnya berangkat ke masjid agung di kotaku.
Hari sabtu adalah hari specialku. Seperti PELANGI KEHIDUPANKU.

Cerpen Karangan: Kina Nirmaya
Facebook: rizkielfin naila nirma

Cerpen Pelangi Kehidupanku merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mengeluh Yuk…

Oleh:
Sinar sang surya terhalang kabut. Gerakannya terus mendekati ufuk barat bagaikan anak dara yang berjalan tertatih-tatih karena disampingnya ada sang pujaan hati. Sore mewujudkan diri. Riak air Danau Kembar

Indahnya Negeri Kinanah Di Pagi Hari

Oleh:
Waktu yang berlalu tidak akan kembali datang, melainkan hanya penyesalan. Kadang penyesalan pun jaraknya cukup lama. Hmm, sia-sia sudah. Meski setiap orang diberi nikmat waktu yang sama, namun setiap

Ceritaku

Oleh:
“Umar!” seruku memanggil seseorang yang dari tadi kucari-cari. Kuteriakkan sekali lagi. Akhirnya, aku pun menemukan dia sedang berada di masjid. “iya, ada apa, Khalid?. Tak usah teriak-teriak, semua orang

Ketika Kebaikan Mendatangkan Ujian

Oleh:
“Kesabaran adalah senjata seorang muslim dalam menghadapi setiap cobaan dan musibah.” Kata-kata bijak Kakak masih terbayang begitu jelas di telinga ini. Kakak selalu menasihatiku dengan kata-kata bijaknya ketika aku

Rass

Oleh:
Pagi telah datang. Matahari naik dari ufuk timur ketika aku bersama Abangku, berjalan ke telaga. Tempat ia seringkali berkisah, meski saban pagi hari minggu. Kami duduk di bawah trembesi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *