Pelukan Terakhir Untuk Kakak

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 27 November 2019

Malam itu hujan turun, tetes demi tetes air jatuh membasahi wilayah ini, hujan itu turun lumayan deras, ‘tes’ sesuatu menetes dari hidungku, “ah darah lagi, kenapa kau harus menetes sih, mengganggu angan-anganku saja” ya aku memang sudah terbiasa dengan darah yang menetes dari hidungku ini, dan aku tahu kenapa aku terus seperti itu, karena aku menderita kanker, tetapi aku sembunyikan ini dari semua anggota keluargaku, termasuk kak suci kakak kandungku yang sangat kusayangi.

“Fia… ayo makan malam, jangan melamun mulu di kamar, keburu dingin tuh makanannya” suara yang tak asing lagi untukku, itu adalah kak suci, aku segera mengelap darah tadi dengan tisu agar tak ketahuan. “Waah udah di sini semua rupanya, maaf ya umi, abi jadi nungguin deh” ucapku dengan tersenyum lebar, “ya udah ayo duduk sayang” suruh umiku. “waah fia tuh emang kebiasaan kalo turun hujan selalu saja muasin diri buat melamun di balik jendela kamar, sebenarnya ngelamunin apa sih dek? Jangan bilang kalo ngelamuni si akhi… akhi… itu ha… ha.. ha” ledek kak suci, umi abi juga ketawa, dan aku tersedak karena ledekan kak suci. “Iiih kakak tu jangan bahas itu malu nih sama umi abi, lagian aku juga gak lagi mikirin itu kok, aku tu cuman itu mikirin masa depan” balasku, “masa depan sama akhi itu ya dek?” aku tersedak untuk kedua kalinya “kakaaaak, bisa gak sih gak ngeledekin gitu.. aku jadi gak nafsu makan nih gara gara kakak. Umi abi marahin kakak dong masa ngeledekin aku mulu!” “kalo emang bener yang diomongin kakakmu itu, kan gak ada salahnya” jawab abi, “iiihhh abii ledekan kakak tuh gak ada yamg bener semua itu hoaks” “masa sih? Hoaks atau hoaks nih?” ledek umi. “Aaaahhh nyebeliiinnn tau aaaah gak ada yang belain aku, aku marah nih, aku gak mau makan, aku mau ke kamar aja” marahku dan langsung menuju kamar. “Tunggu fia, kakak kan cuman bercanda” tak kuhiraukan lagi ucapan kak suci yang masih di ruang makan.

Pagi telah tiba suara adzan subuh membangunkanku, aku segera ke kamar mandi dan berwudhu. Pagi itu seperti biasa setelah selesai memakai sragam dan makan aku berangkat sekolah dengan kakakku dan bersama abi untuk mengantar kami, “dek maafin kakak tadi malem ya, kakak cuman bercanda kok” “ya deh aku maafin tapi lain kali jangan ngeledekin aku kayak gitu lagi, janji ya” sambil kusodorkan jari kelingking dan mengaitkan dengan jari kelingking kak suci.

Setelah 4 jam di ruang kelas akhirnya istirahat telah tiba, aku dan teman temanku berjalan menuju kantin, tapi baru setengah perjalanan kepalaku pusing tak karuan, penglihatanku mulai kabur dan darah menetes dari hidungku, sampsi akhirnya aku pingsan tak sadarkan diri, dalam sekejap orang orang di sekitarku mengerumuniku dan membawaku ke rumah sakit.

Beberapa saat kemudian aku terbangun dari tidurku entah berapa lama aku tertidur di ranjang rumah sakit itu. Kulihat disana sda abi, umi dan kak suci terlihat mereka sedang menangis. “Alhamdulillah dek kamu udah bangun, kenapa sih kamu mesti nyembunyiin penyakitmu itu, kamu mengalami kanker stadium empat, dan kamu malah diem aja gak memberitahu kita” ucap kak suci sambil menangis “maafin aku ya abi, umi, kak suci, aku cuman gak mau buat kalian khawatir dan sedih maka dari itu aku nyembunyiin penyakitku ini dari kalian” jawabku dengan nada lemah, seketika kak suci memelukku dengan erat, aku sangat tenang di pelukan kak suci, dan itu pelukan terakhir untuk kakaku yang kusayangi ini, “kak tuntun aku syahadat kak” permintaanku untuk terakhir kalinya, “iya dek, Asyhaduallaillahaillallah, wa asyhaduannamuhammadarasulullah” aku mengikutinya, dan menghembuskan nafas terakhirku, semua menangis.

“Kak suci, abi, umi kalian jangan menangis aku sudah tenang di sini, aku akan tunggu kalian di surga kelak”.

Cerpen Karangan: Luthfia Helwa
Blog / Facebook: Luthfia Helwa
Maaf ya kalo cerpenya agak jelek, mohon kritik dan saranya, terimakasih.

Cerpen Pelukan Terakhir Untuk Kakak merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Abdiku Untukmu, Ibu

Oleh:
Aku terbangun di pagi itu dengan penuh kedamaian. Ku dengar kicau burung dan mentari menambah hangat sambutan pagi. Aku Silvia, umurku 17 tahun sekarang. Ibuku seorang single parent. Ya,

Aku Sayang Kamu

Oleh:
Perjuangan seorang anak berumur sebelas tahun dalam mengarungi pahit getirnya kehidupan. Berbagai macam halangan dan rintangan telah ia lalui, rasa lelah, letih, lesu, lunglai dan bahkan sampai harus terluka,

Cahaya Hati

Oleh:
Pikiranku penuh, hatiku gundah. Ah, seperti biasanya, menyebalkan sekali pagi ini. Namun sayang, alam seolah tidak peduli dengan perasaan hatiku yang sedang kacau. Ia malah asyik bersenang-senang, melukis panorama

Tanpopo

Oleh:
Seperti bungan dandelion. Kamu begitu rapuh. Tanpa pegangan, tanpa arahan. Kamu mengikuti ke mana angin membawamu, dimana ia pula yang dengan tanpa dosa telah menggugurkan kelopakmu yang terkenal rapuh.

Seberkas Cahaya Dalam Gelap

Oleh:
Hari ini ulang tahunku yang ke sebelas. Tak seperti ulang tahunku yang telah lalu, kali ini aku merasa senang sekali karena pagi ini dibangunkan Ibu. Sehabis mandi, lekas kupakai

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *