Pemuda Yang Dirindu Syurga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 1 September 2018

Remaja dewasa sangat jarang ditemui sekarang. Pemuda lebih senang memikirkan urusan mereka sendiri. Mencari mereka seperti menangkap ikan di kolam. Sulit karena kau tak punya jaring, tambah sulit jika dimarahi si pemilik kolam. Ya, itu kolam orang. Hasan selalu mengajakku berpikir. Bagaimana agar mengambil ikan di kolam orang menjadi tidak salah? Ah, remaja dewasa sangat jarang ditemui sekarang. Bagaimana cara kami mengambil ikan di kolam tanpa mencurinya?, aku harus berpikir keras.

Kami hidup di kota orang, mencoba mengajak orang orang seusia kami berubah tanpa menyakiti perasaan mereka. Itu ide hasan, temanku satu kost di jakarta.
“Aku dapat quote bagus,” kata hasan yang masih fokus di layar laptopya. Bukan, sebenarnya itu laptopku.
“Apa itu?”
“Hidup yang akan kau jalani di akhirat sana, bukan ratusan bahkan ribuan tahun melainkan selamanya, lalu hal bodoh apa yang membuatmu tidak serius mempersiapkannya?” kata hasan sambil melihatku. “dari islampos,” lanjutnya.
“Itu bagus,” pujiku. “lalu bagaimana?” tanyaku lagi.
“Kita mesti temukan hal bodoh itu Fan, kita mesti menghilangkannya.”
“Caranya?”
“Aku punya rencana.” Hasan menatapku sambil tersenyum.

Pukul 4 pagi
Udara dingin sekali. Kami shubuh berjamaah di masjid lalu berangkat kuliah dengan berjalan. Kampus kami tidak jauh, hanya 5 kilo. Lelah memang, tapi Aku mulai terbiasa. Terbiasa tidur setengah jam di masjid kampus karena lelah berjalan. Ini hari pertama kuliah setelah masa ospek.

“Bagus sekali Fan, remaja di sini sibuk sekali dengan urusan dunia, andai saja mereka tau cara memanfaatkan teknologi,” kata hasan yang prihatin dengan lingkungan kampus.
“Sebagian dari mereka tau San, tapi mereka tidak mau,” kataku.
“Apa rencana kamu San?” tanyaku padanya.
“Kita ke masjid saja, pasti ada LDK di sini,” ajaknya.
“Betul juga, ayo segera kesana,” kataku bersemangat. Sebenarnya aku hanya ingin segera tidur.

Semingggu kemudian kami bergabung dengan LDK. Aku senang, ini kesempatan untuk menangkap ikan, aku sudah punya jaringnya. Kami jadi seksi dakwah dan mulai ikut kegiatan, mengajak orang untuk kembali mengamalkan nilai nilai islam. Alhamdulillah, hanya sedikit yang mau mendengar, bahkan tidak sedikit juga yang menolak lalu benci. Aku berusaha untuk tidak menyakiti perasaan mereka, tapi ternyata ada ikan viranha di kolam, dan dia menggigitku duluan. Sakit sekali. Aku perlu jaring yang lebih besar. Aku harus jadi ketua.

Sudah sekitar 3 bulan Kami melewati masa sulit karena Hasan harus membagi waktu antara kuliah dan bekerja. Malam ini kost sepi, aku baru saja bertengkar dengan Hasan. Bukan, Kami hanya berbeda pendapat saja. Belum sampai setengah jam pulang kerja, dia pergi lagi, Hasan keluar entah kemana. Kampus libur 2 minggu dan Aku berencana pulang kampung. Aku sudah membeli tiket tapi sepertinya itu sebab masalahnya, Hasan tidak ingin pulang.

Aku baru saja menghabiskan satu juz tadarus al-qur’an, kebiasaan yang kutiru dari Hasan. kupandangi fotonya yang terselip di mushaf yang aku pinjam setiap hari. Allah, segera selesaikan masalah kami

“Assalamu’alaikum.” Hasan masuk membawa bungkusan plastik hitam.
“wa’alaikumussalam.”
“Makan dulu Fan,” suruh hasan padaku.
Aku diam. Apa dia sudah tidak marah?, aku terus memandanginya.

“Kenapa melihatku seperti itu?”
“Kau tidak rindu keluargamu?”
“Jangan tanyakan itu Fan,” kata hasan.
“Kenapa?, sedang ada masalah dengan keluargamu?,” tanyaku menyelidik.
“Apa karena itu keluargamu tidak penah mengirim uang untuk kuliahmu?, atau jangan jangan..”
“Ya!”, dia menyahut, dengan nada agak keras. Tak pernah kulihat hasan seperti ini sebelumnya.
“Aku memang ada masalah, aku tidak mendapat restu orangtuaku untuk datang kemari, aku tidak pernah berbakti kepada mereka, aku..”
Dia menangis.

“Aku bahkan tidak pernah melihat mereka,” kata hasan.
“Kau tau?, aku tidak pernah melihat mereka,” kata hasan lagi.
“Apa?”, aku kaget setengah mati. “jadi kamu?”
“Benar, Aku hanya anak yatim piatu, Aku dibesarkan di pondok pesantren lalu merantau dan kemudian bertemu denganmu.”
“Kenapa kau tidak pernah cerita San?,” tanyaku. Aku hampir menangis.
Allah maafkan aku, aku tidak memikirkan hal ini sebelumnya.

Malam itu aku tidak tidur. Aku menangis memikirkan dia. Dia sendiri, datang ke jakarta dan mengutarakan gagasannya padaku. Dia remaja yang peduli remaja. Dia selalu memikirkan orang lain, tanpa memikirkan penderitaannya sendiri. Dakwah di jakarta untuk orang seusianya tidaklah mudah, selama ini dia berjuang mati matian untuk memperbaiki orang orang seusia kami. Allah dia benar benar pemuda syurga.

Hari ini hasan diberi amanah untuk mengisi kajian remaja. Aku ketua panitianya. Kami memilih tema cinta dalam islam. Di akhir acara ada seorang mahasiswa senior yang mengajak hasan berdebat.
“Mengapa antum menolak pacaran?, Pacaran cara kita menjaga dan melindungi wanita yang kita cintai, apakah jika kita mencintai kita diam saja?, Tidak, bukan begitu saudaraku, saya muslim dan saya berpacaran, tetapi bukan pacaran seperti yang anda kira, saya tidak pernah menciumnya, saya tak pernah menyuruhnya melepas hijab, apalagi berbuat zina, Demi Allah, saya tidak pernah menyentuhnya kecuali tangan dan pipinya saja, apakah itu berlebihan?”.
“Rasulullah pun sangat kasih sayang pada Aisyah, beliau sering mencium bibirnya.”
Hasan diam, dia membiarkan kakak senior itu menyelesaikan argumennya.
“Apa yang salah dengan pacaran, apa karena pacaran budaya barat?, Ya Allah itu hanya istilah, pacaran di sini tidak sepenuhnya mengikuti budaya barat yang melampaui batas.”
“Semoga orang orang yang mencela orang pacaran segera diberi hidayah oleh Allah, dan dapat merasakan indahnya pacaran islami, yang penuh rahmat dan kasih sayang.”
“Saya muslim dan Saya pacaran, siapa yang bersama suara Saya?”
Sebagian besar peseta yang hadir mengacungkan tangan mendukung argumen senior yang kuketahui bernama Muhammad Taufik itu. Peserta bertepuk tangan, sebagian bahkan ada yang berdiri, ramai sekali orang membenarkan argumen itu, Hasan terpojok. Tidak, dia orang paling tenang yang pernah kutemui.

Beberapa saat setelah reda, hasan berdiri.
“Pertama saya beritau, Aisyiah r.a. adalah istri Rasululah saw, bukan pacarnya,” jelas hasan. Sebagian kecil peserta kajian tertawa.
“Betul saudaraku, apa yang salah dengan pacaran?, itu cuma istilah saja, pacaran itu cara lelaki sejati melindungi dan menjaga kesucian wanita, lagipula islam itu agama kasih sayang, sekedar memegang tangan dan pipi dia itu wajar, iya kan?, Anda muslim dan anda bangga pacaran.”
“Hanya istilah, jika pacaran itu hanya istilah mengapa tidak anda gunakan saja istilah islam, ta’aruf misalnya?, apa itu berlebihan?”
“Melindungi?, dari apa?, dari kebaikan?, dari belajar ilmu syar’i?, dari beramal sunnah?, dari birul walidain?, dari memanfaatkan waktunya untuk mamperbaiki diri, untuk hal hal yang lebih bermanfaat?”
“Dari apa dia anda lindungi?, orang orang jahat?, sadarlah bahwa andalah orang jahat itu. Antum merampas segala kebaikan yang seharusnya ia bisa dapatkan jika tidak sedang anda pegangi pipi dan tangannya.”
Aku tersenyum. Cerdas sekali temanku ini.
“Menjaga?, apa yang anda jaga?, kesucian dia?, sadarlah anda orang pertama yang sudah menodai kesucian dia.”, “Jika anda pacar pertama dia loh,” lanjut Hasan.
“Pertanyaanya adalah, apa anda halal baginya? Jika tidak, kenapa anda merusak wanita yang seharusnya bisa menjadi perhiasan terindah dunia., Anda melukai hatinya saudaraku.”
“Katakan, adakah wanita yang tidak merasa kesuciannya ternodai oleh pacarnya?, jika ada silahkan angkat tangan sekarang.”
Tidak satupun muslimah yang hadir mengangkat tangan. Semua diam, sebagian dari mereka seperti berfikir.
“Jika ada wanita muslimah yang tidak terganggu ibadahnya, belajarnya, dan semua kebaikan yang harusnya ia peroleh tanpa pacaran silakan komentar sekarang.”
Kembali sepi, semua yang menghadiri acara itu terdiam.

“Saudaraku yang merasa berbuat maksiat adalah keindahan, kita bisa renungkan bersama, apa pacaran itu salah? apa pacaran haram dalam islam?”. “Anda tau jawabannya.”
“Semoga orang orang yang mencela orang yang menyeru kepada kebaikan, segera diberi petunjuk oleh Allah, dan dapat merasakan indahnya hidup dengan syari’at islam yang penuh rahmat dan kasih sayang.”
“Muslim dan muslimah yang mendengar suara saya, jika kalian setuju dengan saya katakanlah”
“Saya muslim dan saya tidak berpacaran, saya bangga hidup dengan aturan islam.”

Sebagian besar peserta menirukannya, lalu disusul tepuk tangan meriah yang tak kunjung berhenti. Tak sedikit mahasiswa yang menangis merenungi jawaban itu. Mayoritas orang yang tadi mendukung argumen pemuda itu, sekarang berbalik membenarkan jawaban Hasan.
Subhanallah, Aku tak henti memuji Allah, sebuah jawaban yang sangat menyentuh hati, sebagai teguran bagiku dan semua orang.

Setelah itu, banyak yang senang dengan dakwah Hasan, tanpa memandang statusnya yang yatim piatu. Hasan berhasil, Kami berhasil membuat pemuda, mahasiswa di kampus berfikir, merenung. Untuk apa mereka hidup, bagaimana memanfaatkan teknologi, bagaimana memanfaatkan masa muda.
Masjid kampus semakin ramai saja. Kami semakin sibuk karena kami juga pengurus masjid dekat kost kami. Hasan mulai mempertimbangkan untuk berhenti bekerja.

Lain hari
Aku dan Hasan sedang mengepel masjid dekat kost kami, sebuah mobil berhenti di depan gerbang masjid, kemudian seorang lelaki dan wanita keluar, sepertinya dia ustadz. Aku masih sibuk mengepel. Hasan menghampiri mereka. Mereka menangis melihat Hasan, lalu lelaki itu segera memeluk Hasan. Kulihat dari kejauhan mereka berbincang, cukup lama. Sesekali mereka melihatku, Aku tidak kesana karena sebentar lagi adzan dan ini hari jum’at.
Hasan meghampiriku, memandangku sebentar lalu memelukku. Dia menangis.

“Kenapa kamu San?”
Dia hanya diam, sepertinya dia sudah tidak bisa berkata-kata lagi. Aku tak tau maksudnya.
“Siapa mereka San?, mereka menghina Kamu?,” tanyaku.
Dia melepaskan pelukannya, air mata masih mengalir di pipinya.
“Bukan Fan, mereka orangtuaku,” kata hasan.
“Apa?,” aku kaget setengah mati.
“Mereka memintaku pulang.”

Hasan mengirimiku pesan 2 hari setelah pulang kampung.
“Aku sudah menemukan jawaban pertanyaan kita dulu fan. Bumi adalah kolam ikan, kita tidak harus mencuri, kita bisa mendapat ikan dengan mendekat kepada pemiliknya. Jalan kita akan mudah jika kita mendekat kepada Allah fan, dan itulah yang kita lakukan tanpa kita sadari. Maafkan aku fan, Allah memindahkanku ke kolam yang lain di solo. Jangan bersedih fan, tetaplah berjuang. Kau tidak sendiri, Allah terus bersamamu. Aku berjanji, kita akan bertemu lagi, affandi setyawan”

Aku tersenyum. Belum setahun aku bersama dia, tapi dia telah mengubahku, dia sudah mengajakku mengubah orang orang seusiaku untuk minimal berfikir. Dia remaja paling dewasa yang pernah kutemui. Masih terbayang dia yang setiap hari hampir tak tidur karena bekerja di malam hari. Masih terngiang suara merdunya saat melantunkan ayat suci al-qur’an. Aku merasa kehilangan, saat kutanya kenapa orang tuanya merahasiakan statusnya, hasan bilang tidak tau, yang jelas itu demi kebaikannya. Sebenarnya orang tuanya ingin menjemput hasan setelah selesai kuliah, tapi Ibunya sudah sangat merindukannya. Hasan dijodohkan dengan santri lain di desa, kudengar setahun lagi dia menikah. Sekarang hasan membantu ayahnya mengelola pondok pesantren.

Ah, aku lelah sekali. Sekarang aku harus mengepel masjid sendiri. Dua hari terakhir aku kurang tidur. Kurebahkan tubuhku di masjid dekat kost. Tidak ada Hasan membuatku tidak bersemangat, Aku jadi rindu keluargaku di rumah, mereka pasti senang melihat aku yang sekarang. Hasan. Kenapa dia harus pulang?, Dia seperti malaikat yang Allah kirimkan untuk mengubahku. Selama ini aku hanya mengekor Dia, apa Aku bisa berdakwah sendiri? Ah, Aku akan pulang saja. Perjuangan di sini berat sekali.

“Assalamu’alaikum.” Seseorang datang
“Wa’alaikumussalam, Mas Taufik?”, aku agak terkejut, “Ada apa?,” tanyaku lagi.
“Aku dengar Hasan pulang?”
“Ya, dua hari yang lalu Mas, ada keperluan apa kemari?”
“Kamu dicari tuh, sama pembina LDK, teman teman LDK juga nyariin kamu semua, banyak banget yang mau gabung,” jelasnya.
“Alhamdulillah, maaf dua hari ini ada acara di masjid sini. Masalahnya sekarang Saya sendiri. Saya butuh teman, maksud saya teman dekat.”
“Kamu tidak sendiri Fan, teman teman di LDK semua mendukung kamu, dan jika Kamu butuh teman dekat, Saya bisa jadi teman dekat kamu, Saya sudah ikut gabung”, jelasnya.
“Serius mas?, Mas sudah tidak sakit hati dengan jawaban Hasan dulu?”
“Tidak, awalnya memang saya tidak suka, tapi setelah saya fikir ternyata Hasan benar, Saya memang salah. Malahan sekarang saya jadi kangen Dia. Saya ingin berubah, lagipula dakwah itu perlu tau situasi dan kondisi psikis seseorang bukan?”
“Iya, lalu?”
Mas Taufik tersenyum.
“Saya seorang psikolog, Saya akan jadi rekanmu.”
“Satu lagi, jangan kaget Fan, pembina LDK menyuruh salah satu dari kalian jadi ketua.”
“Apa?”, aku kaget setengah mati.

Aku sekarang di masjid kampus. Maha suci Allah, suara merdu anak-anak muda melantunkan ayat suci al-qur’an membuatku tenang, hatiku tenteram sekali. Kini Aku tau, kita tidak harus menemukan remaja dewasa. Tapi kita bisa membuat seorang remaja menjadi dewasa. Hasan, lihatlah, Aku ketua LDK sekarang. Taufik yang dulu berdebat denganmu jadi wakilnya. Usaha kita dulu membuahkan hasil. Ini kado terindah Allah untuk perjuangan dan pengorbananmu sejak 6 bulan kita disini. Kamu santri paling baik yang pernah aku temui.

Aku berfikir jika semua orang punya pemikiran sepertimu, maka kita akan jadi generasi yang hebat, jika orang orang seusia kita kemudian mampu mengajak orang lain dan mencetak orang orang sepertimu, kurasa kita akan jadi generasi paling hebat, setelah salafus shalih.

Aku berdiri merenung di taman kampus, memandang langit senja hari. Bendera merah putih yang lupa diturunkan berkibar tertiup angin di lapangan. Allah memberiku kesempatan besar saat aku hampir menyerah. Untuk semua yang telah kualami saat ini, karena Allah Aku berjanji, Aku akan berdakwah sampai mati. Semoga saja..

“Maka bertakwalah kamu kepada Allah, menurut kesanggupanmu..”
QS. At-Taghabun (64):16
Akhir kata

Cerpen Karangan: Rizal Al-Fath Prabowo
Blog / Facebook: Rizal Al-Fath

Data diri penulis:
Nama: Rizal Al-Fath Prabowo
Alamat: Karangan, Rt 01 Rw 12, Kelurahan Begajah, Kecamatan Sukoharjo, Kabupaten Sukoharjo, Provinsi Jawa Tengah
E_mail: rizalalfath05[-at-]gmail.com
No. Hp: 089527647025

Cerpen Pemuda Yang Dirindu Syurga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cintaku Karena Allah

Oleh:
Sinar sang surya telah meninggi di atas jam 12.00 WIB, surya yang sangat terik, tak ada awan yang menghalanginya, tak ada 1 burung pun yang terlihat melintasi langit, tak

Karena Asyla

Oleh:
Di siang hari yang terik, Vio mempercepat kayuhan sepedanya. Peluh keringat sudah mengucur di dahi dan lehernya. Vio mendesah nafas lega setelah sampai di beranda rumahnya. Tampak Umi yang

Tangga Terakhir

Oleh:
“Teeet.. Teng, teng, teng,” suara bel serta bunyi kelonteng bergema dengan kerasnya, mengundang helaan napas setelah melewati 4 jam yang diisi dengan berbagai mata pelajaran. Namun, rasa lelah, bosan,

Karena Mu

Oleh:
Surya tak malu lagi menerangi kerak bumi, diiringi hembusan angin pembawa hawa dingin. Dalam suatu ruang di titik bangunan yang berdiri di tengah persawahan, tak seperti ruang di sekelilingnya

Buku Dan Tukang Parkir Berlengan Satu

Oleh:
Siang itu kebetulan cuaca sangat terik, orang di seberang jalan pun malas untuk ke luar rumah, sekedar untuk membeli rok*k marlboro dan kopi. Cuaca begitu panas menyengat. Tetapi laki

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *