Pengganti

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Nasihat
Lolos moderasi pada: 9 December 2017

“Malam, Yah..”
Seseorang tiba-tiba muncul di balik pintu masuk. Ketiga orang yang tengah berbincang di ruang tengah rumah, sontak terkejut dengan kedatangan sosok yang baru pulang di malam yang kian larut ini.
“Keerin, dari mana saja kamu? Kamu ini semakin hari semakin menjadi-jadi tingkahnya,” tegur lelaki paruh baya yang duduk bersebelahan dengan seorang wanita yang nampak lebih muda darinya.
“Ayah, Keerin capek banget. Keerin lagi enggak mau berdebat sama Ayah.” Dengan raut kesal, gadis bernama Keerin itu cepat-cepat beranjak ingin mengabaikan teguran-teguran yang telah dipastikannya akan terlontar dari lisan laki-laki tersebut.
Sementara dua sosok lagi menjadi penyaksi bisu. Diam di tempat.
“Keerin!! Kenapa kamu tidak pernah menghargai Ayah?!” Melihat anak semata wayangnya bertindak seakan tidak menghormatinya, pria itu tak lagi dapat menahan amarah atas sikap sang anak.
Gadis yang sedari datangnya bergantung tas selempang kulit di bahunya, seketika berbalik. Dibiarkannya tas itu terlepas dan jatuh. “Harusnya aku yang tanya gitu, Yah. Kenapa Ayah tidak pernah menghargai keerin? Kenapa Ayah tidak pernah lagi memahami Keerin? Seharusnya kita masih berkabung, harusnya kita menenangkan diri atas orang yang sama-sama kita sayangi pergi meninggalkan kita selamanya. Tapi … kenapa Ayah justru memilih bahagia dengan mereka?!,” lirih Keerin. Apa yang selama ini terpendam di lubuk hatinya, terungkap sudah.
Tersinggung dengan ucapan Keerin, wanita yang sejak tadi diam itu mulai merasa tidak nyaman dengan ‘perdebatan’ tersebut. Sedang buah hatinya berbisik pelan menenangkan sang ibu.
“Ayah lebih pilih bahagia sama mereka, dari pada sekedar nenangin aku atas peristiwa yang merenggut Mama dari kita,” Keerin melanjutkan. Wajahnya telah lecek karena air mata.

Tidak mampu dan tidak mau berkata apapun. Sudah sekian kali ia mencoba menjelaskan pada Keerin alasannya menikahi ibu Alisa selain karena cinta. Lelaki itu diam. Membiarkan sang putri meluapkan isi hatinya. Mungkin lebih baik diam, pikirnya.

Melihat ayahnya tidak menanggapi, semakin kuatlah sangkaan keerin tentang kepedulian dan kasih sayang ayahnya yang tak ada lagi untuknya. “Ayah sudah enggak peduli lagi sama keerin! Keerin benci Ayah!” Ia kemudian berlalu meninggalkan puing kekecewaan di ruangan itu. Berjalan secepat mungkin menuju tempat dimana dia bisa menangis sekuat dan sekeras apapun yang ia mau.

Apa lagi yang sanggup diperbuatnya selain menangis? Untuk siapa lagi ia bertahan agar tidak cengeng seperti pesan ibunya selalu? Sosok yang amat disayanginya itu berpulang kepada-Nya dalam peristiwa rubuhnya crane proyek pembangunan di tanah suci, Mekkah. Paman dan bibinya selamat, sedang sang ibu menjadi salah satu korban tewas. Lalu, laki-laki yang ia anggap sangat menyayangi dirinya dan Ibunya, justru tidak nampak lagi di matanya sang ayah yang dulu begitu terpukul akan tiadanya wanita bak malaikat yang telah bertahun-tahun membersamai hidupnya.

Terkadang, apa yang mendera gadis itu dirasanya seperti serial sinetron di tv swasta. Keerin seakan ingin break atas drama kehidupan dengan dirinya sebagai pelakon utama dan melanjutkan kapan saja ia mau atau mempercepat happy endingnya. namun sayang, realita hidup tidak pernah semudah itu.

“Rin, aku boleh masuk?” Pinta seseorang di luar sana setelah sebebelumnya terdengar suara ketukan.
“Enggak! Gue enggak mau bicara sama siapapun, termasuk lo!” Keerin tahu siapa yang mendatanginya.
“Please, kalau ini tidak bisa menenangkan kamu, kamu boleh usir aku.” Sosok itu kini telah berdiri di depannya. Ada sesuatu yang keerin lupa. Mengunci pintu.

Dengan malas, keerin membuang muka dari gadis sebayanya yang kini berjalan mendekat.
“Rin, begitu banyak kebahagiaan yang diberi-Nya, tapi belum terjangkau oleh indra kita hanya karena diri kita masih larut dalam kesedihan,”
Hening. Tidak ada tanggapan dari keerin.

Alisa. Gadis yang belum genap dua bulan menjadi saudara tiri keerin itu tiada putus asa mendekati keerin dan berusaha membantunya keluar dari lingkar kegundahan.
“Setiap cobaan yang Allah ujikan, ada dua pilihan untuk kita jalani: Bersedih meratapinya, atau berbahagia menyabarinya. Susah memang untuk menapaki pilihan kedua, tapi bukankah kita muslim yang tidak berputus asa dari rahmat Allah? Yang percaya bahwa tidak ada Qadar-Nya yang tak berhikmah? Dan, ujian adalah ungkap sayangnya Allah. Lalu mengapa memilih gundah dengan seonggok rasa bernama kehilangan?” alisa menutur panjang setelah duduk di samping keerin.

Entah mengapa perkataan gadis tersebut sebegitu menohoknya. Nasehat itu menusuk Keerin. Dalam. “Lo cuma enggak tau gimana rasanya orang yang setiap saat ada buat lo, pergi ninggalin lo untuk selamanya dan satu orang yang lo harap ada, dia justru nyari kebahagiaan untuk dirinya sendiri dan ninggalin lo di lorong kesedihan, sendiri!” Bentak Keerin pada Alisa. Ia lalu kembali terisak.
Ah, lagi-lagi kerin lupa. Dia lupa bahwa gadis di dekatnya itu juga kehilangan Abinya atas tragedi yang sama.

Alisa menarik napas, sejenak kemudian ia kembali angkat suara, “Rin, setiap orang punya jatah kehilangan dalam hidupnya. Jatah itu akan berkurang seiring dengan berkalanya diri kita dihadapkan dengan begitu banyak kehilangan. Ayahmu pikir dengan memilih bersama Ibu dari sahabatmu, kamu tidak akan merasa seorang-diri lagi karna kamu punya tempat untuk berbagi. Kamu egois, seakan-akan hanya kamu yang dilanda kehilangan itu. Kamu tidak memikirkan orang yang juga kehilangan Ibumu. Kamu yang tenggelam dalam sangkamu memilih menjauhi Ayahmu yang tidak kamu ketahui seberapa bersedih dan letih dia atas apa yang menimpa kalian. Ayahmu bukan hanya kehilangan Ibumu, dia juga kamu.” Ungkap alisa lalu menunduk.
Seketika keerin mendekap alisa. Erat. Menangis sejadi-jadinya dipelukan itu. “Maafin gue, Lis..” Gumam keerin disela-sela isakannya.
“ayahmu lebih berhak mendengar itu, Keerin.”

“Assalaamu’alaikum..” Keerin baru saja pulang dari sekolah bersama Alisa. Didapatinya sang ummi sedang merapikan meja ruang tengah.
“Wa’alaikum salaam wa rahmatullah.. Kalian kenapa pulang secepat ini?” Wanita itu sejenak menghentikan aktifitasnya.
Keerin tersenyum ke arah alisa. “Kita selalu mau pulang cepet, karena selalu rindu sama Ummi.”
Perempuan berjilbab biru itu terkekeh, “Rindu Ummi, atau masakan Ummi?”
“Kalau aku sih rindu ummi, Keerin tuh yang mulai dari sekolah sampai di depan rumah katanya laper, enggak sabar lagi mau makan rendang buatan Ummi.” Alisa ikut tergelak.
“Ih, enggak kok.. Itu fitnah, Mi. Aku memang rindu kok, sama nasehat-nasehatnya Ummi.” Bantah keerin.
“Sudah-sudah.. Kalian ganti baju, abis itu makan siang, terus kalian cerita ada kejadian apa saja di sekolah hari ini.”
“oke, siap Ummi! Yuk, Keerin.. sebelum Ayah pulang.” Seru Alisa bersemangat sambil menggandeng tangan Keerin.

Allah, seindah inikah pengganti yang Engkau beri?, desis Keerin dengan bahagia yang tidak mampu di ungkapnya.

Kehilangan yang disabari memang tidak selamanya tentang hadirnya pengganti yang lebih baik,
Namun bukankah kesabaran selalu berakhir indah?

Cerpen Karangan: Alfiyah Ismail
Blog: hayifla.blogspot.com

Cerpen Pengganti merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Karena Aku Sayang Mama

Oleh:
Namaku Tashya, umurku 15 tahun. Aku tinggal berdua bersama Mama. Papa dan Mama sudah bercerai 10 tahun yang lalu, aku ikut mama dan Maya (adikku) ikut Papa. *Ketika pulang

Permen Ajaib

Oleh:
MY STORY (WHEN I WAS 4 YEARS OLD) Tidak banyak yang kuingat di masa-masa kecil dulu, tapi yang pasti aku tinggal bersama embah putriku karena kedua orang tuaku pergi

Siapa?

Oleh:
“Pak, temanku bilang, bulan ini aku harus sudah mengganti hpnya.” “Bukannya sudah diganti dengan hpmu itu?” “Nggak bisa, pak. Hp Ahmad tidak sebanding. Cuma murahan. Lagian dia menuntut harus

Dan Ini Jawabannya

Oleh:
Senja itu langit menumpahkan hartanya pada bongkahan bulat berisi manusia. Seakan balas dendam dengan datangnya panas berkepanjangan di musim lalu. Duduk termenung mengawasi titik demi titik air, bernostalgia tentang

See You Again Papa, Mama

Oleh:
Mendung datang dalam kehidupanku. Sudah berhari hari sejak aku kehilangan semua orang yang kusayangi. Aku selalu didatangi mendung tanpa akhir. Kehidupanku sunyi dan kelam. Kapan aku hidup bahagia. Mungkin,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *