Pengorbanan Hati (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 6 January 2016

“Asslamualaikum wr.wb. Apkah benar ini dengan Dara Almira?”
Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak ku ketahui.
“Waalaikumussalam. Iya. Maaf sebelumnya ini dengan siapa?”
“Apakah kamu masih ingat dengan orang yang bernama AN?
Bebrapa menit aku membiarkan SMS itu tak berbalas.
“Mungkin kamu sudah melupakan nama itu.”
“Ada perlu apa anda menghubungi saya?”
“Mas ingin bertemu dengan kamu. Kamu jangan salah paham dulu, ini terkait dengan anak kita.”
“Saya rasa urusan kita sudah selesai sejak lama. Dan saya tidak pernah memliki seorang anak.”
“Mas mohon kamu meluangkan waktu sebentar besok siang jam 13.00! Mas akan ajak Sarah. Ini sangat penting Dara. Sebentar saja!”
“Insya Allah besok saya datang.”
“Terima kasih banyak Dara. Wassalamualaikum wr.wb.”
“Waalaikumussalam wr.wb,”

Aku tiba di tempat yang telah ia janjikan tepat pukul 13.00 WIB. Tak berapa lama, telepon genggamku bergetar. Ternyata Sarah yang memanggilku, ia memintaku untuk segera ke Restoran yang berada di lantai dua pusat perbelanjaan itu. Tak sampai 10 menit aku sudah melihat Sarah dan seorang pria yang duduk menghadapnya. Ketika Sarah melambaikan tangannya aku segera menuju ke arah mereka. Aku menghela napas beberapa kali, mencoba menenangkan hati yang mulai berdebar.

Begitu sampai aku segera bersalaman dengan Sarah yang sudah berdiri menyambutku. Kemudian dia mempersilahkan aku untuk duduk di kursi yang tadi ditempatinya dengan posisi tepat menghadap ke arah Kakaknya. Dia segera mengulurkan tangannya, namun aku menolaknya dengan sopan. Aku terpana, begitu melihat wajahnya yang terlihat semakin matang dan bekarisma. Seketika aku menundukkan pandanganku, mencoba mengusir rasa indah yang kembali bertamu. Ku kuatkan hatiku agar tidak terjebak dengan panah yang segera dibidikkan mahluk laknatullah di antara kami.

“Kamu sudah banyak berubah.” Gumamnya. “Rasanya baru kemarin saya membuat suatu tindakan bodoh.” Sambung Abel. Nada suaranya sayu.
“Maaf saya tidak bisa berlama-lama di sini.”
“Lima tahun itu bukan waktu yang singkat kan, Dara? Kamu tahu satu hari bagiku terasa bagaikan satu tahun, setelah kamu pergi dari hidupku.”
“Bukan saya yang pergi dari hidup anda. Tapi, andalah yang memaksa saya untuk pergi.” Dengan sedikit emosi aku membetulkan pernyataannya.

“Ya, seorang Abel Naufal memang bodoh kan, Dara?” Ku lihat Abel tersenyum. Bagiku itu sama sekali tidak lucu, aku malah semakin muak mendengar nostalgianya.
“Semalam anda sendiri yang bilang ke saya, kalau pertemuan ini sangat penting. Tolong to the point!” Pintaku.
“Dara, maafkan Mas. Mas tidak tahu kalau kamu dulu mengandung, maafkan atas semua yang telah Mas lakukan dulu padamu. Mas benar-benar menyesal telah menyakiti kamu dan anak kita dahulu.”

“Iya, saya sudah maafkan. Semuanya sudah berlalu, dan sekarang saya sudah menemukan kebahagiaan saya lagi. Jadi, tolong jangan ungkit lagi cerita itu.”
“Mau tak mau kita harus mengungkit cerita itu. Karena pembicaraan ini terkait dengan itu. Semalam Mas kan sudah kasih tahu kamu.”
Mungkinkah karena semalam aku teramat marah menerima SMS dari pria itu sehingga membuatku lupa dengan konteks yang kami bicarakan. “Apa yang mau dibahas lagi terkait anak kita. Apakah Anda ingin mengambilnya dari saya kalau tahu dia masih hidup? Anda sudah terlambat.”

Dia kembali tersenyum. “Apa yang akan kamu lakukan kalau tahu anak kita benar-benar masih hidup. Apakah kamu mau menerima Mas kembali dalam hidupmu.”
Sejujurnya, hati kecilku ingin mengatakan “ya”. “Semua yang berlalu dalam hidup kita biarlah semuanya menjadi kenangan. Untuk apa kita mengandai-andai sesuatu yang mustahil.” Kelopak mataku terasa semakin berat. Tapi, aku tidak boleh menangis di depan pria ini.
“Mungkin selama ini kamu berpikir, kalau anak kita sudah pergi. Ada sebuah rahasia besar yang tak pernah kamu ketahui. Dan bukan hanya kamu, tapi Mas juga. Kita sama-sama tak mengetahui rahasia itu.”

Aku menanti setiap kata yang akan ke luar dari mulutnya. “Anak kita masih hidup Dara.”
“Gak mungkin.” Air mataku mengalir dengan laju sungguh aku tak mampu lagi membendungnya.
“Kamu tahu Mama yang sudah melakukan semua ini. Mama menculiknya dari Rumah Sakit, dia bersekongkol dengan orang dalam demi mendapatkan anak kita.”

Aku melirik Sarah untuk meminta penjelasan dari gadis itu. “Apa yang dikatakan Mas Abel memang benar. Dia sama sekali tak mengetahui kalau Kakak telah mengandung anaknya. Selepas Kakak pergi dari rumah kami. Mas melanjutkan S2 di Inggris. Ia pulang ke sini beberapa bulan kemudian setelah kami memberikan kabar tentang kematian Ayah.”

Tempo hari ketika Sarah mengunjungi rumahku ia telah memberitakan kabar itu padaku. Aku merasa sedih karena tak sempat melihat wajah tenang itu untuk terakhir kalinya.
“Karena merasa kesepian Mama nekad menculik Lana dari Kakak.”
“Siapa namanya Sarah?” Aku tak peduli lagi dengan air mataku yang semakin deras mengalir, aku bahkan sudah tak mengingat lagi kalau Abel ada di depanku.
“Lana Kak, Keilana Ayasha.”
“Di mana dia sekarang Sarah? Kakak ingin bertemu sama dia.” Sarah mengalihkan pandangannya pada Abel.
“Tolonglah Sarah, Kakak Mohon. Antarkan Kakak untuk bertemu dengan dia.”

Sarah masih membatu, sebelas dua belas dengan Kakaknya.
“Baiklah kalau Sarah tidak sudi mengantar Kakak.” Aku berdiri mengambil tas jinjingku. Aku harus bertemu dengan anakku hari ini juga.
“Kakak tunggu.” Sergah Sarah.
Ku lihat Abel sudah berdiri. “Mas akan antarkan kamu untuk bertemu dengan anak kita.”

“Assalamualaikum. Mama.” Laung Sarah dari pintu utama. Rumah ini sungguh tak banyak berubah, semenjak terakhir aku pergi. “Waalaikumussalam. Eh Ateu udah pulang.” Seorang anak kecil berlari ke arah Sarah, rupanya dia tak melihat kehadiranku dan Abel. Dia langsung merangkul Sarah yang sudah berjongkok.
Naluri keibuanku mengatakan kalau dia adalah putriku. Rasa sebak terasa menghimpit di dada. Senyum getir terbit dari bibir Abel. Dan sekarang anak kecil itu melihat ke arah kami, ia melepaskan pelukan Sarah dan sekarang, setengah berlari dia menghampiri kami.

“Papa, Tante ini siapa?” Sebuah belati tajam bagai menusuk-nusuk hatiku, begitu mendengar pertanyaan polos itu. Ibu mana yang tak merasa sakit, ketika janin yang membesarkan di perutnya selama sembilan bulan tidak mengenali dirinya sama sekali. Ingin saja aku katakan pada putriku bahwa akulah yang telah mengandungnya dan melahirkannya dengan susuah payah.

“Ini Tante Dara sayang.” Rasa marah, dan kecewaku pada Abel terasa semakin membuak-buak. Dia hanya memperkenalkanku sebagai Tante Dara, bukan Mama Dara.
“Nama aku Keilana Ayasha Tante.” Dia mengulurkan tangannya padaku. Aku tak mau menyiakan kesempatan itu untuk mendekapnya di pelukku. Sejenak, ku pejamkan mata untuk menikmati indahnya rasa ini.
“Apa-apaan ini Sarah, Abel?” Suara Mama, sontak membuka mataku.

Secepat kilat ia sudah berada di depanku dan mencoba menarik Lana dari tanganku. Ternyata putriku sendiri lebih memilih orang lain daripada aku sebagai Ibunya.
“Bibi, bawa Lana ke dalam!” Perintah Mama.
“Ngapain kamu ke sini lagi, dasar perempuan tidak tahu diri. Sudah diceraikan masih saja mendekati anak saya. Asal kamu tahu yah, Abel sudah saya jodohkan dengan seorang perempuan terhormat.”

“Mama hentikan!” Abel bersuara.
“Wanita murahan ini memang harus diberi pelajaran supaya tidak mengganggu kehidupan kamu lagi. Kamu jangan tertipu dengan jilbab yang dipakainya. Wanita murahan, tetap saja murahan sampai kapan pun tidak akan berubah.” Aku berlari ke luar dari rumah itu. Sungguh aku tak kuasa mendengar semua cacian dan hinaan yang terus ke luar dari mulut Mama. Biarlah hari ini aku mengalah, tapi aku berjanji untuk mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi hakku sejak dulu.

“Dara, izinkan Mas untuk memperbaiki semuanya. Izinkan Mas untuk menebus semua kesalahan yang telah Mas lakukan. Mas akan berusaha untuk menunaikan apa yang telah Mas janjikan dahulu.”
“Maaf Saya tidak bisa.” Hatiku masih tetap pada pendirianku.
“Tidak bisakah kamu lakukan itu bahkan demi Lana?”
“Anda tahu, seberapa hancurnya hati seorang Ibu ketika melihat putrinya sendiri tidak mengenalinya?”
“Ya, Mas tahu. Bagaimana kalau kita memulai semuanya dari awal lagi? Kita pasti akan menjadi keluarga yang bahagia.”
“Selama anda berada di depan saya, tak pernah ada kata bahagia dalam hidup saya. Hidup saya pasti menderita, dan semuanya bersumber dari anda.”

Ku lihat ia beristighfar mendengar perkataan kasarku. Aku sengaja mengucapkan kata-kata dusta itu, untuk membuatnya sadar bahwa ikatan di antara kami memang sudah tak bisa disambungkan lagi. Dia harus sadar, sekarang dia sudah memiliki keluarga baru. Tak mungkin rasanya untukku menjadi istri mudanya.
“Apakah Dara masih belum bisa memaafkan Mas?”
“Tolong jangan ganggu hidup saya lagi dan saya pun tak akan pernah mengganggu kebahagiaan anda dan keluarga anda.”

“Dara salah. Bahagia Mas hanya dengan Dara. Jadi tolong jangan paksa Mas untuk melakukan itu.”
“Tapi, saya sekarang sudah bahagia. Dan sekali lagi saya meminta tolong untuk pergi jauh dari hidup saya. Saya tak sudi melihat orang paling saya benci mengacaukan hidup saya lagi.”
“Baiklah kalau kamu memang ingin seperti itu. Kamu jangan menyesal Dara Almira.”
“Ya, aku akan mencoba untuk ikhlas menghadapi ini semua. Demi kebahagiaanmu dan anak kita. Assalamualaikum Mas.” Bisikku di antara uraian air mata, bila ku tatap sosok tubuh itu semakin menjauh.

Kamu harus bisa membuka matamu, mungkin takdir memang tak berpihak pada kita. Akan ada banyak yang terluka jika kita kembali bersama. Lana, maafkan Ibu nak. Bukan Ibu tak menyayangimu, tapi inilah pilihan yang harus Ibu ambil. Jika saatnya nanti kita pasti akan dipertemukan kembali tentu atas seizin-Nya. Mengertilah sayang.

Cerpen Karangan: Hanifah Salamah
Blog: storysenjamaplejingga.blogspot.com

Cerpen Pengorbanan Hati (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kesedihanku

Oleh:
Malam itu aku duduk termenung di kamar sambil mengingat kembali pada masa laluku yang dulu, dimana dulu aku kehilangan orang yang paling berharga di hidupku, yaitu mama. Dulu mama

Venice, Hari Untuk Selamanya

Oleh:
Semilir angin sore berhembus membawa kesejukan serta kedamaian. Dengan langkah perlahan, seorang laki-laki tengah berjalan menyusuri jalan setapak melewati deretan makam-makam yang dingin. Di pemakaman kecil inilah tempat semua

Hilangnya Bintang Itu

Oleh:
Pagi yang indah, burung-burung berkicauan. Menyambut hangatnya pagi di pondok suci ini. Semua santriwati menyibukkan dirinya. Entah angin apa yang membawaku semalam. Terbangun dari tidurku, tetesan darah bercucuran dari

Abah (Ngeles Versi Abah)

Oleh:
Abah adalah seorang pria yang masih berumur 30 tahun. Tubuhnya semakin lama semakin kurus dan mengecil setiap tahunnya bersamaan dengan bertambahnya usia. Kini ia terlihat seperti berumur 40 tahunan

Kopi Hitam

Oleh:
Selamat pagi hari yang tak terduga, setiap hari kata itu terucap dalam hati seorang gadis berusia 18 tahun. Tinggal di sebuah rumah yang cukup mewah di daerah Jakarta, hidup

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *