Perjalanan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Kisah Nyata
Lolos moderasi pada: 4 March 2017

Jumat pagi pun tiba, merdunya panggilan Allah pada saat pagi itu. Suara ayam pun terdengar matahari pun muncul tanpa rasa malu memancarkan cahayanya. Perkenalkan namaku Asri navitri, aku gadis yang lahir di antara keluarga sederanaku. Kakak pertamaku bernama Yuan, Renny, Reza dan adikku Sheilla. Kakakku yang pertama baru menyelesaikan pendidikan S1 nya dengan jurusan yang ia suka yaitu akuntansi. Kakakku yang perempuan telah dikhitbah oleh seorang ikhwan dan dikaruniai dua orang putra yang bernama Faiz dan Fawwaz. Kakakku yang ketiga ia lulusan dari suatu sekolah ternama di cianjur dan sekarang ia bekerja di pabrik pembuatan obat, sedangkan adikku ia kelas lima sekolah dasar.

Rencananya dan biasanya hari jumat sore kak Reza pulang ke cianjur karena tempat kerjanya yang berada di cikarang, Bekasi. Sesampainya kak Reza di rumah tepatnya sesudah sholat maghrib untuk mengobati rasa rindu, kakakku mengajak aku dan adikku bermain ke tempat wahana terdekat. Setelah selesai kami pun bergegas pulang karena malam telah larut dan ibu telah khawatir di rumah.

Keesokan harinya seperti biasa aku menuntut ilmu di madrasah tsanawiyah beserta adikku, aku di antar sekolah oleh kakaku reza hari ini hari sbatu hari dimana kak reza melatih fisiknya karena ia ingin menjadi seorang abdi negara, setelah aku pulang ke rumah aku pun bertemu dan berkumpul bersama keluarga, hari mulai petang tetapi aku belum melihat kak reza di rumah aku pun bertanya pada ibu dengan perasaanku yang tidak karuan “bu, kak reza kemana?” ibu pun menjawab “oh mas reza, lagi keluar dulu katanya mau mencuci motornya”.

Tak lama setelah itu kak reza pun datang dengan motornya yang baru dicuci dan dimodifikasi tak sengaja aku membaca stiker yang ia pasang di depan dan belakang plat nomor motor kak Reza bertuliskan “asalamualaikum ahli surga” hatiku tersentuh dan sedikit tak enak hati keesokan harinya kak reza sudah siap siap setelah sholat shubuh dengan heran aku pun bertanya “mau ke mana kak? kok bawa sapu dan alat pembersih lainnya?” kak reza pun menjawab dengan segan “oh ini, hari ini karena hari libur jadi diadakan kerja bakti dan akan dilaksanakan sholat tarawih berjamaah di masjid” aku menjawab “oh iya aku lupa ya sudah semangat kerja baktinya ya kak maaf tak bisa membantu karena aku harus membantu ibu di rumah” dengan jawaban sambil tersenyum dan kak reza sambil mengelus kepalaku menjawab “hmmm dasar anak gadis bantu ibu dan jadi calon ibu yang baik yah”

Jam pun menunjukan pukul 17.30 hari mulai petang seperti biasa kak Reza siap siap pergi ke masjid untuk mengmandangkan adzan yang indah nan merdu dari suaranya, keluargku itu sudah siap untuk melaksanakan ibadah solat maghrib berjamaah dan sholat tarawih berjamaah, kebetulan imam dan bilalnya pun ayahku dan kak Reza, setelah selesai melaksanakan ibadah aku pulang lebih awal lalu melihat kak Reza datang ke dalam rumah memakai kopeah berwarna putih, baju koko warna biru, sarung berwarna coklat serta sorban yang dililitkan pada lehernya berwarna putih bersih, aku melihat kak Reza tersenyum melihatku di hadapannya aku merasakan persaan yang sedikit aneh

Waktu berlalu sampai tiba waktu sahur imsak dan solat subuh, matahari pun muncul bersama cahayanya yang terang kak reza pun menyiapkan persiapannya untuk kembali ke tempat pekerjaannya di bekasi, ibu keluar rumah untuk berbelanja melengkapi kebutuhan berbuka puasa, kak reza dan ayah pun pergi ke masjid untuk menunaikan solat duhur, setelah selesai ayah melanjutkan tadarus quran di rumah, dengan tatapan kak reza yang sedikit berbeda ia pun pamit untuk pergi ke bekasi pada pukul 12.30

Tak sengaja ayah ketiduran saat tadarus di kamarnya, bapak mendapatkan telepon pada pukul 13.30 dari pihak kepolisian bahwa telah terjadi kecelakaan, saat aku mendengar kabar itu aku bilang pada ayah “aku ingin bicara dengan kak Reza” dengan perasaan yang tidak karuan ayah pun menjawab dengan wajah yang basah dari linangan air matanya “kak reza sudah tidak bernyawa” “apa! Tidak mungkin barusan saja kak Reza memeluk dan mengucap salam pamit untuk ia melanjutkan kerja dari masa liburnya” sambil berlinang air mata dan prasangka tak menyangka ibu kak Yuan dan adik pun diberi tahu berita duka ini, karena ibu mempunyai riwayat penyakit jantung aku tidak memperlihatkan kesedihanku pada ibu sambil aku beri tahu pelan pelan, orang orang di sekitarku pun bergotong royong membereskan rumahku untuk menyambut kedatangan jasad penyemangatku.

Datanglah kendaraan yang bersuara dan berlampu kedap kedip membawa jenazah kakakku disambut dengan jeritan rasa sakit dengan linangan air mata dari perasaan tak percaya, aku menyambut kembali kepulangan kakakku yang sudah tak bernyawa dan berlumur darah, setelah kakaku dimandikan dan ditidurkan di tengah rumah aku langsung mengelus kepala kakakku seperti ia mengelus kepalaku saat masih hidup, hingga kendaraan terakhirnya adalah pundak sahabat sahabatnya mengantarkannya pada istana kematian, kumandang adzan yang terdengar di dalam istana itu yang dikumdangkan oleh ayahhanda

Petikan bunga aku taburkan di atas peristirahannya alunan doa yang menghantarkan hati menjerit seakan tak percaya kuingat saat ia mengamanahkan untuk mencapai cita cita dan meninggikan derajaat orangtua hingga kutinggalkan ia tujuh langkah dari peristirahatannya, aku akan merindukannya seperti allah memanggil ia ke sisinya

Lahir 5 november 1996
Wafat 6 juni 2016
Reza ananda

Selamat jalan doa mengiringi langkahmu perjalanan masih jauh teruslah melangkah

Cerpen Karangan: Asri Noviana Fitri
Facebook: Asri Noviana Fitri
nama lengkap asri noviana fitri saya masih sekolah di smkn 1 cianjur saya ingin kisah di kehidupan saya menjadi inspirasi

Cerpen Perjalanan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dandi

Oleh:
Hingga malam ini, aku berharap itu kabar bohong. Aku berharap kamu masih hidup de, masih suka lari lari kayak dulu, suka manjat pohon, rumah, bahkan seringkali membantu kakak dan

Takut

Oleh:
“Allahu akbar, Allahu akbar, Allahu akbar, la ilaha illa Allahu Allahhu akbar, Allahu akbar wa lillahilham,” Gema takbir saling bersahutan. Disusul teriakan spesiesku. Para manusia kepayahan mengimbangi amukan jenisku.

Pertemuan Singkat

Oleh:
Angin malam menyapa tidurku, aku terlelap akan sapaannya. Aku merasakan perjalanan yang begitu jauh entah dimana, aku sendiri tidak mengetahui keberadaan jiwaku yang sebenarnya. Angin menghembuskan kerudungku dan belaiannya

Now All It’s Over

Oleh:
Awal saya mengenal dia itu dari jejaringan sosial (facebook) dia adalah sepupu teman saya. Awal kenalan sama dia itu selalu dihiasi dengan kebencian dan pertengkaran. Ya, itulah kami. Kami

Ban Sepedaku Keringat Ibuku

Oleh:
WAJAH ITU IBU, ya ibu. Ketika aku terbangun dari ketidaksadaran aku melihatnya, berada di sampingku menggoyang–goyangkan badanku dan memanggil namaku. Kulihat sekilas wajahnya tampak pucat, suaranya lirih seperti menahan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *