Permintaan Terakhir

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Sedih
Lolos moderasi pada: 3 October 2014

Matahari telah menampakkan sinarnya dari ufuk timur. Menggantikan tugas sang rembulan. Sinarnya menyorot jendela kamar rawat seorang gadis yang telah bangun Dari tidur nyenyaknya. Yang telah selesai melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim.

Clek
Knop pintu ruang rawat gadis ini terbuka, dari balik pintu muncul sosok pria tampan yang membawa parsel buah-buahan dan sebuket bunga.

“Assalamu’alaikum” sapanya dan meletakkan parsel beserta bunga tersebut di atas meja yang terdapat di samping kasur.
“Wa’alaikumsalam” jawab gadis ini sambil tersenyum. Tangannya masih menggenggam tasbih sambil melafadzkan beberapa kalimat tasahud dan sebagainya.
“Bagaimana kabarmu?” tanya pria ini yang bernama Riki, kepada sang kekasih yang bernama Laras.
“Begini-begini saja Rik” jawabnya yang tak lepas dari senyum manis yang selalu mengembang di bibir tipisnya.

Laras telah dua minggu dirawat di rumah sakit. Kanker yang diidapnya kini telah sampai stadium akhir. Yang berarti, hidupnya tak akan lama lagi. Tapi, Laras tak percaya dengan kata dokter. Dia hanya percaya dengan Tuhannya, Allah.

Riki membawa Laras untuk mengelilingi taman rumah sakit. Menyusuri setiap tepian taman. Menikmati semilir angin yang berhembus di pagi yang cerah ini.

Riki selalu ada di samping Laras, selalu menjaga Laras, dan selalu menyayangi Laras. Riki dan Laras telah menjalin hubungan selama dua tahun. Waktu yang tidak cukup singkat itu dipergunakan mereka untuk mengenal antara satu dan yang lain.

Dan disaat Riki tau kalau Laras mengidap penyakit Kanker otak, rasanya sulit untuk menerima. Riki selalu bertanya, kenapa Tuhan memberikannya ujian seberat ini?. Mengapa Tuhan tidak adil?. Dan mengapa Tuhan memberikan penyakit itu kepada orang yang dia sayang?, kenapa tidak pada dirinya?.

Laras sangat menikmati suasana di pagi ini. Sesekali terdengar suara kekehan Laras, karena melihat anak-anak kecil yang berlarian di taman. Memang Laras sangat menyukai anak kecil. Menurutnya anak kecil itu lucu.

Tiba-tiba, Laras merasakan kepalanya sangat sakit. Kepalanya terasa akan pecah. Suatu cairan mengalir di lubang hidungnya. Sakit, sangat sakit.
“Shhh, Rik..ki.. hh.. kepa..la..ku.. s..sak…it” lirih Laras. Suaranya tersendat-sendat karena rintihan, berusaha menahan rasa sakit yang menyerangnya.

Riki yang melihat Laras kesakitan pun panik. Dengan segera, Riki membopong tubuh mungil Laras. Meninggalkan kursi roda milik Laras di tepian taman.

Dengan tergopoh-gopoh, Riki berlari sekuat teenaga. Laras yang berada di dalam dekapannya selalu meringis kesakitan. Tak jarang gadis ini menjambak rambutnya sendiri. Hingga akhirnya, Laras tak sadarkan diri.

Seluruh anggota keluarga Laras terlihat resah di depan pintu ruang UGD. Di dalam sana, terbaring Laras yang tengah ditangani tim medis rumah sakit.

Bunda Laras tak henti-hentinya memanjatkan do’a buat anak semata wayangnya. Tak jarang terdengar suara isak tangis dari wanita paruh baya tersebut. Sementara ayahanda Laras, sibuk menenangkan sang istri.

Sementara Riki, sedari tadi tidak bisa diam. Kakinya selalu melangkah ki kiri dan ke kanan. Mengacak-acak rambutnya sendiri karena frustasi

Clek
Pintu ruang UGD terbuka. Seorang pria paruh baya yang memakai jas berwarna putih, serta stetoskop yang selalu mengalung di lehernya keluar dengan raut wajah khawatir.

“Apa kalian keluarga pasien?” tanya Dokter tersebut sambil menatap satu persatu wajah mereka (ayah bunda Laras, dan Riki).
“Iya, kami keluarganya dok!”
“Pasien ingin bertemu dengan kalian!” ucap dokter sambil mempersilahkan keluarga Laras untuk masuk.

Di depan sana, terbaring seorang gadis dengan berbagai macam kabel yang menempel di tubuhnya. Tak lupa selang oksigen yang membantu jalannya pernafasan.

“Bund..a.. ayah.. rik..ki” Laras berusaha menyapa keluarganya yang kini berada di dekatnya. Meskipun sedikit terhalang dengan selang oksigen Yang menempel di hidung dan menyambut ke mulutnya.
“Iya sayang, Bunda disini” bunda Laras menggamit erat jari-jemari mungil Laras.
“Laras… ma..mau.. pak..ke.. muk..kena” ucap Laras begitu lirih. Riki yang mendengarnya segera meraih mukena yang berada di atas meja nakas. Bunda Laras membantu Laras untuk memakai mukena.
“Al..qur’an.. d..dan.. tasbih” Riki meraih Al-qur’an dan tasbih yang berada di atas meja, dan menyerahkannya kepada Laras.
Laras meraihnya, mendekap Al-qur’an tersebut dan melafadzkan dua kalimat syahadat.
“asyhaduallailahaillallah.. waasyhaduannamuhammadarasulullah” Laras berhasil melafadzkan 2 kalimat syahadat. Dan sedetik kemudian layar monitor di samping mereka menunjukkan garis lurus.
Laras telah kembali kepada-Nya. Dalam keadaan chusnul khotimah. Meninggal dalam keadaan suci. Samar-samar Laras tersenyum dalam tidurnya, yang tak akan bangun lagi.
Tersenyum karena permintaan terakhir nya terkabulkan. Tersenyum karena tak ada beban kehidupan yang harus ditanggungnya lagi.

Tamat

Tuhan itu adil, dan akan selalu adil. Tuhan tidak akan memberikan ujian yang melebihi batas kemampuan umatnya. Dan percayalah, tidak akan ada pelangi sebelum hujan. Tidak akan ada kebahagiaan sebelum adanya tangisan.

Cerpen Karangan: Nadila Rozita Putri
Facebook: Nadila Rozita Putri
Twitter: @VERMANADILA1

Nama: Nadila Rozita Putri
Umur: 14 Tahun
Fp: Coboy Junior, Tulisan Imajinasiku, dan Coboy jr dan winxs

Cerpen Permintaan Terakhir merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Scorned Love

Oleh:
Aku melihat berita di televisi pagi ini. Tentang kejadian yang ‘katanya’ sudah sering terjadi pada sekolah-sekolah umum. Aku tidak tahu kenapa hal seperti ini dianggap biasa. “Gadis yang berinisial

Adilkah Tuhan Kepada Kita?

Oleh:
Banyak kalangan remaja yang saat ini mengaku bahwa dirinya muslim namun pada kenyataannya jarang menjalankan apa yang diperintahkan oleh Tuhan yang maha kuasa. Apakah kita berhak mengatakan bahwa kita

Story Girl Alim (Part 1)

Oleh:
Sahabat Hamidah yang bernama Yuni mengajak Hamidah ke rumah barunya, rumah panggung yang dikelilingi rumput hijau nan subur dengan pohon–pohon yang besar menemaninya membuat udara sejuk di rumah sahabatnya

Sepotong Hati Untuk Tuhan

Oleh:
Di keheningan senja menyapa alam selepas salat maghrib di rumah, Ayah memandangi wajah mungilku yang sebentar lagi akan duduk di bangku sekolah dasar. Aku balas pandangan Ayah dengan tatapan

Detik Detik Bersama Charryne

Oleh:
Hallo, namaku carey. Aku punya sahabat namanya charryne. Selama liburan charryne sama sekali tidak ada kabar. Aku tidak sabar ingin segera memberi cinderamata bali untuknya. Pasti charryne senang. Tapi,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *