Pertanyaan Terakhir Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 28 July 2017

Jiya berjalan pulang dari sekolahnya dengan perasaan tidak menentu. Tadi, di sekolah, ada seorang laki-laki yang menyatakan cinta kepadanya. Bagaimana jawaban Jiya? Apakah dia menerimanya? Jiya tidak menerima maupun menolaknya, melainkan meminta laki-laki tersebut untuk menunggu. Kenapa dia meminta laki-laki tersebut untuk menunggu? Tenang saja, sebentar lagi kita akan tahu alasannya kenapa.

Laki-laki tersebut bernama Fero. Jujur saja, sebenarnya Jiya juga memiliki perasaan yang sama kepada Fero. Ferolah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatnya jatuh cinta. Kenapa Jiya bisa jatuh cinta kepada Fero? Jawabannya adalah karena Fero sering menghubungi Jiya. Fero sering mengirimi Jiya pesan-pesan (tanya kabar, keadaan, sudah makan, sudah shalat, dll). Fero juga beberapa kali menelepon Jiya (meskipun kadang mereka kikuk sendiri karena tidak tahu harus bicara apa). Perasaan cinta yang awalnya tidak pernah Jiya rasakan, tiba-tiba muncul seiring dengan berjalannya waktu. Lalu, jika Jiya memang mencintai Fero, kenapa dia tidak menerima cintanya?

Ibu, ya, itulah satu-satunya alasan kenapa Jiya tidak bisa menerima cinta Fero. Ibu Jiya sangat-sangat membenci sesuatu yang bernama ‘pacaran’. Dia sudah melarang Jiya untuk tidak ‘bermain-main’ dengan yang namanya pacaran. Bagi Ibu Jiya, hubungan antara laki-laki dan wanita itu hanya ada setelah menikah. Jikalau Jiya ketahuan pacaran oleh Ibunya, maka dia akan langsung dikeluarkan dari SMA dan akan dipindahkan ke sekolah pesantren. Pesantren? Haduh, jangan lagi deh. Jiya paling tidak suka jika disuruh sekolah di pesantren. Baginya, sekolah di pesantren hanya akan membuat kebebasannya menjadi terbatas. Bagaimana jika pacaran secara sembunyi-sembunyi? Ah tidak. Kalau masalah sembunyi-menyembunyikan, itu bukanlah keahlian Jiya. Pernah beberapa kali Jiya menyembunyikan masalah yang sedang dihadapinya, berharap orang lain tidak tahu, tapi ujung-ujungnya diketahui juga oleh ibunya. Ibunya seolah-olah memiliki mata ajaib yang bisa mengetahui apakah Jiya memiliki masalah atau tidak hanya dengan menatapnya saja. Hihi. Menakutkan memang.

Sore harinya, entah kesurupan darimana, Jiya tiba-tiba ingin meminta izin kepada Ibunya. Minta izin untuk pacaran. Aduh, yang benar saja. Bukankah dia sudah tahu jika Ibunya sangat membenci yang namanya ‘pacaran’. Lalu, kenapa dia begitu nekat dengan niatnya ini? Apa dia mau bunuh diri?
Tidak ada salahnya mencoba. Bisik Jiya dalam hatinya. Mana tahu Ibu berubah pikiran.
Jiya berjalan mendekati ibunya yang kala itu sedang menyetrika pakaian, kemudian duduk di sampingnya.
“Ibu,” kata Jiya dengan wajah penuh harap.
“Ada apa?” gumam Ibunya.
“Baru saja, di sekolah, ada laki-laki yang menyatakan cintanya kepada Jiya.”
“Jangan diterima!” Jawab Ibu Jiya cepat, tanpa pikir panjang.
“Tapi Jiya juga menyukai dia, Ibu. Tak tega Jiya menolaknya.”
“Perasaan suka itu mudah berubah.” Balas Ibu Jiya. “Dunia yang kamu lihat ini masih kecil. Jika kamu berjalan lebih jauh lagi, maka akan ada banyak hal baru yang akan kamu temui. Di luar sana masih banyak laki-laki tampan yang mana mereka bisa saja membuat kamu jatuh cinta kapan saja. Jadi, jangan pernah tergoda dengan keindahan seseorang. Semua itu hanya palsu belaka.”
“Ibu,” kata Jiya. “Jiya menyukai dia bukan karena wajahnya yang tampan atau semacamnya, melainkan karena perasaan yang muncul begitu saja dari dalam hati Jiya. Jiya menyukai dia apa adanya, Ibu.”
“Memangnya apa yang kamu pahami dari rasa suka itu sendiri, eh?” Ibu Jiya bertanya sembari menyetrika pakaian terakhirnya.
“Jiya tidak tahu, Ibu.” jawab Jiya. “Perasaan itu muncul begitu saja. Entah darimana datangnya, Jiya tidak tahu. Seolah-olah ada sesuatu yang tersesat begitu saja di dalam hati Jiya.”
“Ya sudah. Kalau ada sesuatu yang tersesat di dalam hatimu, itu tandanya itu bukan milik kamu. lepaskanlah kembali sesutu yang tersesat tersebut. Dan biarkan hatimu kembali seperti sedia kala.”
“Jiya tidak bisa melepaskannya!” seru Jiya.
“Engkau tidak bisa melepaskannya karena engkau memang tidak ingin melepaskannya. Harusnya engkau tidak mudah terbawa oleh emosimu. Berpikirlah rasional!”
“Bagaimana mungkin bisa Jiya melepaskannya sementara Jiya sangat mencintainya.”
“Aduh Jiya,” ketus Ibunya. “Memangnya apa sih yang kamu tahu tentang cinta? Perempuan muda seperti kamu ini belum pantas merasakan cinta-cinta seperti itu.”
“Lalu sesuatu yang pantas untuk Jiya itu apa, Ibu?”
“Belajar, belajar, dan belajar.” jawab Ibu Jiya tanpa ragu sembari melipat pakaian terakhir yang baru saja selesai dia setrika.

“Ibu, sudah sebelas tahun lebih Jiya menghabiskan waktu hanya untuk belajar. Apa lagi yang kurang? Selama ini hati Jiya terasa hampa. Saat datang suatu cinta ke dalam hati Jiya, Ibu malah menyuruh Jiya untuk menghapuskannya. Bukankah perasaan cinta itu hal yang wajar? Apakah salah jika kita membuka hati untuk seseorang yang mencintai kita? Bukankah cinta itu adalah kebutuhan kita?”
“Ya, ibu tahu. Perasaan cinta itu adalah hal yang wajar. Akan tetapi, untuk sekarang ini, alangkah baiknya jika kamu menghapuskan semua perasaan cintamu itu karena sekarang belumlah waktu yang tepat bagimu untuk merasakannya. Kamu itu masih labil. Kamu hanya melihat sesutau dari mata kepalamu saja, bukan dari mata hatimu. Percayalah sama Ibu! Ibumu ini sudah banyak merasakan asam garam kehidupan. Ada banyak hal yang lebih ibu tahu ketimbang dirimu. Termasuk masalah cinta.”
“Jadi intinya Ibu ingin Jiya menolak mentah-mentah cinta dari laki-laki yang Jiya cintai tersebut?”
“Ya!” jawab Ibunya tegas.
“Sungguh, hati Jiya pastilah akan terasa sakit, Ibu. Bagaimana mungkin Jiya menolak cinta dari laki-laki yang Jiya cintai.”
“Sakit yang akan kamu rasakan sekarang tidak akan seberapa dibandingkan rasa sakit yang akan kamu rasakan saat sudah berhubungan dengannya.”
“Kenapa Ibu berbicara seolah-olah ibu sudah tahu apa yang akan terjadi?”
“Karena ibumu ini sudah berpengalaman, Jiya.”
“Berpengalaman? Maksud Ibu apa?”
“Ah sudahlah. Pokoknya ibu lebih tahu banyak hal dari pada kamu. Titik. Dan kamu, hanya perlu mendengarkan kata-kata ibu.”
“Tidak, Ibu.” jawab Jiya. “Jiya akan menerima cinta dari laki-laki tersebut. Jiya sangat mencintainya dan dia juga sangat mencintai Jiya. Tidak mungkin Jiya menolaknya tanpa alasan yang jelas.”
“Jadi kamu mau membangkang sama Ibumu?” sentak Ibu Jiya kesal. “Kamu meminta izin sama Ibu, dan Ibu sudah memberikan izin kepadamu. Dan jawaban ibu adalah TIDAK.”
“Ibu tidak tahu apa yang Jiya rasakan. Ibu tidak pernah bisa mengerti kebahagiaan Jiya. Apa yang Jiya rasa baik, malah buruk di mata Ibu. Jiya ini bukan robot Ibu, yang selalu Ibu atur-atur sesuai dengan keinginan Ibu. Jiya ini manusia, Ibu. Jiya juga punya hati. Jiya juga punya perasaan. Dan jiya juga berhak jatuh cinta seperti wanita-wanita lain.”
“Baiklah, jika kamu memang ingin sekali berhubungan dengan laki-laki itu, maka jawablah beberapa pertanyaan Ibu dulu. Dan jika kamu tidak bisa menjawabnya, maka sampai maut terlepas dari raga ini, ibu tidak akan pernah mengizinkan kamu berpacaran dengan siapapun.”
“Baiklah,” jawab Jiya tidak mau kalah. “Apa pertanyaan Ibu?”
“Bisakah kamu memastikan jika hubungan kamu ini akan berlanjut sampai ke pelaminan?”
“Tentu saja!” jawab Jiya. “Jiya yakin jika dia adalah laki-laki yang setia.”
“Bisakah kamu memastikan jika laki-laki yang kamu cintai itu tidak akan jatuh cinta kepada wanita lain?”
“Ya. Dia adalah laki-laki yang baik. Jiya percaya padanya. Dia hanya cinta kepada Jiya seorang. Jiya yakin itu.”
“Dan pertanyaan Ibu yang terakhir. Bisakah kamu memastikan jika Allah akan meridhoi hubungan kamu ini?”

Jiya terdiam. Dia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Dia tahu. Bahkan dia sangat tahu. Allah pastilah tidak pernah merestui hubungan orang-orang yang berpacaran. Tapi, jika dia menjawab seperti yang ada di dalam fikirannya, maka pastilah Ibunya akan berada diatas angin. Jikalau sudah berada diatas angin, tentulah akan sangat mudah bagi Ibunya untuk menjatuhkan dan memborbardirnya dengan pertanyaan-pertanyaan telak yang akan membuatnya jatuh tersungkur dan tidak bisa melawan lagi. Jiya memutuskan untuk tidak berbicara.
“Akan ibu ulang pertanyaan ibu sekali lagi,” Tegas ibu Jiya. “Bisakah kamu memastikan jika Allah akan meridhoi hubungan kamu ini? Bisakah?
Lagi, mulut Jiya hanya terkunci sembari wajahnya tertunduk menatap lantai. Jangan dijawab. Jangan dijawab. Katanya dari dalam hati.
“Mama sangat yakin jika kamu pastilah sangat tahu jawabannya. Benarkan Jiya?”
Jiya mengangkat wajahnya kemudian menatap wajah ibunya sekilas kemudian kembali merunduk. Dari gelagat yang dilakukan Jiya tersebut, mengertilah Ibu Jiya jika anaknya tersebut sebenarnya sudah mengerti apa yang dia bicarakan.
“Jiya, akan ibu perjelas sekali lagi. Ibu tidak akan bisa merestui hubungan kamu sementara Allah sangat membenci hubungan kamu tersebut. Bagaimana mungkin Ibu menentang hal-hal yang sudah ditetapkan Allah? Tahukah kamu Jiya, Allah dengan tegas melarang kita untuk mendekati Zina. Perhatikan kata-kata ibu sekali lagi. MENDEKATI ZINA. Nah, mendekati Zina saja kita sudah dilarang, apalagi melakukannya. Tanpa perlu pertimbangan lebih jauh lagi, kamu pasti tahu jika pacaran itu adalah sebuah kegiatan yang MENDEKATI zina. Saat seseorang berpacaran, maka tidak akan ada lagi batas suara antara laki-laki dan wanita. Padahal seharusnya wanita itu menjaga suaranya karena suara wanita itu bisa mendatangkan gejolak di hati laki-laki. Kemudian, dua orang yang berpacaran tidak lagi memiliki batas pandang. Mereka begitu asyik saling menatap mata pasangan mereka satu sama lain. Seharusnya wanita itu menundukkan pandangannnya saat bicara dengan lawan jenisnya. Seperti itulah yang diajarkan Rasulullah kepada kita, umatnya. Dan yang lebih parahnya lagi, pacaran itu bisa membuat dua orang yang bukan mahram bebas dari batas-batas sentuhan. Apakah kamu tidak memperhatikan, ada banyak perempuan-perempuan di luar sana yang hamil sebelum nikah? Apakah kamu tidak memperhatikan, ada banyak laki-laki yang lari begitu saja setalah dia puas mendapat apa yang dia inginkan? Sungguh, hanya murka Allah-lah yang akan muncul jika sampai itu terjadi padamu. Jiya, tahukah engkau, lebih baik kita tertusuk oleh besi panas daripada harus menyentuh kulit laki-laki yang bukan mahram kita. Ya, seperti itulah tegasnya islam menjaga kesucian wanita. Semua aturan yang Allah buat tidak lain pastilah untuk kebaikan manusia itu sendiri. Lagipula, andai kamu tahu saja, pacaran itu adalah budaya orang-orang yahudi. Dan adalah sebuah keharaman bagi kita umat muslim meniru kebudayaan-kebudayaan orang kafir tersebut. Jikalau kamu memang mencintai laki-laki, baiklah, akan ibu beri keringanan, ibu tidak akan memintamu untuk menghapuskannya di dalam hatimu. Jikalau kamu memang mencintai dia, maka cukuplah cinta itu bernaung di dalam hatimu saja. Jikalau dia memang jodohmu, maka Tuhan pastilah akan mempertemukanmu dengannya pada jalan yang lebih baik. Bukan dengan jalan pacaran seperti ini. Apa kamu mengerti?”

Jiya tidak bisa berkata apa-apa. Yang dikatakan Ibunya adalah kebenaran. Tanpa menjawab pertanyaan dari ibunya, Jiya langsung pergi meninggalkan Ibunya sembari berlari menuju kamarnya. Air matanya perlahan jatuh membelah pipinya. Dia kemudian menjatuh tubuhnya di atas kasur empuknya sembari berbisik kepada Tuhan,
Ya Allah, kenapa ini terasa begitu berat?

Cerpen Karangan: Ahmadi Airuka
Blog: abdiabdiabdi.tumblr.com
Nama Penulis Ahmadi Airuka. Kelahiran Padang, sekitar 20 tahun yang lalu. Sekarang Penulis mengemban kewajiban sebagai seorang mahasiswa pada salah satu universitas terkemuka di pulau Sumatera.

Cerpen Pertanyaan Terakhir Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bidadari Dalam Doa Di Sepertiga Malam Ku

Oleh:
Pagi ini mentari terlihat tersenyum indah menemani hari-hariku yang sangat sibuk untuk menjadi seorang mahasiswa baru di Universitas Swasta di Jakarta. Aku menyalakan motor kesayanganku melaju menuju kampus, sesampai

Rass

Oleh:
Pagi telah datang. Matahari naik dari ufuk timur ketika aku bersama Abangku, berjalan ke telaga. Tempat ia seringkali berkisah, meski saban pagi hari minggu. Kami duduk di bawah trembesi,

Ana Uhibbu Ilaik

Oleh:
Pagi hari yang sangat sejuk, matahari mulai menampakkan sinarnya. Sinar kekuningan mulai muncul di sebelah timur. Saat ini aku sedang menyiram tanaman yang ada di pekarangan samping rumahku. Sungguh

Ternyata Bang Solikin!

Oleh:
Air yang ada di ember perlahan mulai berkurang. Alirannya yang semula memancar deras dari lubang samping bawah ember itupun sudah berangsur menghilang. Tepat sebelum air dalam ember itu berhenti

Time

Oleh:
Udara dingin yang berhembus sepoi-sepoi terasa menusuk kulit. Kabut pagi masih setia menyelimuti bumi. Muhammad Ibnu Rusdy atau biasa dipanggil “Noe” menatap lekat-lekat jam di atas nakasnya. Ternyata jam

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *