Pertempuran Batin (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 22 July 2015

“Berapa banyak lamaran kerja yang sudah kamu masukkan El?” itu perkataan ibu yang selalu tak pernah absen memperhatikan segala aktifitasku di dunia penulisan surat lamaran kerja.
“Sejauh ini lumayan banyak sih buk…! kok pertanyaan ibu sepertinya sedikit menggelitik telinga El, ada apa bu…?”
“Nggak, ibu hanya ingin tahu saja. kemarin teman sekantor ibu cerita, jikalau anaknya yang baru lulus beberapa bulan kemarin itu sudah bekerja”.
“Nia?” aku menyahuti perkataan ibu, sedikit memotong pembicaraannya.
“Mmmmm… kata ibunya, dia sudah menemukan pekerjaan yang cocok dengan keahlian pendidikannya”.
“Ooo…”
Hanya tanggapan sedikit polos itu yang keluar dari mulutku. Sebisa mungkin aku berusaha mengalihkan pembicaraannya siang kemarin itu, dengan wajah yang berpura-pura tegar tanpa sedikit pun merasakan beban atas perkataannya.

Sepenggal percakapan singkat itu adalah obrolan yang terjadi antara aku dan ibu ketika itu, saat kami… dua dara tercantik dari seluruh penghuni rumah… sedang asyik-asyiknya mempersiapkan sarapan pagi sebagai alternatif sementara pengisi perut kosong ini sampai hari menjelang siang nanti. Kira-kira pukul 01.00 atau 02.00 waktu indonesia barat. Tepatnya saat ibu sudah pulang bekerja dan kembali menyiapkan menu makanan spesial seperti hari-hari biasanya.

Namaku El… seseorang yang kini sudah dicopot secara resmi dari gelar status kemahasiswaan dan menyandang gelar alumni mahasiswa. Perasaan senang dan bahagia pastinya menyelimuti hatiku. Tapi… juga tak luput dari rasa takut akan kenyataan dunia luar yang kini sudah di depan mata. Aku alumni dari salah satu perguruan tinggi negeri di Jawa Barat. Lulusan-lulusan perguruan tinggi kami tergolong lulusan terbaik dari seluruh perguruan tinggi yang ada di negeri ini. Tapiii… sayangnya predikat itu sampai saat ini belum juga berpihak untukku. Belum sekali pun aku mendapatkan panggilan kerja dari sekian banyak lamaran yang sudah ku kirim melewati pos kilat yang selalu kuminta kepada petugas kantor POS. Sedih memang. Sejak beberapa bulan bahkan hampir setengah tahun setelah lulus, aku yang pulang kampung ini masih saja betah menjadi penghuni rumah, sembari menunggu kepulangan ayah, ibu, serta abangku dari tempat kerjanya. Kebetulan seluruh anggota keluarga terkecuali aku merupakan pegawai pemerintahan setempat.

“Kirim kemana lagi El?” Siang itu tiba-tiba ibu menegur saat sudah pulang bekerja dan membuyarkan sedikit konsentrasiku yang sedang asyik memasukkan surat lamaran yang sudah ku print ke dalam amplop coklat berukuran besar.
“Semuanya ke bank bu…”
“Swasta atau BUMN? yang kemarin itu belum ada panggilan?”
“Mmm…! belum…! swasta atau BUMN sama sajalah bu”. Aku menjawab dengan rasa sedih yang amat sangat mendalam dalam hati, yang selalu berusaha kusembunyikan dari ibu. Apalagi setelah mengetahui bahwa teman-teman seangkatanku sudah banyak yang bekerja dan bahkan sudah berlabuh dalam pelayaran bahtera rumah tangga, yang mulai ku impikan di dasar hati terdalamku.

“Ya Allah… berilah kemudahan untukku dalam mendapatkan pekerjaan ini. Berilah kemudahan untukku sebagaimana Engkau telah memudahkanku melewati seluruh perjuanganku menyelesaikan kuliahku yang sudah diambang kehancuran ini alias DO. Ya Allah.. berilah aku kemudahan atas segalanya ini. Jangan Engkau biarkan aku hidup dalam keterpurukan… jadikanlah keoptimisan yang menghuni hati dan pikiran ini menjadi sesuatu yang nyata Ya Robbi.. amiiiin”.

Dengan butiran-butiran air mata di pipi yang terus-menerus mengalir, semenjak resmi menyandang predikat pengangguran, ini adalah sepenggal doa singkat yang selalu kupanjatkan di penghujung solatku menghadap kepada-Nya. Memohon belas kasih yang begitu besar yang tiada siapapun bisa memberikannya untukku kecuali Dia… Yang Maha Mujib. Saat ini, hati dan pikiranku selalu saja dihantui oleh perasaan-perasaan gelisah tak menentu dalam ketidaknyamanan batin ini. Ditambah lagi setelah kejadian di suatu malam yang sunyi senyap dari berbagai aktifitas penghuni kampung, secara tak sengaja, aku mendengar percakapan antara ibu dan ayah, yang mengutarakan niatnya yang sangat dan bahkan sangat ingin menunaikan ibadah haji sejak usiaku masih belia dulu. Ungkapan isi hati ke hati antara ibu dan ayah itu ibarat pukulan keras untukku. Untuk lebih giat menemukan kesuksesan hidup. Untuk lebih giat memutar dan mengasah otak demi mencapai kesuksesan ini.

“KENAPA HIDUP INI TERASA BEGITU KEJAM UNTUKKU?”
“Salah kita dimana ya pak? anak-anak sudah lulus… tapiii mereka belum juga menemukan pekerjaan, padahal… mereka termasuk lulusan perguruan tinggi ternama di Jawa”
“Sabar buk.. mungkin saja Yang Kuasa masih ingin menguji kesabaran kita atau jugaaa Allah masih ingin memilih sesuatu yang terbaik untuk mereka”
“Rasanya kesabaran ibu hampir habis. Ibu merasa iba melihatnya”.
“Hushhh…! ibu nggak boleh berkata seperti itu… itu namanya melanggar takdir Tuhan. Menjalani hidup harus optimis”.
“Bukan itu maksud ibu… pak, ibu sangat memimpikan kita bisa naik haji tanpa ada beban lagi. Tapi…”
“Tapi apa bu? sabar… kita kudu sabar dan jangan lupa selalu istigfar kepada-Nya. Allah itu Maha tahu apa yang kita butuhkan. Yang penting ibu terus saja berdoa untuk kebaikan dan kebahagian keluarga kita… terutama anak-anak”.
“Jangan menyerah…!” bapak terdengar mengagetkan ibu sepertinya lengkap dengan gerakan tangan bak seorang prajurit.
“Hahaha… bapak ini”
Tiba-tiba saja suara tawa ibu sedikit mengagetkanku karena perkataan ayah yang sedikit menggelitik telinganya. Suara tawa itu pun menjadi penutup perbincangan mereka. Ayah memang seorang yang sangat penyabar. Beliau selalu sabar mengahadapi tingkah laku kami yang terkadang di luar batas kesabaran seorang insan.

Perbincangan kedua orangtuaku malam itu semakin menyesakkan hati. Rasanya beban di pundak ini semakin bertambah dan semakin mekar tanpa hambatan apapun sebagai penghalang jalannya.

Jauh sebelum kudengar ibu mengungkapkan isi hatinya, sebenarnya itu adalah satu cita yang sudah lama terpendam di lubuk hatiku. Aku sangat ingin mendengar orang-orang memanggil ibu dengan sebutan bu haji dan ayah dengan sebutan pak haji. Bukan bermaksud sombong. Tapi sungguh sangat menyenangkan mendengarnya. Rasanya panggilan itu akan membawa kedamaian di hatiku.
“Tapi entah kapan hal itu akan terwujud Tuhan? Sampai saat ini saja aku masih mengandalkan keuangan dari ibu dan ayah. Aku dan abangku masih saja menjadi beban untuk keduanya. Ya Rahman hanya Engkau yang tahu segala gundah gulana hati ini”.
“Angan-angan sematakah ini? atau Tuhan akan iba melihatku sehingga Tuhan akan memberikan mukjizat-Nya? Entahlah… kita tunggu saja skenario apa yang telah tertulis di lembar sejarah alam semesta ini untukku”.

“Buk…! buk…! ibuk…! Ibu dimana?”
“Dapur… ada apa El teriak-teriak?”
“El barusan dapat panggilan tes bu..!”
“Oh ya…! alhambudillah, darimana… darimana?”
Ibu bergegas menemuiku dengan wajah yang tampak sangat bahagia. Secercah harapan itu tergambar jelas menghiasi wajahnya yang sudah mulai didatangi sedikit keriput.
“Cepat jelaskan kepada ibu…!”.
“Ini panggilan dari bank yang beberapa hari kemarin El kirim bu. Tesnya akan diadakan di Medan”. yang merupakan ibukota provinsiku. Karena aku memang tinggal di perkampungan kecil di wilayah Sumatra Utara.
“Tesnya akan diadakan besok setelah jam makan siang”.
“Ya sudah… siapkan semua keperluanmu. Kita ke terminal”.

Tanpa sepengetahuan ayah yang masih berada di luar kota, dengan segudang aktifitasnya yang begitu padat, yakni mencari daerah yang sedang memanen padi untuk diolah di gilingan padi milik keluarga kami. Aku berangkat ditemani ibu menuju terminal.
“Ayah… bagaimana bu?” aku berkata saat angkot yang membawa kami masih melaju tidak jauh dari terminal sebagai tempat tujuan kami.
“Ibu saja nanti yang menjelaskannya. El… jilbabmu dibawa kan? besok saat wawancara… jangan lupa kenakan jilbab ya… Ridho Allah akan lebih mudah kamu dapat… Insyaallah.. Yang Maha Mujib akan menolong”
“Iya buk…”. Untung saja aku tak lupa membawa pesanan ibu… walaupun hanya sebiji pas… nggak lebih… nggak kurang.

Semenjak SMA dan memasuki perkuliahan, keseharianku memang tak lepas dari yang namanya jilbab. Ketika akan menginjakkan kaki di luar kamar kos… aku tak lupa untuk selalu mengenakan jilbab di kepala. Tapi semua itu kulakukan hanya untuk mengikuti aturan sekolah dan mengikuti trend teman-temanku yang selalu mengenakan jilbab di kampus. Saat perkuliahan… tak jarang aku bergaul dengan teman-teman yang mengenakan jilbab panjang yang menutupi hampir setengah tubuhnya. Mereka memang berusaha membujuk rayuku… mempengaruhiku mengikuti trend kerudung panjang berbaju gamis, yang selalu menutupi seluruh tubuh dan bahkan sampai menutupi kesepuluh ujung jari tangannya. Tapi jiwaku yang masih ingin berekspresi dalam indahnya masa remaja menuju tahap pendewasaan ini, belum mampu untuk menerima semua ajakan-ajakan itu. Hati dan pikiranku masih saja dikuasai keegoaan duniawi yang ingin tampil seperti layaknya gadis-gadis lainnya.
“Gaya anak kota… yaaa istilah trendnya itu!”
Aku sangat kagum dan terpesona melihat gaya mereka yang selalu tampil dengan gaya rambut dan pakaian-pakaian ala negeri sakura yang membuat penampilan mereka tampak semakin cantik. Gaya bergaul yang moderen… menonton bioskop ketika liburan… jalan-jalan ke mall bersama teman-teman dengan gaya yang begitu modis membuat hatiku semakin bergejolak untuk bisa tampil seperti mereka.
Keinginan itu pun tanpa ragu, akhirnya dapat juga ku realisasikan. Gejolak batin yang menggebu-gebu itu tak bisa ku hindari. Sejak lulus kuliah dan pulang ke kampung halaman, aku memutuskan melepaskan jilbabku. Walaupun hampir seluruh anak gadis yang ada di kampungku ternyata sudah mengenakannya. Ibu memang tidak setuju dengan keputusan itu. Katanya orang yang mengenakan jilbab tampak lebih cantik dan anggun daripada gayaku yang katanya berlagak seperti preman dan urak-urakan.
“Kamu lihat kan… semua orang di kampung ini sudah mengenakan jilbab. Sementara kamu… yang sudah sejak lama mengenakannya, justru ingin melepasnya. Kalau ingin terlihat cantik… terlihat cantiklah dengan mengenakan jilbab di kepalamu El”.
“El belum ikhlas buk memakainya. Bukannya El nggak mau. Apa gunanya memakai jilbab kalau itu hanya sekedar ikut-ikutan, sekedar menutup kepala dari panasnya matahari… bukan karena keihklasan hati. El ingin… suatu saat nanti, jilbab itu bisa menjilbabi seluruh jiwa El. Terutama hati dan pikiran El… bu”.
Ibu terdiam mendengar perkataanku. Semenjak saat itu ibu tidak lagi memaksakanku untuk mengenakannya. Padahal kata-kata bijak yang keluar dari bibirku hanyalah kamuflase semata untuk membuat ibu tidak memaksaku mengenakannya lagi.
Sejak jilbab itu menghilang dari kepalaku… aku menjalani keseharianku bergaya layaknya anak kota yang selalu terlihat trendi menirukan gaya-gaya artis. Lirikan mata pun tak luput dariku, saat keluar berjalan menuju tempat tujuan. Walaupun… hal itu sebenarnya bukan tujuan awalku mengubah penampilan. Aku tidak butuh banyak lirikan laki-laki, walaupun tidak ku pungkiri bahwa aku juga membutuhkan seorang lelaki dalam hidupku. Tapi lelaki itu haruslah lelaki yang selalu ingat kepada Sang Pencipta. Walau hidup tanpa berjilbab… aku tetap ingin dipandang sebagai gadis baik-baik. Yang berubah dalam diriku hanyalah cover luarnya saja. Isi serta kepribadianku masih tetap sama seperti dulu. Aku tetap seorang El yang selalu menjalankan ibadah-ibadah baik wajib maupun sunat seperti selama ini yang kujalani. Ketenangan di jiwaku tetap saja tak luput dari ingatanku yang selalu hadir untuk-NYA.

“El berangkat ya buk…!”
“Hati-hati ya nak…jangan lupa kenakan jilbab saat menjalani tes. Jangan lupa berdoa ya…!”

Kunaiki tangga bus yang kutumpangi satu persatu menuju tempat duduk yang sudah ku pesan. Tempat duduk yang akan kujadikan sebagai pengganti tempat tidurku semalaman ini. Para penumpang semakin asyik menaiki tangga bus. Sementara itu, dari jendela kaca dengan tempat duduk bernomor tujuh itu kulihat ibu masih saja berdiri sambil melambaikan tangan mengantarkan kepergianku yang ingin meraih masa depan. Pastinya dengan satu harapan besar di dada. Harapan doa untuk kesuksesanku. Tampak semakin jelas hal itu hadir di wajah cantiknya yang semakin tua mengiringi langkahku melewati jembatan merangkai masa depan kehidupan.

Satu menit… dua menit menjelang keberangkatan… aku masih melihat ibu melambaikan tangan dan menyaksikan bibirnya yang sedang komat-kamit, sembari memanjatkan doa tuk putri semata wayangnya ini. Ya Mujib… zikir andalan ibu selalu saja dilantunkan dengan sorot mata yang penuh pengharapan kepada Ilahi dan sedikit genangan butiran air mata memenuhi setiap sudut matanya.

“Ya Allah… biarkanlah beban di pundak ini dapat aku selesaikan dengan sebaik-baiknya. Bantulah aku mewujudkan cita-cita ibu dan ayah yang sangat menginginkan naik haji. Ya Allah… hamba sangat berharap inilah pekerjaan terbaik yang akan Engkau berikan untuk hamba. Amiiiin”.
“Kring… kring…”
“Assalamu alaikum bu…!”
“Waalikum salam… gimana El… dah mau berangkat?”
“Sebentar lagi berangkat bu… El baru selesai duha”
“Ooo… jangan lupa ya kenakan jilbab”. Ibu kembali mengingatkan.
“Jangan takut El… hadapi segala ujian yang ada di depan mata”.

Tiba-tiba saja ada suara yang memotong perkataan ibu. Itu teriakan ayah yang ku dengar, memberi semangat untukku.. putri kesayangannya ini, yang mencoba menjadi wanita tangguh di tengah kekejaman hidup yang semakin mencekam.
“Iya buk…!”
“Iya pak…! he… he…, salam untuk ayah ya buk, Insyaallah… nanti malam El pulang”.

Permintaaan ibu pun aku turuti. Dengan jilbab berwarna pink dan kemeja putih garis-garis serta bawahan serba hitam… aku yang ditemani paman akhirnya menyelesaikan rangkaian tes demi tes dengan sangat baik. Tepat jam lima sore seluruh rangkaian tes selesai ku ikuti tanpa ada rintangan yang menghambat, insyaallah. Ini berkat doa ibu yang tiada henti mengiringi langkahku.

Cerpen Karangan: Elly Mahrani
Facebook: Elly Mahrani

Cerpen Pertempuran Batin (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Renungan Napas Yang Mereda

Oleh:
Jarum jam dinding yang melaju terdengar jelas di telingaku, detik demi detik berjalan begitu cepat. Lantunan ayat suci Al-Qu’ran yang terdengar dari arah timur sana membuat hati ini semakin

Ku Akhiri Segalanya

Oleh:
Terbuai dalam dekapan malam, terpancarkan cahaya hati. Terlampiaskan akan canda tawa, terjerat kembali akan memori. Seuntai rasa segumpal hati. Berjuta cinta berjuta kasih tiada tara dalam kiasan hati. “Rasya…..ayo

Penjara Suci

Oleh:
“Kasih sayang keluarga yang selalu kusayangi, ku berjuang dengan cinta yang takkan mati, mengalir dan tak pernah berhenti bagai desiran ombak samudera yang terus menghantam, menghujam, bantaman dataran bumi

I Love Grandfather

Oleh:
Suara itu nampaknya mengejutkan kakek Rusman yang baru saja menunaikan shalat Ashar. Di rumahnya yang sederhana dan tinggal sendirian itu kakek Rusman menjalani hidupnya sebagai orang sesepuh di desa

Dream Death

Oleh:
Sore ini cuaca nampak muram. Semilir angin berhembus halus membelai pepohonan. Semua hening, ketenangan menyelimuti dari balik jeritan isak tangis yang teriring. Aku terbangun di antara keramaian, di antara

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *