Pertempuran Batin (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 22 July 2015

“Apa sudah ada pemberitahuan hasil tes yang kemarin?” Ayah bertanya saat makan malam usai, setelah hampir satu bulan kepulanganku kembali ke rumah.
“Belum yah… sepertinya El nggak lolos lagi. Belum berhasil. Sudah menunggu hampir sebulan, konfirmasi dari mereka belum juga ada yah”
“Ya sudah… nggak apa-apa, mungkin belum rezeki. Kalau sudah rezeki… tanpa di kejar pun akan hadir di depan mata. Sabar ya…!”
“Mmm…”

Aku tidak mampu lagi untuk berkata-kata menjawab perkataan ayah. Rasa malu dan iba campur aduk mengisi setiap sudut kosong di hatiku.

Setelah untuk pertama kalinya menghadiri panggilan tes dan mengalami kegagalan, beberapa panggilan dari belasan surat lamaran yang ku kirimkan beberapa waktu yang lewat kembali datang. Aku menjalani rangkaian tes demi tes dari beberapa perusahaan… tapi pintu keberuntungan itu ternyata belum juga mengikuti setiap langkahku.
“Oooohh… ternyata ooohhh ternyata!” mencari pekerjaan itu memang sangat sulit. Belum satu pun dari pihak perusahaan yang tertarik denganku. Kesempatan itu masih saja hadir untuk orang lain, meninggalkanku yang sangat membutuhkan ini.

“Anda akan lebih cocok jika berkecimpung di dunia pendidikan…!”. Itu satu perkataan yang sangat mengejutkan yang terlontar dari mulut seorang bapak, bertubuh tinggi, beramput putih lengkap dengan kemeja putih garis-garis berdasi biru, tepatnya saat aku sedang mengikuti suatu tes wawancara di sebuah perbankkan milik negara.
“Tapi saya lebih senang di bidang ini pak…!”
Aku seolah ngotot mempertahankan keyakinanku sambil menatap mata tajam bapak yang sedang mewawancaraiku. Tapi tetap saja dengan perasaan yang sangat kecewa… aku harus pulang dengan membawa duka lagi… duka yang akhir-akhir ini kerap kali menghinggapi seluruh jiwaku bahkan ujung kakiku.

Penampilan para pegawai bank dan pelayanan mereka terhadap nasabah membuat hatiku semakin bergejolak dan berontak berusaha mendapatkan pekerjaan itu. Bahkan cara yang sekarang ini sedang marak, mengandalkan ketenaran dan kekuatan orang-orang terdekat pun sudah kujalankan demi mendapatkan pekerjaan yang sungguh sangat menarik menurutku. Namun semua itu sia-sia. Perjalanan Jawa sumatra pun sudah kutempuh untuk secerca sinar kehidupan di masa depanku nanti. Tapi… doa berurai air mata yang selalu mengiringi setiap solatku ternyata belum juga didengar oleh sang Ilahi Robbi.

Jujur saja… aku memang sangat senang berkecimpung di dunia pendidikan, membagi ilmu dengan orang lain. Aku berasal dari keluarga seorang pendidik. Ayah dan ibu berprofesi sebagai guru di salah satu SMP di kampungku. Ketika melihat ibu mengajar, aku pun selalu menirukan gayanya yang khas, dengan mengajar teman-teman sepermainanku. Namun tak sedikit pun terlintas di benak ini untuk menjadikan guru sebagai profesiku kelak. Aku hanya ingin, itu menjadi hobi semata yang bisa menghilangkan kerinduanku di masa-masa kuliah dulu, mengajar anak SMP kelas tiga dan masa ketika kecil dulu mengajar teman-teman sepermainanku.

“Ya Robb… langkah apa lagi yang harus aku jalankan. Bimbinglah aku ya Tuhan… demi menemukan kebahagiaan di sisi-Mu ini. Segala upaya telah kujalankan Ya Allah… tapi sepertinya ridho-Mu belum menyertai keberhasilan langkahku. Dosa besar apa yang telah kuperbuat ya Robb… ampuni aku… ampuni aku… bantu aku Ya Robb..beri aku petunjuk”
Sujud dalam keharuan hati dan pikiran, selalu membuat air mataku mengalir tak terbendung mengadukan nasibku yang begitu malang kepada Sang Pencipta.

“Apa yang terjadi? kenapa air ini naik? Air sungai itu meluap… naik ke atas. Sampai ke rumah… tolong…! tolong…! kemana aku harus pergi Ya Ilahi… tolong aku. Langit biru itu… jatuh ke bumi. Bumi terbalik. Hah…! hah…! tolong… tolong… ada banjir… banjir… tolong aku… Allooohuuu akbaaar…! hah..hah…tolong…tolong…!” Aku berlari kesana kemari tapi tak satu pun tempat yang bisa ku tuju. Semua sudah digenangi air. Hingga akhirnya aku terbangun dengan rasa lelah yang luar biasa, sambil berucap.
“Hah…! astagfirullohal aziiiiimm… ternyata itu hanya mimpi”

Usai melaksanakan solat isya, kira-kira jam sebelas tadi malam… aku dihantui mimpi yang sangat mengerikan. Mimpi menyaksikan alam semesta yang penuh dengan estetika ini hancur lebur tanpa meninggalkan sedikit pun tempat tuk berlindung. Air begitu deras mengalir menerjang seisi bumi disertai dengan jatuhnya langit biru yang indah itu ke tanah. Jagat raya kita telah hancur. Mimpi ini seperti gambaran kiamat yang akan terjadi suatu saat nanti. Sungguh sangat mengerikan. Seluruh alam semestra hancur tanpa meninggalkkan sedikit pun tempat untuk berlindung. Langit biru yang biasanya indah dengan pancaran sinar matahari hancur lebur tak bersisa… tanpa menyisakan sedikit pun estetika alam itu.
“Ya Tuhan apa makna yang tersirat di mimpi ini?”
Mimpi yang terjadi dua jam setelah melaksanakan solat isya itu pun membuat tidurku dihantui rasa takut yang luar biasa sampai pagi menjelang. Seharian penuh aku memikirkan makna yang tersirat dalam mimpi itu.. tapi makna itu tak kunjung aku temukan.

Akhirnya, tanpa berlama-lama hanyut dalam lamunan panjangku tentang mimpi yang mengerikan itu, aku pun kembali menapak hari dengan satu pemikiran berusaha untuk melupakannya. Tak kepada seorang pun mimpi itu ku ceritakan termasuk ibu yang sangat dekat denganku. Aku berharap itu hanyalah sebuah rekayasa syetan yang ingin menakut-nakutiku.

“Apa itu…! di langit ada ukiran Allah…!”
“kabut…”
“Hah…! astagfirullohal aziiim…, mimpi lagi…!” malam berikutnya, setelah semalam mimpi menyaksikan jagat raya hancur, kini aku kembali bermimpi melihat sebuah ukiran indah berlafalkan Allah di langit biru yang penuh keindahan itu. Ukiran itu dirangkai seindah mungkin hingga membuatku begitu terpesona saat menyaksikannya. Hanya dengan cat putih yang berasal dari embun, ukiran itu… tampak sangat menawan.
“Apa ini maksudnya Ya Allah?”
Aku mulai merenungi mimpi yang dua hari ini ku alami, sekaligus ujian-ujian hidup yang begitu berat yang ku alami hampir setahun ini. Rasanya sudah cukup banyak usaha yang kujalankan demi mencapai kesuksesan hidup ini… tapi belum satu pun dari sekian usaha itu yang memberikan hasil.

Segera setelah mimpi aneh nan menakutkan itu, aku buru-buru menuju kamar mandi melewati lorong panjang rumahku yang hening karena seisi anggota rumah sedang tertidur lelap. Tapi… ketika langkahku akan melewati lorong panjang itu dan kembali melewati lorong yang lebih kecil, aku mendengar lantunan ayat suci al-quran dengan suara yang sangat memilukan hati. Suara itu terdengar seperti suara seseorang yang sedang menangis. Dengan sedikit rasa takut di dada… aku pun menghampiri arah datangnya suara dan melihat sosok seorang perempuan sedang duduk bersimpuh di atas sajadahnya. Itu adalah ibu. Ternyata di tengah malam yang sunyi ini, ibu sedang asyik mengadukan seluruh nasibnya kepada Sang Pengasih. Dari pintu kamar solat yang biasa kami gunakan, aku memperhatikan dan mendengarkan keluhan apa yang ingin ibu sampaikan.
“Ya Allah… kami hanya hamba-Mu yang lemah yang tiada kekuatan kecuali hanya dari-Mu… bantulah kami dalam segala kelemahan ini Ya Allah. Ya Allah… Ya Robb… hilangkanlah duka dalam keluarga ini… gantikanlah segala duka ini dengan suka yang membuat kami selalu mendekatkan diri kepada-Mu. Ya Allah… hamba sudah tua dan sebentar lagi hamba akan pensiun, tapi… di usia hamba yang semakin mendekati pensiun ini, anak-anak hamba belum seorang pun dari mereka yang mendapatkan pekerjaan. Ya Allah berilah kemudahan bagi mereka dalam mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan mereka Ya Allah. Ya Allah… berilah jalan bagi mereka mendapatkan kebahagiaan demi mencapai ridho di sisi-Mu ini Ya Allah. YA Robb… hamba sangat mencita-citakan agar hamba bisa menginjakkan kaki di tempat-Mu yang suci… “Masjidil Harom” Ya Allah menjadi haji yang Engkau ridhoi. Kabulkanlah Ya Robb…”.

Aku berlari dengan linangan air mata menuju kamar mandi saat mendengar setengah doa ibu yang membuatku terpuruk dalam kesedihan. Aku membasuh seluruh anggota tubuhku untuk melaksanakan solat tahajud. Begitu berat beban yang ditanggung ibu dan ayah. Setelah bersusah payah menyekolahkan kami, mereka juga masih harus memenuhi semua yang kami butuhkan. Juga bersusah payah memikirkan kesembuhan penyakit kakak. Perjuangan mereka begitu berat.
“Ya Allah… aku sangat iba melihat kedua orangtuaku yang selalu bersusah payah merawat kami dari kecil hingga sekarang. Ya Allah… hamba sangat ingin membawa kedua orangtua hamba naik haji. Tapi semua itu belum dapat hamba lakukan. Segala usaha sudah hamba lakukan Ya Allah… tapi pekerjaan itu belum juga berhasil hamba peroleh. Ya Allah… hamba hanya manusia lemah. Tolonglah hamba… bimbinglah hamba… berilah hamba petunjuk atas apa yang harus hamba lakukan… berilah hamba kemudahan Ya Allah dalam menemukan pekerjaan ini amiiiiin…”.

Malam itu… setelah mendengar doa ibu yang sangat menyayat hati, aku pun memanjatkan doa meminta pertolong dari-Nya. Otakku semakin dipenuhi dengan segala problematika hidup yang semakin bertambah. Hari demi hari setelah mimpi-mimpi buruk dan doa ibu yang dengan sengaja ku dengar, aku semakin merasakan kebingungan dan kebimbangan. Aku berusaha memutar-mutar segala isi otakku berusaha mencari tahu penyebab dibalik segala kesusahan hidup ini. “Ya Allah rasanya segala usaha sudah ku jalankan. Aku selalu berusaha dan berdoa kepada-Mu. Tapi kenapa kesulitan ini masih saja datang?”. Aku pun mencari-cari kesalahan besar apa yang sudah ku lakukan hingga Yang Maha Mujib belum juga mengabulkan doaku.

Suatu hari ibu kembali bertanya, apakah panggilan kerja sudah ada lagi atau belum?. Seperti biasa aku pun menjawab dengan suara yang menyedihkan dan rasa malu, bukan hanya malu kepada ibu tapi juga rasa malu atas gelar sarjana yang sudah ku raih yang belum menuai hasil. Kalau sudah seperti itu, ibu akan diam tanpa memperpanjang pembicaraannya.

Aku jenuh dengan semua ini… aku jenuh dengan semua problematika hidup ini. aku berusaha menghilangkan segala duka di hidupku. Aku ingin berlari jauh meninggalkan penderitaanku. Semua keadaan ini membuatku semakin keras. Aku semakin cuek untuk mengingat-Nya. Tambahan-tambahan ibadah wajib yang biasa ku kerjakan ku abaikan begitu saja dengan satu pemikiran “selemah apapun aku meminta… Allah tidak menolongku, Allah membiarkanku hidup dalam duka berkepanjangan ini”. Pemikiran itu terus saja kujalankan walaupun sebenarnya hati kecil ini sangat merindukan lantunan-lantunan ayat suci al qur’an beserta pujian kepada Sang Pencipta keluar dari bibir ini. Aku kembali menjejaki hari dengan perjalanan ibadah seadanya sampai di suatu malam mimpi itu kembali hadir di tidurku yang penuh dengan kegelisan.
“Yasiiin… walqur’anil hakim… innakalaminal mursaliiiin”
“Ikat dari ujungnya…!”
“huuuu… huuuhuu” suara tangisan ibu.
“Masukkan ke dalam kubur… miringkan”
Mimpi itu sangat mengerikan. Bahkan jauh lebih mengerikan dari mimpi berturut-turut yang sudah dua kali ku alami. Orang-orang itu, yang tiada ku kenal seorang pun, membalut sekujur tubuhku dengan kain putih polos. Itu adalah kain kafan yang digunakan untuk membungkus tubuh orang yang sudah meninggal. “Berarti aku.. aku sudah meninggal?”. Dalam mimpi itu aku semakin takut. Tubuh dan rambut panjang yang kubangga-banggakan kini terbungkus rapi dalam balutan kain kafan yang sudah diikat di kedua ujungnya. Tangisan dan lantunan ayat suci mengiringi kepergianku yang akan segera dimasukkan ke dalam kubur. “Tubuhku akan ditanam… diapit oleh tanah ini? aku tidak bisa lagi menjalani kehidupanku… memakai pakaian bagus yang sudah dibeli ibu… rambutku yang panjang akan rusak.
“Tidak…! tolong aku Allah…!”
“Tolong akuuuuuu”
“Hahhh…hahhh…”
Teriakan itu membangunkanku kembali dan kutemukan kristal-kristal bening mengalir dari kedua sudut mata bulatku dan kudapati bantal kesayanganku sudah dalam keadaan basah. Sepanjang malam mimpi itu kembali membuatku merenung… “dosa besar apa yang telah kulakukan?” hingga sampailah pemikiranku pada satu kalimat yang telah menyadarkanku.
“Ya.. ini hidayah dari Allah, hidayah yang menunjukkan kebesaran-Nya untukku… ini petunjuk agar aku kembali menutup auratku” pikiran itu langsung muncul begitu saja memenuhi otakku tanpa sebab musabab. Aku mengingat kembali semua perkataan ibu dan perlakuan yang kuterima setelah jilbab itu ku lepas.

Sejak mimpi-mimpi buruk itu, yang ternyata merupakan sebuah peringatan dari-Nya yang begitu menyayangiku, aku kembali menutup aurat yang sudah setahun ini ku pamerkan kepada khalayak ramai. Rambut panjang yang biasa terurai… kini kututup dengan jilbab yang dulu biasa ku pakai. Ternyata Sang Pengasih tidak rela membiarkanku berlama-lama jatuh dalam keterpurukan iman. Aku seperti terlahir kembali, seolah tanpa dosa, memulai segala sesuatunya dari awal. Mimpi itu membuat hidupku kembali bersemangat. Dengan kembali mengenakan jilbab ini, jiwaku semakin menemukan kedamaian sejati. Aku yang hampir berputus asa, kini bangkit kembali dengan semangat-semangat yang biasanya menggebu-gebu di hatiku untuk meraih secerca harapan di mmasa depan kelak. Hati kecilku semakin yakin jika sinar harapan itu akan segera hadir menghampiriku. Pekerjaan yang belum berhasil kuraih setelah segala usaha yang sudah kujalankan, kugantikan dengan hari-hariku menuliskan sepenggal kalimat demi kalimat di atas kertas putih dengan tujuan suatu saat nanti aku menjadi penulis yang dikenal banyak orang dan memenuhi satu keinginan yang sangat aku cita-citakan “menaikkan haji kedua orangtuaku”.
“Ya Mujib… sembari menanti pelamaran CPNS ini… berilah aku ridho-Mu dalam merangkai kata demi kata di atas kertas putih ini agar kelak cita-cita mulia ini dapat terlaksana dan bantulah aku melawan setiap pertempuran-pertempuaran batinku yang akan menjauhkanku dari-Mu. Berilah aku keikhlasan dan keimanan yang semakin bertambah dalam menjejaki hariku kini tanpa sedikitpun ingin berpaling dari-Mu, amiiiiiin”.

Cerpen Karangan: Elly Mahrani
Facebook: Elly Mahrani

Cerpen Pertempuran Batin (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Pertemuan Singkat

Oleh:
Kulangkahkan kaki keluar kelas yang sangat membosankan dan suntuk. Siang hari yang cukup terik di kampus, hanya segelintir orang yang rela berpanas-panas di jalan, sementara yang lain sepertinya nyaman

Aku Memilih Allah

Oleh:
Aku Sandra Allyson. Hidupku memang berkecukupan. Aku terlahir sebagai anak pengusaha dan penjual online yang sukses. Rumahku berwarna biru dua lantai, warna kesukaanku. Kata papah, karena aku anak tunggal.

Hijab Yang Dirindukan

Oleh:
Hari itu terasa sejuk dimana embun pagi menutupi seluruh desa setempat sedangkan aku duduk sendiri menikmati keindahan itu semua yang allah ciptakan sambil terjebak dalam sebuah pemikiran. Ya, pilihan…

Nilai Sebuah Keridloan

Oleh:
Menjadi ustadz TPQ memang mempunyai keunikan tersendiri. Satu sisi gelar ini sangat mulia, dihormati orang, dipanggil Ustaaad… oleh santri-santri, dan mempunyai kenikmatan batin tersendiri ketika bisa menyampaikan ilmu membaca

Cara Tuhan….

Oleh:
Ketika kau ucapkan kata cinta itu hatiku terasa seakan terbang tinggi kelangit,dan enggan jatuh lagi.Ketika kau ucapkan kata rindu itu degup jantungku berubah menjadi lebih cepat.Ketika kau ucapkan kata

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pertempuran Batin (Part 2)”

  1. Ahmus says:

    Cerpenya bagus, , ,
    jadi termotivasi untk MoveOn ke yang lebih baik…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *