Pesta Malam Terakhir Di Pesantren

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 12 January 2019

Namaku adalah Ikbal. Aku bermukim di salah satu Pesantren Pasuruan untuk menuntut ilmu agama. Disetiap tanggal 20 Ramadlan aku melepas rindu menemui keluargaku, di kampung halaman tempat Aku dilahirkan. Dan di tanggal 14 Syawal Aku harus kembali lagi, meninggalkan semua kesukaannku; mulai dari Handpone, Laptop, epeda, Play station dan lain sebagainya, termasuk juga kelargaku.
Dan Hari ini adalah 14 Syawal, Waktu paling membuatku galau tapi membuatku senang juga yang ingin segera bertemu Kawan lama.

“le…, masukkan sudah baju-bajunya ke dalam tas, termasuk juga alat-alat yang dibutuhkan nanti di Pesantren”. Perintah Umi sambil menyapu lantai ketika itu.
“Iya, Umi”. Sahutku dengan suara lirih dan takdzim.
“Ini uang seratus ribu untuk bekal kembali nanti malam”. Imbuh Umi sembari mengulurkan tangan kepadaku.
“Iya, Umi”. Tanggapku.

Ketika itu Aku memang disuruh kembali ke Pesantren hanya sekedar mengurus surat Angket Permohonan Berhenti atau biasa dikenal dengan boyong dan sekaligus mengahatamkan Al Quran di Pesarian. Menghatamkan Al Quran memang sudah menjadi kewajiban bagi santri yang hendak mau menyudahi belajarnya di pesantren tersebut. Jadi, wajar saja Umiku membekaliku dengan uang seratus ribu rupiah.
Aku pun berangkat dengan diantar kakak iparku dengan sepeda motor setelah berpamitan kepada seluruh keluargaku.

Di tengah perjalanan kakak iparku memulai perbincangan, “Sudah mau boyong?”
“Hehe… Iya, Belajarnya di rumah sambil bantu orangtua” Lanjutku mencairkan suasana.
“Iya sudah, lagian kamu sudah lulus”. Timbal Kakak iparku.

Kakak Iparku selalu menceritakan tentang keadaan Ekonomi Orangtuaku setiap aku libur dan pulang dari pesantren, namun saya waktu itu masih menggebu-gebu rasa ingin menuntut Ilmu di Pesantren itu hingga aku tidak begitu mempedulikan cerita Kakak Iparku dulu. Namun, setelah aku melaksanakan kewajiban Tugas Mengajarku yang lama satu tahun, Umipun bercerita tentang Ekonomi selama membiayaiku selama di Pesantren. Dan akhirnya, aku pun tau seketika keadaan Ekonomi di rumahku yang sesungguhnya. Namun itulah Orangtua, Ia menyembunyikannya karena khawatir anaknya putus belajar di Pesantren. Orangtua memang tiada duanya.

“Kita ke pom bensin dulu, Kak, Abi tadi menyuruhku mengisi bensinnya”. Perintahku.
“Oh iya”. Sahut Kakak Iparku dengan separuh sukma yang melayang dibawa heningnya malam.
Kita pun berhenti di pengisian bensin, dan aku turun dari kursi empuk bagian belakang sepedaku.

“tittt… tit…” Suara klakson Mobil sambil memainkan lampunya.
“Siapa sih?” Gerutuku bermuka masam.
“Woy… kang. Ayo berangkat bersama, bareng-bareng”. Teriak Totong dari dalam mobilnya. Totong adalah salah satu teman akrabku mulai sebelum mondok di Pesantren.
“Eh… kamu, kang”. Responku sambil berlari menuju mobilnya, dan aku pun melihat kursi kosong di dalamnya.
“Ga apa-apa ta aku ikut? Bayar berapa?” tanyaku.
“Ayo wes Kang naik” salah satu orang di dalam mobil menaggapi pertanyaanku.
Aku pun langsung berlari menemui Kakak Iparku yang sedang mengisi bersin.
“Kak, Aku ikut temanku ya, pake mobil” Celotehku
Kakak Iparku pun memberikan pertanyaan seperti pertanyaanku kepada temanku, “Ga apa-apa ta? Berapa bayarnya”.
“Iya, Ga apa-apa. Bayarnya apa kata nanti kalau sudah nyampe kalau memang bayar”. Jawabku santai.

Aku pun masuk di dalam mobil tersebut, sambil lalu ngobrol dan bercanda ria di dalamnya. Dan Akhirnya obrolan itu berakhir dengan tidurnya temanku di dalam mobil.

“pritt… prittt…”. Suara lipri tukang parkir membuyarkan lamunanku yang sudah lama ke alam angan-angan.
Aku membuka kaca mobil dan tidak terasa bangunan hijau yang megah serta lalu lalang Santri bersarung hijau telah menghilangkan kesunyian di Pesantren tercintaku.
Kita pun berpisah ke daerah masing-masing. Daerah Astana adalah pemukiman santri sesuai kemampuan dan bakat mereka masing-masing. Daerah di Pesantren itu berjumlah 16; Mulai dari daerah A-O dan Z dengan jumlah 500-600 santri per daerah kecuali daerah K dan B hanya berkisar 300-400 santri. Daerah K dan B adalah tempat pemukiman santri yang untuk belajar serta pengembangan bahasa Asing (Arab dan Inggris).

“Hi, gusy… how are you? Are you okey?” Sapa temanku yang sudah lama aku tinggal Tugas Mengajar selama satu tahun.
“Iya, guys, I am fine, How about you?” jawabku sambil menyakan kabarnya yang sudah lama tak jumpa.
“I am fine too”. Lanjutnya sambil salaman denganku, kemudian pergi meninggalkanku.
Iya, daerahku, daerah K-05 yang memang khusus bagi member inggris yang sudah lulus dalam tes percakapan bahasa Arab.

Suasananya pun seperti tahun-tahun sebelumnya; padat, ramai dan semuanya serba antri.
Aku mulai menghatamkan Al Quran dengan target yang sudah saya agendakan sebelumnya. Dan aku beranjak dari tempat ngajiku ketika mau Shalat, makan, mandi, dan tidur saja.

“Bal.. Mau lanjut apa boyong”. Panggil temanku yang ingin tahu kelanjutan mondokku.
“Eh… Yazid, saya mau boyong, disuruh Orangtua” jawabku dengan senyum sungging di bibirku.
“Loh, kenapa? Eman, orang kayak ente masih dibutuhkan di pesantren. Mau nikah ya..” Nasihatnya sambil bergurau.
“Takdir dan pilihan memang tak sama, takdirku menetapkanku belajar di Rumah. Kalau masalah nikah ntar dulu, masih tahap pencarian”. Sambungku sambil tertawa akibat pertanyaan Nikahnya.
“Oh, Iya dah. Sukses ya..”, Katanya, sambil menepuk pundakku.
“He’ em…”. Kepalaku mengangguk, sambil berkata Amin dalam-dalam di hatiku. Aku pun melanjutkan perjalananku yang ingin menuju Asrama.

“Kamu TH apa?”. Terdengar suara salah satu santri Aliyah bertanya kepada temannya.
“Aku TH A” jawab temannya.
TH adalah singkatan dari kelas Aliyah yang mengambil jurusan Tafsir dan Hadits.
“Kalau kamu? TH apa?”. Pertanyaan yang sama dilontarkan kepadaku.
“ha… Saya TH 8”. Jawabku sambil bergurau.
“Aduh… itu kan TH untuk Game COC (Clash of Clans) Game online yang nge-tren saat ini, hemmm”. Tanggap temanku sambil menggelengkan kepalanya.
“hehe… Saya boyong” cengegesku menanggapinya.

Setelah beberapa hari, akup un selesai menyelesaikan hataman Al Quranku sesuai agenda sebelumnya.
Setelah mendapat Izin kiai aku pun langsung bergegas mengurus Angket Permohonan Berhenti. Selama beberapa hari aku mengurus Angket tersebut, akhir juga pada peresmian boyong yang ditanda tangani oleh salah satu Majlis Keluarga Pesantren tersebut yang dalemnya berada di Kraton Pasuruan. Waktu itu banyak Santri yang juga mau minta tanda tangan resmi kepada Beliau. Aku pun dan teman-teman berangkat menuju dalem Beliau dan menunggu beliau selam 3 jam lebih.

“Yang sabar yah kalau nunggu kiai”. Suara khadam menyabrkan kami.
“Iya, Kami akan sabar menunggu beliau sampai malam, dan semoga ini menjadi wasilah kami menuai Ilmu Manfaat dan Barokah”. Tanggap salah satu temanku.

Ketika itu memang hampir Magrib. Karena kami berangkat Jam 02:30 WIS dan menunggunya sampai Beliau ada.

Adzan Manghrib pun berkumandang sedang kami masih belum menjumpai Beliau. Kami pun melaksanakan Shalat maghrib terlebih dahulu berjamaah sambil lalu menunggu beliau datang.

Teman-teman bergegas dari tempat shalatnya setalah selesai Shalat dan berdzikir setetelah mendengar Ketua Umum sudah Rawuh. Dan Aku sangat bahagia, karena Malam ini menjadi malam terkhirku di Pesantren.
“Mau boyong semua?” Tanya Beliau yang ketika itu menjabat Ketua Umum Pesantren. “Enggeh, Mas”. Jawab santri secara serentak.
“Hemmm.. Kumpulkan Angketnya”. Lanjut Beliau.

Akhirnya, teman-teman mengumpulkan Angket masing-masing ke satu teman lalu diserahkan kepada Beliau Untuk ditanda tangani dan diresmikan bahwa Santri yang bersangkutan telah resmi menjadi Alumni dan terbebas dari kewajiban-kewajiban Pesantren. Setelah selesai semua, Kami pun menerima Angket tersebut yang telah diresmikan. Dan kami pun bersalam kepada Beliau dengan penuh rasa takdzim.

“guys, Kita udah resmi nih.. Bagaimana kalau kita ke KH. Abdul Hamid pasuruan. Yahh… sambil lalu main-main ke Alun-Alun Pasuruan, Refresing “. Usulan salah satu temanku
“Oh iya, Bagus tuh”. Sahut temanku secara bergantian. Termasuk diantaranya; Aku sendiri.

KH. Abdul Hamid adalah seorang Ulama, waliyullah yang terkenal dengan kealiman beliau dan ketawaduaannya. Beliau menjadi salah satu titik tour religi bagi Umat Islam Madura dan Jawa, Utamanya Jawa timur.

Setelah sesampainya di sana kamipun mengaji dan bertawassul di makam Beliau.
Setelah selesai membaca tahlil dan bertawassul kamipun hendak rehat dan bermain sejenak. Namun, Aku bingung. Sandal kesayangannku menghilang. Mataku sudah merayap kebeberapa sudut tempat sandal. Dan akhirnya, tetap saja menghilang dan mengahruskanku membelinya lagi.

Rehat kami pun usai saat jarum jam Menunjukkan 08:00 WIS. Dan kami kembali kepesantren untuk malam terakhirnya karena besok harus pulang ke kampung halaman masing-masing.
“Alhamdulillah… Akhirnya selesai juga Angketnya, Kawan”. Syukur temanku dengan penuh kegembiraan.

Waktu itu santri sedang sepi di Daerah, karena memang bertepatan dengan Malam Ikrar santri yang dilaksanakan di lapangan pesantren. Merekapun berkumpul di kamar bersama yang mau pulang besok. Dan aku pergi menuju Masjid untuk melaksanakan Shalat Isya.

“Mau ke mana, guys?”. Tanya temanku sambil melihatku terheran-heran.
“Aku mau ke masjid dulu, belum Shalat. Sekalian Ngaji tinggal sedikit”. Jawabku
“Aduh.. Kamu sudah resmi masih saja Istiqomah Ngaji”. Lanjut temanku.
“yah ga apa-apa lah guys, itung-itung buat persiapan menghadapi Masyarakat di rumah”. Sahutku sambil membalikkan badan menuju ke Masjid.

Aku pun Shalat dan menghabiskan beberapa jam di Masjid dan kemudian ke kamar untuk isirahat setelah Renatiku seperti di gandol batu besar, ngantuk tak tertahan karena seharian mengurus surat Angket berhenti. Sedang temanku enak di kamar merokok, mengoprasikan hape dan ngobrol sampai malam menikmati keresmiannya menjadi Alumni. Dan aku menikmati Malam terakhirku dengan Dzikir di kamar dengan sukma separuh sadar, yang kemudian pergi secara tiba-tiba ke dunia mimpi.

Cerpen Karangan: Ibin Qosim
Blog / Facebook: Dibik Mujiantho
Namaku Didik Mujianto, kelahiran Pasuruan 05-juni-1995 M.
Penulis asal kota Pasuruan Jawa Timur.
Pendidikan terakhir di formal adalah Madrasah Tsanawiyah Susan Giri Branang Lekok Pasuruan yang kemuadian melanjutkan studi di Pondok Pesantren Sidogiri Kraton Pasuruan.

Cerpen Pesta Malam Terakhir Di Pesantren merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Mister M. A

Oleh:
“Tidak selamanya yang berawalkan dengan kata benci berakhir dengan kebencian dan tidak pula yang berawalkan dengan kata cinta berakhir dengan kebahagiaan…” Pagi ini Rere mengawali harinya penuh dengan keceriaan

DS2

Oleh:
Aku Alvin. Aku lahir dalam keluarga yang tak begitu indah dan tak seperti keluarga sewajarnya. Mungkin aku hidup dalam keluarga yang berkecukupan. Tapi, kasih sayang dan perhatian sangat tak

Burung Piyik

Oleh:
Dari kejauhan terlihat gerombolan siswa berdiri memandangi beberapa lembar kertas yang terpaku pada sebuah majalah dinding sekolah selepas waktu sekolah usai. Satu demi satu dari mereka mulai meninggalkan tempat

Senandung Kampus Biru

Oleh:
Matahari terasa terik sekali di bulan Juni ini, seolah berada di negeri padang pasir, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Dua orang sedang asyik mengobrol, atau

Asa yang Terbelenggu

Oleh:
Menyanyi dan menari adalah hal yang sangat menarik bagiku itulah alasan kenapa aku sangat ingin bisa mengapainya tapi itu bukanlah hal mudah bagiku karena aku hanyalah anak yang terobsesi

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *