Petani Ajang Kemuliaan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 21 January 2016

“Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman (bertani), kemudian burung memakan sebagiannya atau manusia atau binatang, kecuali baginya atas apa yang dimakan itu adalah shadaqah.” (H.R Muslim)

Izinkan aku menceritakan isi kandungan hadist yang aku cantumkan di atas, sekaligus sebagai ajang penjelasan agar kita lebih mengerti isi kandungan hadist tersebut. Khususnya bagi para petani di daerah manapun jika hasil karya aku bisa dimuat di buku. Aku akan menceritakan tentang desaku yang sebagian besar penduduknya tak bersekolah. Hanya mendapat siraman rohani setiap hari jumat di masjid “SABILALMUHTADIN ” Puncang Sari. Tepat pada saat khutbah jumat tersebut.

Desa aku bernama Dasan. Dao kampung puncang sari kec.Pringgabaya Lombok Timur. Tentunya berada di provinsi NTB. Penduduk desaku ini memiliki mata pencaharian sebagai petani. Sangat sedikit sekali orang yang memiliki mata pencaharian sebagai guru dan pegawai, sangat jarang sekali. Meskipun begitu penduduk di desaku tak ada yang menganggur. Semua bekerja dan saling membutuhkan. Jika ada warga yang tidak mempunyai sawah, maka ia bisa menjadi buruh tani. Untuk membantu pekerjaan para petani di sawah.

Bapakku juga termasuk seorang petani, tapi kadang kala ia sebagai buruh tani sementara menunggu padi besar. Di desaku hanya bapak yang bisa menamatkan pendidikannya sampai SMA. Bahkan bapak aku sempat belajar di Ma’had Darul Qur’an wal Hadist (MDQH) Tempat orang-orang menimba ilmu agama baik yang sudah menikah maupun yang belum. Yang bertempat di pancor bermi, jauh dari desa bapak di Pringgabaya.

Singkat cerita, kebetulan bapakku di masjid bertugas setiap hari jumat sebagai pembaca khutbah. Bapakku dianggap pantas sebagai pembaca khutbah jumat karena dianggap luas wawasan agamanya walaupun sudah tua. Bapak sering aku lihat latihan membaca khutbah. Para warga mungkin menganggap bapak sudah biasa berada di depan membaca khutbah jumat. Jadi biar pun bapak tak latihan ia tetap santai saja tanpa ada rasa takut ataupun malu. Namun hal itu menurut bapak aku tidak benar. Dalam kondisi apa pun kita harus bersiap-siap. Baik itu melatih mental maupun materi yang akan kita sampaikan. Jangan kita anggap remeh. Suatu hal yang kita anggap remeh akan menjadi berbahaya bagi kita. Biar pun kita sudah sering melakukannya. Alangkah baiknya kita tidak bosan-bosannya untuk berlatih mempersiapkan segala apa yang diperlukan agar selalu lebih baik dari hari kemarin.

Kini tiba waktu bapak untuk menyampaikan khutbah jumat di depan para jamaah. Kebetulan judul dari khutbah jumat bapak aku adalah “Petani Ajang Kemuliaan.” Bapak mulai menjelaskan isi kandungan khutbah jumatnya. Sekilas aku sampaikan yang intinya saja. “Petani ialah pekerjaan mulia di mata Allah. Karena petani sangat diuji kesabarannya dalam mengelola sawah yang sudah dimiliki. Petani juga pekerja keras, tak salah jika Allah mengatakan pekerjaan petani lebih mulia dari pekerjaan yang lain. Para warga sudah tahu, di dalam kita bertani juga kita berperan sebagi pedagang.”

“Hasil panen yang telah kita dapatkan dengn susah payah akan kita jual kepada saudagar. Di saat kita sebagai pedagang ini kita diuji kejujuran dalam melakukan teransaksi jual beli. Namun, sebelum hasil panen tiba para petani juga haruslah melewati beberapa proses terlebih dahulu sebelum musim panen tiba. Memberi pupuk pada tanaman, menjaganya dan merawatnya dari hama-hama tanaman yang mengganggu tanaman padi kita. Ini membutuhkan waktu berbulan-bulan, bahkan di bawah terik matahari yang selalu menyengat tubuh ini setiap hari. Kita dituntut harus tetap bersabar sebagai petani.”

“Kita harus bangga sebagai petani, karena petani termasuk mulia di sisi Allah. Rasulullah pernah bersabda, ‘Tidaklah seorang muslim yang menanam pohon atau menanam tanaman (bertani), kemudian burung memakan sebagiannya atau manusia atau binatang, kecuali baginya atas apa yang dimakan itu adalah shodaqah.’ (H.R Muslim). Allah tak henti-hentinya menguji para petani dalam hal kejujurannya, kepandaiannya, kerja kerasnya, bahkan kesabarannya dalam bertani.” Lalu setelah acara jumatan selesai para warga belum pulang dan salah satu warga memberanikan diri bertanya kepada pengurus masjid yang kebetulan juga belum pulang.

“Aku ingin bertanya pada ustadz Murhan, karena tadi kita kan tidak boleh berbicara pada saat khutbah jumat berlangsung. Jadi aku sekarang mengajukan pertanyaan terkait dengan hadist yang dibacakan ustadz Murhan. Aku punya salah satu keluarga seorang tuan guru, ia sangat taat pada Allah. Aku hendak mengikuti caranya dalam bertani yaitu merawat dan membiarkan para burung-burung atau manusia memakan tanaman yang sudah kita jaga dan rawat. Semua ini aku lakukan tak lain hanya niat sebagai shodaqah, sama seperti yang dilakukan salah satu keluargaku yang seorang tuan guru. Apakah benar yang kami lakukan ustadz, membiarkan semua padi aku atau tanaman yang lain dimakan oleh burung-burung maupun manusia atau binatang lainnya hanya untuk shodaqah, tapi anak dan istriku kelaparan.”

Para warga yang mendengar pertanyaan tersebut sangat setuju, ada yang beranggapan kita harus menjaganya. Dan ada juga warga yang menggap hal itu benar, karena ia tak pernah bershodaqah dan punya harta. Hanya satu cara jalan untuk bershodaqoh yaitu membiarkan makhluk Allah memakan hasil jerih payahnya namun anak istrinya kelaparan, ini tidak boleh. Semua pandangan warga itu langsung diberi tanggapan yang sedetail-detailnya oleh bapakku.

“Begini bapak-bapak… jadi sangat benar hadist tersebut. Lebih-lebih para ulama sufi bahkan tuan guru yang sangat dekat dengan Allah. Jangankan harta, atau tanamannya yang diambil atau dimakan makhluk Allah. Jiwanya saja mereka ikhlaskan demi kebaikan makhluk Allah. Jadi sangat tinggi kedudukannya ini. Adapun jika kita tidak mampu seperti itu. Kita mungkin hanya memiliki satu petak sawah, jika kita berikan pada makhluk Allah, apa yang kita makan bersama anak dan istri kita? Selain dari hasil satu petak sawah tersebut. Maka dari itu hal ini juga jangan disalahkan.”

“Tergantung dari kita, tingkat keyakinan kita pada Allah. Hal ini juga berkaitan dengan kepahaman kita pada musibah yang menimpa kita atau cobaan dari Allah. Jadi ada orang kalau terkena cobaan dia senang tidak marah-marah, ikhlash. Kenapa? Karena dia yakin musibah itu ada hikmahnya. Jadi ukurannya adalah tergantung kita, jika kita biarkan dan nanti anak, istri kita ngomel-ngomel tak ada yang dipanen dan tak ada yang dimakan oleh anak dan istri kita, maka dari itu kita harus menjaga agar tidak dimakan burung-burung atau makhluk Allah lainnya.”

“Maksud hadist yang aku sebutkan tadi ialah kita sudah berusaha menjaganya atau merawatnya agar tidak terkena hama. Dan ternyata masih juga sempat dimakan oleh burung atau diserang hama, kejadian itu kita niatkan semuanya menjadi shodaqah. Maka itu pahalanya sangat besar bagi kita.”
“Oh, begitu Pak ustadz.” jawab para jamaah.

Biar pun para petani terus melihatkan kulit yang begitu hitam pekat. Namun semangat yang terus mamancar. Terkadang semangat itu pudar namun cepat ditepis dengan melihat begitu mulianya pekerjaannya. Seakan bunga yang mekar dan tak pernah berhenti dihinggapi oleh lebah. Petani memang selalu hitam kulitnya namun kelak ia menjadi putih di akhirat nanti berkat kesungguhannya di kala merawat tanaman dengan sungguh-sungguh.

Spend and God will send. Beramallah nanti Allah akan memberimu karunia.

Cerpen Karangan: Shollina
Facebook: Sholli Wasallim

Cerpen Petani Ajang Kemuliaan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bahagia Hidup Pesantren

Oleh:
(Bel Berbunyi) Pagi menjelang subuh aku telah dibangunkan oleh suara bel yang sangat keras. Bergegas aku menuju kamar mandi untuk cuci muka dan wudhu, setelah itu aku dan kawan-kawanku

Dzulhijjah Dalam Syahdu

Oleh:
Seumpama segerombolan semut, motor-motor itu berderet sangat rapi menjulur ke belakang hingga hampir menyentuh gapura lima undak di selatan sana. Seperti dengusan lebah, manusia-manusia itu berdialog kesana-kemari tak tentu

Taman Syurga Raudhatul Jannah

Oleh:
Suara gemuruh hati menikam dari dalam jiwaku. Hasrat tuk menjejaki suasana baru itu membuatku resah tak karuan. Sebenarnya apa juga yang harus kuresahkan. Praktek menjadi seorang guru itu kan

Apa Arti Jilbab Bagimu

Oleh:
Ada sebuah pertanyaan yang selalu ingin kutanyakan pada setiap wanita muslimah, yang menyatakan bahwa dirinya adalah orang islam. Apa arti jilbab bagimu? Aku benar-benar penasaran mengenai hal itu. Apa

Unta Idaman

Oleh:
Di Desa Lintang Merah, hiduplah keluarga miskin yang tinggal di hutan. Dimana tempat tinggal mereka sangat jauh dari perkampungan warga. Sebut saja, Tirta Abdul Salam seorang anak kecil berumur

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *