Pintu Negeri Atas Awan (Part 1)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 November 2017

Semilir angin yang membelai semakin lama semakin menjadi-jadi, kabut tak mempedulikan waktu bahwa sekarang jam telah menunjukkan pukul 12.00 siang. Ya, bumi Dieng diselubungi kabut dan dingin yang menusuk tulang, suhu tepat pada 13 derajat. Aku hanya memegangi cangkir kopi yang perlahan-lahan mulai dingin sembari memandang warga yang berlalulalang maupun wisatawan yang sibuk mondar mandir. Aku termenung merasakan kaki yang masih sedikit pegal. Pendakian ke Prau ini adalah yang pertama.

“Diminum Ram, keburu dingin tuh. Ngelamun mulu sih.” kata Danar yang duduk di hadapanku.
“Capek Dan” jawabku singkat.
“Ha? Tumben amat. Biasanya juga naik gunung yang lebih tinggi kagak kenapa-kenapa.”
“Lagi banyak pikiran aja, capek batin”
“Jiah. Bawa santai aja, nikmatin nih udara dingin. Rileks bung.”
“Hmmm.” aku tak terlalu memerhatikan Danar yang nyerocos. Kusandarkan punggungku pada kursi dan mulai memejamkan mataku, perlahan. Tersenyum. Oh Dieng, negeri atas awan, begitu menarik bagiku untuk membuang semua penat ini. Aku kembali membuka mataku, kabut kini sudah hilang entah kemana, membuat bumi dieng menampakkan keelokan bukit-bukitnya.

Jam menunjukkan pukul 13.00, aku melangkahkan kaki menuju mushola di dekat warung ini sendiri. Menunduk takzim kepada sang Khaliq, berharap semuanya cepat berlalu dan jangan menghantui pikiranku.
Aku kembali duduk di warung tadi, meneguk habis kopi dingin yang kupesan sedari tadi, tandas tak menyisakan ampas. Ini adalah kebiasaanku, meminum kopi beserta endapan ampasnya, pahit memang tapi, aku menyukainya.

“Kalian pulang saja dulu ke Surabaya, aku mau di sini sampai beberapa hari kedepan.” kataku kepada Danar, Mas Aji, Pras dan Gana.
“Lho, kenapa Ram?” selidik mas Aji penasaran.
“Gak papa Mas, cuma masih betah aja di sini.”
“Yakin Ram sendirian? Duit cukup?” susul Gana.
“Tenang aja, masih cukup kok. Gak papa sendirian.” jawabku sembari tersenyum.
“Baiklah, jaga diri baik-baik aja ya.” tutur mas Aji. Mereka semua sibuk membenahi carier masing-masing dan menunggu bus jurusan Dieng-Wonosobo.
“Aku ikut kamu Ram.” ucapan Pras membuat yang lain menoleh. Ya, dalam rombongan mendaki kali ini, hanya Pras yang sebenarnya mengetahui kondisi hatiku.
“Tak masalah” ucapku. Bus itu datang di hadapan kami, mereka bertiga meninggalkan kami. Menyisakan aku dan Pras yang masih berdiri mematung melihat kepergian mereka.

“Mau cari homestay, apa ngecamp?”
“Entahlah, belum ada pandangan Pras.”
“Yang jelas aku gak mau kedinginan di luar ya, titik. Haha.” gurauan Pras memecah kekalutan hatiku yang diam-diam masih terselubung.
“Aku jatuh cinta Pras” ucapku datar.
“Wuih kecantol gadis mana Ram? Udah taken? Inget, masih kelas dua SMA jangan neko-neko dulu.” sok bijak sekali kawanku yang satu ini.
“Sama Dieng Pras, Cantik sekali. Hati ini berat mau ninggalin. Pengen lama-lama di sini”
“Konyol kamu Ram”
“Hahaha, serius Pras.” aku tertawa kecut. Aku melirik jam tangan yang selalu setia memeluk pergelangan tanganku.

Pukul 15.45. Aku mengajak Pras mencari homestay terdekat. Setelah mencari-cari akhirnya kami menemukan homestay yang pas. Kami memesan 1 kamar lalu meletakkan carier kami di kamar. Merebahkan tubuh yang pegal. Pras pergi untuk mandi, meninggalkanku yang sedang terbaring.
“Ya Tuhan, usaikanlah semuanya, jangan sampai ada perpisahan.” pelan hatiku berkata, berbisik pada Tuhan.

Hari mulai berganti petang, gelap pelan-pelan menutup keindahan alam Dieng. Tak lama, terdengar adzan maghrib yang begitu syahdu mengalun di telinga. Damai sekali rasanya.
“Ram keluar yuk cari makan”. Ajak Pras yang sedari tadi menahan lapar.
“Oke lah, tapi dingin banget ini, males.”

Dengan langkah gontai, aku mengikuti Pras melangkah. Udara di luar kian menusuk-nusuk tulang. Kurapatkan resleting jaket ini sampai ke leher. Dingin yang selalu membuatku merasa tenang. Aneh. Kami memutuskan untuk memesan kopi di sebuah warung angkringan kecil. Duduk bergabung bersama warga lokal sana. Sedikit asing memang di telingaku mendengarkan dialek yang mereka gunakan, tapi ini tak masalah bagi kami untuk saling bercengkrama. Kehangatan dalam dingin.

“Sebentar lagi ada Dieng Culture Festival mas, rame acaranya, menarik pastinya.” kata salah seorang bapak-bapak kepadaku.
“Wah kalau begitu saya bakalan tambah betah pak di sini.” ujarku tersenyum menanggapi perkataannya.
Hari sudah mulai malam, mata ini sudah berat untuk menahan kantuk lagi, aku melangkah kembali ke homestay bersama Pras. Sesampainya di kamar, aku jatuhkan tubuh ini di ranjang, tak kuasa lagi menahan kantuk yang kian berat. Terlelap.

“Rama bangun, jam 5!!” memang usil sekali yang namanya Pras, ia meneriakiku tepat di telingaku, persetan memang.
“Pelan-pelan woi”. Sambil bersungut-sungut aku berusaha membuka mata. Dingin sekali.

Pagi ini, aku memutuskan berjalan menyusuri setapak kecil menuju arah telaga warna. Aku tak berhasil membujuk Pras untuk ikut, masih mengantuk katanya. Akhirnya aku sendiri. Aku berjalan menunduk, mengamati embun yang menempel di rerumputan. Dingin masih setia menemani. Aku duduk di tepian telaga pengilon. Sepagi ini suasana di sana masih sangat sepi, serasa menikmati secuil surga dunia sendirian. Aku mengambil selembar foto yang kuselipkan di saku jaketku. Foto 5 tahun yang lalu yang terlihat sedikit usang. Erat kupegangi foto itu hingga mulutku pelan menyebutkan sebuah nama.
“Rengganis”. Anganku membayangkan matanya yang bening dan senyum manis berhiaskan lesung pipinya yang khas.

Bruuuukkkk… Aku menoleh mencari sumber suara itu, hingga aku melihat seorang anak kecil jatuh tersungkur. Aku menghampirinya.
“Adik tidak apa-apa?”
“Ndak papa mas, cuma lecet sedikit” jawabnya sambil menahan rasa sakitnya. Dasar anak kecil batinku.
“Dari mana atau mau ke mana?” selidikku penasaran.
“Dari rumah, mau ke sini.” jawabnya polos. “Lhoo masnya juga ngapain ada di sini?” ia balik bertanya.
“Relaksasi, ngurangin jenuh. Oh ya, nama adik siapa?”
“Giri Dwara atau Ara. Kalau masnya?”
“Rama. Rama Abdika.” jika dilihat sekilas, aku taksir umur Anila sekitar 10 tahun. Gadis kecil yang manis dengan jilbabnya yang menambah elok. Ia terlihat masih sangat polos. Bagiku namanya terdengar sangat unik, Giri yang berarti gunung, dan Dwara? entah aku tak tahu. Benar-benar menunjukkan identitasnya.

Aku melirik ke arahnya, ia sedang duduk beberapa meter dariku dan mencelupkan telapak kakinya di telaga Pengilon. Aku lekat memandanginya. Pandanganku tertuju pada buku kecil yang ia pegang. Buku apa itu? Rasa penasaranku bertambah dikala mulutnya mulai komat-kamit seperti mengucapkan sesuatu tapi aku tak mendengarnya, aku tak sadar jika aku terlalu fokus menatapnya sampai ia berkata “Mas Rama kenapa to? Kok melamun.” aku dibuat kaget.
“Mmm gak papa kok.”
“Mas ini dari mana asalnya?”
“Dari Surabaya.” balasku singkat dan dia hanya ber-O. Kami sibuk dengan pikiran masing-masing dan saling terdiam. Dia tetap melanjunkan komat-kamitnya dan aku tetap terdiam dalam anganku. Lagi, lagi dan lagi pikiranku jauh menerawang membayangkan sosok yang selalu lekat dalam pandanganku.
“Rengganis, apa kau baik-baik saja?” ucapku dalam hati. Kepalaku tertunduk, tanganku memegang rerumputan yang tumbuh subur dengan tetes-tetes embun yang dingin.

“Aku pergi dulu mas.” aku mendongakkan kepala saat Ara pamit pergi. “Oke, hati-hati dik.” langkah mungilnya berjalan dengan cepat dan gesit hingga aku tak bisa lagi melihatnya. Aku masih saja duduk mematung memandang tenangnya air telaga ini. Aku memutuskan untuk kembali ke homestay saat pukul 08.00.

“Acara kita hari ini ke mana nih Ram? Bosen di kamar terus.”
“Gimana kalau kompleks candi?”. Ya, di dekat homestay memang terdapat kompleks Candi Arjuna. Peninggalan sejarah yang masih berdiri kokoh di atas bumi Dieng. Aku dan Pras bergegas menuju ke sana. Kami berjalan perlahan menikmati sejuknya udara yang tiada habisnya.

Beberapa menit kemudian kami telah sampai di kompleks candi. Kami berjalan santai melihat-lihat bangunan candi yang sudah kuno ini. Pengunjung di sini cukup ramai. Aku duduk di rerumputan beberapa meter dari candi, melihat tingkah Pras yang memang selalu takjub dengan bangunan kuno.

“Mas Rama.” aku mencari suara yang memanggilku hingga aki menoleh, di belakangku berdiri seorang gadis kecil.
“Ara.”
“Kita ketemu lagi, kok sendirian lagi to Mas?”
“Oh enggak kok, itu sama teman.” kataku padanya sambil menunjuk ke arah Pras. Aku melirik pada tangannya, lagi-lagi dia membawa buku kecil yang tadi kulihat. Kami berbincang-bincang cukup lama. Kami menjadi akrab dan akhirnya aku mengetahui bahwa ia adalah anak yang istimewa. Mengapa? Ia termasuk anak yang memiliki rambut gimbal. Seperti yang sudah banyak diketahui bahwa di daerah Dieng ada beberapa anak yang memiliki rambut gimbal, konon mereka adalah titisan Kyai Kolodete. Dan salah satu dari anak-anak itu adalah Ara. Benar-benar unik anak yang satu ini.

“Sebentar lagi ada Dieng Culture Festival.” ia berusaha memberitahuku.
“Iya, lalu?” aku mencoba menebak mengapa ia berbicara seperti itu, tapi entahlah, lebih baik aku menanyakannya.
“Besok pas acara itu ada ritual ruwatan mas, datang ya.” Belum sempat aku menjawab, tiba-tiba Pras menghampiriku.
“Puas hunting foto Ram.” katanya bersemangat lalu melihat ke arah Ara.
“Lho siapa nih?” tanya Pras penasaran.
“Kenalin, ini Dwara atau Ara” jawabku singkat.
“Oh adik manis, kok bisa kenal sama Rama?”
“Iya, tadi ndak sengaja ketemu di telaga.”
Kami bertiga semakin akrab. Dan akhirnya kami beranjak untuk pulang karena hari memang sudah mulai sore.

Aku menikmati soreku dengan duduk di depan kamar. Tiba-tiba ponselku berdering lantas aku melihat layar ponselku dan ternyata pesan dari ibuku. Aku semakin kacau setelah membaca pesan itu. Pikiranku serasa melayang. Hati ini kian pilu.
“Kenapa Ram? Masalah lagi?” aku tak menyadari kalau Pras sudah duduk di sampingku. Aku masih menunduk lesu. Pras menepuk tanganku sambil berkata “Yang sabar aja, banyak-banyak berdoa.”
“Makasih Pras.” aku tak banyak bicara dengan Pras kali ini. Aku tak berselara untuk berbicara. Pras juga memahami keadaanku.

Malam mulai datang, aku pergi keluar untuk mencari hiburan. Terlalu bosan untuk menikmati kamar saja. Aku meninggalkan Pras sendirian. Aku pergi ke sebuah warung kecil, tak terlalu jauh dari homestay. Memesan segelas teh panas untuk menghangatkan tubuh, suhu di malam hari memang tidak bersahabat. Aku duduk sendirian di pojok warung ini, kepulan asap dari teh ini menyeruak hidungku, aromanya sangat menggoda. Tetapi aku sama sekali belum berniat untuk meminumnya. mungkin sekarang wajah terlihat sangat kusut. Aku menundukkan kepalaku pada meja dan.

Pyaaarrrr…. Tanganku menyenggol gelas di sampingku hingga jatuh. Aku terlonjak kaget. Aku mengambil pecahan gelas yang jatuh berserakan dan tiba-tiba ada sebuah tangan kecil yang ikut mengambil beberapa pecahan gelas itu. Aku langsung menoleh ke arahnya.
“Hati-hati mas kalau minum, jangan ngelamun wae.” Dan di malam hari pun aku bertemu Ara. Aku mencegahnya mengambil pecahan gelas tersebut, takut tangan kecilnya terluka. Dia menawariku untuk dibuatkan teh lagi, tapi aku menolaknya. Aku kembali duduk, kali ini di luar warung atau lebih tepatnya di pinggir jalan. Sepi, sunyi, sinar rembulan menerangi wajahku remang-remang. Aku masih berdiam diri dan lagi, adik kecilku, Dwara menemaniku duduk. Ia bercerita banyak tentang hari-harinya dengan penuh ceria, seperti kebanyakan anak kecil. Tapi aku tak bisa menanggapi banyak, kekalutan hatiku membuatku tak banyak bicara. Dan nampaknya ekspresiku tertangkap oleh Ara. Ia mencoba memberanikan diri bertanya padaku.

“Kok Mas Rama diam? Sakit atau kenapa?”
“Lagi ada sedikit masalah.”
“Masalah apa?”
“Ara punya kembaran?” aku iseng menanyainya.
“Ndak punya.” ia pelan menggeleng.
“Hmm… keluarga mas masih ada masalah, bapak sama ibu baru aja cerai. Tapi yang mas sayangkan kenapa mereka berpisah saat saudara mas sakit.” aku mulai bercerita tentang diriku kepada Ara.
“Mas Rama punya saudara? Sakit apa?” Ara terlihat penasaran.
“Iya, punya. Dia cantik seperti kamu, matanya bulat hitam, punya lesung pipi kalau senyum, manis sekali. Dia suka sekali dengan yang namanya pegunungan. Tapi sekarang, kondisinya semakin lemah, apalagi setelah bapak dan ibu pisah. Dia divonis terkena kanker.” gemuruh dadaku menahan sesak saat aku menceritakannya kepada Ara. Tak terasa tanganku berusaha mengusap air mata yang aku tahan dari tadi, membayangkan semua yang menimpa.
“Nama dia siapa?” Ara bertanya lagi kepadaku.
“Ara, dia kembaran mas. Namanya…” aku berhenti sejenak untuk menyebutkan nama itu. “Rengganis.”
Kali ini aku benar-benar tertunduk, menghela nafas panjang, berat sekali rasanya.
“Mas yang sabar ya, jangan sedih.”
Aku hanya mampu tersenyum kecut menanggapinya. Dia bertanya lagi.
“Mas pernah ke gunung Prau?”
“Iya, kemarin mas ngecamp disana sama teman-teman, tapi mereka sudah pulang duluan ke Surabaya.”
“Besok kita ke sana yuk.” tatapannya terlihat sangat berharap untuk ke sana. Aneh-aneh saja.”Kenapa Ara mau ke sana?”
“Ndak papa, Ara cuma pengen ke sana saja, mau kan?”
Kali ini aku mengalah, lagi pula kupikir aku tak akan bosan ke sana. Baiklah Ara, mari kita ke sana. Aku masih mengingat sebuah kata-kata
~ikutlah aku mendaki, kelak kau akan tahu seberapa aku menjagamu.
“Kalau Ara memang mau ke sana, baiklah besok kita ke sana sore hari, peralatan ada kok.”
“Yeey” Ia terlihat sangat senang sekali. Aku tersenyum melihat tingkahnya.
“Ada apa sih Ra? Kayanya pengen banget ke sana?”
“Besok mas juga bakal tahu kok.” Anak ini, memang benar-benar beda.
“Sudah malam Ra, tidur gih. Mas mau balik ke homestay.”
Ia tidak menjawab, hanya mengangguk pelan dan berlari meninggalkanku.

Cerpen Karangan: Devi Laila
Facebook: Devii laila

Cerpen Pintu Negeri Atas Awan (Part 1) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Music Girl’s

Oleh:
Musik… musik… musik. Musik, mungkin itulah hidupku. Aku, sangat mencintai musik. Sejak kecil, Aku sangat senang mendengarkan musik. Kedua orang tuaku pun banyak memfasilitasiku dalam hal musik. Hari ini,

Hadiah Terindah

Oleh:
Jam berdentang satu kali. Teriknya matahari tidak mencegah ayah Tono untuk tetap bekerja. Tono tinggal bersama ayah dan ibunya di desa dan pekerjaan ayah Tono adalah mencari kayu untuk

Cerpen Yang Tak Berguna

Oleh:
Setiap hari aku selalu membuat cerpen, sudah beribu-ribu cerpen yang kubuat tetapi ada saja kakakku yang tidak suka dengan semua cerpenku, namanya Zanet dia itu selalu memarahi aku karena

Meluluh Dosa

Oleh:
Aku dan Albert sudah tinggal bersama sejak kecil. Itu tentu saja, karena kami adalah sepasang saudara. Kakakku, wajahnya tampan, tubuhnya ideal, senyumnya mengoda. Bicara soal sifat, ia sangat sabar

Peluh Seorang Remaja

Oleh:
Saat itu sang surya masih sanggup memancarkan sinarnya dari ufuk timur, Fahmi adalah remaja yang berasal dari pelosok desa di Aceh, Fahmi adalah remaja yang berketurunan dari keluarga yang

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *