Pintu Negeri Atas Awan (Part 2)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Galau, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga
Lolos moderasi pada: 3 November 2017

Aku beranjak meninggalkan tempat ini dan berjalan menuju homestay. Hari ini, sudahi saja sampai disini. Aku membuka pintu kamar, dan ternyata Pras belum tidur.
“Besok kita ke Prau lagi Pras.” Pras mendelik mendengarku, seakan tak percaya.
“Ngapain?”
“Sudahlah, ikut aja.”
“Baiklah.”

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, berusaha memejamkan mataku, tapi sepertinya mataku sulit diajak kompromi. Mataku masih tetap terjaga higga tengah malam. Entahlah apa yang aku pikirkan, tapi yang jelas, aku mengingat dua orang yang menarik bagiku, Rengganis dan Dwara. Dan perlahan, mataku terpejam lelap.

Aku terbangun saat telingaku mendengar sebuah suara yang mengalun merdu dalam kesunyian, begitu damai, adzan subuh itu indah sekali. Kupaksakan kakiku untuk melangkah mengambil air wudhu, bukan main dinginnya. Setelah menunaikan urusan dengan Rabbku, aku hanya duduk di luar kamar. Ku ambil ponsel yang berada di saku, ku pandangi foto kembaranku. “Rengganis.” Hari mulai beranjak siang, aku menata peralatan mendaki yang kemarin sudah kupakai. Setelah hari mulai sore, aku dan Pras bergegas untuk pergi menemui Ara. Baru beberapa langkah saja kami berjalan, ternyata kami berpapasan dengan Ara, ia telah siap dengan tas punggungnya yang lucu. Aku tersenyum melihatnya.

“Ara sudah siap?” tanyaku.
“Kenapa Ara ikut Ram?” tanya Pras bingung. Aku tertawa melihat ekspresi konyolnya yang masih terbengong.
“Memang Ara yang mengajakku ke atas lagi Pras.” Ara hanya tertawa, menampakkan gigi kelincinya. Karena letak basecamp yang tak terlalu jauh, maka kami memutuskan untuk berjalan kaki saja. Tak lama pun kami sampai di basecamp, sebelum memulai perjalanan kami menunaikan ibadah sholat ashar. Selepas itu kami melakukan ragistrasi di basecamp dan memulai perjalanan.

Jalur yang kami lalui adalah jalur pendakian via dieng. Kami berjalan dengan tempo tidak terlalu cepat, kasihan adik kecilku Ara jika harus berjalan terlalu cepat. Perjalanan kami awali dengan melewati ladang warga, trek yang lalui pun masih landai dan belum menanjak. Tak lama berjalan, kami sampai pada gapura pendakian, perjalanan pun mulai menanjak dengan jalan yang tergolong mudah. Sesampainya di pos 1, kami berhenti sejenak untuk mengatur nafas yang mulai cepat.

“Ara capek?” aku bertanya untuk memastikan, walaupun aku belum melihat ekspresi lelahnya sedikitpun.
“Ara ndak capek kok mas.”
“Bocah tangguh.” ledek Pras dengan menepuk-nepuk kepala Ara yang tertutup jilbabnya. Ara hanya tersenyum menampakkan gigi kelincinya. Setelah rehat beberapa menit, kami melanjutkan perjalan menuju pos 2 dengan trek yang menanjak, tapi masih tergolong mudah. Sesekali aku berhenti untuk bertanya kepada Ara, apakah ia lelah. Tapi sepertinya anak ini sama sekali tak merasakan lelah.

Sesampainya di pos 2, kami juga berhenti sejenak lalu melanjutkan perjalanan ke pos 3 dan setelah itu menuju ke puncak. Keringat bercucuran membasahi tubuh. Dan akhirnya, kami sampai di titik 2565 mdpl. Aku memutuskan untuk berhenti dan duduk menghadap ke jurang. Rasa lelahku seketika hilang melihat apa yang sedang aku saksikan. Aku terpana, di bawah sana terlihat telaga warna dan telaga pengilon yang berdampingan. Sore ini, kabut sama sekali tak ada. Aku juga menyaksikan betapa kokohnya gunung Sindoro dan Sumbing yang ada di hadapanku dengan suasana lembayung senja, indah sekali.

Tak terasa hari mulai gelap. Kami berjalan menuruni bukit untuk sampai ke area camping. Aku membongkar isi carierku dan bergegas mendirikan dome atau tenda dibantu oleh Pras, hari sudah mulai malam. Setelah itu kami melaksanakan sholat maghrib. Kegiatan kami lanjutkan dengan memasak untuk makan malam, urusan yang satu ini aku serahkan kepada Pras karena memang ia yang lihai dalam hal memasak, aku hanya membantu sedikit. Aku menoleh ke arah Ara, ia duduk di sudut tenda, ia duduk dengan menekuk dan memeluk lututnya. Kali ini, aku melihat ia kembali membawa buku itu. Ya, buku kecil itu dan ia terlihat sangat serius membaca buku itu dan terlihat sedang menghafalkan apa yang sedang ia baca. Tapi aku tak sempat untuk menanyainya.

Makan malam pun jadi, kami bertiga memakannya dengan lahap dengan canda tawa mengiringi kami. Ini salah satu hal yang paling aku sukai dari sebuah pendakian, keakraban dan kehangatan yang terjalin di tengah dinginnya angin gunung. Tapi di tengah canda tawa dan gurauan kami, tetap saja ada relung hatiku yang hampa, aku rindu dengan Rengganis. Memoriku serasa berhamburan, aku mengingat saat-saat aku mendaki bersama Rengganis. Aku mengingat saat aku selalu berusaha menjaga dan menyemangatinya untuk menaklukkan puncak. Beberapa puncak telah aku taklukkan bersama Rengganis. Namun sekarang aku tak bersamanya, tapi aku menemukan sosok Rengganis yang selalu ceria dalam diri Ara. Karena hari sudah malam, kami semua memutuskan untuk tidur, berharap esok pagi akan menemukan sunset yang luar biasa.

“Mas Rama, bangun.” aku tetap tak bergerak. “Mas Rama!” Ara mengguncangkan tubuhku, sontak aku terbangun gelagapan.
“Kenapa Ra? Ada apa?” tanyaku dengan masih menahan kantuk.
“Jam 2 Mas.” aku tak mengerti dengan jawaban Ara.
“Ambil air minum yang itu untuk wudhu, masih cukup kok, kita tahajud yuk.” aku tak percaya dengan perkataannya, anak sekecil dia mengajakku tahajud? Di gunung? Seperti mimpi, tapi aku menurutiya saja. Pras aku bangunkan pula, tapi dia lebih asik bermalas-malasan dibalik sleeping bagnya. Aku dan Ara melaksanakan sholat tahajud di luar tenda, di atas gunung, di bawah sinar rembulan dan gemerlapnya bintang. Ini adalah yang pertama dalam hidupku tahajud dalam pendakian. Aku melihat suasana di sekitarku, gelap, sunyi, angin pun bertiup agak kencang, jauh di bawah sana nampak kerlap-kerlip lampu yang sangat indah. Aku melirik ke arah Ara yang berdiri di sampingku, ia sudah mengenakan mukena. Dia menoleh ke arahku sambil tersenyum.

“Indah bukan? Kerlipan lampu di bawah sana bagus sekali.”
“Iya Ra.”
“Mas masih ingat sama pertanyaan mas yang kemarin to?”
“Yang mana?”
“Kenapa aku mengajak ke sini.”
“Oh yang itu, memangnya kenapa Ra?”
“Alasannya, karena Ara pengen banget bersujud di atas sini, suasananya sepi penuh kedamaian. Di atas sini Ara bisa melihat tempat kelahiran Ara, tanah yang selalu Ara cintai.” aku mendengar suara Ara yang sedikit tertahan. Mengapa ia menangis? Ia melanjutkan kalimatnya.
“Rasanya Ara pengen di sini terus, tapi Ara harus pergi. Tempatnya jauh sekali mas. Tapi ndak apa-apa, Ara pergi demi bapak dan ibu.” aku tak mengerti maksud kalimatnya.

“Memangnya Ara mau pergi ke mana?”
“Mas sering lihat Ara bawa buku ini kan? Di dalam sini Ara tulis semua ayat yang selama ini Ara hafalkan. Ara pergi karena pengen bertanggungjawab atas semua hafalan Ara dan menambahnya. Besok setelah upacara ruwatan, Ara bakal masuk pesantren. Ini wasiat almarhumah ibu mas.” ia tersenyum walau air matanya mengalir. Ya Tuhan, jadi ia seorang hafidzah? Dan ibunya bahkan sudah meninggal. Ternyata Ara lebih hebat dari yang kupikir.
“Ara kangen sama ibu, makanya Ara menumpahkan semua rindu Ara dalam sujud di atas sini. Mas juga rindu sama keluarga mas kan? Sama mbak Rengganis saudara kembar mas Rama. Kita sholat bareng ya, buat doain mereka semua.” Kali ini aku benar-benar tak bisa menjawab, perkataan Ara membuatku terhenyak. Aku mengangguk menerima ajakan Ara. Kami pun lekas menunaikan sholat tahajud. Aku berusaha khusuk menunaikan sholat.

Semilir angin mengiringi sholat kami, penuh kedamaian dan ketenangan. Dan pada rakaat terakhir, aku bersujud lama, aku tak bisa menahan isak tangisku. Kemudian aku menengadahkan tanganku, memohon kepada sang Khaliq supaya Rengganis diberi ketabahan dan kekuatan. Malam ini, di atas sini, dalam sujudku, aku merasa teramat sangat kecil di hadapan alam raya. Dalam hatiku berbisik.
“Terimakasih Tuhan, Engkau mempertemukanku dengan Dwara. Gadis kecil nan hebat yang aku kagumi.”

Setelah selesai, kami kembali ke tenda dan kembali tidur, hari masih malam. Ara dengan cepat kembali tertidur pulas, tapi aku masih saja terjaga. Aku merenungi kedamaian yang baru saja kudapatkan, terasa mendinginkan hati.
“Rengganis, semoga mimpi indah.” perlahan aku menutup mataku bersama menetesnya sebulir air mata.

Aku terbangun saat bunyi alarm terasa keras sekali memekakkan telinga. Lalu aku keluar tenda, di ufuk timur mulai muncul sang mentari. Semburat merah mulai menghiasi langit. Aku berdiri menatapnya sampai tiba-tiba Pras dan Ara juga berdiri di sampingku. Kami menyaksikan sunset bersama, dalam diam kami masing-masing.
“Makasih Mas Rama, makasih juga Mas Pras udah mau nemenin Ara.”
“Sama-sama Ara.”
Semakin lama hari semakin siang, akhirnya kami berkemas-kemas untuk turun.

Sesampainya di dekat homestay kami berpisah.
“Besok acara ritual ruwatannya Ara, Mas Rama sama Mas Pras datang ya.” ia terlihat sangat berharap.
“Insyaallah Ra.” aku menjawab singkat.
Sesampainya di homestay aku langsung merebahkan tubuhku di atas ranjang. Tapi kali ini, ada kepuasaan yang tak pernah aku dapatkan. Aku tersenyum puas.

Pada malam hari aku dikejutkan dengan bunyi ponselku, telepon dari ibu. Betapa kagetnya aku mendengar suara ibu, suaranya seperti menahan tangis, ibu mengabarkan kalau keadaan Rengganis semakin parah dan ia masuk rumah sakit. Aku harus segera pulang, besok pagi. Malam ini aku benar-benar tak bisa tidur. Tak henti-hentinya aku berdoa berharap kondisinya membaik.

Keesokan paginya, aku menyuruh Pras untuk segera berkemas dan bergegas pulang. Kami sudah bersiap-siap untuk pulang. Tunggu dulu, hari ini aku berjanji untuk menyaksikan ritual Ara, tapi aku tak bisa, aku harus segera pulang. Baiklah Ara, aku akan mencarimu.
“Pras, kamu di sini dulu ya, jaga barang-barang. Aku pergi dulu sebentar.” aku tak menunggu jawaban dari Pras dan langsung berlari mencari Ara.

Akhirnya aku menemukan Ara. Hari ini, dia mengenakan pakaian serba putih untuk melaksanakan upacara ruwatan. Aku berlutut di hadapan Ara dan memegangi bahunya.
“Ara, maaf ya Mas Rama nggak bisa lihat upacara ruwatannya Ara. Mas Rama harus pulang.” ia tak menjawab, matanya terlihat berkaca-kaca.
“Jadi Mas Rama mau pulang?” Ara menanyaiku.
“Iya. Rengganis masuk rumah sakit, kondisinya melemah. Mas Rama harus segera pulang. Maaf ya Ra.”
“Iya ndak apa-apa. Semoga mbak Rengganis cepat sembuh.”
“Terimakasih banyak Ara.” kupeluk tubuh kecil Ara, ia menangis.
“Ini buat Ara.” aku memberikan kalung kepada Ara, dulu aku membelinya bersama Rengganis saat kami berkunjung ke Lombok seusai mendaki gunung Rinjani.
“Makasih.”
“Mas Rama pamit ya Ra.”
“Iya, hati-hati di jalan.” aku mengangguk mengiyakan.

Aku berbalik arah dan melangkah meninggalkan Ara. Berat kakiku untuk melangkah meninggalkan tempat ini. Terimakasih Tuhan, Engkau telah mempertemukanku dengan Ara. Gadis kecil yang mengajakku mendapatkan sebuah kedamaian. Kini aku tahu arti namanya, Dwara yang berarti pintu. Ya, ia pintu bagiku untuk menemukan caraku mengadu kepada-Mu. Ara, semoga kita dapat berjumpa dilain waktu, dan semoga engkau akan tetap menjadi Dwara untukku. Terimakasih Giri Dwara.

Cerpen Karangan: Devi Laila
Facebook: Devii laila

Cerpen Pintu Negeri Atas Awan (Part 2) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Dia (Cinta Yang Ku Benci)

Oleh:
Malam itu aku bertemu lagi. Melihat matanya lagi dengan tepat. Dia, yang sudah hampir 5 tahun ku hindari. Entah apa kehendak Tuhan, yang masih membiarkan harapan ini masih ada.

Dibalik Rencana Tuhan

Oleh:
Bagian 1 (Awal ibu meninggalkan ku) Awal saat ibu pergi meninggalkanku serta ayah dan juga kakak-kakakku, sejak saat itu aku memutuskan untuk ikut tinggal bersama tante serta om ku.

Mutiara dan Bunga (Part 1)

Oleh:
Namaku Hamidah. Aku tinggal di sebuah desa kecil di Kabupatan Banjarnegara. Aku terlahir dengan ketidakmampuanku berbicara. Mendiang nenekku, orang yang paling menyayangi dan menerimaku, pernah bilang padaku kalau aku

I Love You My Brother (Part 4)

Oleh:
Aku mengambil satu dari baju-bajunya itu. Aku menciumnya dan memeluknya untuk bisa menghilangkan rasa rinduku ini. Setelah itu aku perhatikan satu persatu foto-fotonya yang ada di dinding kamarnya yang

Adikku Sayang

Oleh:
“Ah..” ucapku geram melihat buku ceritaku dirobek-robek oleh adikku, Erita. “Ada apa sayang?” bunda menghampiriku dan Erita. “Ini Bun, buku Kakak dirobek-robek sama Erita,” aku segera berlari ke kamar

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *