Prasangka Ayah

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 28 September 2019

“Adek ikut pengajian yang sesat gitu nggak?”, itulah kalimat pertama yang dilontarkan Ayah ketika Aku baru memasuki pintu rumah selepas pulang kerja.

Bukan tanpa alasan kenapa tiba-tiba Ayah bertanya begitu, hal itu dikarenakan Ayah baru saja menerima telepon dari temannya di kampung halaman yang bercerita tentang seorang anak perempuan yang berstatus mahasiswa mendadak menghilang setelah mengikuti pengajian beberapa kali di sebuah perkumpulan, nggak tau pengajian seperti apa yang dimaksud. Dan yang membuat Ayah khawatir karena anak perempuan tersebut menghilang di kota yang dulunya tempat Aku menuntut ilmu. Yah, Aku dan anak perempuan itu mempunyai pilihan yang sama. Memilih menuntut ilmu jauh dari keluarga, menjadi anak perantau di kota orang.

Oh iya.. Ayah baru tiba dari kampung halaman beberapa hari ini. Lebaran kali ini Ayah memutuskan untuk merayakannya di Jakarta bersama Aku dan Kakakku. Kata beliau sih sekali-kali lebaran di kota besar. Yah, Aku memang bekerja jauh dari rumah, dari Sumatera merantau ke pulau Jawa. Terakhir kali Aku menginjakkan kaki di rumah sekitar satu tahun yang lalu.

Wajar saja saat Ayah merasa sedikit khawatir melihat penampilanku yang sekarang, jauh berbeda dengan penampilanku setahun yang lalu. Jangankan menggunakan pakaian yang serba longgar dan panjang menjuntai ke bawah, menutup kepala aja Aku enggan. Dulu Aku memakai jilbab hanya saat-saat tertentu, itupun jenis jilbab yang hanya membalut aurat bukan menutup.

Yup betul, ini kali pertama Ayah melihat “penampilan” Ku yang baru. Ada yang pernah mengatakan penampilanku seperti bu Hajjah, haha.. di Aamiinin aja.. anggap saja do’a yang baik dari mereka.

Aku memutuskan untuk hijrah belum lama ini, baru sekitar beberapa bulan yang lalu. Entah dari mana perasaan itu tiba-tiba muncul. Mendadak perlahan-lahan Aku pengen memakai baju yang panjang sampai ke lutut tetapi masih menggunakan celana jeans dan tanpa kaos kaki. Kemudian Aku memutuskan untuk menyingkirkan semua celana jeansku, Aku memilih untuk menggunakan rok. Dan sekarang Aku lebih suka menggunakan gamis dan tentunya kaos kaki yang tidak pernah kutinggalkan.

Menanggapi pertanyaan yang dilontarkan Ayah, Aku menjawab secara pelan-pelan dan penuh penjelasan yang apa adanya agar Ayah tidak merasa khawatir lagi padaku. Aku sudah dewasa, Aku bisa membedakan mana yang baik dan buruk untukku. Dan jalan yang kutempuh ini In Sya Alla bukan dengan cara yang sesat. Beliau terlihat terharu mendengar penjelasanku. Dan Aku yakin, Ayah amat sangat senang dengan penampilanku yang sekarang.

Mungkin sejak awal saat Ayah menapakkan kaki di Jakarta ketika Aku menjemput di bandara, sepertinya Ayah ingin menanyakan perubahanku yang sekarang ini, tetapi beliau urungkan karena belum menemukan waktu dan alasan yang tepat untuk membahasnya. Mungkin saja begitu, itu dugaanku.

Cerpen Karangan: Dessy Rahmatika Munthe
Blog / Facebook: dessy rahmatika munthe

Cerpen Prasangka Ayah merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Nafas Nafas Pilihan Takdir

Oleh:
Sesosok sakit berdiri dan datang padaku dengan menampakkan mata merah membara, berwajah cemberut laksana mendung hitam di langit yang hendak jatuh menimpa bumi, cakar-cakarnya tajam mencengkram jasadku yang rapuh,

Apa ini Dari Nya?

Oleh:
Malam pekat dengan deru angin yang mecekam. Mendidih dalam dingin. Berdiri dalam sederet bulu tubuh yang mencekar. Merasuk dalam tulang. Menerobos gerbang hati. Mengetuk dalam getaran jiwa tuk bangun

Bulan dan Ramadhan

Oleh:
Hari sudah mulai gelap, adzan magrib beberapa menit lagi akan berkumandang. Ramadhan kali ini terasa aneh bagi Bulan, gadis yang baru saja lulus SMA itu merasa sepi di tengah

Hijabmu Mahkotamu

Oleh:
Rinai hujan yang memusimkan di bulan November seakan akan awan menangis dan langit pun menyelimuti Zaman kini telah berbeda, dimana masa yang banyak dipengaruhi oleh budaya asing. Seolah-olah manusia

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *