Pribadi Lebih Baik

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Motivasi
Lolos moderasi pada: 12 May 2013

Bunda dan Ayah sedang berbicara serius tentang diriku, mereka berdua sepakat untuk memasukkanku ke Asrama Muslimah, asrama ini adalah asrama khusus Muslimah. Aku masih sangat bingung, memang, ini kesalahanku sendiri. Aku masih jarang Shalat dan Mengaji, padahal umurku sudah 11 tahun. Sekarang, Aku hanya bisa pasrah saja, Aku juga ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Bunda, Ayah… baiklah, Aku bersedia untuk masuk ke Asrama Muslimah, Tyra ingin mencoba berubah,” ujarku pada saat kami sarapan.
“Benarkah? Kamu sudah setuju?” tanya Bunda yang langsung mengalihkan perhatian dari sarapan paginya.
“Ya… Aku setuju,” jawabku.

Pagi itu pun Aku jalani dengan mengemas barang-barangku yang akan di bawa ke asrama. Setelah beberapa pakaian dan alat-alatku yang kuperlukan telah masuk ke dalam koper berukuran sedang milikku, Aku dan kedua orang tuaku beserta adikku segera makan siang bersama.
“Tyra… kamu sudah bersiap-siap kan?” tanya Ayah, Aku mengangguk.
“Baju lengan panjang dan bukan celana ketat kan?” tanya adikku, Tara.
“Iyalah…” jawabku sedikit jengkel.
“Sudah… ayo kita langsung makan! Tyra, kamu kan mau beli jilbab dan alat tulis lainnya kan?” ujar Ibu, Aku dan Tara langsung diam, lalu kami semua segera makan siang dengan cukup lahap.

Setelah makan siangku habis, Aku segera memakai sepatuku dan menunggu Ayah di dalam mobil. Tak lama kemudian, Ayah pun datang.
“Sudah siap?” tanya Ayah.
“Sudah” jawabku singkat. Setelah membaca doa, kami berdua segera menuju Mall terdekat dari rumah kami.
Di tengah perjalanan, Ayah bercerita kepadaku tentang Asrama Muslimah yang akan menjadi tempat tinggalku yang kedua.
“Jadi Yah, kita harus disiplin setiap hari?” tanyaku, Ayah hanya mengangguk tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan yang lancar.

Perjalananku menuju Mall bersama Ayah sudah terlewati. Kami berdua sudah sampai di Mall tersebut, sekarang, kami sedang menuju butik Muslim langganan Bunda. Rencananya, kami akan membeli jilbab dan beberapa aksesori jilbab untukku nanti, mulai lusa, Aku akan menjadi seorang Muslimah yang akan menjadi pribadi yang lebih baik.
“Tyra, kamu mau ditemani Ayah, atau Ayah tunggu di sini saja?” tanya Ayah sesampainya kami di depan butik Girls.
“Hmmm… Aku sendiri saja deh, Yah!” jawabku.
“Baiklah… silahkan” ujar Ayah, Aku hanya tersenyum lalu beranjak menuju ke dalam butik. Setelah masuk ke dalam, Aku mencari bagian jilbab.
“Hmmm… warna jilbab yang ini… kan sama dengan bajuku!” ujarku ketika melihat sebuah jilbab berwarna biru muda dengan hiasan bunga di ujung jilbab tersebut. Aku pun memilih jilbab itu, dan itu adalah jilbab yang pertama kali ku pilih. Untuk jilbab yang kedua dan seterusnya, Aku memutuskan untuk memilih jilbab dengan banyak warna dan tidak terlalu banyak hiasan.

Setelah cukup banyak jilbab yang Aku pilih dan kurasa cukup, Aku segera beranjak menuju tempat aksesori. Sesampainya di tempat aksesori, Aku melihat jajaran rak kecil yang berisi berbagai aksesori khusus muslimah. Seperti pin, bross, atau aksesori jilbab lainnya. Aku memutuskan untuk memilih beberapa bross berukuran kecil yang menurutku lucu. Beberapa bross yang Aku pilih antara lain, bross berwarna merah terang berbentuk kupu-kupu, bross berwarna hijau muda dengan bentuk daun dan bross berwarna biru dengan bentuk bulat.

Waktu yang kuhabiskan untuk memilih jilbab dan aksesori memang cukup memakan waktu, sampai akhirnya Aku dan Ayahku segera membayar seluruh barang yang Aku beli dan segera beranjak menuju toko buku.
“Yah, kita ke toko buku ini saja!” ujarku sesampainya kami di depan sebuah toko buku yang baru di buka minggu lalu.
“Di sini lengkap?” tanya Ayah memastikan.
“Tentu!” jawabku. Ayah pun mengangguk tanda setuju, lalu, Aku dipersilahkan kembali untuk memilih alat tulis yang akan sangat kubutuhkan di asrama nanti.
Aku memilih beberapa pak buku tulis, pulpen, pensil, penghapus serta penggaris. Serta beberapa alat tulis yang kubutuhkan lainnya. Setelah Aku memilih alat tulis, Ayah segera membayar seluruh barang tersebut. Setelah selesai, kami berdua segera pulang menuju rumah.

Di sepanjang perjalanan pulang kali ini, Aku mulai menyadari betapa pentingnya berubah menjadi pribadi yang lebih baik. Bagaimana bisa Aku menolak untuk berubah jika itu demi kebaikanku sendiri. Mulai saat ini, Aku meyakinkan dalam diriku, terutama hati kecilku untuk berubah, berubah menjadi seorang yang lebih baik.
“Sayang… kita sudah sampai, ayo bangun…” ujar Ayah yang ternyata berusaha membangunkanku. Aku baru sadar bahwa Aku tertidur. Dengan segera, Aku bangun dari tidurku dan segera keluar dari mobil.
“Ayah… terima kasih ya, sudah mengantarku membeli alat-alat yang kubutuhkan…” ujarku ketika keluar dari mobil.
“Iya, sama-sama…” jawab Ayah seraya menampilkan senyumannya. Aku membalas senyumnya, lalu ia pun beranjak menuju ke dalam rumah. Setelah Ayah masuk, Aku segera beranjak menuju kamarku.

Sesampainya di kamar, Aku segera memasukkan barang-barang yang baru ku beli ke dalam koperku. Setelah sudah, Aku memutuskan untuk membuka laptopku. Aku melihat-lihat diaryku yang rutin ku tulis setiap hari, namun sejak sebulan terakhir ini, Aku jarang mengisi diaryku. Beberapa saat, Aku tertawa membaca tulisanku yang terlihat lucu atau malah sangat tidak masuk akal. Banyak sekali keluh kesahku di sana, dari mulai Aku sebal dengan adikku sampai saat Aku kagum dengan seseorang.
Setelah Aku merasa cukup puas membaca tulisan-tulisanku, Aku menutup kembali laptop dan segera memasukkannya ke tempatnya kembali, rencananya, laptop ini akan ku bawa ke asrama.

Hari demi hari berlalu, tak terasa sekarang Aku sudah berada di asrama baruku. Aku sudah mulai masuk di sini dari kemarin, Aku sudah mulai terbiasa dengan tata tertib dan kedisiplinan di asrama. Aku juga sudah memiliki cukup banyak teman, hampir semuanya sama sepertiku, ingin menjadi pribadi yang lebih baik lagi.
“Mira, apa kamu sudah merasa menjadi pribadi yang baik?” tanyaku saat jam bebas.
“Hmmm… Aku belum tahu, biar tuhan yang menilai. Lagi pula, kita sebagai manusia pasti selalu berbuat salah dan selalu ingin menjadi yang lebih baik lagi,” jawab Mira, Aku hanya mengangguk tanda setuju. Lalu, Aku dan Mira pun berencana untuk menuju ke perpustakaan yang berada di asrama. Perpustakaan di asrama ini adalah salah satu tempat favoritku di sini. Di perpustakaan ini, Aku sangat senang membaca cerita tentang para istri Nabi Muhammad SAW. Aku juga banyak belajar tentang cara menjadi pribadi yang lebih baik. Yang pasti… siap atau tidak siap kita menjadi seorang muslim sejati, kita harus menjadi sosok yang baik, lebih baik, dan akan terus menjadi baik.

Soal pribadi yang baik, kita memang tidak pernah bisa menilainya. Terkadang, kita berbuat dosa tanpa kita sengaja. Terkadang, kita menyakiti hati orang lain tanpa di sengaja. Oleh karena itu, teruslah berusaha untuk menjadi pribadi yang baik dan… lebih baik.

Cerpen Karangan: Fadillah Amalia

Cerpen Pribadi Lebih Baik merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Semua Karenamu

Oleh:
Semua hari-hari yang kulalui kini terasa sangat berbeda dari masa kanak-kanakku dulu. Sekarang aku telah beranjak remaja. Aku tinggal dengan keluarga yang lumayan kental akan agama Islam. Ya… sejak

The Competition

Oleh:
Sella menutup pintu kamarnya secara perlahan. ia pun menaruh tas dan merebahkan tubuhnya di atas kasur. ia mencoba memejamkan mata untuk membayangkan kembali kejadian hari ini. dimana dirinya teringat

Semua Karena Nayla (Part 1)

Oleh:
Mas Amran berubah. Itulah sebuah kesimpulan pendek setelah seminggu ini kuperhatikan ada banyak perubahan dari diri suamiku. Sikapnya menjadi pendiam dan berbagai kejanggalan muncul disetiap gerak-geriknya. Sosok Mas Amran

Nafas Nafas Pilihan Takdir

Oleh:
Sesosok sakit berdiri dan datang padaku dengan menampakkan mata merah membara, berwajah cemberut laksana mendung hitam di langit yang hendak jatuh menimpa bumi, cakar-cakarnya tajam mencengkram jasadku yang rapuh,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *