Pumba

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 31 August 2016

“Wooooo! Tumben banget lo, Fel?,” tanya Riska dengan menyalami Felly seperti biasanya.
“Sejak kapan lo jadi hijabers dengan gaun kayak begitu, hah?!,” tanya Billy.
“Kalau bukan karena aturan sekolah mah… gue nggak bakalan pakai beginian!,” ucap Felly dengan melihat dirinya di depan cermin almari yang terletak di dalam kelas.
“Gue nggak bisa bayangin kalau kita tampil band dengan pakaian kayak begini, hahahah!,” gelak tawa Bram memenuhi ruangan kelas.
“Nggak bakalan jadi manggung mah gue! Ngerocker nggak pates. Nada keras, nggak pantes. Melow, ih ogah deh gue. Bikin ‘baper’ tahu!,” ucap Felly dengan mengerutkan hidungnya.

Saat semua anak-anak asik dengan obrolan masing-masing, lagi-lagi Felly mendapatkan panggilan dari ketua OSIS untuk datang ke ruangan OSIS. Sehingga, mau tidak mau Felly datang ke sana dengan gaun hitam putihnya. Terlihat begitu anggun. Tapi, tidak nyaman dipakai oleh Felly.
“Putri Muslimah dari kelasmu kemana?,” tanya ketua OSIS.
“Loh, bukannya kemarin sudah konfirmasi ke pihak OSIS kalau dia ikutan?”
“Iya, tapi sampai sekarang nggak ada. Acara akan dimulai 15 menit lagi! Kan sudah diumumkan waktu TM.”
“Bagaimana kalau kamu saja?! Kamu sebagai ketua kelas harus bertanggung jawab dengan kelengahan anggotamu. Kalau tidak, kelasmu akan mendapatkan hukuman.”
“Iya tapi…,” kata Felly terputus saat ponselnya berbunyi.
Felly memberikan isyarat kepada ketua OSIS bahwa ia mau mengangkat teleponnya dan ketua OSIS mengijinkan akan hal itu.

“Ada apaan Bram?”
“Nadia nggak masuk hari ini, Fel. Jadi, pumbanya kosong. Kita harus cari gantinya. Secepatnya, lo kembali deh ke kelas. Cari kandidatnya!,” ucap Bram.
Felly kembali menghembuskan nafas beratnya. Dengan langkah cepat, ia kembali ke kelas. Selama perjalanan menuju kelas, ia membayangkan wajah teman-temannya yang pantas untuk menjadi kandidat pumba.

Seampainya di kelas, Felly memberikan intruksi untuk memberikan saran atas kandidat-kandidat yang pantas untuk mengikuti pumba. Namun, tidak seorangpun bersedia akan hal tersebut. Bagaimana tidak? Mereka takut dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan dilontarkan oleh para juri mengenai event dan tema yang sesuai dengan rencana. Maulid Nabi Muhammad. SAW.
“Ayo guys! Waktu kita nggak banyak. Kita hanya diberikan waktu 15 menit oleh pihak OSIS!,” seru Felly.
Kelas hanya bisa hening tanpa ada jawaban. Hingga akhirnya, Bram memutuskan sesuatu sebagai wakil kelas.
“Gimana kalau lu aja, Fel yang turun tangan! Kita udah nggak ada pilihan lain lagi selain tekad. Toh, menang enggaknya apa kata nanti. Yang penting kita berpartisipasi dan juga mendapatkan pengalaman akan hal tersebut.”
“Betul tuh, Fel!,” seru teman-teman sekelas yang saling bersahutan.
Lagi-lagi, Felly harus menghembuskan nafas beratnya. Menanggapi berbagai persetujuan dari berbagai pihak.
“Lagipula, body lo juga nggak jelek-jelek amat. Yah… standart lah! Tinggi juga memenuhi Fel. Kan tinggi lo sama kayak Nadia!,” seru Rendy.
Felly hanya terdiam mendengarkan ocehan teman-temannya yang berkicau disana-sini tentang persetujuan akan hadirnya Felly sebagai putri muslimah. Felly pun menyetujui keputusan bersama kelasnya. Bahkan, ada salu satu temannya yang siap memake-up Felly.
Dan juga, ada yang siap membantu Felly mengenakan hijab dengan model terbaru. Mereka semua bekerja sama. Sedangkan Bram sebagai wakil, ia pergi menemui ketua OSIS untuk konfirmasi tentang kehadiran Felly yang agak terlambat. Sehingga, Felly mendapatkan nomor urut terakhir.

“Gimana? Udah siap lo jalan pake beginian?,” tanya Riska saat mereka berjalan menuju auditorium sekolah.
“Semoga aja begitu. Yah.. mungkin ini bakalan jadi pengalaman pertama bagi gue berjalan di atas panggung mengunakan gaun. Lo tahu kan, gue nggak pernah berhadapan dengan kamera menggunakan gaun?!,” nyata Felly dengan melirih memastikan ke arah Riska yang tengah asik mendengarkan ocehnya.
“Fighting!,” seru Riska dang teman-teman lainnya saat Felly telah memasuki antrian panggung.

Peserta pumba diharuskan berjalan di atas karpet merah layaknya seorang Miss Universe yang tengah naik daun. Setelah itu, barulah menjawab pertanyaan dari beberapa juri yang mengajukan pertanyaan sesuai dengan teman yang ada. Ada pun jika meloncat tatapi masih dalam satu ruang lingkup. Maka, akan membeerikan nilai tersendiri bagi peserta.
“Lo bisa jawab pertanyaan itu darimana, Fel? Padahl kan, lo nggak sempat baca materinya sama sekali?!,” tanya Billy saat acara telah usai dan tinggal menungg pengumuman.
“Gue juga nggak tahu dapet jawaban dari mana tentang pertanyaan itu. Padahal, prinsip hidup gue itu, cewek harus bekerja keras selayaknya laki-laki meski mereka tak mampu sama seperti laki-laki. Tapi nyatanya, gue malah jawab kalau cewek nggak boleh menghilangkan kewajibannya sebagai seorang wanita meski berkarir. Padahal, gue juga masih belum yakin apakah gue akan seperti itu. Dan itu pun juga bukan planning gue ke depannya,” jawab Felly panjang lebar.
“Hahahaha! Gue juga nggak nyangka kalau lo bakalan jawab begituan. Felly Anggi Wiraatmaja jadi Ibu rumah tangga. Masak, ngurusin anak sama suami? Buset nggak tahu deh lo buang kemana tuh gitar?! Hahahaha,” tawa Bram.
“Felly pengumuman tuh!,” ucap Riska saat ia mendengar bahwa seluruh peserta pumba harus berkumpul.

Saat seluruh pumba berdiri bejejer sesuai dengan urutan masing-masing, barulah pengumuman para juara diumumkan. Sesuai dengan dugaan, Felly mendapatkan juara. Meskipun, bukan juara 1. Maklumlah, cewek hijabers sedikit tomboy kayak Felly masuk juara udah jadi pemecah rekor bagi band pro techno. Mengingat, walaupun Felly seorang model, ia baru pertama kalinya latihan menjadi Miss Universe.

“Lo menang, Fel?!,” tanya Bram tak menyangka.
“Moga aja ya, tuh jawaban bisa jadi doa. Kasian juga anak suami lo kalau prinsip dan planning hidup lo kayak begini terus,” lanjut Billy.
“Felly! Selamat ya! Tadi, anak-anak juga nitip terimakasih. Berkat lo, kelas kita dapet juara dan bakalan masuk ke majalah sekolah edisi tahun ini,” ucap Rendy menyalami.
“Ohhhhh gitu, ok deh thank you banget ya…”
“Sip! Gue duluan, ya?! Soalnya ada yang harus gue urus. Assalamualaikum!,” kata Rendy dengan meninggalkan Felly, Bram, Billy dan juga Riska.
“Felly! Bisa bicara sebentar?!,” tanya ketua OSIS.
“Eh Kak Arka, ada apaan Kak?,” tanya Felly.
“Jadi gini, semua juara akan diwawancarai oleh pihak Jurnalistik. Karena, para juara akan masuk ke dalam majalah. Kamu kan masuk tuh, ikut saya sekarang! Tadi, saya cari-cari kamu nggak ketemu-ketemu. Tahu-tahunya, ada di sini!”
“Oh gitu… Maaf Kak kalau ak udah buat kakak bingung 7 keliling. Hehehe,” ucap Felly nyengir.
“Kalian, saya pinjem Felly bentar ya…,” ucap Arka kepada Bram, Billy, dan Riska.
Mereka hanya bisa mengangguk menyetujui selama itu berdampak positif bagi sahabatnya.

Wawancara pun dimulai dari juara 3. Sehingga, Felly harus menunggu juara 3 selesai. Mengingat, ia mendapatkan gelar sebagai juara 2. Dan, saat itu telah tiba.
“Apakah motivasi anda saat anda hars memberikan ajwaban tersebt kepada juri?”
“Cinta,” jawab Felly singkat.
“Cinta?!,” tanya pewawancara keheranan.
“Cinta tidak harus dengan kekasih saja. Meskipun, kasat mata cinta seakan ada hanya untuk seorang kekasih. Ada pula yang memahami bahwa cinta tak hanya untuk kekasih. Akan tetapi, mereka hanya bisa mengucapkan lafal itu dari bibirnya. Bukan dengan hatinya.”
“Apa benar sebelum mengikuti pumba ini, anda tidak sempat membaca materi yang sudah disodorkan oleh pihak panitia?”
“Ya itu benar.”
“Lantas, bagaimana trik anda bisa menjawab dengan lancar seperti tadi?”
“Hati. Saya menggunakan hati.”
“Hati?! Cinta?!,” bisik pewawancara heran. Bagaimana tidak? Hamir seluruh juara mejawabnya dengan cara menghafal, memahami, dan juga yang lainnya. Hanya Felly yang memberikan jawaban yang berbeda dan terlihat kelar dari lingkup permasalahan.
“Yah.. saya menggunakan hati dan cinta. Mengapa? Karena hati dan cinta adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Sama halnya kita encintai seorang kekasih, kita tidak akan menghafal tanggal ulang tahunnya jikalau tanpa adanya cinta. Dan cinta tersebut berasal dari hati.”
“Wow berarti, anda termasuk orang yang beriman?!”
“Tidak! Karena saya masih memiliki dosa. Bagi saya, beriman itu tidak hanya sekedar mempercayai atau mencintai. Melainkan, menindaki suatu perkara yang awalnya kotor menjadi suci.”
“Intinya?”
“Intinya adalah teori dengan teknik menghafal akan bisa terkalahkan dengan hati. Karena, hati tidak akan pernah bisa berbohong meskipun diri sendiri menuntutnya untuk berbohong. Dan apabila kita melakukan apapun dengan penuh cinta, pasti akan terasa begitu membahagiakan dan ada nilai tersendiri sesuai yang saya rasakan selama ini. Yang paling penting adalah, jadilah diri sendiri sebelum kita bisa menjadi diri orang lain. Karena sejelek apapun diri kita sendiri pasti akan ada satu titik keistimewaan yang tersedia di dalamnya. Mengingat, di dunia ini hanya ada makhluk sempurna yang diciptakan oleh Allah.SWT. Yaitu, Nabi Muhammad.SAW,” ucap Felly mengakhiri wawancara tersebut.

Cerpen Karangan: Pratiwi Nur Zamzani
Facebook: Pratiwi Nur Zamzani (Pakai Kerudung Putih)
Nama saya Pratiwi Nur Zamzani. Dapat menghubungi melalui akun facebook saya yaitu Pratiwi Nur Zamzani ( Pakai kerudung putih ) , twiiter @nur_zamzani atau E-mail pratiwinurzamzani[-at-]yahoo.co.id. Dengan no Telepon 085-852-896-207. Dengan alamat, Jl. Rambutan, Pesanggrahan selatan, Bangil, Pasuruan. Prestasi yang pernah saya raih adalah juara 3 Mading, puisi dan cerpen pernah diterbitkan di majalah SPEKTRUM dan berbagai buku antologi. Antara lain adalah, Menjembut Ridhomu, Sapa malam teriak rindu, Dream Wings, dll.

Cerpen Pumba merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

WhatsApp


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Because of You (Part 2)

Oleh:
“Noval juga. Tapi kok teknologi pangan? Mau jadi dosen?” Dia terkekeh geli lagi. “Soalnya, aku benci sama negara ini yang nggak bisa manfaatin sumber dayanya.” “Nggak bo-leh ben-ci,” aku

Playboy

Oleh:
Siang ini begitu terik. Matahari menyengat kulitku tanpa ampun. Sedari tadi aku mengusap keringat yang menetes di dahiku dengan dasi sekolahku. “Angkotnya pada ke mana sih? Sepi banget,” gumamku

Nggak Segalak Yang Kau Kira (Part 1)

Oleh:
Pagi itu seorang gadis sedang menyalakan. motornya dengan kecepatan tinggi. Dengan memakai seragam putih biru dan juga tas ransel yang dipakainya. Hujan yang turun tadi malam masih menyisakan genangan

Istimewanya Kota Hujan, Kamu

Oleh:
Aku berjalan santai di sebuah kedai kopi dekat sekolah, seolah tak terjadi apa-apa barusan. Mataku memandang sekeliling, berusaha mencari tempat duduk ternyaman, hingga kakiku tertarik untuk duduk di kursi

Sahabat Hingga Ke Surga

Oleh:
Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar jelas mengalun alun seolah mereka sedang asyik menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang mampu menyihir para pendengarnya sehingga mereka tertidur dengan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

One response to “Pumba”

  1. Fiana says:

    aku wa boleh, kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *