Raket Ajaib

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Fantasi (Fiksi), Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 1 July 2016

Pada suatu hari, ada seorang anak laki-laki bernama Surya. Ia bersekolah di SMPN Karta dan duduk di kelas 8. Ia mahir berolahraga dan pintar pelajaran Agama Islam. Olahraga favoritnya adalah Bulutangkis. Surya mempunyai seorang teman yang membencinya bernama Adiman. Surya dan Adiman sama-sama pintar namun olahraga Bulutangkis, Adiman mencoba menyaingi Surya.

“Sudah jam olahraga, asyik.. materinya bulutangkis!” gembira Surya. “Cie yang mahir bulutangkis!” goda sahabatnya, Raqim. “Aku bukan mahir, tapi aku memang senang bulutangkis!” ungkap Surya. “Ah bohong!” jawab Raqim sambil menjulurkan lidah yang membuat Surya kesal. Di lapangan, guru olahraga menjelaskan materi bulutangkis lalu mulailah ambil nilai. “Ye.. nilaiku 94!” sombong Adiman sedikit meninggikan suara karena Surya berada di dekatnya. Surya hanya tersenyum. Kini giliran Surya. Ia mengambil nilai bertarung dengan gurunya. Guru melihat teknik pukul dan posisi saat bertanding. “Surya, nilaimu 95!” mendengar itu, Surya bahagia dan teman-teman bertepuk tangan. “Alhamdulillah sahabatku dapat nilai 95!” seru Raqim menepuk bahu sahabatnya. “Kamu juga jago dan mendapat nilai 90. Tetap semangat!” jawab Surya menyemangati Raqim. “Walau nilaiku lebih rendah, aku gak akan menyerah mengalahkanmu!” ujar Adiman di hadapan Surya. Lagi-lagi Surya tersenyum.

Seminggu kemudian, masih mengambil nilai bulutangkis. Kini Adiman nilainya lebih tinggi dibanding Surya. Adiman 88 dan Surya 87. Tapi Surya tak sedih, pasti Surya bisa mendapat nilai lebih baik dari hari ini, pikirnya. Selesai jam olahraga, guru olahraga memanggil Adiman dan Surya. “Kalian selalu mendapat nilai tinggi bidang bulutangkis. Ada lomba bulutangkis tingkat kecamatan. Jika kalian menang, bisa lanjut tingkat kota administrasi!” ungkap guru olahraga. “Jadi maksud bapak ingin menunjukku sebagai wakil sekolah untuk ikut lomba bulutangkis?” tanya Adiman berbinar-binar. “Gak hanya kamu, Surya juga ikut!” jawab guru olahraga yang membuat Surya ikut senang. Mendengar itu, wajah senang Adiman berubah menjadi cemberut. “Lomba dilaksanakan tiga minggu lagi. Pakai waktu sebaik-baiknya untuk latihan dan jaga kesehatan!” pesan guru olahraga. Akhirnya, mereka terpilih untuk lomba bulutangkis tingkat kecamatan.

Surya dan Adiman mendapat dukungan dari teman kelas. “Teman-teman, dukung aku ya. Aku akan membawa bangga sekolah ini!” ucap Adiman yang membuat teman sekelas bersorak-sorak. “Adiman percaya diri banget akan menang. Tentu Surya yang akan menang tingkat kecamatan sampai kota administrasi!” gumam Raqim pada Surya. “Qim, jangan begitu. Allah tidak suka jika ada orang yang menjelek-jelekkan saudara sesama muslim. Do’akan saja kami bisa ikut lomba dengan lancar!” jelas Surya. “Iya sahabatku, aku akan doakan kalian. Semoga Surya menang dan Adiman kalah!” seru Raqim diiringi kesal. “Raqim!!” kesal Surya pada Raqim. “Eh.. maaf!” jawab Raqim tersenyum.

Tiga minggu kemudian, latihan terus menerus dilakukan oleh dua peserta ini dan waktu lomba telah tiba. Lomba diadakan di sekolah mereka sendiri untuk tingkat kecamatan. Surya maupun Adiman tak menyangka akan mendapat lawan yang lebih hebat darinya. “Sur, percayalah, aku pasti menang!” sombong Adiman. “Amiiin!” jawab Surya tersenyum. Akhirnya mereka mulai bertanding dengan sekolah lain beberapa jam dan akhirnya tibalah pengumuman. “Ada tiga juara untuk lomba bulutangkis tingkat kecamatan. Juara tiga, Muhammad Zerqo dari SMPN Zafar. Juara dua, Adiman Hermawan dari SMPN Karta. Siapakah juara 1? Juara 1, Muhammad Surya Musa!” ucap pembawa acara yang membuat ketiga juara senang. Surya bersyukur mendapatkan juara satu. Piala dan piagam diterima olehnya. Keesokkan hari, Surya dan Adiman diberi semangat karena mereka akan beradu tingkat kota administrasi yang akan dilaksanakan dua minggu lagi di sekolah lain.

Tiga hari kemudian, Adiman pulang sekolah dengan jalan kaki. Tiba-tiba sesuatu mengenai kepalanya, “Aduh sakit!” seru Adiman memegang kepalanya. Ia menoleh ke arah bawah. “Raket?” heran Adiman lalu mengambil raket tersebut. “Adiman Hermawan, ini untukmu. Jika kamu memakainya untuk lomba, aku yakin kamu menang. Percaya aku!” baca Adiman ketika menemukan surat yang tertulis pada pegangan raket. “Luar biasa, raket ini untukku? Aku akan mencoba, aku akan meraih juara 1!” sombong Adiman sambil melirik raket yang ia pegang dengan senyuman. Raket ajaib, ungkapnya dalam hati.

Adiman terus latihan dengan raket itu bersama ayahnya dan tak menyangka raket ajaib sangat teliti dengan keadaan kok sehingga tangan dan tubuh Adiman terbawa ke arah kok. Adiman puas dengan raket di tangannya. Dengan raket itu, ia pasti menang melawan peserta lain termasuk mengalahkan juara saingannya, Surya. Di sisi lain, Surya berdoa dan berusaha, “Ya Allah, lancarkanlah lomba kami. Hindarkan aku dan Adiman dari perbuatan curang. Mudahkan kami untuk membawa pulang kemenangan!” doa Surya yang tak lupa mendoakan temannya, Adiman.

Dua minggu kemudian, tibalah hari yang menegangkan. Lomba bulutangkis tingkat kota administrasi dimana lawan lebih susah ditaklukkan dibanding tingkat kecamatan. Surya yang masih latihan di lapangan bulutangkis, namun Adiman hanya menatap licik Surya sambil sesekali melirik raket ajaibnya. “Latih terus tangan dan tubuhmu Sur. Karena aku pasti juara 1!” seru Adiman dalam hati. Akhirnya, tibalah lomba. Surya dan Adiman berlomba memperebutkan piala. Namun menit terakhir, Adiman merasakan hal aneh pada raket yang ia pegang. “Panas!” teriak Adiman lalu melepas raketnya saat bertanding. Lawan Adiman menang dengan perbandingan yang tipis. Skor 15-14. Adiman seketika pingsan lalu dibawa ke tempat istirahat. Surya ikut menemani Adiman.

“Adiman, bangunlah. Ya Allah, sadarkan temanku!” doa Surya. Tak lama, Adiman bangun dengan luka kecil di tangan kanannya. “Dim, tanganmu kenapa?” khawatir Surya. “Kamu gak usah khawatir. Tadi aku tidak apa-apa, hanya kaget saja!” jawab Adiman kesal. “Tapi lukamu?” tanya Surya. “Ah kamu banyak tanya!” kesal Adiman yang membuat Surya diam. “Raket yang aneh. Mengapa saat pertandingan, raketnya panas seperti aku memegang api?” batin Adiman. Surya melihat ke arah raket Adiman. Ia memegangnya, “Ini bukan raket biasa. Raket ini sering dicari orang yang mau instant untuk menang. Namun nyatanya banyak yang gagal untuk meraih juara 1!” jelas Surya sambil memutar raket Adiman. “Sok tahu, itu hanya raket biasa!” bohong Adiman. “Raket biasa? Lihat ini!” seru Surya sambil membaca Al-Fatihah dan surah lainnya. Tiba-tiba keluar seorang laki-laki berpenampilan jin. “Kau mengeluarkanku? Keterlaluan!” marah jin pada Surya. “Mengapa kau ada di raket ini? Kau mencelakakan temanku!” balas Surya marah. “Aku ingin menyesatkan orang-orang dengan raket itu. Menyesatkan bahwa orang-orang bisa mendapatkan instant dengan sebuah benda. Jadi mereka tidak berdoa dan berusaha untuk bertanding, tapi memercayai sebuah benda. Mereka tidak memercayai Allah!” licik jin membuat Surya dan Adiman kaget. “Ini gak bisa dibiarkan. Masuklah kau ke dalam raket ini!” pinta Surya dan sekejap, jin masuk ke raket. Surya keluar dari tempat istirahat Adiman.

“Pak, terjadi kecurangan peserta!” ucap Surya pada juri. Ia melakukan hal sama pada raket itu dan jin keluar kembali yang membuat juri panik. “Pak, jangan panik. Salah satu peserta memakai raket ajaib agar mereka menang. Itu salah satu kecurangan pak!” kata Surya. Akhirnya Adiman dikurangi nilai tanding. Surya kembali ke tempat istirahat.

Tibalah pengumuman, “Ada tiga juara lomba bulutangkis tingkat kota administrasi. Juara 3, Adiman Hermawan dari SMPN Karta. Juara 2, Syabil Nabil dari SMPN Jaya. Juara 1, Muhammad Surya Musa dari SMPN Karta!” ungkap pembawa acara. “Pak, kok saya juara 3? Walau saya kalah, setidaknya saya juara 2!” protes Adiman. “Salah satu peserta melaporkan kecuranganmu karena memakai raket ajaib. Ia adalah kawanmu sendiri!” jawab juri. “Ini menyebalkan!” marah Adiman dalam hati. Surya bahagia bisa menghindari kecurangan Adiman untuk meraih juara 1 atau 2.

Keesokkan hari, Surya diberi selamat oleh teman-teman karena mendapat juara 1 untuk kedua kalinya. “Surya, kau hebat!” puji Raqim. “Aku biasa saja. Masih ada yang lebih hebat dariku!” jawab Surya, rendah diri. Tiba-tiba, Adiman datang dan menyuruh Surya menemaninya ke toilet. Surya mengikutinya, namun bukan ke toilet, tapi ke taman sekolah. “Surya, selamat kamu juara 1!” sinis Adiman. “Tapi, aku gak terima kamu melaporkan kecuranganku pada juri. Raket ajaibku itu segalanya untukku. Kenapa kamu melakukan itu?” tanya Adiman di hadapan Surya dan ingin memukul musuh di depannya namun Surya menahannya. “Adiman, kau tak tahu bahwa curang itu perbuatan tercela dan tidak disukai Allah? Lebih baik kau juara 3 tapi jujur, dibanding juara 2 atau 1 tapi curang. Kamu bisa senang di dunia, tapi di akhirat kau dapat azab karena kau curang!” jawab Surya memegang bahu Adiman untuk menahan Adiman memukulnya. Adiman terduduk di rerumputan, “Aku gak peduli. Kenapa aku gak bisa sehebat kamu?” kesal Adiman tanpa disadari air matanya menetes. Surya duduk menatap temannya, “Kau hebat Dim. Kau mendapat nilai tinggi Bulutangkis. Kau bisa bermain catur, kau jago Matematika. Kau pemimpin upacara dengan suara terkeras. Kau tidak menyadari semua itu? Kamu harusnya bersyukur Adiman!” jelas Surya. Dalam kesedihan Adiman, ia memeluk Surya yang dianggap musuhnya. “Sur, kau benar. Aku hanya ingin mendapat instant saja. Aku sampai tidak menyadari kalau aku banyak kelebihan. Kenapa aku tidak menyadarinya dan iri padamu? Mengapa aku percaya pada raket ajaib? Ya Allah ampuni dosaku!” ucap Adiman dalam dekapan Surya.

“Alhamdulillah kau menyadari kesalahanmu. Aku bangga mempunyai teman sepertimu. Ayolah jangan menangis lagi!” jawab Surya menenangkan Adiman. Adiman mulai menghapus air matanya. “Sur, kamu mau jadi sahabatku?” tanya Adiman yang disambut anggukkan Surya. Akhirnya mereka bersahabat yang diawali dengan bulutangkis dan raket ajaib.

Selesai

Cerpen Karangan: Salma Sakhira Zahra
Facebook: Salma Zahra

Cerpen Raket Ajaib merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Bukan Orang Gila

Oleh:
Senja menjelang malam. Di punggung bukit ini mentari bersandar. Bias cahayanya lembut mewarnai langit barat. Sadar atau tidak sadar bias cahaya itu telah mengubah wajah bukit sandaran matahari ini

5 Bulan Menghilang Aku Sendiri

Oleh:
Ku pandangi sebuah rumah yang tak berpenghuni itu dengan tatapan hampa, seharian aku menunggu. Di depan rumah itu, berharap ada seseorang yang membukakan pintu, terkadang aku tertidur di depan

Ku Bacakan Padamu Tujuh Ayat

Oleh:
Cuaca siang ini sangat menyengat. Matahari membakar melelehkan kepala-kepala yang ada di atas mereka. Peluh menghujan, membasahi sekujur tubuh mereka. Dehidrasi yang sekarang mereka rasakan. Lambung-lambung mereka sudah saling

5 Sekawan

Oleh:
Pagi cerah yang ditemani oleh pelangi yang indah, soalnya shubuh tadi hujan jadi ada pelangi deh hehe.. gadis yang berumur 15 tahun ini baru selesai sarapan pagi, pagi ini

Gliese 581g (Part 2)

Oleh:
Tanpa menyelesaikan surat Raffles, aku segera berlari keluar. Kulihat makhluk Gliese 581g tengah dikurung dan dipaksa masuk ke dalam sebuah jeruji besar di sana. Tanganku yang masih menggenggam surat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *