Ramadhan Bersama Bayangan

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Cinta Islami, Cerpen Islami (Religi), Cerpen Ramadhan
Lolos moderasi pada: 19 February 2018

Lantunan ayat suci Al-quran terdengar merdu dari mesjid-mesjid sekitar tempat aku tinggal. Rasanya seperti bulan ramadhan saja. Sebelum waktu berbuka tiba selalu saja ramai oleh lantunan ayat suci al-quran, solawat dan pengajian ibu-ibu komplek.

Sore itu aku baru saja pulang kerja. Suara itu membuat aku terus terhanyut dalam perjalanan panjang menuju kostan. Rasanya tak ingin cepat-cepat sampai. Aku telah terhipnotis dengan suara itu, suara yang lebih indah dari puisi, lebih indah dari syair para pujangga, lebih menyentuh dari lagu-lagu anak remaja zaman sekarang. “jadi rindu ramadhan”, gumamku di dalam hati.

Kurebahkan tubuh yang mulai runtuh ini. lelah rasanya setelah bekerja seharian. Tapi rasa lelah itu terbayar dengan rasa rindu yang menggebu kepada bulan itu. Bulan yang sangat dinanti-nantikan. Apalagi kalau bukan Syahru Ramadhan. Aku raih handphone yang tergelatak bersamaan denganku. Kubuka pesan WhatsApp yang telah tertumpuk sampai 36 pesan. Tapi tangan ini bergegas membuka salah satu grup yang bertuliskan nama Bi Gi. Kutuliskan hurup demi hurup hingga tersusun menjadi kata, dan kata demi kata yang tersusun menjadi sebuah kalimat. “Rindu Ramadhan”.

Tak hanya berhenti disana, teman-teman sejawat pun ikut berkomentar. Mengingat masa-masa ketika nyantri di Cendikia. Mereka adalah teman seperjuanganku yang menemaniku dua kali bulan ramadhan di asrama. Aahhh terlalu indah jika aku harus melupakan mereka dan dia. Dia? Yaa Siapa lagi kalau bukan bulan Ramadhan.

Bibirku tersenyum manis membaca kalimat demi kalimat yang muncul di layar yang hanya berukuran beberapa cm. Masih saja dengan mereka yang dulu. Bercanda tawa walaupun via WhatsApp, tapi indahnya luar biasa. Rindu yang menggebu bisa tersalurkan walaupun tak beujung temu. Mudah-mudahan suatu hari nanti Alloh mempertemukan kita kembali di tempat yang lebih indah. Kalau tidak di dunia, ya di mana lagi kalau bukan di akhirat. Kenapa tidak?

Saat ini aku tidak lagi muda. Tidak sama halnya dengan 3 tahun yang lalu ketika aku masih unyu-unyu alias cute. Hehehe. Masih polos, masih belum ngerti apa-apa. Tahun ini aku sedang bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak di bidang peternakan. Usiaku menginjak 19 tahun tepat pada bulan Oktober tahun 2016 lalu. Senang sekali rasanya walaupun pada hakikatnya usiaku berkurang. Tapi, aku sangat bersyukur masih diberikan nikmat kehidupan sampai saat ini.

Kunikmati sayup-sayup bacaan Alqur’an itu sampai tak terasa mataku terpejam seakan terhipnotis. Nikmat sekali..
Kubuka kembali mata ini perlahan sambil kuingat kembali sesuatu yang telah menjadi bayang-bayangku selama ini. sesuatu yang selalu mengusik hati dan pikiran. Yaa aku selalu teringat kala teman-teman seangkatanku bertanya perihal ‘pacar’. Apalagi kalau bukan itu. Mereka yang sampai saat ini langgeng alias awet bersama pasangannya masing-masing. Aku hanya bisa membalas dengan senyum yang merekah. Senyuman yang menandakan bahwa aku masih bisa tanpa seseorang yang spesial layaknya teman-temanku yang berpasang-pasangan. Artinya aku masih ingin sendiri. Aku ingin sibuk dengan hal-hal yang lebih bermanfaat tanpa seseorang.

Pikiranku selalu terarah kepada masa depan nantinya. Terkadang ketika hati berkecamuk dengan ego yang tinggi, pikiranku selalu buntu, hatiku selalu mudah terkalahkan dengan rayuan syetan yang tiada hentinya memanfaatkan kelemahanku, aku selalu berpikiran bahwa bagaimana jika aku mengakhiri masa lajangku? Atau aku ingin segera menikah dengan seseorang yang mampu menerimaku apa adanya, aku ingin bebas melakukan apapun tanpa sendiri melainkan ditemani seseorang, dan seabreg pikiran lain yang menurutku bisa terlaksana begitu saja. Tetapi berkali-kali, lagi dan lagi aku mampu berpikir panjang bahwa itu semua hanya keinginan sesaat yang datangnya dari bisikan syetan. Mungkin pada saat itu aku hanya memikirkan senangnya saja tanpa ingin tau susahnya melakukan itu semua. Sesekali mengingat keinginan itu aku hanya bisa tersenyum geli, betapa lucunya diriku menginginkan itu padahal usiaku masih seumur jagung. Tau apa soal itu?.

Aku masih terbaring di dipan. Menatap langit-langit kamar yang berukuran sangat kecil. Cukup untuk aku yang hanya tinggal sendiri, kulipatkan kedua tangan di kepala bagian belakang membentuk bantalan. Aku tersenyum sendiri. Dan aku berbisik pada langit-langit kamar “ ramadhan kali ini aku putuskan masih bersama bayangan”.

Cerpen Karangan: Latifah Nurul Fauziah
Facebook: Ipeh Nurul

Cerpen Ramadhan Bersama Bayangan merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Saat Hati Berbicara

Oleh:
Suasana pagi itu. Di sekolah favorit dan berkelas, terletak di daerah perkotaan. Dengan nuansa elite dan pergaulan yang biasa dipaparkan dalam ruang lingkup perkotaan. Apri, seorang siswa sekolah favorit

A Feeling

Oleh:
Aku yakin rindu ini bukan rindu yang terabaikan, karena aku juga sangat yakin pasti yang dirindu juga merasa. Namun, apakah rindu ini adalah rindu yang dapat terobati dalam waktu

Astaghfiruka Wa Atubu Ilaik

Oleh:
Kesalahan terbesar dalam hidupku adalah ketika aku tahu perbuatanku salah, tetap saja aku lakukan. Kebodohan terbesar dalam hidupku adalah ketika aku mencintai seseorang melebihi cintaku kepada-NYA maka kecewalah yang

Sang Penyesat

Oleh:
Matahari terasa terik sekali siang itu, tiada awan, tiada angin berdesir, hanya panas terik menyengat. Alzi, seorang pemuda pengurus mesjid di kampungnya, tampak sesekali menyeka keringat yang mengucur dari

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *