Renungan di Malam Nifsu Sya’ban

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 2 July 2013

Langit yang awalnya berwarna merah bercampur kuning dan oranye, kini perlahan seakan-akan berubah menjadi warna hitam gelap. Matahari senja yang indah, perlahan terbenam tertutup oleh awan-awan. Bulan purnama terbit sekan menggantikan sang surya, mentari di pagi hingga sore hari.

Udara menjadi dingin. Angin berembus sepoi-sepoi. Gemersiknya gesekkan daun bagaikan alunan-alunan yang indah. “Nida!” panggil Ummi. Angin sepoi-sepoi yang bisa di bilang lumayan kencang membuat jilbab Nida terangin-angin. “Apa, Ummi?” tanya Nida seraya menghampiri Ummi. “sebentar lagi mau adzan maghrib tuh. Ayo jawab adzannya” ajak Ummi. Nida hanya mengangguk dengan senyuman yang penuh makna. Tak lama kemudian, adzan maghrib berkumandang. Ummi dan Nidapun menjawab adzan.

Usai adzan maghrib berkumandang, Ummi dan Nida segera mengambil air wudhu. Selesainya berwudhu, Nida dan Ummi langsung menunaikan ibadah shalat maghrib. Setelah selesai shalat, Ummi dan Nida berdzikir dan juga berdo’a. Ayah sedang di masjid menunaikan malam nifsu sya’ban.

Ummi dan Nidapun selesai shalat. “Ummi, sekarang malam apa sih?” tanya Nida polos. “Ini malam nifsu sya’ban sayang” jawab Ummi ramah. “Waah, Nifsu Sya’ban itu apa?” tanya Nida lagi. “Ooh, malam nifsu Sya’ban adalah malam tepatnya mal kita di ambil dan digantikan yang baru” jelas Ummi. “Terus-terus, apalagi?” tanya Nida. Keinginan tahu Nida memang sangat banyak. “Sayang, kamu masih terlalu kecil. Jadi, mungkin kamu tahu suatu saat kelak” kata Ummi.

Namanya Khairunnisa Syahira Syahda Nuraini Allifah Naurah Annida. Namanya memang terlalu panjang. Namun, di balik namanya itu ada untaian do’a yang suci. Orangnya manis, baik, dan imut. Dia berprestasi di sekolah maupun di luar sekolah. Parasnya cantik. hidungnya mancung dan kulitnya putih. Memang, Nida ini keturunan arab. Sekarang, Nida duduk di bangku kelas dua di Sekolah dasar islam terpadu international islamic school.

“Sayang, kita baca Al-Qur’ann yuk!” ajak Ummi. “oke. Siap, okidoki” jawab Nida seraya mengambil Al-Qur’an. Mereka berdua pun asyik membaca Al-Qur’an. “nah, sudah selesai. Sampai sini kita tilawah nya” kata Ummi. Tilawah itu adalah membaca Al-Qur’an. Sedangkan murojaah adalah hafalan Al-Qur’an.

“Nida Sayang, Ummi mau tanya nih. “Apa yang Nida lakukan untuk malam ini?” tanya Ummi sambil merangkul Nida. “Semua anak-anak bersenang-senang” jawab Nida dengan kepolosannya. “bukan sayang, kita harus merenungkan. Walaupun kamu masih kelas dua sd” kata Ummi mengarahkan.

“Jadi, semalaman suntuk ini kita akan…” kata-kata Ummi terputus. “hmmm… Merenungkan!” sela Nida asal tebak. “ya, seratus untuk Nida tercinta” kata Ummi. “kita harus merenungkan segala kesalahan kita ini” ujar Umm. “Kita ini manusia biasa. Semua manusia tidak luput dari kesalahan” sambung Umm. Nida hanya mengangguk dan tersenyum.

“Nah, sekarang bagaimana cara merenungkan dirimu?” tanya Ummi. “Dengan mengunci pintu di kamar!” jawab nida seadanya. “oke, Nida sayang kamu masuk ke kamarmu dan kuncilah” pinta Ummi. Dengan cekatan, Nida mengarah ke arah kamar tidurnya.

“Hmmm… selama ini aku sering marah sama ummi dan Abi. Tidak selalu mengaku ketika berbuat bohong” gumam Nida menyesal. Entah mengapa, tiba-tiba saja ada ide terbesit di otak memori Nida. Nida tergerak untuk menuliskan puisi. Ini dia puisi sederhana Nida :

Satu per satu, air mata jatuh dari mataku.
Malam ini bagaikan malam penentuan
Amal kita, sudah di tutup. Dan akan diserahkan kepada Allah
Digantikan dengan yang baru
Amal kita yang buruk bagaikan kotoran
amal yang baik bagaikan sucinya Allah
Mulai sekarang kita harus memperbaiki diri
Dari sikap yang berlebihan
Ya Allah, ampunilah dosa-dosaku selama ini
Ampunilah juga dosa-dosa kedua orangtuaku terutama Ibu
Tak lupa, ampunilah dosa kakakku atau pun adik
Ampunilah pula keluarga besar. Maupun kakek, nenek, dan lainnya
ampunilah teman-temanku di rumah, di sekolah, di dunia maya pula
Dan lihat. Orang-orang di luar sana, ampunilah juga dosa-dosanya
Kita tahu, kita manusia biasa. Tidak luput dari kesalahan

Nah, itulah puisinya. lalu, Nida membuka laptop dan mencolokkan modemnya. Tring..! Nida mengetik ‘Facebook’ di kolom yang tersedia. Tak lama kemudian, Nida membuat status di facebook.

Teman-teman, ini dia satus-statusnya!
Ya Alloh ampunilah dosa-dosaku yaaa… teman-teman maafkan aku juga ya.
Lalu, adapun status lainnya seperti:

Malam ini, ya tepatnya hari ini. Mungkin, selama ini aku ada salah dan membuat kalian sebal, kesal, nafsu, dan sebagainya. Walaupun sebenarnya, aku ini manusia yang tidak luput dari kesalahan. Kalian tahu, sekarang malam apa?
Sekarang adalah malam Nifsu Sya’ban. Tepatnya adalah penutupan amal dan digantikan. Aku tahu, jika aku berlebihan, sombong, atau apalah di mata kalian. Tetapi, ini benar! Aku tulus memaafkan kalian. Pada intinya, maaf kan semua kesalahan yang telah aku perbuat ya. Maaf banget! aku sudah maafkan kalian. Mari kita tingkatkan iman kita 🙂

semalam inipun Nida merenungkan di malam nifsu Sya’ban. “Ya Allah, aku cinta Ummi karena Allah” ujar Nida. Satu per satu air mata turun perlahan. Mungkin, inilah renungan di malam nifsu sya’ban

Cerpen Karangan: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Facebook: Muhammad Rafid Nadhif Rizqullah
Blog: www.halamanrafid.blogspot.com
Assalamulaikum, setelah selesai baca ini mohon beri kritik dan saran di facebook atau twitter @dhifnadhifrafid yaaa. Baca juga cerpenku ke 14 yang lainnya seperti:

Miss Photo Box
My Schol Activity
Runi
Kenangan di hari Terakhir
Imajinasiku yang Tak Selalu Seindah Pelangi
Istana Tersembunyi part 1
Balon Pengantar Surat
Tabungan Perdamaian
Aku butuh teman bukan musuh
Hari Hari Icha
Ladang Misterius
Penggemar Rahasia
Surat yang Tak Tersampaikan
Garden Party
kalau ini adalah cerpenku yang kelima belas 🙂

Cerpen Renungan di Malam Nifsu Sya’ban merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Kisah Si Raja Usil

Oleh:
Namanya Gagah pratama. seperti namanya, badanya terlihat gagah, tinggi dan berisi. Namun teman temannya lebih suka menjuluki dengan sebutan Gagah si raja usil. Tak heran bila teman teman gagah

Lomba Menulis

Oleh:
Namaku Caca Dewi Safitri. Panggil saja aku Caca. Anak sekolah kelas 5 SD. Aku punya ayah dan kakak tapi ibuku sudah meninggal. Ayahku hanya seorang buruh pabrik sedangkan Yoga,

Kisah Merak yang Sombong

Oleh:
Pada suatu hari, ada seekor merak yang memiliki bulu yang sangat indah. Tapi sayang, ia sangatlah sombong hingga ia hampir tidak punya teman. Semuanya menjauhinya karena ia terlalu sombong

Seragam Kucel Warisan Kakak (Part 1)

Oleh:
Ini adalah hari pertamaku masuk Sekolah Dasar (SD). Ya… berbekal seragam merah putih yang sudah kucel warisan dari kakak pertamaku Wahyu, serta satu buah seragam baru yang dibelikan orangtuaku,

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

4 responses to “Renungan di Malam Nifsu Sya’ban”

  1. Good Fid !!
    Pinter banget bikin cerpennya !!

  2. Annisa Icha says:

    Bagus!
    Aku salut sama kamu karena kamu rajin nulis cerpen. aku meski inginnya nulis cerpen ato novel baru sedikit nulis aja udah males. ;p

  3. Multi Alisa says:

    Bagus,Jd inget kesalahan saya sama umi,,Ini menginspirasi…

  4. Zara Fitria andina rahmi says:

    Bagus banget…jelas alur ceritanya…sebenernya pengen tak simpen ini cerpen..tapi gak tau caranya..pinter banget yang bikin cerpen…mengispirasi…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *