Rhyme In Peace Ibu

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Keluarga, Cerpen Pengorbanan
Lolos moderasi pada: 28 July 2013

Dia terbaring lemah tak berdaya di bilik kecil yang terbuat dari bambu. Dulu dia begitu kuat, tak ada satupun keluhannya tentang kahidupan. Namun kini perempuan separuh baya ini mengalami kenyataan pahit dalam hidupnya. Hidupnya seolah diselimuti kabut hitam nan pekat, seolah tak akan ada lagi mentari bersinar di hari-harinya. Perlahan dia goreskan tinta hitam di kertas putih kosong itu, menuliskan doa dan harapannya tentang kehidupan.
“Terbanglah balonku, sampaikan permintaanku pada Tuhan agar dia mendengarnya”
Perempuan itu selalu menuliskan harapannya yang dia terbangkan bersama balon udara itu setiap tanggal 16 pada setiap bulannya.

“Ibu, apa yang harus aku lakukan untuk membahagiakanmu?”
“Tidak ada sayang, kamu telah merawatku dengan begitu baik. Ibu bangga memiliki anak sepertimu.”
Gadis berparas ayu itu bernama Alinda, dia masih berusia belia. Tak ada hal lain yang dia khawatirkan selain ibunya. Baginya dunianya adalah ibunya.

“Ku dengar ibumu sakit ya nda?”
“Iyah sis, sudah 3 tahun dia menderita diabetes melitus. Penyakit itu mengganggu fungsi organ lainnya. Ibu mengalami komplikasi, matanya tak dapat melihat dengan jelas, kepalanya terasa begitu sakit pada waktu tertentu, dan ada sebagian organ lain yang terendam oleh cairan, hati dan ginjal pun tak berfungsi dengan baik.”
“Astaga, begitu memilukan. Coba bawa ibumu itu ke pengobatan tradisional, tidak jauh di sekitar sini. Semoga bisa membantu menyembuhkan penyakit ibumu.”

Dia langsung bergegas meninggalkan tempat itu, menuju sebuah tempat kecil yang kumuh. Diam-diam dia memperhatikan sosok yang terbaring di sudut ruangan itu. Perempuan itu terlihat sedang menangis. Berusaha menyilet-nyilet urat nadinya.
“Ibu, apa yang sedang kau lakukan? Sabar bu, ibu pasti sembuh. Sore ini aku akan membawa ibu berobat ke pengobatan tradisional, tempatnya tidak jauh dari sini. Lekaslah ibu bersiap! Sebentar lagi kita akan berangkat. Aku sudah menyewa mobil untuk mengantar kita ke tempat itu.”

Avanza silver itu mengantarkan mereka ke tempat tujuan. Jalannya pun cukup terjal dan berliku. Mereka harus menempuh perjalanan selama satu jam, waktu yang cukup lama. Sesampainya disana, seluruh badannya diolesi ramuan. Ramuan itu terlihat sangat panas, dia pun menjerit kesakitan karenanya.

Pagi itu Alinda menemukan sebuah surat di mail box depan rumahnya. Surat itu berisi tentang panggilan untuk melanjutkan study ke Amerika. Namun batinnya bergejolak, seolah kebahagiaannya lenyap ketika dia mengingat ibunya. Dia tidak mungkin meninggalkan ibunya sendiri tak berteman. Dia pun akhirnya berusaha mengubur impiannya itu dan menyembunyikan kabar baik itu dari ibunya.
“Ibu, bagaimana keadaanmu hari ini?”
“Sama saja sayang, tetap seperti biasanya.”
Setelah berobat di pengobatan tradisional itu tak ada pertanda kesembuhan untuknya. Bahkan hari demi hari penyakit itu bertambah parah. Dia hadirkan kesakitan di setiap hembusan nafasnya.

Hatinya terasa diiris sembilu mendengar kenyataan pahit ini. Aliran darahnya pun terasa membeku, detak jantungpun terasa tak berjalan dengan semestinya, pikirannya hanya tertuju padanya. Pada sosok malaikat yang terbaring lemah di ruangan antorium 1. Lagi dan lagi, ibunya dirawat di rumah sakit untuk yang ke 16 kalinya. Sudah 3 tahun ini perempuan separuh baya itu menghabiskan waktunya di tempat memilukan itu. Tempat yang penuh dengan cerita sendu, rantaian cerita hidup yang menyedihkan.

“Apa yang sedang terjadi dok?”
“Ibumu harus diamputasi.”
“Kenapa bisa?”
“Terdapat luka di kakinya, dan itu tak bisa disembuhkan. Diapakan sebenarnya kakinya sampai seperti ini?”
“Seminggu yang lalu saya bawa ibu berobat ke tempat pengobatan tradisional.”
“Mereka telah melakukan mal praktek, ibumu harus diamputasi.”
“Adakah alternatif lain dok?”
“Mungkin hanya salep ini yang dapat bereaksi, semoga bisa menyembuhkan.”

Gadis itu merasakan kepedihan yang mendalam mendengar pernyataan dokter itu. Dia tak memberitahu ibunya tentang vonis dokter tersebut. Hari demi hari dia berusaha untuk terlihat tegar di depan ibunya.
“Ibu, mari kita bernyanyi bersama. Ibu mau nyanyi lagu apa?”
“Boleh, lagu blackout sayang, selalu ada.”
“Dia kini telah pergi jauh terbang tinggi tinggalkanku disini
Tuhan engkau tau aku mencintainya
Dan tak ada yang bisa mengganti dirinya
Tuhan hanya dia yang selalu ada
Dalam anganku dalam benakku”
Lirik lagunya begitu menyayat hati. Mereka bernyanyi sambil menangis. Terlihat raut kebahagiaan di wajah ibunya.
Sore itu kebahagiaan tercipta di ruangan itu.

“Sekarang tanggal berapa?”
“Tanggal 16 bu, kenapa?”
“Tolong terbangkan balon ini bersama surat kecil ini nak.”
“Dimana bu?”
“Di sebuah taman dekat danau.”

Pagi itu alinda bergegas pergi mengabulkan permintaan ibunya. Dia terdiam memandangi air danau yang begitu tenang. Lalu dia bertemu dengan sesosok laki-laki tua disana.
“Ini untukmu.”
Dia memberikan sebuah bingkisan kecil. Lalu pergi menghilang dengan cepat. Bingkisan itu berisi sebuah al-qur’an. Di dalamnya ada sebuah catatan kecil.
“Bacalah al-qur’an ini, insya allah hidupmu akan tenang. Seberat apapun beban yang kamu pikul, allah akan selalu menunjukkan jalan keluarnya.”

Sejak saat itu alinda membaca al-qur’an setiap selesai sholat. Dia titipkan nama ibunya di setiap doanya. Hidupnya terasa lebih tenang dari sebelumnya.

Dia memutuskan untuk keluar mencari udara segar. Sambil duduk menatap anak-anak yang sedang bermain dengan riangnya.
Saat dia memutuskan untuk kembali ke ruangan ibunya, dia melihat ada dua buah sandal di depan ruangan itu. Dia pun berusaha mengamati dari celah kecil jendela ruangan itu. Terlihat ada 2 orang laki-laki disana sedang membicarakan sesuatu dan nampak terlihat serius. Pintu kamar pun terbuka, dia berusaha bersembunyi di balik koran yang dibacanya.
“Apa yang sedang terjadi bu? Siapa mereka?”
“Mereka bilang kamu dapat beasiswa ke amerika, kenapa kamu tidak pernah mengatakannya pada ibu?”
“I…itu.”
“Pergilah nak, masa depanmu harus lebih baik dari ibu.”
“Tapi bu, aku ga bisa meninggalkan ibu sendiri.”
“Ibu merelakan kepergianmu nak.”
Suasanapun menjadi hening seketika saat itu.

“Tidak, ibu tidak mungkin meninggal.”
Alinda terbangun dari mimpi buruknya. Dia berusaha mencubit pipinya, meyakinkan bahwa itu hanya mimpi. Diapun mengamati ibunya dengan baik, dan ibunya terlihat dalam keadaan baik. Jantungnya pun masih berfungsi seperti biasanya. Dan semuanya baik-baik saja.
“Nak, bacakan surat yasin untuk ibu. Ibu ingin mendengar lantunannya.”
Dia membaca satu persatu ayat itu dengan sangat tartil. Suaranya begitu menyejukkan hati.
“Tiiiiittttt.”
Alat pendeteksi detak jantung itu sudah tidak bisa membacanya lagi. Itu artinya ibunya telah tiada.
“Ibu, bangun. Ibu, coba ikuti alinda lailahailallah.”
matanya tertutup untuk selamanya, alinda harus menerima kenyataan pahit itu. Itu bukan mimpi buruk, tapi itu adalah sebuah kenyataan tentang pahitnya kehidupan. Adakalanya seseorang yang sangat didamba pergi untuk selamanya, namun Allah selalu memiliki rencana lain yang sudah dipersiapkan bagi setiap hambanya. Takdirnya akan lebih indah dari yang dibayangkan.
“Selamat jalan ibu, rhyme in peace.”

Cerpen Karangan: Ririn Rianingsih
Facebook: Rienz Meyrizka Gladies

Ririn rianingsih
Kuningan 14 april 1993
Mahasiswi tingkat 3 di IAIN Syekh Nurjati Cirebon

Cerpen Rhyme In Peace Ibu merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Cinta Di Batas Asa

Oleh:
“Apa-apaan kamu ini? Apa kamu sudah gila? Apa kamu sudah tidak bisa mencari pendamping hidup yang lebih baik? Kuliah tidak lulus, eh sekarang minta nikah sama perempuan malam juga!

Tiga Tangga Menuju Pesantren

Oleh:
Beberapa nilai hasil ujian semester lima sudah keluar. Nia begitu antusias menantikannya terlebih lagi hari ini adalah hari terakhir dosen menggungah nilai mahasiswa ke dalam situs yang dapat diakses

Ibuku Malaikatku

Oleh:
Malam itu aku dan temen-temen aku lagi ngadain pesta ulang tahun Rangga pacarku. Semuanya pada happy fun. Di iringi musik DJ yang seru abis dan goyangan yang asoy menambah

Bidadari di Pintu Multazam

Oleh:
Air mata itu tak berhenti. Tenggorokannya kering, hanya suara serak yang keluar dari mulutnya yang menganga. Hampir dua jam tanggannya mengadah menghadap langit-langit Nabawi. Tapi tak satu kata pun

The Muslim, Misteri Manusia Cahaya

Oleh:
Makhluk tersebut terus mendekat, mendekat dan mendekat. Seperti seekor predator yang menginginkan mangsanya. “Tolong” teriak mereka bersamaan. Aisyah dan Rasti gemetaran dan saling memegang tangan satu sama lain. “Ya

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *