Ridhollah Fiy Ridho Al Walidayn

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 6 June 2017

Berawal dari kaki berselimut pantofel. Datang untuk berkarya dan mencapai seni rupa terapan kehidupan berupa kesuksesan. Akhirnya, dipampanglah namaku sebagai salah seorang santri akselerasi Madrasah Aliyah Model Zainul Hasan Genggong.

Tahun ke dua dari perjalananku mengais barokah dan ilmu di Madrasah Aliyah Model Genggong ini mengantarkanku pada beberapa piala yang kini dimusiumkan di balik etalase ruang kepala sekolah itu. Semuanya kuraih dengan tetes peluhku, do’aku, pengajaran asatidz dan asatidzahku, serta do’a guru dan orangtuaku.

Singkat cerita, aku berharap dapat memilih Universitas Negeri Terbaik dengan berbagai sertifikat dan piagamku di bidang Syarhil Qur’an, dan Bahasa Inggris. Aku memanah jurusan HI Fakultas ilmu social dan politik Universitas Negeri Indonesia.

Keberadaanku sebagai santri akselerasi bukanlah suatu masalah bagiku. Sebab, aku memilih jalur SBMPTN untuk itu.
Sejak di SMP dulu, aku memang sedikit banyak tahu tentang Hubungan Internasional. Hingga pada akhirnya, aku menerima secarik kertas pernyataan lulus seleksi dan aku berhak menduduki kursi jurusan HI FISIP Universitas Negeri Indonesia setelah melunasi berbagai administrasi itu.

Namun, pupus sudah semua harapanku selama bertahun tahun itu, bahkan setelah dinyatakan lulus sekalipun.
“Kuliahlah sambil menyantri nak! Di Malang saja, tak usah jauh jauh, abi dan umi ini khawatir. Lagi pula ilmu itu kan tidak tergantung di mana kamu mencarinya, tapi tergantung bagaimana kamu mencarinya nak! abi setuju kalau kamu kuliah jurusan Tafsir hadits di sebuah Universitas berbasis pesantren di Malang sana!”
Sebuah pernyataan yang bagiku sulit kuterima. Tapi, bisakah aku lari dari permintan ayahku itu. Bukankah beliau yang telah mengantarkanku, bahkan sampai pada titik ini.

Akhirnya, di usia yang ke lima belas tahunku itu, aku menjadi seorang Mahasantri di sebuah pesantren besar dengan sebuah universitas swasta di kota apel itu.
Hanya barokah yang kuharap, setelah harapan menjadi seorang mahasiswi jurusan HI kandas begitu saja.

“berbaktilah pada kyai dan bu nyai, insyaallah ilmumu kelak manfaat dan barokah nak..!”
Sepenggal kata Umi yang sampai detik ini masih menjadi pegangan bagiku.
Aku mengabdikan diriku kepada sang kyai. Bahkan, aku ingin tetap mengabdikan diri ini sekalipun status mahasantriku telah kulepas.

Empat tahun telah kujalani. Dalam kurun waktu itu aku telah dibuat jatuh cinta pada tafsir. Bagiku, cinta ini cukup hebat menalah pada lubuk hatiku. Hingga pada saatnya, cinta dan do’a ini pula yang mengantarkanku pada sebuah perguruan tinggi negeri di Arab Saudi di bawah Kementerian Pendidikan Tinggi Arab Saudi yang didirikan pada 1981. Ummul Qura, begitu masyarakat menyebutnya.

Singkat kata, ini adalah tahun kedua sekaligus tahun terakhir bagiku di negeri beriklim gurun ini. Aku akan pulang dengan menyandang titel S2 tafsir hadits.
Bagiku, Allah tidaklah dzolim, dan memang tidak dzolim. Allah akan selalu mengabulkan apa yang hamba Nya minta. Ud’uni istajib lakum. Demikian Allah berfirman.

Segala baktiku di pesantren Malang itu membuat kyai mengenalku sebagai sosok yang anggun pengabdiannya. Dan, inilah jalan yang terbaik mungkin. Putra beliau yang terkenal sebagai sosok jenius lulusan sebuah Universitas negeri terbaik di Jerman jurusan Hubungan Internasional itu dikenalkan kepadaku.

Semua seperti hanyalah skenario drama bagiku. Baktiku selama empat tahun itu mengantarkan kepercayaan yang begitu besar dalam sejarah pengabdian hidupku ini. Kepercayaan itu berupa amanah untuk menjadi seorang isteri dari putra kyaiku itu.

Seperti buah manis yang kini kupetik. Ikut berkecimpung dalam perkembangan pesantren itu dan kini pesantren tersebut diwariskan kepada tangan suamiku. Bukan hal kecil bagiku, saat apa yang selama ini kujadikan alasan sedih Karena harus pupus, dan kini ternyata terkabul untuk jiwa yang berbeda namun hati yang satu.

Menjadi sosok tokoh yang sangan berarti bagi masyarakat, dan kini aku sadar, semua Karena ridho orangtuaku. Ridhollah fiy ridhol walidayn.

Cerpen Karangan: Mujammilatul Halimah
Facebook: Mujammilatul Halimah
Namaku Mujammilatul Halimah. Lahir di Probolinggo, 12 Oktober 2001 dari pasangan yang sangat fanatik terhadap agama yakni Bpk. Muntaha dan Ibu Holliyah. dibesarkan dan berdomisili di lingkungan Pesantren di sebuah desa bernama Kamalkuning kecamatan Krejengan kabupaten Probolinggo Jawa Timur dan tumbuh dengan pendidikan ala pesantren. anak kedua dari lima bersaudara dan kini di usia ke 15 tahun sedang menimba ilmu sebagai santri kelas 12 PDCI (setara dengan program akselerasi) MA Model Zainul Hasan Genggong Probolinggo. hobbinya menulis, makan camilan, dan baca novel kalau suka. merasa punya banyak wawasan baru sejak berkecimpung dalam dunia tulis menulis dan ngarang mengaran. terimakasih penaku 🙂

Cerpen Ridhollah Fiy Ridho Al Walidayn merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Belajar Dari Semut Yang Kecil

Oleh:
Namaku adalah Azmia, aku memang masih kecil tetapi aku peduli akan keadaan alam yang begitu indahnya ini. Waktu itu, aku sedang bermain bersama temanku yang sering memberitahukan kepadaku apa

Dokter Bismillah

Oleh:
Pagi itu mentari indah bersinar di atas langit timur, disambut indahnya segerombolan kabut yang datang dengan tiba-tiba, para petani membawa cangkul dan sapi sapi mereka untuk membajak sawah-sawah mereka,

Jangan Panggil Aku Ustadzah

Oleh:
“Assalaamu ‘alaykum Ustadzah Uswa. Kian hari, kian cantik saja.” Goda seorang pria tambun yang sedang berkumpul bersama teman-temannya di pelataran kampus. Aku menundukkan pandanganku dan mempercepat langkahku. Tak menggubris

Hikmah Dibalik Shalat Tahajud

Oleh:
Cerita ini menggambarkan seorang tokoh yang kesehariaannya sebagai penjual bakso yang sering mangkal di pinggir jalan. Sebut saja Hadi. Hadi kesehariaannya sebagai pedagang bakso karena tujuannya untuk menghidupi keluarganya

Jalan Cinta

Oleh:
“Umi itu ingin kamu segera menikah na, kamu kan tau umi ini sudah sering sakit-sakitan.. umi ingin sepeninggalannya umi nanti kamu sudah ada yang menjaga dan membimbingmu.” Kata-kata itulah

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *