Rina Ingin Belajar: Belajar Bersyukur (Alhamdulillah)

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Anak, Cerpen Islami (Religi)
Lolos moderasi pada: 11 July 2019

Tak terasa, 1 tahun yang terdiri dari 12 bulan itu, telah berlalu. Begitu pula dengan pendidikan Rina di Taman Kanak-kanak (TK), juga Mbak Euis dengan berakhirnya pendidikan Sekolah Dasar (SD). Rina didaftarkan Ummi di SD tempat Mbak Euis dahulu, SDIT Al-Islamiyatullah. Sedang Mbak Euis, dengan nilai yang memuaskan, masuk ke MTsN Istiqomah.

Tak terasa, sudah tiga minggu Rina berada di SD. Dia pun mendapat banyak teman. Dan, proses belajar-mengajar sudah dimulai sejak minggu kedua. Sedangkan Mbak Euis, belum aktif dikarenakan banyaknya lomba dan kegiatan OSIS.

Sepulang sekolah, Mbak Euis saat pulang tidak merasa seperti biasa. Biasa, di depan ambang pintu Rina menyambut dengan ramah. Namun, Rina hanya berbaring telungkup sambil menghitung jari-jari tangannya yang mungil. Di hadapannya, terdapat buku tulis yang berserakan tulisan angka-angka Rina. Mbak Euis segera menghampiri adik bungsu kesayangannya.

“Rina sedang menghitung apa?” tanya Mbak Euis. “Eh, Mbak! Sudah pulang” sambut Rina yang segera mengubah posisinya menjadi duduk. “Ini loh, Mbak… Tadi, Bu Guru mengajar soal rejeki. Rejeki itu dari Allah Swt. Rejeki dari dalam kandungan sampai meninggal. Trus, kata Bu Guru tidak ada yang bisa menghitung rejeki dari Allah Swt. Nah, Rina pengin jadi orang yang pertama menghitung Rejeki dari Allah sampai sekarang. Nah, kan, Rina baru bisa hitung dari 0-10, sehabis angka 10 angka berapa, Mbak?” celoteh Rina paanjaang lebar.

Mbak Euis hanya tertawa renyah. “Adikku yang manis nan polos, tiada ada yang bisa menghitung rejeki dari Allah Swt. Karena, Allah Swt. Memberi kita rejeki yang banyak, dari kandungan sampai meninggal dunia. Bahkan, Albert Einstein, orang paling jenius pun tidak bisa menghitungnya. Coba bayangkan, dari kandungan sampai meninggal, itu membuat semua orang pusing 999, 99 ribu keliling” nasihat panjang Mbak Euis diakhiri dengan sedikit humor. “Begitu, ya, kak” gumam Rina seraya menghadap ke langit-langit. “Jadi, kita tidak bisa menghitungnya, ya… Memangnya kenapa? Kan, Albert Einstein yang Mbak ceritain tadi, pintar. Kok, tidak bisa menghitungnya?” tanya Rina menghadap Mbak Euis. “Dengar, ya, sayang.. Semua manusia memiliki kemampuan yang terbatas. Di dunia ini, hanya Allah yang sempurna. Allah memberikan kita banyak nikmat dan rejeki yang tidak ada satupun yang bisa menghitung, termasuk Albert Einstein. Jadi, kita harus bersyukur dari nikmat Allah Swt.,” lanjut Mbak Euis.

“Bersyukurnya gimana? Seperti Sholat atau puasa?” tanya Rina lagi. “Betul, 100 buat Rina. Kita bersyukur pada Allah Swt. dengan banyak cara. Seperti Sholat, Puasa, Dzikir, maupun berdo’a. Juga, setiap mendapat rejeki kita membaca ‘Alhamdulillah’ yang berarti ‘Segala Puji Bagi Allah’. Kalimat tersebut mengungkapkan rasa syukur pada Allah Swt. atas nikmat yang diberikan.” “Tapi, kalau Abi kerja, Abi mendapat uang dari manusia, bosnya,” celetuk Rina. “Itu perantara dari Allah Swt. Rina, rejeki itu tidak hanya harta. Seperti jodoh, umur, dan sebagainya,” tutup Mbak Euis. “Oh, Rina paham!” seru Rina semangat. Ia ingin belajar bersyukur dengan beribadah dan membaca ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamiin’.

Cerpen Karangan: Alyaniza Nur Adelawina
Facebook: Alya Aniza
maaf gak nyambung. juga pendek. agak gak mood aku nulis, walaupun dah lama gak nulis

Cerpen Rina Ingin Belajar: Belajar Bersyukur (Alhamdulillah) merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


TV Baru

Oleh:
Bili adalah seorang petani setengah tua yang baru menduda 2 minggu terakhir ini. Sekarang ia hanya hidup didampingi oleh anak semata wayangnya yang sudah menginjak usia remaja. Tina, demikianlah

Perusak Persahabatan

Oleh:
Aku sekarang telah duduk di kelas 5 sdit, di kelas 5 wahid Hasyim.. kini Aku tidak sekelas dengan sahabatku, jingga. Namun, aku tetap bersemangat untuk sekolah. Hari ini aku

Lomba Menari

Oleh:
Siang itu, Matahari lumyan sejuk untuk Kara menari dengan sayap warna putih indahnya itu. Kara memang sangat mahir menari apalagi, Kalau menari gerakan kupu kupu. Begitu juga Ibu Kara

Arti Hijabers Sejati

Oleh:
Aliya memandangi sosok yang kini ada di cermin kamarnya, persis berhadapan dengannya. Di sana, di cermin kamar kosnya, terbentuk sebuah siluet wanita yang amat anggun dengan balutan hijab rapat

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *