Saat Hati Berbicara

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Remaja
Lolos moderasi pada: 23 December 2017

Suasana pagi itu. Di sekolah favorit dan berkelas, terletak di daerah perkotaan. Dengan nuansa elite dan pergaulan yang biasa dipaparkan dalam ruang lingkup perkotaan. Apri, seorang siswa sekolah favorit itu, yang berwajah tampan dan bertubuh ideal. Dengan gaya rambut yang rapih, pakaian yang rapih, dan cara berjalannya yang mantap. Membuat Apri sangat berwibawa di mata kawan-kawannya. Bukan hanya itu, Apri merupakan orang yang bijak dan agamis. Ia tegas dalam membela kebenaran dan menolak keburukan atau kemungkaran. Ia sadar, bahwa di sekolah yang berdomisili di kota ini, sangat rentan pergaulannya. Maka dari itu, Apri sangat selektif dalam memilih teman. Memang selama ini Apri bersahabat dengan tiga orang kawannya, yang sangat menghormati dan menghargai Apri. Bahkan apa pun yang dikatakan Apri, tiga sahabatnya ini, mematuhi apa yang dikatakan dan diperintahkan Apri, karena mereka yakin dan percaya terhadap Apri dan mereka yakin Apri adalah orang yang akan membawanya kepada kebaikan, bukan sebaliknya.

Bangun, Caca, dan Salman. Merekalah ketiga kawan Apri. Mereka bersahabat dengan baik, saling tolong menolong, bahu membahu dalam menghadapi persoalan-persoalan yang mereka temui. Mereka semua adalah pria-pria tangguh. Namun akankah di dalam ketangguhannya, mereka mampu bertahan dalam situasi yang kian memburuk? Memang setiap manusia, pasti memiliki titik kejenuhan dalam dirinya, sehingga membuat manusia berupaya agar kejenuhannya dapat teratasi. Apri selalu bisa mengarahkan kejenuhan sahabat-sahabatnya, ke arah yang baik.

Pagi itu kelas masih sepi senyap. Aprilah orang yang memijakkan kaki pertama kali di kelas itu, pada hari itu. Apri duduk di bangku terdepan. Jarum jam menunjukkan jam enam tepat. Apri mulai duduk di bangkunya, dan membuka kitab suci Al-Qur’an kecilnya, yang selalu menemaninya di saku bajunya. Setelah kurang lebih satu halaman ia baca. Datanglah Bangun dengan senyum yang selalu melekat di bibirnya ketika bertemu dengan seorang sahabatnya, sekaligus pemimpin bagi dirinya, yaitu Apri. Mereka pun bersalaman dan bertegur sapa. Kelas pun mulai ramai, murid-murid yang lain, mulai memenuhi ruang kelas ini. Ketika matahari mulai memperjelas keberadaannya, bel masuk sekolah akan berbunyi sekitar sepuluh menit yang akan datang. Saat itulah datang Caca dan Salman secara bersamaan.

“Assalamu’alaikum.” Salam Caca kepada Apri dan Bangun yang memang duduknya bersebelahan.
“Wa’alaikumussalaam.” Jawab Apri dan Bangun serentak.
“Apa kabar wahai kawanku?” tanya Bangun.
“Ya, aku baik-baik saja.” Jawab Caca.

Yang aneh pada hari itu, Salman terlihat acuh terhadap kami, seketika itu Pada dahinya terlihat sebuah kerutan yang memang tidak seperti biasanya, ia melakukan hal itu kepada sahabatnya.

Kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Apri yang menyadari tingkah Salman yang pada saat itu berbeda, membuat apri harus berpikir dan menerka.

“Sebenarnya apa yang terjadi pada Salman? Apakah karena kejadian kemarin?” batin Apri, bertanya-tanya.
“Hei, mengapa kau terlamun?” kejut Bangun kepada Apri.
“Ohhh. Tidak, aku hanya sedang memikirkan sesuatu.” Ujar Apri dengan sedikit terkejut.

Memang di sekolah favorit ini, terdapat keberagaman agama, sikap, latar belakang hidup, pergaulan, karakter, kecerdasan, watak, dan lain sebagainya. Sehingga, banyak orang yang beragama Islam, tapi tidak menunjukkan perilaku yang islami, atau banyak orang bilang, “Islam KTP”. Apri, sebagai orang yang paham betul, tentang Islam, berusaha mengajak sahabatnya menuju Islam yang sejati. Kejadian kemarin yang dialami oleh Salman, adalah ketika jam istirahat, bertepatan dengan waktu Zuhur. Apri, Bangun, Caca, dan Salman hendak pergi ke masjid sekolah. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dengan murid-murid lain, yang memang murid-murid itu adalah temannya Salman. Perlu diketahui bahwa Salman memiliki jaringan kawan yang luas, namun ia lebih memprioritaskan Apri, Bangun, dan Caca. Saat itu Salman di tanya oleh salah satu temannya.

“Man, mau ke mana?” tanya temannya.
“Mau ke masjid, hendak shalat.” Jawab Salman.
“Hahaha, ngapain kamu shalat, ngga ada kerjaan, dan ngga gaul tuh, mending kamu bareng kita-kita aja, nongkrong di kantin. Sangat di sayangkan sekali, waktu istirahat kamu, dibuang sia-sia untuk ke masjid. Mending bareng kita loh, seru.” Ajak temannya.

Pada saat itu Apri menarik lengan Salman agar tidak mengikuti mereka. Dan Apri menimpali ucapan teman-temannya Salman.
“Asal kalian tau. Shalat itu nggak sia-sia. Justru perbuatan kalian yang nongkrong-nongkrong nggak jelas, itu sia-sia!” Ucap Apri.
“Heh, udah nggak usah banyak ceramah. Dasar orang-orang kuper, orang-orang sok alim kalian semua, termasuk kamu juga Salman, sok suci kamu!” Ujar teman Salman, dengan nada menghina.
“Sudah-sudah kawan jangan kita hiraukan, mending langsung ke masjid aja yuk…” Ujar Caca mengajak Apri, Bangun, dan Salman untuk segera pergi ke masjid.

“Apa benar, gara-gara kejadian kemarin, Salman berlaku aneh sekarang?” Apri, bertanya-tanya dalam hati.

Bel istirahat pun berbunyi, seperti biasa, bertepatan dengan waktu shalat Zuhur.

“Ayoo kawan kita berangkat ke masjid!” ajak Bangun. “Tidak, aku tidak mau pergi ke masjid.” Ucap Salman, dengan menolak ajakan Bangun.
“Looh, kenapa?” Tanya Apri.
“Aku muak, berteman denganmu Apri! Aku selalu terhina oleh kawan-kawanku yang lain. Sekarang aku ingin bergabung dengan mereka, dan siapa di antara kalian yang mau ikut denganku? Ca, kau ikut denganku tidak?” Ucap Salman.
Caca memang selalu bersama Salman.
“Hmmm. Ti..tidak, aku lebih memilih bersama Apri dan Bangun.” Jawab Caca kepada Salman.
“Baiklah, jika maumu begitu, aku tidak mengharapkan kalian pula ko.” Timpal Salman, sambil meninggalkan Apri, Bangun, dan Caca.

“Hei. Ada apa denganmu?!” selidik Bangun.
“Sudah. Biarkan dia pergi, beri dia waktu. Kita berdoa saja, semoga Allah Swt memberikannya jalan yang terbaik.” Ujar Apri.

Setelah beberapa hari kemudian. Ketika Apri, Bangun, dan Caca bertemu dengan Salman. Salman selalu mengacuhkan mereka. Apri dan sahabatnya tetap sabar dalam menghadapi kondisi seperti ini. Dan selalu berdo’a kepada Allah agar mereka selalu di berikan petunjuk.

“Adakah di antara kalian berdua yang ingin seperti Salman, karena menyesal berteman denganku?” Apri, dengan tiba-tiba menanyakan hal itu kepada Bangun dan Caca.
“Aku tidak akan meninggalkan kebiasaan baikku, yang telah kau tanam kepadaku selama kita bersama. Jadi aku akan tetap bersamamu.” Jawab Caca.
“Ya, engkau sudah kami anggap sebagai pemimpin kami. Mana mungkin aku mengkhianatimu, kita sudah lama bersahabat. Hal ini hanya ujian kecil, yang mestinya bisa kita lewati dan hadapi dengan mudah.” Jawab Bangun.

Tak lama berselang setelah mereka berbincang-bincang di masjid. Tiba-tiba datanglah Salman dan menghampiri mereka.

“Kawan, maafkan aku.” Pinta Salman, sambil menundukkan wajah.
“Hahahaha, kau kembali. Rupanya doaku terkabul. Sudah pasti kami maafkan ko, iya kan Apri?” tanyan Caca.
“Iya tentu. Syukurlah jika kau mau bergabung kembali bersama kami. Memangnya apa yang menyebabkanmu kembali?” tanya Apri.
“Selama Aku, berteman dengan mereka, dan lebih memilih mencari kesenangan dunia dan meninggalkan sholat, aku selalu merasa gelisah, hati ini tidak bisa tenang. Ketika pulang ke rumah, aku selalu resah dan memikirkan hal itu, seakan-akan ada yang mengganjal dalam hidupku. Lalu aku berpikir. Apa mungkin semua ini atas perilakuku terhadap kalian. Dan memang hatiku selalu mendorongku, untuk kembali bersua bersama kalian.” Jawab Salman, dengan keadaan menyesal.
“Tidak apa. Itu semua sebenarnya adalah panggilan hati dari Allah. Karena Allah masih Sayang kepadamu, jadi ia senantiasa mengingatkanmu kepada kebaikan. Karena kamu sudah terbiasa melakukan hal-hal yang baik. Ketika kamu melakukan hal yang buruk, dengan spontan hatimu akan menolak. Jika seandainya Allah Swt menutup hatimu, Jangan harap bisa merasakan ketertolakan hati dalam melakukan keburukan. Itulah bentuk kasih sayang Allah Swt terhadap hamba-Nya. Dan mengapa aku bilang kepada Bangun dan Caca, agar biarkan Salman pergi. Karena aku yakin. Hati tidak pernah berbohong. Ketika Salman melakukan suatu keburukan, hatinya pasti menolak. Dan yang paling utama, Itu semua tidak lain dan tidak bukan adalah atas kehendak Allah Swt.” Tutur Apri.

The End

Cerpen Karangan: Muhammad Husna Hisaba
Facebook: @Goresan Pena Husna (Facebook)
No Phone: 085860250243

Cerpen Saat Hati Berbicara merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Sekilas

Oleh:
Sejenak ku luangkan waktuku untuk mengulang kembali rutinitas ini lagi. Ya, melukis. Dimulai dari menggoreskan setitik cat hitam pada kuas ini ke kertas kanvas tepat di hadapanku. Perlahan ku

Teman Masa Kecil

Oleh:
Seperti biasa, setiap minggu pagi aku duduk di balkon kamarku sambil menikmati teh hangat buatan Mama tersayang. Ini masih sangat pagi tapi aku sudah bangun dari tidur nyenyakku. Aku

Let Me See Your Smile (Part 4)

Oleh:
Malam yang dingin. Seorang laki-laki berdiri di balkon kamarnya sambil memandang ke luar dengan tatapan mata kosong. Dia adalah Raka. di tangannya terdapat sebuah foto dua anak yang sedang

Putus Cinta 6 Jam

Oleh:
Risky dan Olivia adalah sepasang kekasih yang baru jadian 2 minggu yang lalu. Olivia adalah seorang gadis manis dan cerdas yang telah jatuh cinta kepada seorang laki-laki tampan. Mereka

Cahaya Hati

Oleh:
Pikiranku penuh, hatiku gundah. Ah, seperti biasanya, menyebalkan sekali pagi ini. Namun sayang, alam seolah tidak peduli dengan perasaan hatiku yang sedang kacau. Ia malah asyik bersenang-senang, melukis panorama

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *