Sahabat Hingga Ke Surga

Cerpen Karangan:
Kategori: Cerpen Islami (Religi), Cerpen Persahabatan
Lolos moderasi pada: 27 June 2017

Malam semakin larut suara jangkrik di halaman terdengar jelas mengalun alun seolah mereka sedang asyik menyanyikan sebuah lagu pengantar tidur yang mampu menyihir para pendengarnya sehingga mereka tertidur dengan pulasnya dan hidup dalam buaian sang bunga mimpi masing masing. nyiur angin malam tak mau kalah dengan nyanyian jangkrik yang begitu mendukung untuk menggulungkan tubuh dalam balutan selimut hangat.

Sebuah jam alarm mendadak memecah kebekuan, mengejutkan gadis cantik yang bernama Risa dari buaian bunga mimpi yang dinikmatinya, tangan mendadak tersembul dari balik selimut seraya meraba raba meja, seolah mencari jam alarm nakal yang telah mengusik mimpi indahnya, dengan segera alarm dimatikan, perlahan dia membuka matanya dan melihat ke arah jam.
“sudah pukul 03. 30 pagi”. ucapnya dengan mata yang masih mengantuk.

Tak ingin mengulur ulur waktu, gadis cantik itu langsung bergegas ke kamar mandi untuk mengambil whudu’, “dinginnya…” rintihnya dalam hati, namun, rasa yang dingin itu ia tahankan, karena ia tahu rasa malas untuk berwhudu itu datang dari syaithon musuh nyata manusia. setelah berhasil melawan rasa malas untuk berwudhu’, kini ia ditimpa rasa malas untuk melakukan ibadah rutinnya, sholat tahajjud, “duh, ngantuk banget ni, tapi, aku tak ingin menyia nyiakan kesempatan untuk semakin dekat dengan Allah dan mengadukan segalanya”. ucap Risa dalam hati. ia berjalan dengan pelan menuju lemari dan segera ia memakai mukena kesayangannya dan langsung berdiri di atas sajadah untuk memulai sholatnya dengan niat yang ikhlas karena Allah. dalam sholatnya ada perasaan sejuk, tentram di dalam jiwanya, maka semakin khusyuk pula sholatnya, inilah sebuah kenikmatan yang tiada tara, ketika seorang hamba berkomunikasi dengan Tuhan sang pencipta dirinya, maka kekalutan dan kesedihan itu hilang karena hati telah tenang dan terpaut dengan cintanya.

usai sholat tahajjud, dengan hati penuh pengharapan ampunan dan keridhoan, Risa membaca istighfar dan berdzikir sembari mengingat dosa yang telah ia lakukan, tak terasa air mata gadis itu mengalir membasahi pipinya seraya menadahkan tangannya ke atas dan membacakan do’a pujian untuk Allah dan Rasulnya, serta tak lupa doa ampunan untuk dirinya, orangtuanya, keluarganya, sahabat, guru dan saudara seiman seakidahnya, kemudian dilanjutkan dengan membaca do’a yang biasa dibaca sesudah sholat tahajjud dan kemudian diikuti dengan curahan hatinya kepada sang kekasih tercinta yaitu Allah swt.
“ya Allah, engkaulah yang paling mengetahui diriku dan yang paling mengetahui apa yang terbaik untukku, engkaulah yang membukakan pintu pintu taubat dan pintu hidayahmu, ampuni hambamu ini ya Allah, yang terkadang melupakanmu, melupakan petunjukmu, beri hamba kesabaran, keikhlasan, kemudahan dalam mendapatkan ilmu yang berkah, dan berilah kemudahan bagi hamba dalam melakukan sesuatu yang engkau dan Rasulullah cintai, karena hanya cintamu yang hamba harapkan, ya Allah, jagalah hati ini dari cinta semu yang menjauhkan hamba denganmu, dan berilah hamba kesabaran dalam mengahadapi ujian yang engkau berikan. amin,” pinta Risa dengan lirih dalam tangisnya. air mata masih mengalir di pipinya, ia membuka alquran dengan lembut dan langsung membaca salah satu suroh yang paling ia gemari dan salah satu suroh dalam Alquran yang Rasulullah cintai, Yaitu Suroh Al-fath. dengan tajwid dan tartil Risa melantunkan Alquran dengan indahnya, meskipun disaat tengah malam seperti ini, suara timbul tenggelam, namun, dengan semangat Risa membacanya sampai akhir ayat Suroh Al-fath tersebut, tak lupa juga Risa mentadabburinya, karena membaca tanpa mentadabburi itu seperti makan sayur tanpa garam, rasanya hambar.

tak terasa waktu bergulir cepat, setengah jam lagi azan shubuh berkumandang, tanpa pikir panjang, Risa melepas mukenanya dan segera menuju kamar mandi dan mandi pagi tanpa lupa mengambil whudu’, karena Risa paham betul mengenai manfaat dan keutamaan mandi sebelum sholat shubuh, “Allohu akbar.. Allohu akbar”, terdengar indah di telinga, sang muazzin yang begitu merdu suaranya. segera Risa bangkit dan menunaikan sholat shubuhnya, karena sholat diawal waktu itu sangat penting, selain memiliki keistimewaan, sholat diawal waktu mengajarkan tentang kedisiplinan, terutama dalam disiplin memenuhi panggilan Allah, jika saja seorang dosen memanggil kita, maka tanpa pikir panjang kita langsung segera menemuinya, jika terlambat, maka dosen pun akan marah, dan tidak suka dengan sikap yang menyepelekan perintahnya. maka Allah juga begitu, Allah menyukai orang orang yang berbuat baik.

Dengan izin Allah mentari pagi kembali tersenyum pada dunia, menyapa pagi dengan sinarnya. burung burung yang berada disangkarnya bernanyi menemani pagi diiringi angin sepoi yang semakin memperindah suasana hati Risa. “inilah salah satu kenikmatan yang Allah anugrahkan, maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang engkau dustakan..? Alhamdulillah, terima kasih ya Allah telah. memberiku kenikmatan terbesar, yaitu nikmat iman dan islam, nikmat indahnya taat padamu, maka tetapkanllah hatiku ya Allah atas agamamu dan taat padamu”. ucap Risa berdoa dalam hatinya.

Pagi yang indah, dengan senyuman dan nyanyian sholawat Risa menghidupkan suasana sebagai penyemangat dirinya dalam mencintai Rasulullah.
Tlit.. tlut… tlut.. tlit.. SMS masuk..
‘halo dear, apa kabar, kita ngumpul bareng lagi yok guys, aku dan eva kngen bnget ma kita guys, datang ya, jam 08.00 pagi ya, aku dan eva udah siapin party kecil2an nih buat ngerayain hari persahabatan kita yang ke 7 tahun, masih ingatkan anniv kita guys.. ditunggu ya.., bye..’ from Zarah.
‘ok dear, i’m coming soon, wait me.. ok..’ balas Risa sambil tersenyum.

Risa terduduk diam, terlarut dalam lamunan, teringat semua memori kenangan dulu dengan sahabat lamanya Eva dan Zarah. kenangan masa lalu yang indah dalam keakraban, namun salah dalam pergaulan, yap, mereka adalah sahabat yang dulunya gemar dengan kemaksiatan, bangga tidak menutup aurat, memakai pakaian yang sedang trendi itu yang dianggap modis dan cantik, tentunya punya kekasih hati, karena dalam persahabatan mereka, yang jomblo itu adalah cewek yang udik, yang gak tau trend masa kini. mengikuti trend yang ada adalah sebuah keharusan bagi mereka, hingga, waktu sma dulu, mereka dijuluki cewek cewek yang paling keren disekolahnya, karena kaya, cantik, gaul, dan punya pacar. namun, kini, Risa telah berubah, setelah mengikuti organisasi rohis di Universitasnya.

Berawal dari sebuah rasa kagum kepada seorang akhwat bercadar yang selalu menjaga akhlaknya dan teguh pendiriannya. dari rasa kagum itu muncullah sebuah rasa ingin meniru dan ingin menjadi seperti akhwat bercadar itu. perlahan, rasa ingin hijrah dari masa lalu yang kelam pun berkecamuk dahsyat di hatinya, hingga ia rela memutuskan pacar yang ia sayangi selama 3 tahun terakhir ini hanya karena ingin kembali menjadi wanita sejati yang dirindukan surga, menjadi wanita yang berkarakter sholihah, dan hidup dalam ketaatan kepada sang pencipta. pertama kali hijrah memang berat, namun, keistiqomahan yang kuat dihatinya mampu mengalahkan segala keluh kesah, ujian dan bahkan cacian dari teman teman sekelasnya, namun dengan kesabaran dan keikhlasan, Risa mampu bertahan menjadi wanita yang memakai hijab dan pakaian yang syar’i, meskipun, belum memakai cadar, setidaknya, telah menutup aurat sesuai dengan syariat, karena berhijab itu wajib, sedangkan bercadar itu adalah sunnah, dan segala sesuatu itu memerlukan proses, tidak bisa langsung instan, karena yang instan itu tidak akan bertahan lama.

Di sepanjng perjalanan, Risa semakin larut dalam khayalan yang membuat hatinya gelisah, satu pertanyaan yang selalu muncul dibenaknya, “setelah mereka tau aku telah berubah dan memakai hijab, masihkah mereka sudi bersahabat denganku..?, apakah sahabat lamaku masih mau menerimaku sebagai sahabatnya, setelah satu tahun lamanya kami tak jumpa, rindu, aku memang rindu mereka, namun, aku sangat takut kehilangan mereka, jika seandainya mereka tak mau menerima Risa yang sekarang”, pikiran Risa dikacaukan oleh sebuah keraguan dan rasa kekhawatiran.
“aku bingung harus bagaimana sekarang, tidak mungkin aku kembali menanggalkan hijabku hanya karena takut kehilangan mereka, aku lebih takut kehilangan Allah dalam hidupku, tetapi, aku juga tidak mau kehilangan mereka”. pikiran Risa semakin kacau. namun, kembali lagi ia tersadar, bahwa ia tak perlu takut, “bukankah sebelumnya aku telah kehilangan kekasihku dan teman2ku, aku tak perlu takut dan sedih, bismillah, aku terima apapun yang telah Allah takdirkan untukku”. ucap Risa dalam hati.

“Risa..!”, terdengar suara yang tak asing di telinga memanggil namaku, mungkin mereka sudah datang duluan, pikir Risa dalam hati. “Risa, Risa.. !”, suara perempuan itu semakin keras memanggilku, namun, mereka di mana..?, aku tidak melihat siapapun di sini, sambil berjalan menuju taman itu mataku terus mencari sahabat lamaku, namun, mereka belum juga muncul, apakah suara perempuan yang kudengar tadi hanyalah ilusiku saja, karena mungkin, kerinduanku pada mereka yang membuatku tak mampu membedakan antara khayalan dan kenyataan. Risa terduduk diam, mengkhayalkan sahabatnya datang dengan perubahan yang sama sepertinya, memakai hijab dan tidak berpacaran, menjadi wanita sholihah calon bidadari syurga dan memeluknya erat sambil berkata “jadilah sahabat taatku, sahabat hingga ke surga..”. sungguh bahagianya aku jika itu yang terjadi hari ini, namun, sungguh menyedihkan sekali, jika mereka masih sama seperti yang dulu.

Lama menunggu, Risa kembali menghubungi sahabatnya itu, tetapi, handphone kedua sahabatnya itu tak bisa dihubungi, “mungkin, aku harus ke rumah Eva”, pikir Risa, tanpa berlarut dalam khayalan, Risa segera menyalakan sepeda motornya dan bergegas menuju rumah sahabatnya Eva. jalanan macet, hp mereka tak aktif, sebenarnya, apa yang telah terjadi pada mereka, hati Risa bertanya Tanya cemas.

“assalamu a’laikum eva..”, ujar Risa sambil menggedor gedor pintu rumah Eva.
“wa’alaikumussalam, eh, nak Risa, silahkan masuk nak.” Jawab ibu Eva.
“Eva ada di rumah gak buk..?”. tanya risa.
“ada, dia di kamarnya nak sama Zarah, ayo, masuk nak, ibu antar ke kamar Eva ya..” jawab bu Eva lembut.
“iya, bu,” jawab Risa lirih sambil berjalan mengikuti langkah bu Eva.

Mata gadis cantik itu terbelalak kaget, saat mendapati kedua sahabatnya sedang menangis, ia tak tau dan tak paham, apa sebenarnya yang telah terjadi pada sahabatnya, masalah apa yang tengah menimpa sahabatnya, matanya memerah, ia tak sanggup lagi menahan gejolak rindu ingin segera memeluk erat mereka dan menghapus air mata itu. dengan suara pelan Risa memberanikan diri menyapa keduanya dengan salam, kedua sahabatnya langsung berlari memeluk risa erat, dan berkata, “Risa, jadilah sahabat taatku, sahabat hingga ke surga.”, tak terasa deraian air mata bahagia mendengar kata kata mereka itu berjatuhan dengan mulusnya. tak bisa ia bendung, “Alhamdulillah, syukur Allah, engkau telah menyadarkan sahabatku dan memberikan mereka kesempatan mengecup manisnya hidayah itu”, ucap Risa dalam hati dengan penuh syukur.

Dengan senyuman yang merekah dihiasi air mata bahagia, Risa katakan pada sahabatnya, “itulah kalimat yang kutunggu, aku akan menjadi sahabat terbaik untuk kita, bersama dalam taat kepadanya dan bersama dalam meraih jannahnya hingga kita dipersatukan di surga, sahabatku, aku mencintaimu karena Allah”.
“kami mencintaimu karena Allah Risa”, keduanya menjawab serentak sambil melepas pelukan itu.
“Risa, tadi sebenarnya kami memanggil namamu, namun, ketika kami melihatmu, kami sangat kaget melihat perubahan yang terjadi padamu, tak sengaja kami bertemu mantanmu, dia menjelaskan semua hal yang terjadi padamu, dan kamu lebih memilih Allah dan meninggalkan dia, maka kami sebagai sahabatmu tak ingin berpisah darimu, maka air mata kami tak mau berhenti saat mendengarmu mengigau di taman itu, ’jadilah sahabat taatku, sahabat hingga ke syurga’. akhirnya, kami putuskan pulang ke rumah, kami sadar, bahwa kecantikan yang hakiki itu bukanlah dilihat dari wajah yang cantik, dan pakaian yang modis, tetap kecantikan itu terpancar dari hati wanita sholihah yang senantiasa menjaga kehormatan dan kesucian dirinya, makasih sahabatku, kau telah menyadarkan kami akan pentingnya menjaga muruah sebagai seorang wanita, maka saat ini juga, kami putuskan untuk berhijab syari seperti dirimu, dan segera kami putuskan pacar kami dan menjadi jomblo sampai halal seperti dirimu”. ujar eva menjelaskan.
“iya, Risa, kami ingin berubah, dan kami butuh bimbingan darimu, ajari kami menjadi seorang wanita yang berkarakter sholihah ya..”, lanjut zarah menyambung pembicaraan.
“apa sich yang inggak buat sahabat taatku.., hehe”, jawab Risa dengan menyuguhkan senyuman.
“dunia adalah perhiasan, dan sebaik baik perhiasan adalah wanita sholihah”.

Bila noda terlanjur ada, jangan tumpahkan seluruh tinta menutup semua cerita, gunakan tinta melanjutkan kebaikan sebisanya.

Cerpen Karangan: Rizki Halimah Nasution
Facebook: Rihana Rizki Halimah

Cerpen Sahabat Hingga Ke Surga merupakan cerita pendek karangan , kamu dapat mengunjungi halaman khusus penulisnya untuk membaca cerpen cerpen terbaru buatannya.

"Kamu suka cerpen ini?, Share donk ke temanmu!"

Google+


" Baca Juga Cerpen Lainnya! "


Unconditional (Part 2)

Oleh:
Sometimes you have to try not to care. Because sometimes, no matter how much you do, You can mean nothing to someone who means so much to you. It’s

Kisah 6 Pasang Mata Bola

Oleh:
Ini adalah kisah 6 pasang mata bola, yang bergelinding sesuka hatinya, berlarian semau arahnya namun tetap kembali pulang dan berkemas pada satu tempat berkubang yang sama. Meski terkadang sepasang

Roda Kehidupan

Oleh:
Senyum hangat mentari sore datang menyapa, langkah kaki yang mulai tertunda-tunda, keringat yang seolah-oleh turut menyapa wajah ini. Beginilah keadaanku hari ini. Sepulang dari kampus dengan jalan kaki diiringi

Hunusan Pedang tak Bermata

Oleh:
Lazimnya malam minggu di ujung bulan desa kecil, ABG hingga dewasa tanggung keluar dari gua beruangnya. Teresa hanya menghabiskan satnitenya bersama Vito dan Arman di ruangan kedap suara, yang

Sleeping Beauty (Part 1)

Oleh:
“Aira… wake up” seru Poppy sahabat karibku dengan suara cemprengnya dan dengan sok-sok’an berbahasa Inggris, padahal nilai rapornya kadang-kadang merah. Ia sedang berusaha membangunkanku dari tidur nyenyakku dan membuyarkan

“Hai!, Apa Kamu Suka Bikin Cerpen Juga?”
"Kalau iya... jangan lupa buat mengirim cerpen cerpen hasil karyamu ke kita ya!, melalui halaman yang sudah kita sediakan di sini. Puluhan ribu penulis cerpen dari seluruh Indonesia sudah ikut meramaikan cerpenmu.com loh, bagaimana dengan kamu?"

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *